Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 103



"Menakjubkan. Kalian berdua bisa sampai disini." Suara Echidna meyambut kedatangan mereka.


Echidna duduk menyandarkan punggung dan menopang pipinya di atas salah satu tangannya, melipat satu kakinya dan memandangi kedua tamunya seolah mereka terlihat menjijikkan di matanya. Dan di samping kirinya Marzar setia berdiri mendampinginya dengan sebuah pedang besar yang menggantung di punggungnya.


"Seorang wanita dari ras iblis dan....serigala dari ras hewan buas, pasangan yang unik." Echidna berdiri dari tahtanya. "Setelah sekian lamanya aku tertidur, ada bagusnya juga kalian datang. Kalian cukup kuat untuk bisa sampai di hadapan ku. Maka biarkan aku menggunakan kalian untuk pemanasan."


Setelah melihatnya dengan jelas, Alice yakin dengan apa yang ia khawatirkan . Echidna yang ada dihadapannya sama sekali bukan Echidna putrinya. Meski Echidna selalu menganggap remeh lawannya tapi dia tidak pernah menunjukkan tatapan seperti itu terutama padanya. Bahkan suara dan cara berbicaranya tidak lagi terdengar sama di telinga Alice.


Alice memegangi salah satu sisi kepalanya dan memijatnya pelan. "Apakah dia benar-benar melupakan semuanya?"


Batin Alice mulai ragu tapi sejak ia datang jauh-jauh ke gunung itu, bagaimana mungkin dia mundur saat apa yang ia cari sudah jelas di hadapannya.


"Echidna!" Alice berteriak memanggil nama putrinya.


"Hoooh...kau mengenalku? Berarti kau juga tahu siapa diriku, benar?" Sebagai pemimpin para Naga dan sosok yang pernah mendominasi para monster di benua Arkham dari ribuan tahun silam, Echidna tidak mengira kalau akan ada orang yang mengetahui namanya.


"Diam, bukan kau yang ingin ku panggil." Timpal Alice segera.


Echidna mengangkat satu alisnya karena heran. "Echidna." Sekali lagi Alice memanggil nama putrinya. "Apakah kau tidak mengingatku? Apakah kau tidak mengenaliku?" Tanya Alice sambil menepuk-nepuk dadanya. Raut wajahnya terlihat muram, suaranya menjadi lirih pada ujung kalimatnya.


Echidna tetap terpaku di tempatnya, bahkan ekspresinya tetap datar. Namun ada sesuatu yang sepertinya mengetuk kepala dan hatinya.


"Perasaan ini lagi...." Echidna melirik ke arah dadanya dan berpaling melihat Alice. "Apakah ada hubungannya dengan wanita itu?"


Bayang-bayang seorang wanita tiba-tiba melintas di ingatannya. Tidak jelas, bayangan wanita itu buram bahkan Echidna tidak bisa mengenali suara dan rupanya. Walau begitu, entah kenapa ada rasa akrab yang tidak asing baginya.


Echidna melangkah maju dua kali. "Wanita, katakan padaku. Apakah kau mengenalku?" Nada suaranya menjadi tegas sambil ia mengernyitkan alisnya memandangi Alice.


Alice mengangkat wajahnya. Ternyata masih ada sedikit harapan yang tersisa. Setidaknya dia masih bisa berbicara dengannya dan mencoba untuk membuat Echidna mengingat kembali akan kenangan mereka dulu. "Apakah kau melupakanku? Aku Alice, mama mu."


"Mama...? Mama...." Mulut Echidna menggumamkan kata terakhir Alice dengan pelan. Mama? Sejak kapan dia memiliki seorang mama? Echidna melirik wajah Alice sekali lagi dan dia mendapatkan perasaan aneh itu lagi, sayangnya dia tidak tahu menjelaskan tentang perasaan itu.


Melihat ekspresi Echidna yang mulai tampak bimbang, Marzar yang sejak tadi berdiri di samping tahta Echidna segera memperingatinya. "Yang Mulia! Jangan dengarkan mereka. Jangan termakan oleh tipu daya mereka."


Tidak mungkin baginya membiarkan apa yang selama ini diimpikan dan diusahakannya menjadi sia-sia hanya karena seorang deemon wanita rendahan. Marzar mencabut pedang besar yang ada di punggungnya.


