
Setelah berjalan melewati rawa itu. Alice dan Fee kembali melawan para monster tipe undead. Mayat hidup, ghoul dan skeleton beriringan datang dan menyerang mereka. Monster-monster itu nyatanya adalah monster yang lemah. Selain jumlah dan daya tahan mereka terhadap serangan karena mereka adalah tipe undead yang tidak akan mati meski kehilangan tangan dan kaki. Tentu saja dimata keduanya, monster itu terlihat seperti kerikil kecil saja. Dengan api milik Fee yang membumi hanguskan mereka atau es milik Alice yang membekukan mereka, keduanya berhasil melewati rawa itu hingga sampai di sebuah gua.
"Apakah gua ini sebuah dungeon?" Tanya Alice.
"Hmm....kurasa bukan. Aku tidak melihat adanya gelombang energi yang seharusnya dimiliki oleh sebuah dungeon dan monster-monster di dalam juga berjumlah tak terlalu banyak." Balas Fee.
"Apakah sebelumnya kau pernah kesini?" Tanya Alice lagi berhubung Fee pernah mengatakan kalau ia pernah melewati tempat ini.
"Tidak. Aku juga tidak mengingat kalau pernah ada sebuah gua disini." Terakhir kali ia tinggal di tempat ini sekitar puluhan tahun lalu. Fee berpikir bisa saja sesuatu terjadi yang membuat gua ini muncul. Lagipula, pemandangan di rawa itu telah banyak berubah dari apa yang ia rasa.
Alice menengok ke arah kiri dan kanan, di setiap sisi mereka hanya ada pepohonan lebat yang gelap dan terlihat begitu banyak semak berduri di antaranya. Jika mereka memaksa, mungkin keduanya bisa menembus halangan itu. Tapi hal itu tentu akan membuang banyak tenaga untuk menghancurkan pohon dan semak-semak itu.
Selain gua di hadapan mereka, tidak ada jalan lain lagi yang terlihat dari pandangan keduanya. "Ayo masuk." Alice pun memutuskan untuk masuk ke dalam gua aneh yang terletak di tengah-tengah rawa keputusasaan.
Pemandangan di dalam gua itu terlihat sedikit berbeda dari apa yang ada di luar sana. Rupanya gua itu merupakan tambang tua yang terlihat seperti telah ditinggalkan.
Selagi mereka berjalan, Alice melihat beberapa terowongan yang sudah tidak bisa dilewati atau tertimbun oleh reruntuhan gua. Tempat itu tampak agak gelap karena cahaya yang begitu minim. Di dinding gua hanya ada bebatuan yang menempel yang bersinar kelap-kelip menerangi jalan mereka.
"Hawa di tempat ini lebih baik dari pada di luar sana." Kata Fee sambil ia melompat turun mengikuti Alice.
Alice menoleh kebelakang. "Ya. Kau benar. Meski tambang ini telah ditinggalkan, namun aura positif disini jauh lebih banyak daripada di rawa itu."
Sesuai dengan apa yang Alice rasakan. Tambang tua itu memang tidak terlihat satupun monster undead seperti yang mereka temukan di rawa sebelumnya. Kalaupun mereka bertemu monster, Alice dan Fee Hanya melihat seekor tikus tanah dengan ukuran besar atau beberapa kadal kecil dengan punggung mereka yang keras karena berlapis kulit yang seperti batu. Menurut buku catatan monster yang ia beli dari serikat pemburu, kedua monster itu bernama Claw Mole dan Stone Lizard.
Claw mole adalah tipe monster yang tidak begitu berbahaya seperti halnya wild rabbit. Mereka akan menyerang hanya apabila mereka terancam. Sedangkan stone lizard sedikit lebih agresif namun dengan gerakan lambat itu, Alice dan Fee tidak menemukan adanya kesulitan untuk mengalahkan monster itu.
Keduanya terus turun hingga saat Alice menoleh kebelakang dan mengangkat kepalanya, ia baru sadar kalau gua yang mereka masuki ternyata sangatlah dalam. "Apakah mereka menggalinya hingga ke bawah sini. Perputaran energi di tempat ini sangat stabil ketimbang rawa yang ada di atas. Mungkin karena batu-batu kristal yang mengandung energi itu. Tapi... kenapa tempat ini ditinggalkan begitu saja?" Tanya Alice pada dirinya.
Yah, Kalau dipikir-pikir memang sungguh sia-sia jika sebuah gua tambang yang dalamnya masih ada bebatuan bernilai yang bisa di jual ditinggalkan begitu saja. Sedikit firasat buruk terlintas di benaknya. Alice mulai mengira-ngira kalau ada sesuatu yang membuat orang-orang meninggalkan tempat itu. Seperti memaksa mereka untuk tidak kembali ke tambang itu lagi.
