Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 31



Pertarungan Alice melawan kedua orang berjubah itu masih saja berlangsung.


Dengan wajah datarnya Alice menghela nafasnya "Sepertinya sudah saatnya untuk mengakhiri ini." Gumamnya sudah mulai bosan dengan mereka.


Dengan kemampuannya saat ini, Alice mengira akan menemukan informasi yang bagus dari kedua orang yang ia lawan itu. Berdasarkan pengamatannya, kemampuan mereka memang setara dengan penyihir tingkat 5 yang berarti Alice seharusnya berada satu tingkat atas mereka.


Setelah menghindari [ Dark Matter ] yang menyerangnya dari beberapa arah, Alice melompat mundur dan menerjang pengguna pedang itu dengan cepat. Alhasil tudung kepalanya sobek dan menunjukkan wajahnya.


Kulitnya yang gelap dengan warna yang sangat berbeda dari manusia pada umumnya dan mata hitam itu membuktikan kalau dugaannya benar.


"Sepertinya kita sudah tidak perlu menyembunyikan diri kita lagi." Ucap pria berjubah yang satunya lalu ia menurunkan tudung kepalanya.


Orang-orang yang melihat mereka kaget. Ras iblis? Mereka berdua murni ras iblis.


Sang Raja menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sejak kapan ras iblis masuk ke dalam kerajaannya? Dan bagaimana bisa mereka hadir di hadapannya?


Urat Pelipisnya begitu jelas dan tatapan matanya yang tajam membuat ia ingin melemparkan para prajurit penjaga yang tidak becus dalam melakukan pekerjaan mereka ke dalam penjara.


Iblis dengan tongkat itu mendengus lalu berteriak memanggil Walton "Sampai kapan kau akan merengek disana Hah?! Kemari dan lakukan tugasmu!"


Walton tersentak dan mengehentikan rengekannya. Ia segera bergabung bersama mereka.


"Aku menunggumu untuk keluar tapi sepertinya kau benar-benar orang yang sabaran ya?" Benak Alice sambil ia melirik ke bangku penonton.


Alice merasakan kalau ada sesuatu yang janggal dengan kehadiran dua ras iblis itu dan samar-samar ada perasaan yang tidak mengenakkan dari arah penonton.


Siapa? Dimana dia?


Alice mengembalikan pandangannya pada tiga orang yang ada di depannya. Sosok yang ia incar tampaknya tak begitu mudah untuk dipancing.


"Sekarang kami bertiga, Bagaimana? Aku sarankan kau segera memohon ampunan. Kami mungkin bisa membunuhmu tanpa rasa sakit." Ucap pria iblis yang membawa tongkat.


Walton tertawa kecil lalu berkata "Gadis J*l**g. Aku pasti akan membunuhmu hari ini juga!" Tegasnya sambil menunjuk Alice.


"Apa kau ketakutan sampai tidak bisa berkata-kata, gadis kecil?" Lanjut iblis berpedang.


Alice melihat ketiganya masih santai dan malas untuk meladeni mereka. "Sudah cukup bermain-mainnya."


Ketiganya geram mendengar kalimat Alice. Mereka benar-benar diremehkan. Apalagi ketika melihat ekspresi Alice seolah tidak menempatkan mereka di matanya.


Iblis dengan pedang itu mengambil ancang-ancang dan bersiap menusuk Alice dengan kemampuannya. Begitu pula dengan Walton dan iblis yang memakai tongkat itu, mereka sedang mengumpulkan Mana dalam jumlah besar.


"Kau terlalu memandang tinggi dirimu gadis kecil."


[ Summon! Devouring Serpent! ]


Mana hitam pekat dan menyesakkan itu berkumpul di satu titik. Mereka mengepul dan menutup seluruh arena.


Tanah mulai berguncang dan terdengar suara desis ular yang amat jelas.


Gelak tawa ketiganya memenuhi arena dari balik kepulan asap hitam itu.


Alice merasakan kehadiran yang lebih kuat dan berbahaya. Ia melompat mundur ke sisi Iris.


"Menjauh dari sini. Sepertinya ada sesuatu yang sangat berbahaya yang datang." Ucapnya.


"Ta-tapi...Bagaimana denganmu? Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka?" Iris menatap Alice dengan penuh khawatir dan rasa takut. "Biarkan aku membantumu. Aku...sudah memulihkan sedikit Mana ku." Lanjutnya.


"Jangan khawatirkan aku." Alice menyentil hidung Iris. Ia tersenyum lalu berkata dengan bangganya. "Sekalipun mereka ada sepuluh. Aku masih bisa mengalahkannya. Pergilah."


Iris enggan untuk meninggalkan arena. Tapi, melihat keyakinan Alice, dengan berat hati ia hanya bisa menelan rasa cemasnya itu dan pergi.


Di ujung lorong sebelum memasuki arena, Iris menoleh kebelakang dan melihat Alice. Punggung dan sosok yang gagah itu masih tersimpan dalam ingatannya. "Kakak...."


Perlahan asap hitam itu mulai menghilang dari arena. Terlihat seekor binatang besar dengan tubuh dan ekornya yang memanjang hampir menutupi seluruh ruang di atas arena.


Ular yang sangat besar itu menatap tajam Alice. Dari kedua sisi mulutnya tersembur asap hitam yang tampaknya beracun.


Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar menunjukkan taringnya yang besar dan tajam.


"Bagaimana?!" Kedua ras iblis itu lalu tertawa "Saksikanlah kekuatan kami."


Iblis bertongkat itu melebarkan tangannya kesamping, dengan bangga ia memandang Alice "Sekarang waktunya membuatmu menyesal karena telah meremehkan kami. Tidak hanya itu, setelah kami membunuhmu, kami juga akan memporak-porandakan tempat ini dan membinasakan kalian semua." Ucapnya lantang.


Raja dan penonton lainnya terkejut. Apakah ini adalah pernyataan perang mereka?


Ksatria yang mendampingi Sang Raja adalah seorang panglima hebat tapi ia merasa dengan kemampuannya pun cukup sulit untuk mengalahkan ular itu.


Sementara itu para penonton semakin gelisah. Apakah mereka harus pergi? Bukankah Raja telah memanggil penyihir hebat untuk melindungi kami? Raja sendiri bahkan tidak meninggalkan tempatnya.


Dengan kemampuan keempat penyihir itu, Raja sangat yakin kalau pertahanan sihir yang mereka buat sangat lah kokoh.


Melihat keempatnya masih berdiri tegap dan tetap menyalurkan Mana mereka untuk mempertahankan pelindung sihirnya. Raja masih tetap tenang tapi ketika ia melihat gadis muda yang seorang diri di atas arena melawan para iblis itu. Ia bingung. Haruskah ia memerintahkan ksatria di sampingnya untuk membantunya atau tetap melindunginya.


Para Iblis yang berdiri di depannya bukanlah sebuah kebetulan. Seseorang pasti telah merencanakan sesuatu. Jika ia bergerak sekarang, Raja takut mungkin dirinya atau Sang Ratu yang di sampingnya atau putrinya akan menjadi target mereka selanjutnya.