"Tidak perlu bicara lagi. Lebih baik kita segera menghabisi mereka." Ucapnya sambil mengarahkan ujung pedangnya pada Alice dan Fee.


Selama ribuan tahun dia hidup, tak sekalipun dia pernah memanggil seseorang dengan kata 'mama'. Sebagai satu yang terpilih oleh Sang Naga Agung Gloria, dia telah berdiri di puncak. Bahkan, walau para ras telah bergonta-ganti raja dan pemimpin mereka. Echidna tetap menempati posisi sebagai yang terkuat di rasnya.


Seorang wanita dari ras deemon tiba-tiba datang ke hadapannya dan mengaku sebagai ibunya. Apakah itu bukan sebuah penghinaan?


Kebencian dan amarah membuat Echidna buta, ia menepis perasaan hangat dalam batinnya.


Alice menghela nafasnya. Tadinya dia mengira kalau dia bisa menciptakan ruang untuk mereka berbincang lebih banyak lagi. Tapi melihat ketidakpercayaan di wajah Echidna. Alice merasa kalau dia tidak bisa lagi meyakinkannya.


"Baiklah. Sepertinya tidak ada cara lain lagi untuk membuatmu mengerti." Alice menggigit bibir bawahnya.


Sirna sudah, tidak ada lagi yang perlu dikatakan lagi. Alice tidak berharap untuk menggunakan kekerasan demi mendapatkan kembali putrinya. Sejak awal pertemuan mereka, Alice sudah menduga dua kemungkinan yang akan datang. Jika seandainya ingatan Echidna kembali nanti, akankah ia melupakan dirinya yang sudah ia anggap sebagai seorang ibu dan meninggalkannya begitu saja. Atau apakah dia akan tetap bersamanya meski ada atau tidaknya ingatan tentang dirinya sebagai seorang ibu.


"Echidna putriku!" Sekali lagi Alice memanggilnya dengan lantang. "Mungkin ini terakhir kalinya aku memanggil namamu. Tapi ingatlah, walaupun singkat, tapi aku senang bisa menjadi seorang ibu, seorang mama yang pernah kau banggakan." Alice berbalik bersama dengan langkah kakinya yang terasa berat.


Ia berhenti sejenak untuk menengok. Matanya mulai sembab. "Jaga dirimu, Echidna putriku. Selamat tinggal."


Melihat punggung sosok deemon wanita itu yang berjalan menjauh, ketukan kecil di hati Echidna berdentum makin keras. Perasaan aneh yang menyakitkan. Echidna tidak tahu apa terjadi padanya. Apakah itu adalah sihir wanita itu? Dadanya menggebu-gebu membuat nafasnya sedikit berat.


Echidna berdecak. "Menyebalkan." Dendam, benci, amarah membuat ia bertahan.


Echidna mencoba mengabaikan perasaan itu sekali lagi. Untuk apa dia menghiraukannya, gara-gara deemon wanita itu dia menjadi seperti saat ini.


Dia menatap Alice dengan risih, lalu menjentikkan jemarinya yang seketika itu juga membuat pilar-pilar api di hadapan Alice yang menghalangi jalannya.


"Jangan pikir kau bisa keluar masuk begitu saja setelah mengacaukan tempat ku." Kata Echidna.


Alice berbalik, keduanya saling menatap. Echidna berpikir kalau Alice adalah sebuah pengganggu yang bisa menjadi penghalang rencananya. Baik sekarang atau ke depannya, deemon wanita di hadapannya itu membuatnya khawatir dan harus segera dihabisi.


"Benar! Dia harus mati!" Gumamnya. Bisikan jahat dari tumpukan perasaan negatifnya itu benar-benar menutup mata dan hatinya.


"Kau.....Baiklah. Aku tidak ingat pernah mendidik mu seperti ini. Kalau memang itu maumu. Maka biarkan aku memberikan pelajaran terakhir untuk mu."


Reuni antara ibu dan anak yang seharusnya adalah sesuatu yang hangat itu menjadi sebuah perseteruan yang sengit. Alice dan Echidna, keduanya tidak pernah memikirkan kalau pertumpahan darah itu akan menjadi kesedihan yang mendalam nantinya.