Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 177



Pria itu berdiri di persimpangan gang. Dia mengenakan sebuah jubah coklat dengan tudung yang menutupi kepalanya. Bayangan tudungnya menghalangi sebagian wajahnya dan itu membuat Elysia kesulitan menebak seperti apa rupanya.


Elysia melihat kantong kecil yang pria itu ulurkan padanya. Dia segera menyadarinya kalau itu adalah miliknya. "Iya, itu benar punyaku."


Pria itu melambungkannya dengan pelan pada Elysia. "Lain kali berhati-hatilah." Lalu ia berbalik pergi.


Mata Elysia fokus melihat kantong uangnya yang melambung di udara. Saat ia berhasil menangkapnya, ia mengangkat kepalanya untuk melihat pria itu, ternyata dia sudah berjalan menjauh. Elysia memanggilnya agar dia berhenti. "Eh...Tuan! Tuan penyelamat! Tuan baik hati! Paman! Ooii...!"


Tak peduli sekeras apa ia berteriak dan seperti apa ia memanggilnya, pria berjubah itu terus berjalan tanpa menoleh sekalipun.


Elysia merasa tidak enak hati. Ia berteriak sekali lagi dengan ucapan terima kasih. "Terima kasih ya, eh...Paman baik hati." Dengan sopan ia menundukkan kepalanya sedikit.


Ketika Elysia kembali mengangkat kepalanya, pria itu telah lenyap dalam keramaian.


Siapa sebenarnya orang itu?


Elysia merasa kalau dia hanyalah orang asing yang kebetulan lewat dan kebetulan menolongnya. Ia tidak ingin terbebani dengan pemikiran rumit dan menganggap kalau itu adalah pertemuan pertama dan terakhir mereka.


Sayangnya takdir yang mereka arungi tidak sesimpel itu.


Elysia menghela nafasnya lega sambil ia mengelus-elus dadanya. Dia akhirnya mendapatkan uangnya kembali. Dia merasa bodoh karena uangnya dicuri oleh seorang bocah. Parahnya lagi dia kehilangan jejaknya dan tidak bisa menemukan bocah itu.


Dia memasukkan uangnya ke dalam sakunya lalu kembali ke Alice. Batinnya merasa sedikit was-was saat melihat ibunya masih berdiri di tempat yang sama. Elysia menggelengkan kepalanya. Dia tetap mendekat meski sebenarnya ia sedikit ragu.


"Apakah kau mendapatkan uang mu?" Tanya Alice saat ia melihat kedatangan Elysia.


Elysia mengangguk dengan pelan. Ia menggaruk pipinya dan tersenyum malu sambil menunjukkan kantong uangnya.


"Baguslah." Kedua sisi bibir Alice merekah sedikit kesamping.


Kalau saja Elysia tidak melihat sorot mata Alice dan hanya melihat senyum tipisnya saja, ia pasti akan merasa tenang. Tapi pandangan Alice yang ada di depan matanya menyiratkan kalau dirinya sedang dalam masalah saat ini.


Alice merasa kalau kecerobohan putrinya ini perlu diberi hukuman kecil. Ia akan memberinya peringatan agar kelak dia tidak melakukan hal yang sama lagi.


Seperti biasa, Alice menghukumnya sama seperti yang pernah Iris dan Echidna rasakan. Alice mengangkat tangannya dan mendekatkannya pada wajah Elysia. Tepatnya, di depan dahinya.


"Hmm..? I-ibu mau melakukan apa?" Elysia gugup dan menatap bingung kepalan tangan Alice yang mendekat ke wajahnya.


Apakah dia akan dipukul? Alice tidak mungkin setega itu bukan?


Alice mendengus. Ia lalu menyentil dahi Elysia dengan cukup kuat.


"Ah!" Elysia menjerit sekali. Ia lekas mengelus dahinya yang terasa perih. Disana benar-benar merah dan meninggalkan bekas sentilannya.


"Itu hukuman buatmu. Lain kali lebih hati-hatilah dan perhatikan sekitar mu." Serunya.


Bibir merah muda Elysia mengkerut. Dia menunduk menggantung kepalanya dengan rasa bersalah. "Baik bu." Jawabnya dengan suara pelan. Elysia menyesal karena semua kejadian ini terjadi karena dirinya lengah dan ceroboh.


