
Keadaan Ernard dan yang lainnya tidak begitu baik. Tersisa dirinya yang masih berdiri dan terkepung, tentu saja bagi Ernard melawan delapan orang sekaligus tidak mudah baginya apalagi tiga diantaranya berada di level 6. Ernard hanya bisa merapatkan giginya geram melihat istrinya yang tak sadarkan diri berada di tangan mereka.
"Apakah kalian yakin ingin membangkang perintah Baginda Yang Mulia?" Tanya Ernard menatap tajam para penyusup itu.
Cliff yang merupakan Wakil Kepala kuil dengan angkuh menjawab. "Ini adalah perintah Sang Dewi, tentu perintah suci ini tak sama dengan peraturan manusia. Lebih baik hentikan perlawanan sia-sia mu."
Meski tubuhnya terluka, namun mata dinginnya tetap fokus pada pria yang menjawabnya. "Bagaimana dengan kepala kuil, apakah kalian sudah mendapatkan persetujuan darinya?"
"Beliau sedang berada dalam keadaan meditasi, tak bisa diganggu. Sedangkan Perintah ini adalah wahyu suci langsung dari Sang Dewi. Apakah kalian ingin menanggung dosa besar karena menghalangi kami dari melaksanakan perintah Sang Dewi?"
Ernard meragukan perkataan Cliff. Ketujuh Cardinal yang ada dibelakangnya atau yang lebih dikenal sebagai Seven Sages tak mungkin bergerak tanpa perintah langsung dari Kepala Kuil.
Lantas...apa itu berarti Kepala Kuil mengingkari perjanjian mereka?
Ketika Ernard memikirkannya kembali, mereka mengatakan bahwa itu adalah perintah Sang Dewi. Wahyu suci biasanya hanya didengar oleh orang-orang pilihan seperti Kepala Kuil itu sendiri atau Sang Saintess yang saat ini adalah sahabat dari putrinya. Dia hanya menebaknya saja, dia merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Menyerahlah, jatuhkan pedang kalian dan bertekuk lututlah di hadapan perintah Sang Dewi." Cliff mendengus memandang rendah Ernard dan orang-orangnya. Ia membusungkan dadanya merasa lebih tinggi karena telah menjatuhkan Duke Strongfort yang terkenal akan kekuatan tempurnya, Cliff berbalik dan berjalan meninggalkan Ernard.
Omong kosong! Sorot mata Ernard bagai belati dengan ujung yang tajam dan siap menusuk punggung pria itu.
Ernard menguatkan genggamannya, memenuhi pedangnya dengan Mana yang sangat padat lalu ia menyerang Cliff dari jauh dengan tebasannya. Serangan itu begitu kuat, bahkan Aura pedangnya saja bisa membekas di tanah namun salah seorang dari Cardinal dengan cepat menghalau serangan itu.
"Ugh..." Cardinal itu terseret kebelakang, merintih kesakitan dan mengibas-ngibaskan tangannya yang seperti mati rasa akibat serangan Ernard.
"Aku bahkan tak bisa mendekati Liana." Batin Ernard kesal dengan kurangnya kemampuannya. Ia menengok para pegawai dan Iris yang pingsan di belakangnya. Nafasnya mulai tersengal, sebagai seseorang yang pernah berjuang habis-habisan di medan perang, kekuatan Ernard di level 6 sudah termasuk hebat karena mampu bertahan dalam kepungan para Cardinal walau hanya seorang diri.
Cliff tidak terima. Meski rencananya berjalan mulus berkat bantuan dari para Cardinal, Namun ia tak suka pandangan mata Ernard dan ekspresinya. Cliff kemudian mengangkat satu lengannya dan memberikan isyarat dengan mengayunkannya ke depan. Para Cardinal bergerak menyerang Ernard. Pedang besi yang di lapisi Aura berwarna kuning keemasan itu tampak kuat.
Serangan kombinasi dari segala arah mulai menerjangnya, namun Ernard dengan lihai menahan semuanya meski itu menimbulkan dampak yang sangat parah baginya. Mulutnya mengeluarkan darah karena penggunaan Mana yang berlebihan, Ernard tahu kalau jika di teruskan ia akan kehilangan kesadaran dan kalah, tapi demi Liana, ia tidak mungkin menyerah begitu saja. Ernard terus saja memaksakan tubuhnya untuk melawan.
Tak jauh dari tempat Ernard berdiri, Hubert si kepala pelayan yang tergeletak di tanah melihat perjuangan Tuannya yang mati-matian. Miris, ia tak bisa membantunya disaat-saat seperti ini. Kekuatan para Cardinal bukanlah sesuatu yang dia dan para prajurit kediaman Strongfort bisa tangani.
Hubert menekuk kedua alisnya menyesali dirinya saat melihat Ernard di serang secara bertubi-tubi. Tubuhnya sudah tak bisa bangkit lagi, bahkan ia pun cukup sulit menggerakkan jemarinya. Ia mengalihkan pandangannya ke samping, disana juga Iris pingsan setelah dikalahkan oleh mereka. Bibirnya gemetar tak kuat menahan pahitnya rasa ketidakberdayaan dirinya itu.
"Setelah bertarung sesengit itu, kami tak menduga dengan tiga Cardinal yang berlevel 6 yang ternyata menunggu kami lengah." Benak Hubert.
