Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 30



Dari pandangan Alice, kedua orang itu samar-samar memancarkan aura mengerikan sama seperti milik Walton sebelumya.


"Ras Iblis..." Gumam Alice menyipitkan matanya ketika melihat kedua orang berjubah itu. "Kurasa tidak ada alasan lagi bagiku untuk diam disini."


Ksatria pengawal Sang Raja juga merasakannya. Meski kedua orang berjubah itu menyembunyikan kekuatannya tapi insting dari ksatria itu mengatakan kalau mereka berbahaya.


"Bagaimana?! Kalian takut?!" Walton tertawa lebar "Tunduklah di hadapan kekuatan mutlak, kalian manusia rendahan!" Ucapnya dengan suara keras.


Iris menjadi semakin gelisah. Ia kehilangan kesempatan untuk melarikan diri dengan kehadiran keduanya. "Orang-orang itu...mereka berbahaya, aku bisa merasakannya."


Iris mengepal kedua tangannya, ia tak memiliki jalan lain lagi dan lalu menembakkan sisa Mana terakhir yang ia miliki.


[Dragon Straight]


Dengan sihir itu ia berharap kalau dia bisa mengalihkan perhatian mereka meski hanya sesaat. Sayangnya hasilnya nihil. Sebuah kekuatan aneh tiba-tiba menelan naga petir itu dan lenyap begitu saja tanpa meninggalkan bekas.


Salah seorang dari yang berjubah itu seperti telah melakukan sesuatu. Dia hanya merentangkan tangannya ke depan dan berhasil melenyapkan sihir Iris.


"Aku...Aku sudah tidak bisa lari lagi." Iris perlahan mundur dengan kakinya yang gemetar. Wajahnya memucat dan keringat bercucuran dari pelipisnya.


Walton selangkah demi selangkah mendekatinya. "Kenapa? Mau lari?" Lalu ia terkekeh "Kali ini kau benar-benar tamat."


"Ti-tidak! Jangan mendekat!" Iris jatuh terduduk sedangkan Walton menyeringai bahagia melihat ekspresi ketakutan Iris.


Walton mengangkat satu tangannya ke langit. Ia membuat sebuah pedang angin dari Mana.


"Karena kau sudah tidak bisa lari lagi. Kalau begitu, Matilah!" Walton kemudian mengayunkan pedang itu ke bawah dengan cepat. Iris takut dan menutup matanya dengan erat sambil berharap seseorang bisa menolongnya.


Suara Daging yang terpotong dan darah yang mengalir deras membasahi tempat ia berdiri.


Walton tidak menyadari hal itu beberapa detik sebelumnya. Alice yang dalam sekejap mata tiba di depannya dan memotong lengannya membuat orang-orang terkejut.


Sejak kapan dia ada disana? Siapa Gadis itu? Bagaimana dia melakukannya? Bahkan ksatria itu kesulitan melihat pergerakannya.


Walton menjerit dengan lantang ketika ia melihat lengannya telah putus dan tergeletak di lantai. Bahkan pedang angin yang ia buat tak sempat menggapai leher Iris.


Teriakannya memekakkan telinga. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia bagi orang-orang yang menyaksikan hal itu. Mereka jijik, mereka membencinya. Walton tidak lagi pantas mendapatkan rasa kasihan, dia sepenuhnya adalah ras iblis.


"Jangan sekali-kali menyentuh adikku dengan tangan kotor itu sekalipun itu hanya sehelai rambut saja." Kata Alice dingin lalu ia menoleh dan menatap kedua orang berjubah itu dengan tajam seolah sebuah belati bisa saja menerjang mereka dari tatapannya.


"A..A..Alice? Kakak! Kakak!" Melihat sosok gagah Alice yang berdiri di depannya. Iris yang tak berdaya melepaskan topengnya dan menunjukkan jati dirinya. Ia menangis dan segera memeluk Alice dengan tubuhnya yang gemetar.


Senyuman hangat Alice menguatkan hati Iris. Ia pun mengangguk sekali dan mengusap air matanya.


