Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 147



Alice menggelengkan kepalanya lalu menghela nafasnya. "Entah kenapa aku menjadi lebih emosional ketika menyangkut tentang Elysia. Mungkinkah karena aku terlalu dalam menyelami alam bawah sadarnya atau karena aku masuk ke dalam ingatan masa lalunya?" Gumam benaknya sambil ia menunduk.


Alice berbalik melihat Claus dan keluarganya. "Maafkan aku meninggalkan kalian begitu saja." Ucapnya sopan. "Disinilah aku tinggal untuk sementara saat kami tiba di desa ini." Lanjutnya menunjuk rumah yang ada di sampingnya.


Claus dan yang lainnya terdiam sejenak. Kedua mata mereka melebar setelah menyaksikan bagaimana Alice mengalahkan para monster itu. "Aku tidak menyangka ternyata kau sekuat itu." Ucap Claus.


"Kau benar-benar hebat, hanya dengan satu kali serangan mampu mengalahkan monster-monster itu dalam sekejap." Tambah Claudia.


"Iya benar. Apakah kau adalah seorang petualang?" Tanya Eion.


"Petualang? Apa itu?" Alice baru pertama kali mendengar istilah itu.


"Apakah kau tidak tahu? Mereka itu adalah orang-orang yang bekerja dalam sebuah serikat. Saat aku dan ayahku ke benua Regnum, kami pernah dikawal oleh beberapa petualang kuat. Walaupun jumlah Mana mereka tidak banyak tapi mereka tetap unggul melawan monster yang lebih kuat dari mereka dengan menggunakan kemampuan fisik dan teknik bertarung mereka." Jelas Eion.


"Hmm...singkatnya mereka sama seperti para pemburu ya." Pikir Alice. "Mungkin kalian bisa menyebutku seperti itu." Balasnya pada Eion.


"Aku yakin kau pasti petualang dengan peringkat tinggi." Eion tampak antusias.


Kemudian Alice mempersilakan mereka masuk dan duduk. Tentu saja itu sedikit canggung baginya berhubung rumah itu bukanlah miliknya. Lalu kemudian Claus menerangkan bahwa rumah ini adalah milik kepala desa yang tak lain adalah ayah Leafa dan juga salah satu temannya.


Sebelumnya, Alice telah merapikannya sembari ia membuat makan malam untuk Elysia, karenanya rumah itu terlihat lebih baik ketimbang saat pertama kali dia dan Elysia datang.


"Tunggu sebentar, kalian pasti lapar, aku akan segera menyiapkan sesuatu untuk kalian."


Claus dan Claudia saling menatap , sedangkan putri mereka Noel yang baru saja membuka matanya langsung terbelalak karena kegirangan. Mendengar mereka akan makan, Noel terlihat hampir melompat dari sisi ibunya. Perut kecilnya sudah tidak bisa menahan lapar lagi setelah seharian tidak makan.


Claus dan Claudia merasa sedikit tidak enak, mereka hanya tersenyum canggung pada Alice sambil berkata. "Maaf merepotkan mu."


Alice mengibaskan tangannya. "Tidak masalah, di tempat ini cukup banyak makanan. Aku akan keluar sebentar untuk mengambil sesuatu. Kalian tidak perlu cemas, aku sudah memasang pelindung pada sekitar rumah ini. Monster apapun itu, mereka tidak akan bisa menembusnya."


"Sekali lagi terimakasih atas kebaikan mu." Ucap Claus mewakili perasaan anggota keluarganya yang lain.


Tak begitu lama setelah Alice pergi, Leafa akhirnya membuka matanya. "Uh...uh..aku...dimana?" Dia perlahan bangun dari tidurnya. "Apa yang sudah terjadi?"


Leafa melihat sekelilingnya dan mendapati ruangan itu tampak tak asing. "Kamar ini... benar! monster itu. Aku harus segera menolong ayah." Leafa dengan panik segera melompat dari ranjang. Dia berlari keluar dari kamar dan melihat Claus beserta keluarganya.


"Paman?!"


Mereka berdiri terkejut karena tidak menyangka Leafa sadar begitu cepat. "Leafa? Syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Claudia yang menghampirinya.


"Aku baik-baik saja bibi. Lebih penting lagi, dimana ayahku? Kita harus segera menolongnya, dia melawan monster-monster itu sendirian demi melindungi ku." Jelasnya.


Selain Noel yang polos dan tidak mengerti apa yang Leafa maksudkan, ketiganya berwajah muram menatap Leafa. Claus menghela nafas beratnya. Apa yang ingin ia ucapkan pada gadis muda itu tertahan di ujung lidahnya. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.


"Paman? Bibi? Eion? Kalian kenapa? Apa yang terjadi?" Leafa bertanya penuh keheranan. Mereka bertiga hanya diam menatapnya. Leafa menggigit bibirnya karena kecewa. "Apakah kalian tidak ingin membantu ku menyelamatkan ayahku?"


Kemudia dia tiba-tiba mengingat sesuatu. Sebelum ia pingsan, dia ingat kalau dirinya terluka karena serangan monster. Leafa memegangi sisi perutnya, disana dia tak merasakan sakit, bahkan bekas luka pun hampir tak terasa. Tiba-tiba dia menjadi panik tak karuan.


Apa yang sebenarnya terjadi? Sudah berapa lama aku pingsan?


