Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 104



Marzar melompat dengan pedang besarnya siap untuk membelah tubuh Alice menjadi dua tapi Fee segera menghadang bilah besi tajam itu dengan dengan kosong.


"Biarkanlah ibu dan anak itu menyelesaikan urusan mereka. Bagaimana kalau kau bermain dengan ku dulu." Ucap Fee.


Marzar terkejut karena melihat Fee yang menahan pedang besarnya dengan tangan kosong. Bagaimanapun kerasnya kulit dan daging dari ras hewan buas, tidak mungkin sampai mereka bisa menahan serangan pedangnya yang begitu kuat.


Keduanya lalu melompat mundur dan mengambil jarak.


"[ Dragon's Pride ] [ Flame Blade ]" Marzar meneriakkan kemampuannya.


Dragon's Pride adalah kemampuan khusus dari ras naga. Tidak hanya kekuatan dan kecepatan mereka yang meningkat tetapi juga aura dominasi yang mampu menekan lawan yang lebih lemah dari mereka. Sayangnya efek itu tidak berlaku bagi Fee.


Sedangkan Flame Blade sendiri adalah versi tingkat lanjut dari Sword Aura, dimana penggunanya melapisi senjata mereka dengan Mana lalu mengubah Mana itu menjadi elemen dasar dalam diri mereka. Kini bilah pedang pedang milik Marzar diselimuti nyala api yang membara.


"Alice, yang satu ini serahkan saja padaku." Kata Fee.


Marzar berlari membawa pedang besarnya. Ia mengayunkan pedang itu dengan satu tangan begitu entengnya ke arah leher Fee. Fee menggeser kakinya kebelakang sedikit untuk menghindari tebasan itu.


Marzar lalu memutar tubuhnya untuk membuat tebasan selanjutnya menjadi lebih kuat dan lebih jauh.


Kekuatan dan kecepatan serangannya tidak main-main. Bahkan, dari ayunannya saja bisa dilihat kalau teknik pedangnya yang terlihat biasa-biasa saja jauh lebih baik dan terarah daripada Kyrant.


Fee segera menunduk. Gelombang angin kencang dari serangan Marzar membuat rambutnya ikut tertiup.


"Kau memiliki penampilan yang sama dengan naga berambut merah sebelumnya. Apakah dia... putramu?"


Kedua mata Marzar terbelalak. Seperti biasa, Fee mencoba mengacaukan irama pertarungan lawannya dengan sikap provokasinya.


"Serangannya begitu lemah. Aku bahkan mengira kalau dia itu anak pungut dari mana yang dibesarkan oleh para naga. Kau tahu, bagaimana wajahnya ketika aku menahan semua serangannya? Dia tampak konyol." Fee terus mengoceh sambil menghindari bilah pedang panas yang datang padanya.


Perkataannya tampaknya tidak begitu berpengaruh bagi Marzar. Naga tua itu ternyata lebih berpengalaman dan bisa mengatur perasaannya dalam pertarungan. Marzar tetap menyerang Fee dengan tempo yang stabil.


"Membosankan." Fee berdecak. "Baiklah, kalau begitu kita bertarung dengan serius."


Seketika sikapnya yang sedari tadi hanya menghindar berubah. Fee kini menangkis pedang Marzar yang mengarah ke perut sebelah kanannya. Walaupun sebenarnya bilah tajam itu panas tapi ekspresi Fee terlihat seperti ia tidak merasakannya sama sekali. Pada kenyataannya, kulit Fee lebih kuat daripada sisik naga itu.


Fee kemudian melayangkan tinjunya dan Marzar dengan segera menangkis dengan tangannya yang lain.


Marzar terseret kebelakang. Hanya dengan satu serangan mampu mendorongnya yang seorang naga. Marzar mengibas-ngibaskan tangannya yang kebas karena menahan pukulan Fee.


"Kau kuat. Ku pikir kau hanya pandai mengoceh saja. Dengan lawan sepertimu. Kurasa aku juga harus mulai serius."