Alice kemudian mengumpulkan energi Qi di tangannya dan mengarahkannya pada Iris "A-apa ini?" Sebuah perisai tak kasat mata namun memiliki energi yang pekat dan terasa aneh membungkus Iris.


"Ini untuk melindungimu. Sekarang, biarkan aku membereskan sisanya." Balas Alice lalu berbalik pada Walton dan kedua orang berjubah itu.


Setelah melihat kecepatan Alice tadi dan tatapan matanya, keduanya segera bersiaga dan mengeluarkan senjata mereka. Mereka tahu kalau lawan kali ini bukanlah gadis biasa pada umumnya.


"Oh, apakah kau ingin bertarung jarak dekat denganku?" Tanya Alice dengan santai. "Bagaimana denganmu?" Lanjutnya menunjuk salah seorang berjubah yang memegang tongkat.


Kedua orang berjubah itu diam dan tidak menjawab. Salah satu diantara mereka lalu memasang kuda-kuda dan melompat menyerang Alice dengan pedangnya.


Sabetan dari depan datang ke arahnya dengan sangat cepat. Namun Alice dengan mudah menghindarinya kemudian disambung dengan serangan sihir dari atas dan sekali lagi Alice menghalaunya dengan pedangnya.


Kedua orang itu heran dan berhenti sejenak. Mereka bertanya-tanya dari mana datangnya pedang itu. Sebelumnya mereka bahkan tidak melihat Alice membawa apapun. Terlebih lagi, pedang itu bahkan bisa menahan serangan sihir yang lebih kuat dari Dragon Straight milik Iris.


Kedua orang kembali fokus dan melanjutkan serangan mereka secara bergantian, cepat dan semakin cepat keduanya melakukan kombinasi mereka dengan sempurna. Tapi dimata Alice serangan mereka masihlah terlihat lambat. Alice menghindar, menahan dan sesekali melompat ketika serangan dengan daya hantam besar menghampirinya dari atas. Ia telah belajar dan mengetahui pola serangan mereka. "Cukup mudah jika mereka terusan melakukan hal yang sama." Benaknya. Meski begitu Alice tak mengendurkan pertahanannya, ia sama sekali tak menganggap remeh lawannya.


"Pengguna pedang ini begitu lihai tapi masalah sebenarnya adalah penyihir dengan tongkat itu yang selalu mencari celah untuk menghancurkanku." Benaknya sambil menghindari serangan pedang yang bertubi-tubi ingin menusuknya.


Orang-orang terkesima dengan gaya bertarung Alice. Mereka belum pernah melihat gerakan-gerakan itu sebelumnya.


Ksatria yang mendampingi Sang Raja ikut tertarik melihat kemampuan dari gadis muda di arena itu. Begitu pun Leon yang tertegun karena tidak menyangka kalau Alice memiliki kemampuan yang seperti ini, bisa dibilang kemampuan Leon berada dibawah Alice. Gaya bertarung yang jauh berbeda dari milik keluarga Strongfort. Dari mana Alice mempelajarinya?


"Siapa gadis itu?"


"Dia adalah Alicia Lein Strongfort Yang Mulia." Jawab seorang pelayan pria di sampingnya.


Sang Raja memegang dagunya. "Aku tidak ingat Strongfort memiliki keturunan dengan keterampilan sehebat itu."


"Dia adalah putri pertama dari pasangan Duke Ernard dan Liana Strongfort."


"Hmm..." Sang Raja mengelus dagunya mengingat-ingat tentang nama Alicia dalam kepalanya. "Bukannya dia terkenal dengan sifat buruknya? Apa benar dia Alicia yang itu?"


"Ya yang mulia. Pihak akademi dan beberapa orang lain yakin kalau dia adalah Alicia Lein Strongfort. Namun saya sendiri tidak tahu darimana kemampuannya berasal. Kecuali...gadis itu telah menyembunyikan dirinya selama ini atau ada keajaiban yang terjadi padanya."


"Aku takut jika dia adalah gadis yang berhasil menyembunyikan jati dirinya dan menahan semua penghinaan itu selama bertahun-tahun lamanya. Dia bahkan lebih licik dari keluarga kerajaan yang pernah ada."