Kemampuan Elysia sedikit lebih lambat dalam memahami teknik yang Alice ajarkan padanya. Berbeda dengan Echidna yang memilki kontrol Mana yang hebat, dia dengan mudah bisa menggunakan teknik pelepasan kesadaran ilahi yang ia ajarkan padanya.


Karena teknik itu pada awalnya menggunakan resonansi gelombang Qi yang dilepaskan untuk merasakan apa yang ada di sekitarnya. Alice berpikir kalau ia hanya perlu merubah sedikit metodenya saja. Makhluk di Aria lahir dan hidup berdampingan dengan energi Mana. Alice hanya perlu mengajarkan mereka untuk lebih memperdalam konsentrasi mereka dalam merasakan energi Mana itu sendiri.


Alice menepuk-nepuk kepala Elysia dengan nyaman. "Sudah, sudah. Aku tidak marah, aku tidak marah. Ayo, kita cari penginapan untuk istirahat."


Tangan ibunya terasa begitu hangat dan nyaman di kepalanya, juga suaranya terdengar merdu di telinganya. Elysia mengangkat wajahnya. Ia berjalan dengan patuh mengikuti Alice disisinya.


Ibunya memanglah yang terbaik. Tapi tetap saja, dia masih merasa malu. Elysia pun bertekad dalam batinnya untuk segera menguasai teknik kesadaran ilahi yang Alice ajarkan padanya.


Hari berganti malam, waktunya mereka bergerak untuk menyusup ke dalam gedung megah itu.


Mata Elysia yang tadinya terpejam karena ia sedang melatih konsentrasi Mana nya, kini terbuka saat mendengar panggilan Alice.


Mereka berdiri di depan jendela dan melompat keluar. Keduanya bergerak dari atap rumah yang satu ke yang lainnya. Lompatan dan gerakan mereka sangat halus sampai tidak menimbulkan suara. Hentakan kaki mereka ketika berlari bahkan hampir tidak berbunyi.


Alice dan Elysia turun di samping rumah yang ada di dekat gedung megah itu dimana tidak ada cahaya yang menerangi posisi mereka.


"Kita akan masuk lewat sana." Kata Alice sambil menunjuk jendela kecil dari gedung megah itu


Karena kebanyakan struktur bangunan rumah memiliki atap datar, tidak miring seperti rumah-rumah di kerajaan Solus, itu mempermudah mereka untuk bergerak dan melakukan penyusupan.


Mereka melesat bagai peluru menuju ke jendela kecil itu. Tampaknya itu adalah gudang kecil yang tidak terpakai.


Alice berbisik pada Elysia. "Perhatikan dan rasakan. Aku akan melepaskan Qi milikku untuk merasakan energi kehidupan di tempat ini. Teknik ini tidak jauh berbeda dengan menggunakan mana." Ujarnya


Elysia mengangguk. Ia menjadi serius dan fokus memandangi Alice.


Alice melepaskan energi Qi miliknya.


'Plok' laksana setetes air yang terjatuh ke permukaan danau. Qi Alice merembes ke seluruh gedung itu. Riaknya bergerak melebar dan memantul kembali. Alice bisa merasakan begitu banyak hawa kehidupan selain dari para budak yang dikurung di sebuah ruangan yang tak jauh dari posisi mereka saat ini.


Alice melirik Elysia. Elysia paham dengan isyarat mata ibunya. Dia mengangguk menandakan kalau dirinya siap.


"Baiklah. Untungnya aku sudah mempersiapkan ini sebelumnya." Gumamnya. Alice merapatkan jari tengah dan jari telunjuknya. "Kita butuh pengalihan." Bibirnya bergerak tanpa suara seolah ia sedang merapalkan suatu mantra.


Tidak ada angin tidak ada hujan. Sebuah petir tiba-tiba menyambar sisi lain gedung itu dan membakarnya. Azeer dan para penjaganya terkejut heran. Bagaimana bisa ada petir di wilayah tandus ini? Langit bahkan tidak berawan.


Apa Alice siapkan sebenarnya adalah sebuah jimat kecil yang ia lemparkan di tempat itu sebelum mereka melakukan penyusupan.