Marzar berevolusi. Penampilannya berubah, tidak jauh berbeda dari Kyrant. Hanya saja, dia memiliki dua pasang sayap yang besar dengan empat tanduk di kepalanya dan tubuhnya sedikit lebih besar daripada Kyrant.


"Harus ku akui. Kadal ini memiliki beberapa kemampuan. Sayangnya, kau bahkan masih belum seberapa dibandingkan gadis manusia itu." Batin Fee saat ia melihat gelombang Mana yang terpancar dari tubuh Marzar menggunakan kemampuan Clairvoyance miliknya.


"Benarkah? Bagaimana dengan serangan yang satu ini. Fee menghentakkan kakinya, dengan cepat ia telah berada di hadapan Marzar. Marzar segera beraksi dengan mengibaskan lengannya. Sayangnya yang ia serang hanyalah sebuah bayangan hampa, Fee telah berada di sisi sebaliknya bersiap untuk menendang punggung Marzar.


Reaksi Marzar begitu cepat. Instingnya membantunya untuk mengetahui letak bahaya yang datang, ia menghalau tendangan Fee dengan pedang besarnya


Dentuman keras dan tekanan udara yang lepas dari benturan pedang dan kaki Fee begitu nyaring dalam ruangan itu.


Fee melompat mundur mendorong tubuhnya menggunakan pedang Marzar sebagai pijakan, ia memutar tubuhnya di udara. Ketika mendarat, Fee mengunci kaki Marzar dengan kemampuan bayangannya lalu menciptakan bayangan hitam berbentuk kepala serigala besar yang muncul dari bawah dan menelan Marzar.


Fee berhenti sejenak saat melihat Marzar berada dalam Gumpalan bayangan hitam pekat miliknya. "Heh, jangan berpura-pura, aku tahu kau baik-baik saja di dalam sana." Fee tahu kalau serangan seperti itu tidak begitu kuat untuk menembus sisik dari seekor naga.


Sebilah pedang api menebas bayangan itu dari dalam. "Bocah serigala, kemampuan bertarungmu memang hebat. Tidak hanya pertahananmu tapi juga kekuatan dan kecepatan seranganmu yang begitu kuat dan lihai. Pantas saja putraku tidak berkutik di hadapan mu. Tapi ketahuilah, kau masih belum ada apa-apanya di mataku. Hahahaha."


Marzar mengangkat pedangnya setinggi mungkin, ia lalu menghantam tanah dengan pedangnya yang membuat pilar-pilar api muncul satu persatu menuju ke arah Fee.


Fee melompat ke samping tapi saat ia mengelak, Marzar telah berada di belakangnya. Sekali lagi Marzar mengayunkan pedangnya dari sisi kanan tapi Fee sangatlah gesit sehingga Marzar terjebak untuk kedua kalinya dalam tipuan Fee. Apa yang ia tebas kali ini hanyalah bayangan hitam pekat.


"Berhentilah bergerak kesana-kemari seperti monyet. Maju dan hadapi aku!"


Marzar sedikit kesal. Selain Fee dengan mudah menghindari serangannya, ia bahkan tidak tahu kenapa, lawannya seperti bisa membaca pergerakannya.


Fee tertawa pendek, lalu tersenyum sinis. Ia cukup senang mempermainkan anaknya sebelumnya dan sekarang ia mempermainkan ayahnya. "Jika seandainya gadis itu tidak melarangku untuk membunuhmu. Sudah ku cabik-cabik tulang dan daging itu." Keluh Fee dalam batinnya.


Rahasia yang Marzar tidak ketahui kenapa serangannya dengan mudah digagalkan oleh Fee adalah karena kemampuan Clairvoyance milik Fee yang bisa melihat masa depan.


Sebelum Marzar bergerak, Fee telah melihat kemana naga itu akan mengarahkan serangannya.


~


"Kawanmu tidak buruk."


"Sungguh? Haruskah aku berterima kasih atas pujian itu?"


Echidna menyipitkan matanya, dengan jentikan jarinya sekali lagi tombak-tombak api tiba-tiba tercipta begitu saja di udara.


