Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 184



Alice berdiri di samping dan melihat Elysia bertarung melawan ketiga pembunuh itu. Walaupun putrinya kekurangan pengalaman dalam menghadapi manusia yang notabenenya berbeda dengan para monster, tapi tetap saja dalam segi kekuatan dan kelincahan, Elysia masih lebih kuat dibandingkan mereka bertiga.


"Hanya saja manusia itu lebih licik. Mereka bahkan lebih ganas dari seekor macan atau seekor kelinci yang terpojokkan."


Entah Elysia bisa mengalahkan mereka atau tidak. Alice hanya ingin melihat ketangkasan putrinya itu. Akan seperti apa dirinya ketika menghadapi tiga orang ahli sekaligus.


Elysia dan ketiganya bertukar serangan dengan sangat gigih. Walaupun dia dikepung, tapi dia berhasil melawan mereka dengan imbang. Sampai saat ini, tak ada satupun dari serangan para pembunuh itu yang berhasil mengenainya.


Saat Elysia berhasil menjauhkan dua pemburu lainnya dengan sihir angin. Ia segera melompati pemburu yang ketiga dan menjatuhkannya dengan tebasan anginnya.


Pria itu sempat menahan serangannya, namun tubuhnya tidak sanggup bertahan ketika dihadapkan pada hembusan angin yang setajam pisau yang mencabik-cabik pakaian dan kulitnya. Kuda-kudanya melemah dan ia pun terhempas menghantam tembok dengan keras. Pria itu pun tumbang.


"Satu sudah selesai, sekarang giliran mereka." Elysia tersenyum, ia mengelap sedikit keringat yang ada di dahinya, lalu berbalik melihat sisa dua pembunuh yang masih berdiri tegak.


Elysia menghadapkan pedangnya pada mereka.


Kedua pembunuh itu menyipitkan mata mereka. Kemudian mereka menggunakan teknik bayangan. Dalam sesaat, jumlah mereka menjadi tiga kali lipat lebih banyak.


Elysia menatap lurus para pembunuh itu, tak ada rasa gentar di wajahnya meskipun para pembunuh itu telah mengeluarkan teknik mereka. Elysia mengeratkan genggamannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu melesat maju.


"Walaupun aku tidak bisa menggunakan teknik ibu dengan sempurna, tapi dalam jarak sedekat ini, aku bisa merasakan mana yang asli dan mana yang palsu diantara kalian." Ucapnya.


Elysia mengayunkan pedangnya berkali-kali. Tebasannya menciptakan bilah angin yang tajam dan melesat ke arah para pembunuh itu.


Seketika dua orang diantara mereka melompat jauh. Keempat tubuh pembunuh yang terkena serangan Elysia lenyap menjadi asap hitam.


Salah seorang pembunuh berdecak kesal. Klon nya dengan mudah dilenyapkan.


Keduanya melompat maju dan menyerang Elysia dengan belati mereka secara bertubi-tubi.


Elysia bertahan di tempatnya sambil menghalau setiap sabetan dari belati kedua pembunuh itu.


"Kenapa kau menghalangi kami? Apa tujuan mu yang sebenarnya sampai kau melindungi wanita itu?" Ucap salah seorang di antara pembunuh itu.


"Bagaimana bisa seorang utusan seperti mu mengkhianati Sang Dewa?!" Tambah rekannya dengan tegas.


Mereka bergerak selincah bayangan, melewati Elysia dengan sebuah sabetan.


Elysia tidak peduli dan mengacuhkan pertanyaan mereka. Lagipula dia tidak mengerti dengan apa yang mereka maksud. Kenapa butuh alasan baginya untuk melindungi ibunya? Dan dewa apa yang ia khianati.


Ras elf tidak memuja dewa manapun selain Sang Dewi Gaia.


Elysia tetap fokus bertarung. Matanya bergerak dengan cepat mengikuti setiap langkah lawannya.


