Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 188



Elysia dan wanita resepsionis itu pun menjauh. Orang yang akan menghadapi Palu adalah Alice.


Wanita resepsionis itu lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Benda itu ternyata merupakan sebuah remote untuk mengaktifkan kubah pelindung arena yang ada di depannya. Saat ia mengaktifkan pelindungnya, tanah lapang yang ada di depan mereka tiba-tiba terbungkus oleh kubah sihir yang transparan.


"Ooh... menakjubkan." Ucap Elysia kagum.


Walaupun kekaisaran Arakhmeia dikelilingi gurun pasir dan sedikit sumber air, tapi mereka memiliki teknologi yang canggih. Elysia mungkin tidak begitu terkejut semenjak negerinya sudah mulai mengembangkan teknologi yang sama atau bahkan jauh lebih hebat. Tapi Alice berpikir kalau seandainya kekaisaran Arakhmeia mencoba untuk memperluas wilayah mereka, mereka pasti memiliki daya tempur yang jauh di atas kerajaan lainnya.


Palu dan Alice berdiri saling berhadapan.


"Nah, Sarpathi telah mengatifkan pelindungnya. Hmm...apakah Nona Alice tidak ingin mengeluarkan pedang anda?" Tanya Palu sambil mengusap-usap dagunya.


Apakah dia berniat melawan ku hanya dengan menggunakan tangan kosong?


Palu pernah melihat wanita muda yang ada di hadapannya itu menggunakan pedang dan ia yakin kalau wanita bernama Alice ini adalah seorang ahli yang kuat. Walaupun ia hanya melihatnya dari jauh, tapi energi yang ia rasakan saat ia mengayunkan pedangnya terasa begitu kuat.


Kemampuan berpedangnya mungkin setingkat dengan petualang peringkat A. Pikirnya.


"Kurasa tidak. Aku merasa tidak enak jika harus menggunakan pedang melawanmu yang menggunakan tangan kosong. Lagipula, aku cukup penasaran seperti apa kekuatan serangan dari seorang petualang peringkat B. Maka dari itu, aku ingin merasakannya secara langsung." Ujar Alice.


"Hoho~ Apakah anda meremehkan ku?" Palu tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.


"Tidak juga. Sebaliknya, apakah Paman merasa kalau aku akan kalah karena tidak melawanmu dengan pedang ku?"


Rasa antusias memuncak di dalam batinnya. Palu tidak melihat rasa gentar atau kesombongan dalam setiap ucapan Alice. Wanita muda ini mengatakan hal itu karena dia percaya dan memang memiliki kemampuan.


Andai saja dia belum pernah melihat Alice bertarung, Palu pasti akan berpikir kalau dia hanyalah gadis naif yang sombong.


"Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan segan. Ku harap anda bisa lulus dengan nilai yang baik."


Keduanya saling menarik nafas dengan pelan lalu menghembuskannya. Tatapan mereka yang tadinya santai berubah menjadi serius. Tekanan udara yang ada di sekitar mereka berubah menjadi lebih berat.


Alice menggeser salah satu kakinya ke belakang dan menekuk tubuhnya sedikit ke bawah. Ia mencengkram tinjunya dengan erat. Matanya menatap lurus ke arah Palu seolah berkata 'Majulah!'.


Palu mengumpulkan Mana yang dalam ada tubuhnya dan di sekitarnya ke dalam tinju dan kakinya.


[Dragon Roar Earthbind]


Palu tidak main-main dan langsung menggunakan kekuatannya. Ia menghantam tanah dengan sangat keras menggunakan kedua tinjunya. Gelombang angin dan getarannya membuat bangunan itu bergetar meskipun mereka telah dibatasi oleh pelindung sihir.


"Earthbind akan membuat musuhku kehilangan keseimbangan mereka dan kesulitan bergerak karena getaran tanah yang kuat. Selanjutnya. [Sonic Blast]"


Dari tempatnya berdiri, Palu melancarkan tinjunya ke udara. Gelombang kejut yang dahsyat melesat ke arah Alice.


"Paman sungguh serius. Aku tidak mengira kalau kau akan langsung menyerang ku dengan jumlah energi yang begitu besar." Kata Alice.


Kedua bibirnya merekah. Wajahnya yang tenang mengukir senyum tipis yang manis. Walau nada suaranya terdengar santai tapi Alice tidak melepaskan fokusnya dan membuat dirinya lengah.


Ia telah menyiapkan kuda-kudanya. Alice menarik salah satu lengannya ke belakang, dengan gerakan yang cepat ia menghancurkan gelombang kejut itu dengan telapak tangannya.


Palu tidak begitu terkejut melihat serangannya ditepis dengan mudah. "Seperti yang kuduga. Anda memang orang yang kuat."