Kembali ke Cliff yang semakin marah dengan perlawanan Ernard. "Bunuh saja, aku yang akan mengurusnya sisanya nanti." Serunya lantang.
Para Cardinal saling diam dan saling menatap. Haruskah mereka melakukannya? Bukankah dia hanyalah seorang wakil? Lagi pula membunuh seorang Duke akan menimbulkan kegemparan di kerajaan. Mereka berpikir sejenak, saling memandang dan mengangguk. Mereka tak punya pilihan, selama Cliff memiliki emblem milik Kepala Kuil, itu artinya ia mewakili perintah langsung dari Kepala Kuil itu sendiri.
Para petinggi kuil itu memejamkan mata mereka, bibir mereka bergerak-gerak, terlihat dari posisi mereka yang serentak menunduk, mereka sepertinya sedang memanjatkan doa. Ketiga Cardinal yang berlevel enam lalu menyatukan ujung pedang mereka. Sinar terang keemasan menyelimuti pedang mereka. Sinar itu tampak lebih terang dari sebelumnya dan membuat panjang pedang mereka menjadi seperti dua kali lipat.
Ketiganya lalu mengayunkan pedang mereka dari atas ke arah Ernard. Serangan itu memiliki gelombang energi yang begitu besar, bahkan jarak serangannya pun begitu luas. Jika ia menghindar, maka orang-orang yang ada dibelakangnya yang akan terluka. Tak ada pilihan lain, Ernard memaksimalkan seluruh Mana yang ia miliki untuk menahan serangan itu.
[ Plum Blossom Sword Technique, Four Style. Baihu Raging Fang ]
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang gadis. Ia muncul dari atas, menukik kebawah dan menahan serangan itu dengan teknik pedangnya. Para Cardinal terbelalak melihat seorang gadis muda yang berdiri di depan mereka.
[ Divine Retribution - Nemesis ] di gagalkan? Oleh gadis muda sepertinya?
Ernard yang berdiri dibelakangnya juga kaget melihat kemunculan tiba-tiba putrinya. Kekuatan dahsyat itu... apakah dia benar-benar Alice?
"Kalian dari Kuil bukan? Apa yang kalian lakukan terhadap kediaman Strongfort? Dan apa yang akan kalian perbuat pada ibuku?" Nada datar dan dinginnya membuat bulu kuduk para Cardinal merinding. Gadis kecil di hadapan mereka memancarkan aura mematikan dan hawa membunuh yang begitu tajam.
Apakah gadis itu baru saja membuat kami gentar?
Alice berbalik, ia menatap ayahnya dengan ekspresi sedih dan cemas, ia lalu menatap orang-orang di sekelilingnya yang terluka, dan saat ia melihat adiknya tergeletak pingsan di tanah. Kemarahannya semakin menjadi-jadi. Alice melirik tajam para Cardinal dari sudut matanya.
"Iris!" Alice berlari menghampirinya dan mengangkat kepala adiknya untuk ia sandarkan di pahanya.
Alice memeriksa kondisi Iris, syukurlah adiknya tidak terluka begitu parah. Tapi tetap saja, kekacauan yang mereka timbulkan bukankah sesuatu yang bisa dibayar murah. Alice mengangkat Iris, membawanya untuk ia sandarkan di sisi tembok. Kemudian ia mengambil sebuah potion berwarna merah dari cincin dimensinya. Alice dengan pelan menuangkan potion itu sedikit demi sedikit ke dalam mulut Iris.
Para Cardinal tetap tak bergerak. Mereka menatap punggung kecil gadis itu. Rasa gentar di kaki mereka belum terangkat.
"Apa yang kalian lakukan? Serang dan habisi mereka! Sebagai pendosa yang mengkhianati Sang Dewi, kematian adalah hukuman ringan untuk orang-orang seperti mereka." Seru Cliff tergesa-gesa.
Bukannya para Cardinal tidak ingin menyerang Gadis itu. Tapi mereka yakin, kalau gadis itu lebih sulit ditangani daripada Duke Ernard. Bahkan serangan Nemesis dari mereka bertiga pun berhasil ia tangkis dan lihat, gadis itu tak terluka sedikitpun.
Setelah meminum kan potion itu pada Iris, Alice membelai dan merapikan poni iris kesamping. Ia mengusap pipinya dan membersihkannya dari kotoran pasir. Alice tersenyum lembut sejenak.
Ia berbalik dan menghadapi orang-orang dari kuil. Layaknya membalik halaman, Emosinya berubah total saat memandangi para Cardinal dan Cliff. Alice berjalan dan berdiri di samping Ernard. Ia menoleh dan melihat wajah lelah Ayahnya yang sudah berjuang.
"Aku akan merebut kembali ibu dari mereka. Ayah tak perlu khawatir." Ucapan Alice menahan kalimat yang sudah ada di ujung lidah Ernard. Alice lalu memberi Ernard potion yang sama yang berikan pada Iris.
Alicia memutar tubuhnya, berdiri dengan angkuh di hadapan para petinggi kuil, ia menarik pedangnya perlahan dan mengacungkan ke hadapan mereka. Matanya menjadi gelap dan dingin begitu pun dengan udara di sekitar mereka yang menjadi lebih berat.
Alice tak bergeming, degan kokoh menantang para kekuatan besar di hadapannya. "Kembalikan Ibuku atau Mati."