Kedua pembunuh itu memang gesit, namun seiring jalannya pertarungan, Elysia mulai paham dengan gerakan bertarung mereka.


Pertarungan yang berlarut-larut membuat mereka berdua mulai kehabisan tenaga. Mereka bahkan tidak mendapatkan jawaban apapun dari lawannya dan masih tidak mengerti kenapa wanita itu berpaling dan melindungi target mereka.


Mereka berdua melompat mundur. Kedua pembunuh itu saling menatap dan mengangguk. Mereka memutuskan untuk menggunakan teknik lainnya.


Kita akan membawanya pada ketua, pikir mereka.


Sekali lagi mereka menggunakan teknik bayangan. Walaupun jumlah mereka tidak lebih banyak dari sebelumnya.


"Teknik yang sama ya." Elysia tidak tahu kenapa mereka menggunakan teknik itu lagi. Namun, ia bisa merasakan energi Mana yang pahit yang mereka pancarkan. Mereka memancarkan perasaan yang berbeda dari klon bayangan yang sebelumnya.


Keempat pembunuh itu bergerak mengitari Elysia. Dua di antara mereka memutarinya sambil menembakkan peluru Mana hitam, sedangkan dua lainnya bergerak secara tak beraturan sambil menyambarnya dengan sebuah tebasan.


Elysia menepis peluru-peluru Mana itu dengan sangat baik. Ia juga berhasil menahan tajamnya belati dari dua pembunuh lainnya dengan pedangnya.


Para pembunuh itu mendadak berhenti. Dua dari mereka lalu berlari ke arahnya. Mereka melemparkan belati mereka pada Elysia.


Elysia menciptakan pelindung dari angin. Belati itu terpental dan menancap ke tanah. Saat kedua pembunuh itu mendekat. Elysia menyeringai. Ia segera melepaskan pelindungnya membuat kedua pembunuh itu terluka.


Ternyata sihir angin itu bukan hanya sekedar pelindung biasa, melainkan sebuah pusaran angin yang tajam.


Kedua pembunuh itu terjatuh di dekatnya. Elysia mengangkat kepalanya untuk melihat dua pembunuh lainnya yang jauh di belakang mereka.


Ada yang aneh. Mereka tidak bergerak. Apa yang mereka tunggu?


Benar, kedua pembunuh itu bahkan terlihat santai. Elysia bisa melihat mata mereka yang melengkung seolah mereka sedang tersenyum di balik kain hitam yang menutupi mulut mereka.


Elysia lekas melirik ke bawah. Seketika ia sadar saat mayat kedua pembunuh yang ada di dekatnya mengeluarkan asap hitam yang memiliki bau menyengat.


"Racun?!" Elysia spontan menutup hidung dan mulutnya kemudian ia melompat mundur. Namun sayang, racun itu sangat kuat. Tatkala Elysia sudah menghirupnya sedikit, pandangannya pun mulai kabur.


"Sial! Aku terkena racun mereka. Ah...aku...tidak boleh kalah sekarang..." Elysia mengedip-ngedipkan matanya agar tetap sadar. Ia tidak menyangka akan terkena jebakan mereka.


Ia mencoba melangkah tapi tubuhnya terhuyung-huyung karena kepalanya mulai terasa berat.


"Setidaknya...aku harus... menjatuhkan salah satu....dari mereka.." Elysia menoleh sebentar pada Alice. Ia berharap tidak membuat ibunya kecewa melihat penampilannya.


Elysia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menggigit bibirnya. Elysia merapatkan giginya lalu menggores lengannya dengan pedang.


Luka sayatan itu mungkin tidak begitu dalam, tapi tetap saja rasanya sakit. Elysia terpaksa harus melukai dirinya untuk membuatnya tetap sadar.


"Ini hanya sebentar, aku harus segera mengalahkan mereka sebelum kesadaran ku menghilang."