Palu tidak berharap kalau serangannya itu akan melukainya, tapi ia tidak menyangka kalau Sonic Blast miliknya bahkan tidak menimbulkan dampak sedikitpun pada Alice. Saat ia melirik kaki Alice, Matanya yang tajam melihat kalau wanita itu bahkan tidak bergerak seinci pun dari tempatnya.


Biasanya aku bisa melumpuhkan monster yang dua kali lebih besar dariku dengan serangan itu.


"Haaaaat!"


Palu berteriak dengan lantang. Kekuatan dalam tubuhnya berkumpul semakin banyak.


"Kalau begitu aku akan lebih serius lagi dan mengerahkan semuanya."


[War Cry] [God Hand] [Divine Rigid Body] [Unyealding Will] Palu mengkombinasikan teknik penguatan tubuhnya secara bersamaan.


Alice bisa melihat seberapa deras energi Mana eksternal yang mengalir menuju tubuh Palu. Mereka berkumpul, memadat dan meliputi tubuhnya. Seperti sebuah baterai, tubuh Palu terisi oleh energi yang begitu banyak dan ia mengubahnya menjadi kekuatan mutlak.


"Ternyata seperti ini kemampuan petualang peringkat B." Gumamnya kagum.


Alice tidak tahu apakah hanya Palu yang memiliki kemampuan semengerikan ini atau memang semua petualang peringkat B memiliki kemampuan yang sama sepertinya. Awalnya ia mengira kalau kekuatan Palu kemungkinan hanya berada di level 6. Namun, setelah ia melepaskan gelombang energi barusan, Alice bisa merasakan kalau bulu kuduknya bergetar.


"Kemampuannya naik menjadi level 7."


Takut? Tidak.


Perasaan menggebu-gebu dalam dadanya adalah rasa antusias. Ia ingin segera bertarung. Sudah lama tinjunya tidak mengepal dan saling beradu.


Palu telah selesai dengan persiapannya. Setiap hembusan nafasnya terlihat seperti uap panas yang keluar dari rongga hidungnya. Palu menatap lurus ke arah Alice. Alisnya menukik tajam ke bawah.


"Aku Palu dari The Wind Gale, siap bertarung." Ujarnya tegas. "Bersiaplah Nona Alice."


[Haste]


Palu bergerak cepat ke samping Alice.


[Rush]


Ia lalu melancarkan pukulan bertubi-tubi pada Alice. Alice menepis setiap serangannya dengan mudah.


[Heavy Smash]


Alice segera mengelak ke samping. Serangan Palu gagal mengenainya melainkan ia hanya memukul udara yang kosong.


Tinju itu begitu kuat hingga menghempaskan udara yang ada di sekitar mereka. Jika serangan itu mengenai tanah, pastilah dia akan membuat kawah yang cukup besar.


Alice terkekeh. Ia menunjukkan sedikit senyuman pada Palu. Lalu dengan cepat mendorong Palu mundur dengan hentakan bahunya.


Palu terhempas tiga langkah kebelakang.


"Dia bahkan bisa menahan serangan ku. Tubuhnya juga kuat. Tidak hanya ilmu pedang tapi dia juga handal dalam bela diri tangan kosong." Palu mengeratkan giginya. "Dari penampilannya aku bisa tahu kalau dia adalah seorang wanita bangsawan. Entah dia bangsawan dari kerajaan mana tapi aku tidak pernah mendengar namanya. Setidaknya, dengan kemampuannya yang hebat, pasti dia cukup terkenal. Siapa sebenarnya Alice ini?"


Alasan Palu berbicara dengan sopan pada Alice adalah karena sejak pertama bertemu dengannya, dia tahu kalau wanita muda itu adalah seorang putri dari keluarga ternama. Penampilannya yang anggun dan tata bahasanya sudah memberikan kesan yang jelas baginya, ditambah lagi dengan aura khas yang elegan milik seorang bangsawan menguatkan dugaan Palu.


Sebelum menjadi seorang petualang, Palu pernah menjabat sebagai seorang prajurit di ibukota kekaisaran. Tentunya dia sedikit tahu tentang etiket kebangsawanan. Matanya telah melihat banyak wanita sepertinya meskipun pada kenyataannya mereka selalu mengenakan topeng ketika bertemu dengan bangsawan lainnya.


Namun wanita ini berbeda. Kelembutan suara dan cara bicaranya memberinya daya tarik tersendiri. Ketulusan dari setiap sikapnya benar-benar membuat orang nyaman untuk berinteraksi dengannya. Seperti itulah kesan pertama yang Palu terima ketika pedagang itu membawanya ke dalam kawanan mereka.


"Anda benar-benar kuat!"