Alice mengangkat kepalanya untuk melihat serangan itu. Ketika tombak itu meluncur dengan cepat, Alice menghindarinya dengan lihai.


Kemudian, Echidna sekali lagi membuat lingkaran sihir dihadapannya dengan begitu mudahnya. Sebuah pancaran api yang amat panas mengarah lurus pada Alice. Alice sudah cukup sibuk dengan tombak yang jatuh di atas kepalanya tidak sempat menghindari pancaran api itu. Ia terpaksa melapisi pedangnya dengan Qi dan membelah pancaran api itu.


"Lumayan." Kata Echidna. Lalu ia tersenyum sinis.


Kali ini dia menggunakan kedua tangannya. Echidna merentangkan kedua tangannya ke samping yang mana dengan singkat puluhan lingkaran sihir muncul di belakangnya.


"Manusia, menarilah di hadapan Ratu ini."


Anak panah api bermuculan dari lingkaran sihir itu dan menghujani Alice.


Alice menghindari sebisa mungkin. Dengan bantuan pedangnya Alice juga menahan dan memotong panah api yang datang padanya. Ia mengelak dengan indah dan begitu lihai memutar tubuhnya di udara sambil mengayunkan pedangnya tepat pada serangan yang mengarah padanya.


Echidna tidak menyangka gerakan deemon wanita di hadapannya begitu lincah. Tak satupun anak panah yang membekas padanya bahkan sehelai kain yang musuhnya kenakan tak terlihat adanya sobekan atau bekas terbakar.


"Keras kepala sekali. Cih!" Echidna mengerutkan keningnya.


Hanya dalam waktu yang sangat singkat, Echidna menghilang dari tempatnya dan berdiri di hadapan Alice. Gerakannya begitu cepat bahkan lebih cepat dari Fee dan Marzar.


"Wanita keras kepala, hancurlah!" Echidna mengumpulkan Mana di telapak tangannya dan mengubahnya menjadi elemen api. Tangannya berkobar berselimut api yang membara. Ia kemudian mengarahkan tinjunya ke tanah tepat di hadapan Alice.


Guncangan dan ledakan membuat tanah itu terhempas ke udara menjadi puing-puing. Beruntungnya, sebelum ia ikut terhempas ke udara, dia segera menyadari perubahan energi di sekitar Echidna. Alice menutup wajahnya dengan bilah pedang dan energi Qi nya.


Alice berdiri di atas salah satu puing-puing. Ia melihat Echidna dari langit.


Kemudian ia menendang bebatuan-bebatuan kecil di sekitarnya ke arah Echidna. Alice melompat ke setiap puing-puing yang ada dan menendangnya ke arah Echidna.


Echidna dengan mudah menghancurkan bebatuan itu. Ia geram dengan serangan lemah yang terus menghalangi pandangannya. Echidna pun mengarahkan salah satu telapak tangannya pada Alice dan seketika lingkaran sihir besar terbentuk begitu saja.


Alice menyadari gelagat Echidna, ia pasti akan menyerangnya dengan sihir skala besar. "Bahkan ketika ingatan mu kembali, kau tetap saja ceroboh."


Saat Echidna menembakkan sihir apinya, Alice telah meninggalkan bayangan dirinya menggunakan [ Mirror Mirage ] salah satu kemampuan dari Qi es miliknya, yaitu membuat figur dirinya dari bongkahan es.


Alice telah berdiri di samping Echidna. Saat sudut matanya melihat objek yang tiba-tiba muncul di sampingnya, Mata Echidna terbelalak, ia segera membatalkan sihirnya tapi Alice lebih cepat satu detik darinya.


Alice menghantam sisi kiri tulang rusuk Echidna dengan pangkal pedangnya, kemudian ia menunduk sedikit lalu mengarahkan telapak tangannya yang penuh akan energi Qi pas di ulu hati Echidna.


"Bahkan untuk orang yang telah hidup ribuan tahun, kau sama sekali tidak memiliki banyak pengalaman bertarung."


Kedua serangan itu sudah cukup kuat untuk menerbangkan seekor naga dewasa tapi Alice tahu seberapa kuat putrinya itu.