Elysia berdiri tegak. Ia menarik pedangnya ke samping, kemudian memadatkan Mana pada pedangnya. Elysia menyelimuti pedang itu dengan aliran angin yang sangat cepat dan tipis. Gerakan angin itu sangat kencang. Ketika ia menurunkan pedangnya mendekat di atas tanah, tampak debu pasir terhempas menjauh.


Elysia juga melindungi tubuhnya dengan energi Mana. Ia mengambil ancang-ancang. Elysia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Saat ia berkedip sekali, dalam sekejap mata, Elysia telah berada di belakang salah satu dari pembunuh itu.


Elysia menebasnya dari belakang. Pembunuh itu berteriak dengan lantang sebelum ia jatuh tersungkur di tanah.


Alice mengernyitkan keningnya melihat gerakan Elysia barusan. Ia menyadari kalau gerakan itu sangat berbahaya bagi tubuhnya.


"Jadi dia sudah melindungi tubuhnya dengan energi Mana." Alice lega karena Elysia baik-baik saja. Tidak lama lagi ia akan turun tangan. Alice tahu kalau putrinya terkena asap beracun yang mampu membuatnya kehilangan kesadaran. Dia tidak berharap Elysia akan bertindak gegabah lagi. Hampir saja tadi ia melompat.


Elysia memegangi sisi kepalanya. Kepalanya menjadi semakin berat. Ia semakin sulit menahan rasa kantuk di matanya.


"Awalnya aku mengira kalau kita memiliki tujuan yang sama dan aku ingin mengajakmu bekerja sama. Tapi sepertinya kau memang bertekad untuk melindungi wanita itu. Aku tidak habis pikir, kenapa seorang utusan seperti mu bisa berkhianat. Padahal, kau dan kami sama. Kekuatan adalah pemberian Sang Dewa begitupun dengan mu. Samar-samar aku bisa merasakan kegelapan yang ada dalam Mana milikmu. Hmph! Wanita tidak tau berterima kasih seperti mu. Aku akan membawamu kembali ke kuil untuk segera bertobat dan meminta pengampunan pada Sang Dewa."


Elysia tidak lagi fokus untuk mendengarkan ocehan pria itu.


Pandangannya mulai gelap. "Oh... tidak. Aku tidak bisa.. " Elysia berlutut menopang dirinya dengan pedangnya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat pembunuh itu.


"Heh. Bagus." Pria itu tersenyum puas melihat kondisi Elysia. "Seperti yang diharapkan dari seorang utusan. Kekuatan mu memang hebat, kau bahkan bisa menahan teknik kabut penidur kami sampai selama ini." Pembunuh itu memandangnya dengan senyum merendahkan.


Ia berjalan mendekat. "Aku kagum denganmu. Meskipun kau masih muda, kau bisa bertarung melawan kami. Seandainya saja kau tidak terkena jebakan ku. Aku pasti tidak akan punya kesempatan untuk mengalahkan mu."


Pembunuh itu berdiri di depan Elysia.


Elysia tidak sanggup lagi menahan matanya untuk tetap terjaga. Ia pun jatuh dan kehilangan kesadarannya.


Pembunuh itu menyeringai dengan puas.


Ia berbalik. Ia menghela nafasnya saat melihat dua rekannya yang gugur.


"Aku tidak mengira kalau untuk mengalahkan mu, aku harus menggunakan cara licik. Aku bahkan kehilangan dua rekanku."


Biarpun apa yang ia ucapkan terdengar sedih, ironisnya raut wajah dan nada suara datarnya barusan tidak menunjukkan adanya kesedihan di dalamnya


Pria itu membungkuk, ia mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat tubuh Elysia.


Tapi...


Bukankah dia melupakan sesuatu?


Ya. Alice masih berdiri di samping menatapnya dengan dingin.


Pembunuh itu merasakan aura yang mematikan. Spontan ia melompat menjauh. Instingnya membuat bulu kuduknya berdiri saat matanya bertemu pandang dengan Alice.


'Sentuh dia dan kau akan mati' Seolah kedua mata indah itu berkata seperti itu.


