Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 148



"Hoaaamm...." Leafa menguap setelah ia terbangun dari tidur lelapnya. Tidak ia sangka dia bisa tertidur nyenyak meski desa mereka baru saja hancur diserang oleh gerombolan monster.


Jika bukan karena Alice, kemungkinan Leafa dan yang lainnya pasti akan selalu dibayang-bayangi rasa takut dan khawatir akan monster-monster itu.


Leafa melangkah keluar dari kamarnya.


Melihat Leafa, Alice menyapanya. "Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?" Tanya Alice sembari menyiapkan beberapa bekal yang akan ia bawa.


Leafa menggaruk pipinya, ia tersenyum canggung lalu berkata. "Ya-ya... tidur ku nyenyak. Itu semua berkatmu, terimakasih."


Walaupun dia sudah menjelaskan semuanya dan Alice telah memaafkannya. Tapi kesalahan pahaman semalam masih membuatnya malu dan sulit untuk menatapnya.


Aku benar-benar kacau dan telah membuat keributan yang tidak jelas. Pikirnya.


"Kau sedang apa?" Tanya Leafa melihat beberapa potong daging dan tumbuhan yang dibungkus rapi, juga beberapa helai kain.


"Aku sedang menyiapkan bekal dan perlengkapan yang akan ku bawa nantinya. Karena kalian ingin ke ibukota bersama kami, sebaiknya kalian juga menyiapkan sesuatu. Mungkin perjalanan ini akan sedikit panjang berhubung kita tidak memiliki kereta kuda." Jelas Alice. "Oh iya, kami akan pergi sebelum siang." Lanjutnya.


"Iya baiklah." Jawabnya sambil mengangguk. Leafa lalu kembali ke kamarnya untuk berkemas.


Sedangkan Eion dan orang tuanya yang telah bangun lebih awal, mereka telah kembali ke rumah mereka untuk berkemas lebih dulu.


Setelah mereka selesai berkemas dan sarapan. Mereka pun siap untuk berangkat menuju ibu kota.


"Mungkin perjalanan ini butuh dua atau tiga hari untuk bisa sampai ke ibukota. Kalau saja itu hanya aku dan Elysia, mungkin aku sudah membawanya terbang." Batin Alice. "Aku tidak punya artifak untuk membawa mereka semua sekaligus."


Elysia dan Noel yang berjalan di belakangnya tampak begitu akrab. Mereka menjadi dekat begitu cepat. Ya, bisa juga itu karena usia mereka yang tak jauh berbeda.


Melihat kedua anak itu bercengkrama dengan riang, Alice tidak bisa menyembunyikan rasa senang yang terukir di wajahnya. "Elysia, bilang padaku kalau kau sudah lelah berjalan."


"Hng, baik bibi." Balas Elysia.


Selama perjalanan menuju ibukota, mereka terkadang menemui beberapa ekor monster. Dengan adanya Alice, Eion dan Leafa memberanikan diri untuk melatih kemampuan mereka.


Sebagai suku elf pada umumnya, kapasitas Mana mereka memang lebih banyak ketimbang yang dimiliki oleh manusia. Walaupun tidak sebanyak yang dimiliki para high elf, namun dengan kapasitas Mana yang mencapai dua sampai tiga kali dari manusia biasa, itu sudah cukup untuk memperpendek jarak mereka dengan penyihir ahli. Eion dan Leafa hanya kekurangan pengalaman dan mereka tidak memiliki seseorang yang memandu mereka latihan.


Awalnya keduanya cukup kewalahan melawan satu hingga tiga ekor monster kecil. Tapi, seiring waktu berjalan dan intensitas latihan yang Alice berikan, keduanya mulai menunjukkan perkembangan. Secara signifikan Leafa dan Eion sudah mampu menggunakan sihir mereka dengan lebih efisien.


"Fyuhh... akhirnya selesai..." Leafa merebahkan tubuhnya begitu saja di atas tanah. Kedua kakinya benar-benar sudah tidak kuat untuk berdiri lagi.


"Iya...haaah...haaah...itu yang terakhir..." Sambung Eion yang juga terengah-engah setengah mati.