Palu mengira kalau dia hanyalah wanita bangsawan yang rapuh pada awalnya. Dia telah tertipu dengan keindahan luarnya.


"Kau juga Paman."


Keduanya tersenyum puas sembari bertarung. Semangat mereka bergejolak mendorong mereka untuk terus saling bertukar pukulan. Palu dan Fee menikmati pertarungan mereka.


Dari sisi arena, Elysia menatap mereka dengan mata yang berbinar-binar. Melihat pertarungan ibunya membuat mulutnya terbuka lebar penuh kekaguman.


"Lu-luar biasa...." Sarpathi sendiri kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kejadian itu.


Awalnya dia panik saat Palu memulai serangan dengan tekniknya. Ia tidak menyangka kalau Palu akan langsung menyerang dengan salah satu teknik andalannya, tapi lebih tidak terduga lagi adalah kala Alice mematahkan serangannya.


Sosoknya yang gagah terlihat keren dan bersinar dengan kulit putih cerahnya. Sarpathi tanpa sadar mengangguk-ngangguk saat ia mendengar Elysia memuji Alice.


Terserah dia itu ibunya atau seorang gadis muda tapi sosoknya yang terlihat di mataku sungguh menakjubkan.


Gempuran serangan Palu tidak membuatnya gentar. Ia malah bertahan di tempatnya sambil menahan serangan itu dengan gerakan lembut tangannya.


Jujur. Serangan mereka memang cepat dan menghancurkan, tapi melihat keseriusan dan senyuman bahagia itu di wajah keduanya, kecemasan Sarpathi sepenuhnya lenyap. Ia malah ikut menikmati duel mereka.


Jarang-jarang melihat Tuan Palu menikmati sesi tes seperti ini.


Sementara itu, selama pertarungan berlangsung, orang-orang yang ada di gedung sebelah merasakan getaran itu.


Para petualang yang sedang duduk menikmati waktu santai mereka mendadak berdiri dari kursi mereka. Semua orang bertanya-tanya akan apa yang baru saja terjadi.


"Energi ini....." Salah seorang petualang dengan peringkat cukup tinggi merasakan adanya fluktuasi Mana dalam jumlah banyak.


"Tidak salah lagi...." Petualang lainnya menengok ke lorong menuju gedung sebelah tempat dimana kedua gadis itu dan Sarpathi pergi.


Beberapa diantara mereka menelan ludah mereka. Mereka semua ikut berbalik dan melihat ke arah lorong itu.


"Lawannya adalah pria bernama Palu. Dia adalah Tanker yang hebat sekaligus penyerang yang berbahaya." Ujar seorang pahlawan lainnya.


"Ya. Walaupun dia itu peringkat B tapi sebenarnya dia memiliki kekuatan yang setara dengan peringkat A." Tambah petualang lainnya.


Seorang pria yang penasaran bertanya. "Kalau begitu kenapa dia tidak mencoba untuk naik ke peringkat A?"


"Entahlah, aku rasa dia memiliki alasannya sendiri." Balas petualang yang sebelumnya.


"Dari getaran barusan.... sepertinya pria bernama Palu itu tidak main-main. Kira-kira kedua wanita itu bisa lulus tidak ya?"


Orang-orang hanya saling menatap dan mengangkat bahu mereka. Mereka hanya bisa menunggu saat kedua wanita itu kembali.


"Yah... yang lebih mengerikan darinya adalah kemampuan pertahanannya yang solid." Gumam benak salah seorang petualang.


Kembali ke arena.


Alice mulai mendominasi Palu, Walaupun dia tidak melancarkan serangan beruntun seperti Palu tapi setiap pukulan dan tendangannya begitu keras sampai membuat tangan Palu gemetar karena menahan serangannya berkali-kali.


"Sepertinya aku harus mengubah taktik bertarung ku." Palu bergumam pelan pada dirinya.


"Ada apa Paman? Kenapa kau berhenti?" Alice tidak bisa menyembunyikan rasa ketidakpuasan yang tergambar di wajahnya. Ia tergesa-gesa berlari menyerang Palu dengan sebuah tendangan.


"Haaat!"


Alice mengerutkan keningnya heran. Kali ini kakinya merasakan sensasi yang berbeda. Tubuh Palu terasa lebih keras dari sebelumnya.


Palu menyeringai lalu berkata. "Bagaimana? Apakah anda masih mau menyerang ku Nona?"


Alice melompat mundur. Ia mengamati perubahan yang terjadi dalam tubuh Palu.


"Energi yang meluap-luap dan memanas tadi... mereka memadat dan menyatu. Mereka terlihat seperti melapisi setiap tulang dan dagingnya. Tubuhnya berubah dari mode penyerang menjadi bertahan." Alice mendengus takjub. "Hebat."