Azeer merasa ada yang tidak beres. Ia memerintahkan beberapa orang di dekatnya untuk mengecek situasi di luar dan sebagian tetap bersamanya.


Saat keadaan menjadi riuh. Alice dan Elysia pun bergerak dengan cepat. Mereka segera menuju ruangan di mana para elf dikurung.


Alice menyipitkan matanya ketika ia merasakan ada orang yang mendekat ke arah mereka.


Alice segera memadatkan Qi nya menjadi pedang. Sebelum orang itu berbalik dan melihat mereka, Alice telah lebih dulu melumpuhkannya.


"Bawa mereka keluar dari sini. Aku akan ke bawah. Gedung ini memiliki ruang bawah tanah. Aku bisa merasakan kalau lebih banyak orang yang dikurung di sana." Pungkasnya pada Elysia.


Elysia mengangguk.


Alice melompat ke lantai bawah.


Sementara itu, Elysia mengeluarkan sabitnya dan menghancurkan pintu yang ada di depannya. Dia melihat saudari-saudarinya yang dirantai pada tangan dan kaki mereka.


"Ini... menurut laporan jumlahnya ada 9, lalu dimana keempat elf lainnya. Mungkinkah?" Elysia berbalik ke arah pintu. Mungkinkah ibunya telah mengetahuinya.


Mata para elf itu hampir saja kehilangan cahaya mereka. Betapa terharu dan bahagianya mereka ketika melihat Elysia muncul.


Mereka mengenal gadis elf berambut perak itu. Dia adalah saudarinya.


Apakah dia kemari untuk menyelamatkan kami?


Bercampur bahagia, sedih dan marah. Elysia mengesampingkan perasaan emosionalnya. Dia harus segera menyelamatkan mereka dari tempat itu.


Wajah berseri dengan senyuman manis itu membuat para elf yang dikurung menjadi lega. "Tenanglah, aku akan menyelamatkan kalian. Kita akan segera keluar dari sini." Elysia mengayunkan sabitnya kesamping lalu menebas rantai yang mengikat para elf itu.


"Ayo. Ikuti aku."


Di lain pihak. Alice berhasil menarik perhatian para penghuni gedung itu. Setidaknya dia yakin dengan kemampuannya, dia bisa mengalahkan mereka. Alice bergerak terus menuruni tangga hingga ke lantai satu.


Setiap penjaga yang menghalanginya berakhir tewas.


Alice menyeringai. "Bagus, Elysia sudah berhasil menyelamatkan mereka. Aku tidak boleh berlama-lama disini. Setelah mendapatkan para elf dan informasi dari pria bernama Azeer itu. Aku harus segera pergi sebelum para penjaga keamanan kota menyadarinya."


Alice memasuki sebuah kamar kosong yang berisi banyak barang antik di dalamnya. "Mereka ada di bawah sini. Itu artinya ada jalan rahasia menuju lantai dasar di ruangan ini."


Tanpa pikir panjang Alice membakar seisi ruangan itu menggunakan sihir apinya. Untuk apa repot-repot mencari satu-satu, toh aku memang berniat untuk 'sedikit'mengacaukan tempat ini. Pikirnya.


Waktu itu ketika di Wasteland. Ternyata tidak hanya dia berhasil menerobos ke ranah Immortal tapi dia juga menyadari kalau Mana dan kekuatan sihirnya meningkat semakin besar. Dia tidak yakin tentang levelnya saat ini, namun dia bisa menggunakan sihir apinya lebih efisien. Alice hanya mengira-ngira, mungkin saja dirinya sudah berada di level 4.


Api berkobar membakar ruangan itu. Alice mengeluarkan jubahnya. Ia memasang kain untuk menutup sebagian wajahnya dan menarik turun tudungnya.


Alice telah melihat pintu masuk menuju lantai bawah.


"Hmm... tunggu sebentar. Benda ini...."


Perhatiannya tiba-tiba teralihkan saat matanya menangkap sesuatu yang menarik. Dia menemukan benda berharga di dalam ruangan itu.


Alice tertawa kecil. Ia senang, tidak disangka kalau ia bisa menemukan sebuah artifak yang berharga di ruangan itu.