Kenapa mencoba menyangkalnya?


Leafa tidak mengira kalau dia tertidur cukup lama. Pertarungan ayahnya melawan kedua monster itu telah usai sejak siang tadi. Jauh di lubuk hati terdalamnya dia bisa mengira kalau ayahnya tidak mungkin menang melawan kedua monster itu.


"Aduh!" Leafa terjatuh menabrak Alice yang baru saja tiba dengan membawa seember air.


Baguslah Alice segera menyingkirkan air itu sehingga tidak tumpah karena tabrakan Leafa.


"Hmm....kau sudah sadar rupanya. Bagaimana? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Alice.


Sama seperti Claus dan keluarganya. Leafa menatap wanita cantik jelita di depannya cukup lama. "Ma-manusia?!" Ucapnya kaget. "Manusia? Kenapa bisa ada ras hyuman di sini?"


Tubuhnya kembali gemetar, ia mundur dengan menyeret bokongnya lalu kembali berdiri. Tatapannya memancarkan kebencian dan ketakutan saat ia melihat Alice. Leafa mengibaskan tangannya dengan kencang. "Manusia kotor, apa yang kau lakukan disini?! Kau...jangan bilang kalau... penyerangan monster-monster itu ada kaitannya dengan mu?" Leafa mengacungkan telunjuknya yang tegang ke depan mata Alice. Spekulasi yang tidak jelas karena rasa takut dan benci mulai ia lontarkan padanya.


Sebaliknya, Alice hanya diam menatap gadis itu. Dia mengerti kalau pikiran Leafa dipenuhi kebimbangan karena situasi buruk yang terjadi begitu saja.


"Heh! Kalian para manusia serakah yang hina. Aku tidak habis pikir, kenapa kalian sebegitu tega menghancurkan desa kami? Apakah kalian tidak puas mengambil satu wilayah kami dan sekarang kalian berencana menghancurkan kami? Menjijikkan. Melihat wajah kalian aku--"


"Leafa, cukup!" Bentak tegas Claudia.


Leafa seketika terdiam. Ia berbalik dan melihat Claudia yang berjalan menghampirinya. "Maafkan dia. Dia tidak bermaksud seperti itu." Ucapnya pelan.


Claudia khawatir kalimat Leafa akan menyinggung Alice. Selain sebagai orang yang telah menyelamatkan nyawanya, Alice adalah wanita kuat yang tidak seharusnya mereka singgung.


Saat ini, Alice adalah sosok yang mereka butuhkan. Dengan kekuatannya, Claudia berharap bisa bernaung di bawahnya dan meminta perlindungannya. Dia dan Claus telah memutuskan untuk kembali ke ibukota, maka dari itu mereka sangat membutuhkan bantuan Alice.


"Bibi! Apa yang bibi lakukan?!" Tanya Leafa dengan ekspresi tidak percaya. Bibi Claudia yang selalu bersikap lembut baru saja membentaknya. Mustahil.


"Sudah Leafa. Sebaiknya kau duduk dan dengarkan penjelasan kami." Ucap Claus.


Leafa ingin membantah namun melihat wajah semuanya, dia tidak memilik pilihan selain menuruti mereka. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi.


"Aku senang kau sudah baikan. Tapi aku harap kau tidak menyia-nyiakan tenagamu itu." Ujar Alice sambil ia berjalan ke dapur lalu kembali dengan beberapa hidangan.


"Woaahh...!" Mata Noel berbinar-binar menatap daging bakar yang Alice sajikan di atas meja.


Claus dan keluarganya bahkan Leafa juga tidak kuasa menahan perut mereka.


"Silakan, tidak perlu sungkan." Ucap Alice lalu ia meletakkan sepanci sup.


Ketiganya perlahan mengambil potongan daging untuk diri mereka. Sementara Leafa memalingkan wajahnya. "Kelihatannya enak, tapi, tapi...itu tidak beracun kan? Ughh..."


Melihat gadis elf itu seperti jual mahal, Alice lalu berkata. "Makanlah, aku tidak menaruh apapun dalam makanan ini." Ia menyodorkan semangkuk sup pada Leafa.


"Ti-tidak. Aku tidak perlu, aku masih kenyang." Tolaknya meski terdengar meragukan.


Leafa tak menyangka, walaupun lidahnya bisa berbohong, sayangnya perutnya berkata lain. Suara keroncongan yang cukup besar untuk mereka dengar membuat ia hanya bisa diam menahan malu.


"Nah kan? Makanlah." Alice kembali menyodorkan sup itu lebih dekat pada Leafa.


"Kuh! Baiklah." Leafa pun dengan gaya malu-malu mengambil sup itu daging dan sepotong daging bakar untuk diletakkan di atas piringnya. Mengingat apa yang sudah ia katakan pada Alice sebelumnya, Leafa merasa sedikit berat untuk menelan makanan itu.


Dia mengangkat kepalanya dan memandangi Alice. Keduanya lalu saling bertemu pandang. Alice tersenyum dan membuat Leafa segera menunduk. Dia segera berpura-pura menyantap makanannya dengan lahap.


Malam yang dingin namun terasa hangat dengan semangkok sup dan potongan daging bakar. Claus beserta keluarganya menikmati hidangan sederhana Alice tanpa rasa khawatir dalam hati mereka.