
Setelah menginap semalaman, Alice dan Echidna mengucapkan salam perpisahan pada Salvor dan Davella. Keduanya berterima kasih atas jamuan dan keramahan mereka.
"Pakailah ini." Davella memberikan sepasang jubah dan sebuah kacamata pada Alice.
"Ini..." Alice bertanya heran karena tiba-tiba Davella memberikan kedua barang itu.
"Gunakan ini agar kau tak terlalu mencolok saat memasuki kota. Putrimu mungkin tidak akan begitu menarik perhatianku tapi kau sebagai ras hyuman, kau mungkin akan membuat orang-orang melirik padamu. Tenang saja, kami para deemon sudah melupakan semua rasa benci untuk saling memusuhi. Meski begitu..., ku rasa akan ada beberapa orang yang tidak akan menyukainya, seorang hyuman berada di tengah-tengah mereka. Kau tahu, ras iblis yang menyerang kota kalian kemungkinan besar berasal dari kelompok perjuangan aktif. Kami yang mencari kedamaian berada pada bagian pasif dan tidak ingin menimbulkan adanya perang lagi." Jelas Davella membuat Alice mengangguk sambil tersenyum tipis.
Davella mengelus kepala Echidna. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Alice dan memeluknya. "Usianya masih sangatlah muda. Benar-benar wanita yang pemberani." Benaknya. Davella berharap jika kelak nanti ia memiliki seorang putri, ia ingin putri yang secantik dan tangguh seperti Alice.
Karena masih penasaran, Alice ingin menanyakan satu hal terakhir namun Davella segera menyadari mimiknya dan berkata "Kau tidak perlu bertanya lagi, di kota Ilium akan ada banyak pengetahuan yang bisa menjawab rasa penasaranmu. Pergilah selagi pagi masih sangat sejuk." Lanjutnya.
Alice dan Echidna mulai berjalan meninggalkan desa itu. Ia berbalik sekali lagi dan melambaikan tangannya pada Salvor dan Davella. Melihat apa yang ibunya lakukan, Echidna juga ikut melambaikan tangannya dengan wajah penuh ceria.
Salvor dan Davella masih berdiri di depan gerbang desa. Mereka merangkul satu sama lain sambil menatap punggung kecil Alice.
"Bagaimana kalau kita buat juga?" Bisik Salvor pada Davella.
Pipi Davella memerah, dia menginjak kaki Salvor karena malu dan ingin menyembunyikan perasaannya. "Ini masih pagi, dasar bodoh. Mesum." Ucap Davella sambil memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan Salvor.
Salvor mendesah melihat tingkah lucu istrinya. Ia menggaruk kepalanya lalu terkekeh.
~
"Woah~ Besarnya~ Mama... lihat, tembok yang besar." Kata Echidna dengan riang sambil menunjuk dinding benteng kota yang mereka lihat.
"Iya. Tembok yang besar."
"Apa kita akan tinggal disana ya?"
"Iya, kita akan tinggal disana tapi cuma untuk sementara."
"Sementara? Lalu kita akan kemana lagi mama?"
"Hmm... Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin pulang." Ucapnya dengan nada yang mengecil. Alice memalingkan pandangannya dan melihat luasnya horizon di ufuk sana. Ia tak tahu kemana lagi kakinya harus melangkah. Tanah tersegel yang dimana ia tak seharusnya berada disini. Alice belum menemukan petunjuk tentang tujuan selanjutnya.
Alice membawa Echidna yang menggenggam tangannya. Mereka berdua telah memakai jubah coklat yang Davella berikan.
Dari kejauhan, Alice bisa melihat beberapa orang sedang mengantri untuk memasuki kota. Para prajurit sedang melakukan pemeriksaan umum di depan gerbang demi mencegah adanya pihak asing yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan dalam kota.
Untung saja antrian tidak begitu panjang. Alice ikut mengantri, ketika sudah tiba gilirannya, salah seorang penjaga gerbang berkata padanya.
"Turunkan penutup kepalamu. Kami harus memeriksa semuanya."
Apakah tidak akan terjadi sesuatu? Alice sedikit gugup. Kekuatan kedua prajurit itu setara dengan level 5. Mungkin mudah baginya untuk mengalahkan mereka tapi bagaimana jika prajurit seisi kota datang. Saat ini dia berada di wilayah asing, yang jauh dari kampung halamannya. Jika keributan terjaga, sebisa mungkin ia berharap untuk tidak melibatkan Echidna.
Sembari ia berpikir, tangannya tertahan di atas kepalanya. Alice masih ragu namun karena tak ada cara lain Alice pun memutuskan untuk menurunkan tudungnya.
