
Ketika api telah melahap hampir keseluruhan isi ruangan itu, Alice melihat sebuah pintu kayu yang di kamuflase kan layaknya sebuah batu.
Alice mendorong pintu itu dan menemukan anak tangga ke bawah. Lorong itu cukup gelap dan hanya ada sedikit penerangan dari cahaya obor yang menempel di dinding.
Alice berjalan menuruni anak tangga hingga sampai ke dasarnya.
Setelah sampai di bawah, ia melihat pintu lainnya. Pintu itu terbuat dari batu sungguhan. Alice menyentuhnya dan merasakan adanya getaran Mana pada pintu itu.
"Mereka memasang formasi sihir disini. Tampaknya sedikit lebih rumit. Ada sebuah lubang pemicu yang mana membutuhkan sesuatu untuk membukanya." Gumamnya sembari ia terus mengamati lingkaran sihir yang muncul pada pintu itu.
Sekalipun dia memang bisa menghancurkan pintu itu dengan paksa, namun Alice merasa kalau dia akan menggunakan banyak kekuatan dan pastinya akan menimbulkan lebih banyak keributan.
Tak lama ia berdiri disana, dua bilah pedang terbang ke arahnya dari sisi kiri dan kanannya.
Alice menepis mereka dengan mudah. Tapi, segera sebuah boneka humanoid muncul dari lubang yang tiba-tiba terbuka di atas kepalanya.
Alice melompat mundur menghindari serangan tiba-tiba boneka itu.
Daya serangnya cukup kuat untuk membuat tanah di sekitar mereka bergetar.
Walaupun tubuhnya tak sepenuhnya seperti manusia, namun boneka itu jelas memiliki sepasang tangan yang besar dan sebuah kepala, hanya saja dia tidak memiliki kaki yang membuatnya terlihat mengambang di udara.
Saat boneka itu mengulurkan kedua tangannya ke samping, kedua pedang yang menancap di tanah bergerak dan melesat ke arahnya.
"Apa ini? Fungsi Magnetis?" Pedang itu kembali ke dalam genggamannya.
Alice mengamati pergerakan dan struktur tubuh serta aliran Mana boneka itu dengan seksama. "Boneka ini memiliki susunan yang lebih kompleks. Aku bahkan kesulitan melihat energi Mana yang mengalir di dalamnya." Dia tak menemukan celah yang sama dengan boneka ular sebelumnya.
Energi Mana dalam boneka itu mengalir dengan stabil.
Alice mengerutkan keningnya. "Akan sulit untuk menemukan titik lemahnya. Tidak ada cara lain selain menghancurkannya" Lanjutnya.
Namun, saat ia melihat sebuah bola kecil bercahaya yang ada di dada kanan boneka itu, Alice pun paham kalau benda yang bersinar itu adalah sesuatu yang ia butuhkan untuk membuka pintu batu di depannya. Singkatnya bola kecil itu mungkin adalah kuncinya.
Alice menghunuskan pedang Moonlight nya. Pedang itu bergetar dengan suara ciut kecil yang nyaring. Alice bisa merasakan kalau pedangnya sudah tidak sabar untuk menebas lawannya. Kilau bilahnya yang terang terlihat bersinar walau dalam gelap sekalipun.
"Indahnya." Ucap Alice spontan. Ini adalah pertama kalinya ia menggunakan pedang itu. Alice berpikir kalau pedang itu akan sangat cocok jika dipadukan dengan teknik Qi beku miliknya.
Tapi kali ini Alice ingin mencoba sesuatu.
Semenjak ia sudah memiliki kekuatan sihir yang sebanding dengan penyihir level 4, Alice penasaran dan ingin mencobanya pada boneka di hadapannya.
Boneka itu mulai bergerak, dia menimbulkan suara gesekan logam.
Boneka itu mengangkat kedua lengannya ke atas dan menyilangkan pedangnya di depan tubuhnya. Kemudian ia melesat terbang ke arah Alice dengan cepat.
Alice menahannya dengan pedangnya. Daya dorong boneka itu benar-benar kuat. Namun itu belum cukup untuk menggeser kaki Alice dari posisinya. "Sayangnya aku tidak pernah meremehkan lawanku. Tapi, biarkan aku melihat sejauh mana kekuatan sihir ku dengan melawan mu." Kata Alice.
Boneka itu dengan agresif mengayunkan pedangnya secara bergantian ke kiri dan ke kanan. Tapi Alice dengan lihai mengelak.
"Lumayan cepat. Walaupun terbuat dari logam tapi benda ini cukup fleksibel."