"Alice. Aku merasakan energi yang kuat dari depan sana." Nyx tiba-tiba muncul dan menunjuk ke arah depan mereka. Sebuah terowongan yang gelap dan ada bekas jalur kereta kecil di tanah. Hawa dingin juga terasa berhembus dari dalam terowongan itu dan terdengar adanya gemericik air.
Fee mengaktifkan clairvoyance nya setelah mendengar Nyx. Ia menelusuri terowongan itu dengan pandangannya dan melihat sebuah telaga besar.
"Apakah ada hal lain lagi?" Tanya Alice.
Dalam batinnya, Alice kagum dengan Indra perasa Nyx dan kemampuan clairvoyance milik Fee. Dengan tingkat kultivasinya yang sekarang ini. Meskipun Alice mencobanya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena kesadaran jiwanya belum bisa menjangkau tempat itu.
"Tidak ada yang mencurigakan, tapi di sudut telaga itu ada sebuah terowongan kecil lainnya." Jawab Fee sambil fokus menggunakan kemampuannya. "Biar ku lihat lagi." Fee mencoba menelusuri terowongan itu. Dia hanya menemukan jalan lurus yang tanpa cahaya dan karena itu, Fee menghentikan clairvoyance nya.
Fee mengedip-ngedipkan matanya yang sedikit pedih. Ia terlalu memaksa kemampuannya. Sebenarnya kemampuan clairvoyance milik Fee sungguh sangatlah berguna. Namun, kemampuan itu memiliki kelemahan yaitu jumlah Mana yang dikonsumsinya tergantung dari subjek yang ia lihat. Masa lalu, masa depan, keberadaan bahkan sampai ia bisa melihat jiwa tersembunyi yang ada di dalam diri seseorang. Namun untuk melihat Jiwa serta masa lalu dan masa depan seseorang. Fee tentu harus mengorbankan begitu banyak Mana miliknya. Karena itu, Fee tidak pernah berpikir untuk menggunakannya lagi setelah terakhir kali ia melihat masa depannya sendiri.
Setelah memberitahukan tentang hal tadi kepada Alice, Nyx kembali lenyap ke dalam lautan kesadaran Alice.
Tinggal beberapa langkah dari terowongan di depannya itu, tiba-tiba seekor tikus kecil berukuran seperti anak manusia menghentikannya. Lebih tepatnya adalah manusia binatang dari ras hewan buas. "Kalian! Berhenti...!" Tikus kecil itu merentangkan kedua tangannya ke samping bermaksud menghadang Alice dan Fee.
"Hmm...?" Alice menundukkan kepalanya melihat tikus itu. Ia menyipitkan matanya meneliti mahkluk di depannya dengan seksama.
"Kalian tidak boleh kesana! Di dalam sana berbahaya. Ada monster yang ganas. Kalian akan mati kalau masuk kesana." Ujar tikus kecil itu tegas memperingati Alice sambil ia mengayun-ayunkan tangannya menggambarkan sebesar dan seberapa berbahayanya sesuatu yang ada di balik terowongan itu.
Alice dan Fee saling menatap sejenak. Mereka telah mengetahui bahwa ada sesuatu yang kuat di balik terowongan itu. Tapi mereka tidak tahu tentang bahaya tidaknya sesuatu itu.
Tikus kecil itu bergerak maju hingga ia menempelkan kedua tangannya pada perut Alice dan mendorongnya.
Tingkah lakunya begitu lucu. Alice terkekeh melihat ekspresi tikus kecil yang kesulitan karena berusaha mendorongnya.
"Pokoknya, kalian jangan ke dalam. ughh... menjauh, kalian, ughh harus pergi." Ujar tikus kecil itu sambil sekuat tenaga mendorong Alice yang sebenarnya tidak bergerak se inci pun dari tempatnya. Tikus kecil itu berhenti dan mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Alice menepuk pelan kepala tikus kecil itu. "Tenang saja. Kami ini kuat kok. Kamu, tikus kecil yang imut jangan cemas ya." Balas lembut Alice dengan suara merdu dan pelan.
Tikus kecil itu jengkel dan cemberut. Ia menepis tangan Alice yang menempel di kepalanya. Dia merasa dipermainkan oleh deemon di depannya. Kenapa? Padahal dirinya sudah dewasa, kenapa mereka mempermainkannya seolah dia adalah anak kecil.
"Te-terserah kalian! Aku tidak mau tahu! Hmph! Pergilah kalau kalian mau mati." Ketusnya. Wajahnya sedikit memerah karena kesal Namun Alice sekali lagi terkekeh dan tersenyum melihat keimutan tingkah laku tikus kecil itu.
"Tunggulah. Kami pasti mengalahkan monster ganas itu." Kata Alice lalu keduanya pun berlalu tak mengindahkan perkataan tikus kecil itu.