"Kyaaa!!!" Suara Jeritan keras terdengar dari antrian belakang. Seorang wanita dan beberapa orang lainnya tertelungkup di atas tanah berusaha melindungi tubuh mereka dari sesuatu.
Bayangan besar di atas langit tiba-tiba datang seolah menutupi cahaya matahari. Alice, Echidna dan yang lainnya mendongak melihat sosok itu.
Raungan keras terdengar hingga membuat orang-orang yang ada di bawahnya panik.
"Wyvern! Itu adalah Wyvern! Panggil bala bantuan dan segera amankan penduduk sekitar." Seru salah seorang penjaga gerbang.
Seekor wyvern besar tampak kelaparan sedang mengintai dari langit.
Salah seorang penjaga gerbang mendecihkan lidahnya. "Bagaimana bisa seekor wyvern ada di kota ini?" Tanya penjaga itu pada dirinya dengan geram.
Alice melihat wyvern itu dengan seksama. Ia merasakan haus darah yang hebat dan tekanan dari kekuatan yang besar. Alice mungkin tidak pernah melihat naga sungguhan tapi jika hanya seekor wyvern saja memiliki kemampuan seperti itu, bagaimana dengan seekor naga asli?
Kekuatannya saat ini mungkin bisa menahan wyvern itu tapi ia tidak yakin bisa menang melawannya. Alice panik dan segera menarik tangan Echidna.
"Echidna, ayo kita pergi. Disini berbahaya."
Namun Echidna tak bergeming. Ia menatap wyvern yang terus berputar-putar di atas langit. Pandangannya yang santai berubah menjadi datar lalu menjadi tajam.
Echidna geram menggertakkan giginya melihat seekor wyvern berani merusak kesenangan pagi harinya. Entah mengapa Echidna merasa kalau ia dipandang rendah oleh wyvern itu. Echidna tidak suka, ia merasa kesal bukan karena hilangnya kesenangannya saja. Tapi perasaan tidak mengenakkan memenuhi hatinya, namun ia tidak memiliki pengetahuan akan hal itu. Tanpa ingatan, Echidna seperti jengkel tanpa alasan yang jelas.
Wyvern itu meraung sekali lagi dan dengan cepat ia menukik tajam ke bawah. Binatang besar itu sudah menentukan mangsanya, seorang wanita yang berdiri dan terlihat mudah ia raih dengan cakar atau taringnya.
Sayang sekali, ketika ia mendekati wanita itu. Seorang gadis kecil maju selangkah dan mengarahkan telapak tangannya ke wajahnya.
Ledakan tekanan besar segera menghempaskan debu dan pasir di sekitar mereka. Alicia terkejut melihat Echidna, baru kali ini ia melihatnya seperti itu. Tekanan itu membuat orang-orang di sekitarnya tersungkur dan tak bisa bangkit bahkan kaki Alice juga bergetar karenanya. Bagaimana bisa jiwanya dikalahkan oleh aura yang putrinya keluarkan? Jiwa yang bahkan mampu menandingi seorang dewi.
Wyvern itu tidak peduli, seolah dalam kepalanya hanya ada makanan. Rasa lapar dan haus darah mengontrol emosinya.
Wyvern itu tetap meluncur dengan cepat tapi segera ketika ia membuka mulutnya dan ingin menerkam wanita itu.
"LANCANG! TUNDUKKAN KEPALAMU!"
Keseimbangan wyvern itu hilang begitu saja dan terjatuh. Tubuhnya terseret hingga menabrak tembok benteng. Wyvern itu ingin bangkit kembali namun sesuatu seolah mengganjal kaki dan sayapnya. Ia memekik dan memberontak namun tetap ia tidak bisa lepas. Suara Echidna yang menggema barusan bagaikan perintah mutlak bagi wyvern itu.
Echidna menoleh melihat wyvern itu. "Mahkluk rendahan sepertimu, berani-beraninya mengangkat kepalamu lebih tinggi dari ku. DIAM!" Wyvern itu pun diam seketika dan tidak berani memberontak.
Detak jantung Echidna karena amarah menjadi tak beraturan. Melihat sikapnya yang tak biasa itu, Alice segera meletakkan kedua tangannya di atas pundak Echidna lalu memeluknya dari belakang. Alice menunduk sambil memanggil lembut nama putrinya.
"Echidna. Tenang sayang. Tenanglah."
Echidna terdiam, tatapannya mulai kembali tenang dan amarahnya perlahan mereda. "Mama..." Jawabnya.
"Iya. Ini mama. Tenang ya."
Echidna menganggukkan kepalanya. Ia merasakan kehangatan tangan Alice dan menempelkan pipinya.
Saat Echidna telah menenangkan dirinya. Bala bantuan sudah tiba dan segera meringkus Wyvern itu.