Alice menyipitkan matanya. Dengan gerakan tangan yang cepat, ia menangkis pedang boneka itu, kemudian ia menempelkan telapak tangannya yang lain pada tubuh boneka itu.
Alice berlari dengan cepat dan menebas lengan boneka itu.
Kedua alisnya terangkat saat melihat pedangnya gagal memutus lengan boneka itu. "Tidak hanya cepat tapi juga kuat. Tidak ku sangka kalau pedang ku bahkan tidak bisa memutus lengannya."
Serangan Alice hanya merobek kulit boneka itu.
Saat ia merasakan ancaman karena tubuhnya telah terluka, boneka itu mengeluarkan teriakan keras seperti dia sedang mengamuk. itu seperti dia berganti mode bertarung.
Serangannya menjadi lebih intens dan kuat. Bahkan dia mengganti pola serangannya dan menjadi semakin brutal. Tapi dengan tingkat kultivasi Alice saat ini, boneka itu benar-benar tidak lebih dari sebuah tumpukan logam di matanya. Saat Alice meningkatkan inderanya, gerakan boneka itu akan menjadi lebih lambat di matanya. Kerasnya logam yang melapisi tubuhnya bahkan tidak akan bisa bertahan dari pukulannya.
Boneka itu berulang kali menyerang Alice dengan berbagai cara. Tapi setiap kali Alice mengambil inisiatif dan menahan serangannya, saat itu juga Alice melayangkan serangannya. Dengan pedang dan sihirnya, boneka itu menjadi berantakan di setiap sisinya.
Pertarungan mereka berjalan agak lama karena Alice hanya menggunakan gerakan pedang sederhana dan sihir apinya. Sebenarnya ada alasan mengapa Alice ingin menyembunyikan kemampuannya yang sesungguhnya.
"Aku tahu ada seseorang yang mengendalikan boneka ini di pintu itu. Dia pasti sedang melihatku. Dia mencoba mengukur kekuatanku dengan bonekanya. Heh." Alice mendengus dingin.
Ia cukup memuji taktik orang itu dan juga boneka buatannya.
Tubuh boneka itu sudah robek sana-sini. Di beberapa bagian tampak hangus karena sihir api Alice.
"Aku sudah mencoba untuk menggunakan Aura tapi sepertinya kemampuanku belum cukup." Gumamnya.
Alice berharap ia bisa menyelimuti pedangnya dengan Mana lalu merubahnya menjadi pedang api yang bergejolak seperti yang pernah ia lihat ketika melawan Kyrant. Sayangnya teknik Sword Aura membutuhkan konsentrasi Mana yang lebih dalam. Walaupun Alice mengerti konsepnya, namun tubuhnya belum bisa mengimbanginya.
"Ya sudah lah. Sebaiknya kita akhiri saja pertarungan ini." Alice merasa sudah cukup dengan latihannya. Ia sudah puas.
Sama seperti saat ia menggunakan Qi. Alice mengalirkan Mana dari jantungnya ke telapak tangannya. Dengan pengimajinasian yang hebat, Alice berhasil menciptakan kobaran api yang lebat di tangannya.
Matanya terkunci hanya pada satu titik.
Alice menggunakan Shadow Step untuk bergerak cepat ke belakang boneka itu.
[Bursting Blow]
Satu pukulan hebat ia benamkan ke tubuh boneka itu.
Tinjunya menghasilkan ledakan yang besar dan menembus tebalnya logam pelindung dari boneka itu. Dengan itu, Alice membuat sebuah lubang yang besar pada boneka itu.
Lingkaran sihir pada boneka itu lenyap. Ia pun kehilangan suplai energi Mana dan berhenti berfungsi.
"Hmm....Ini masih kurang jika dibandingkan dengan pukulan Echidna waktu itu." Ternyata Alice membayangkan pukulan api Echidna saat gadis kecil itu pertama kali mengalahkan seekor arachne.
"Menyatukan sihir dan bela diri ternyata tidak buruk juga." Alice tersenyum puas. Dia benar-benar sudah lama ingin mencobanya.
Tapi senyumnya menjadi kaku dan perlahan lenyap saat ia mengingat tujuannya.
"Ah! Kuncinya...!" Alice panik, ia segera melihat bagian depan boneka itu. "Aiya... untungnya benda ini tidak kenapa-kenapa. Hampir saja." Ia menghela nafas leganya.
Alice mengambil bola kecil itu dan membawanya pada lobang yang ada pada pintu batu tadi.