Mata biru yang seharusnya menenangkan bagaikan lautan yang indah dan memanjakan bagaikan langit biru yang luas malah membuat tubuhnya gemetar. Kedua mata itu lebih seperti bongkahan es yang sangat dingin sampai-sampai membuat seluruh tubuhnya menggigil.


"Apakah kau melupakan ku? " Kata Alice dengan pelan. "Pertarungan mu dengannya sudah selesai. Kini giliran ku untuk melawan mu."


Pria itu bergidik. Ia menggertakkan rahangnya. Dengan lantang ia pun berkata. "Sialan! Jangan kira aku takut dengan mu."


Kemudian pria itu menerjang ke arah Alice dengan cepat. Ia tahu kalau dirinya setengah-setengah dan mencoba untuk menghemat tenaga saat melawan Alice, dia pasti akan mati. Maka dari itu, pria itu menggunakan semua Mana yang tersisa dalam tubuhnya.


Gerakannya sangat cepat sampai menyisakan bekas bayangan hitam. Langkahnya begitu ringan. Dia seolah-olah menyatu dalam gelapnya malam.


"Heh! Ini adalah teknik ciptaanku. Dengan teknik ini aku pernah membunuh cukup banyak Swordmaster dan pengguna Aura lainnya. Kau hanyalah seorang wanita muda. Jangan mimpi untuk bisa mengalahkan ku." Celotehnya.


Mengoceh dan terus mengoceh, Alice hanya menatapnya dengan malas. Lagi-lagi lawannya bersikap congkak seolah mereka yang paling hebat.


Pria itu menerjang Alice dari depan. Alice mengangkat tangannya dan menahan serangannya dengan sangat mudah.


"?!?!" Dia terkejut.


Bagaimana mungkin wanita itu menahan serangannya. Dia yakin kalau wanita di hadapannya itu tidak memiliki senjata apapun di tangannya.


Lantas bunyi apa yang barusan itu? Benda keras apa yang menahan belatinya?


Pria itu sekali lagi melesat di udara. Ia melompat ke sana dan kemari sambil menembakkan peluru Mana.


Satu, dua, tiga. Peluru-peluru itu terlihat lambat di mata Alice. Ia tidak membutuhkan banyak usaha untuk menghindari mereka.


Alice melihat putrinya yang tergeletak di tanah. "Sepertinya aku harus segera membawa Elysia kembali ke penginapan. Tidak baik baginya untuk terus berbaring disana. Aku khawatir dia akan masuk angin nantinya."


Perilaku keibuannya benar-benar menonjol. Ia masih sempat mengkhawatirkan Elysia meskipun dia dalam keadaan bertarung.


Saat ini, Alice hanya tidak ingin bertarung. Kalau bisa, ia ingin menikmati hari-harinya dengan santai.


"Sekarang!" Saat Alice mengalihkan perhatiannya. Pria itu memanfaatkan kesempatan itu.


Ia pun bergerak lincah ke depan. Pria itu mengarahkan ujung belatinya pada leher Alice.


Adegan yang sama terulang kembali. Alice mengentikan serangannya dengan kedua jarinya. Pria itu memelototinya dengan tajam.


Bahkan setelah mengerahkan seluruh kemampuannya ia masih tidak bisa melukai wanita itu.


"Argghh!" Ia berteriak geram. Ia memaksa dan mendorong senjatanya.


Alice menggelengkan kepalanya.


Pria itu tidak sadar akan sebuah pedang yang melayang-layang di belakangnya.


Ternyata Alice sedang mengontrol pedangnya yang ada pada Elysia. Saat ia menarik pergelangan tangannya, pedang itu melesat, menembus tubuh pria itu dari belakang.


"..?! Ugh! Apa yang...." Pria itu menurunkan pandangannya dan melihat sebilah pedang menembus tubuhnya.


"K-kau...."


Ia batuk darah. Rasa dingin merayap dari kaki hingga ke perutnya.