Kapasitas Mana mereka hampir menyentuh titik nol.


Setelah melawan puluhan monster yang dengan sengaja Alice bawa ke hadapan mereka. Kedua elf muda itu merasa lega karena latihan mereka sudah selesai.


Eion dan Leafa memalingkan wajah mereka. Bukannya terima kasih tapi keduanya melampiaskan kekesalan mereka pada Alice dalam hati mereka.


""Iblis. Kejam. Dia benar-benar kejam."" Geram keduanya.


"Dia sengaja memancing para monster itu dan memberikannya pada kami. Aku pikir aku akan mati tadi." Batin Eion.


"Uuuhh...aku juga, ku pikir kita tidak akan selamat tadi. Apakah dia sengaja melakukan itu? Jangan-jangan ini balasan karena aku telah menyinggungnya waktu itu?" Benak Leafa.


"Walaupun begitu...aku tahu. Dia melakukan semua ini untuk kita." Bisik Eion pelan sembari ia melihat Alice dari sudut matanya.


Keduanya saling menatap untuk sesaat. Mereka lalu tertawa. Mereka sependapat bahwa latihan Alice itu berat, tapi dengan tantangan itulah mereka bisa menjadi lebih kuat dari diri mereka yang dulu.


~


Benar saja perjalanan itu mereka tempuh selama tiga setengah hari. Kini, Alice beserta rombongannya telah tiba di hadapan Lost Forest, kabut pelindung ras elf.


"Ini gawat, aku lupa mengatakannya kalau ibukota Moonshade memiliki kabut pelindung." Ucap Claus sambil memijat naik kedua pelipisnya.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Claudia cemas.


Tidak ada desa di sekitar mereka yang bisa mereka singgahi untuk bernaung. Tidak mungkin juga mereka berkemah di luar. Dari apa yang Alice amati, para monster itu bergerak lebih sering mendekati Lost Forest. "Tidak heran, hutan ini memang memancarkan energi Mana yang kuat dan murni." Pikirnya.


"Kita hanya bisa menunggu seseorang untuk menunjukkan arah atau kita bisa mencoba menerobosnya. Yah, itupun kemungkinan kita untuk bisa keluar sangatlah kecil." Jelas Claus.


Dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Bodohnya aku, aku lupa membawa benda itu." Batinnya. Apa yang ia maksudkan adalah sebuah lambang khusus yang digunakan sebagai pemandu untuk melewati Lost Forest. Dengan lambang itulah ia biasa keluar masuk dengan bebas melewati Lost Forest.


"Tidak sulit. Kalian hanya perlu mengikuti ku. Aku bisa melewatinya." Ucap Alice yang membuat mereka terkejut.


Seorang manusia bisa melewati Lost Forest? Jangan bercanda. Apakah dia memiliki lambang itu juga?


Mereka tampak tidak percaya, itu terlihat dari ekspresi dan tatapan mereka pada Alice.


"Apa kau yakin?" Tanya Claus.


"Ayah ku bilang kalau formasi sihir dari kabut ini sangatlah sulit. Selain keluarga kerajaan yang memiliki hubungan dengan Yggdrasil, tidak ada orang yang bisa melewatinya begitu saja. Tapi...kau bilang bisa membawa kami melewatinya?" Ujar Leafa.


Alice mengangguk. Ia berjalan ke depan mendekati salah satu pohon. "Formasi sihir ini masih tetap sama seperti yang ku ingat. Dan aku telah mempelajarinya sebelumnya." Batinnya.


Kabutnya lebih tipis ketimbang apa yang Alice ketahui. Berdasarkan cerita Elysia, Yggdrasil saat ini memang mengalami kerusakan. Tapi... Alice berbalik melirik Elysia yang menatapnya dengan mata lugu yang polos.


"Dari apa yang ia katakan, dia seperti tahu jelas seperti apa kondisi Yggdrasil saat ini. Apakah dia memiliki hubungan khusus dengan pohon itu sama seperti Helian?"


Alice memanggil Elysia mendekat. "Elysia. Kemarilah, jangan jauh-jauh dariku." Elysia berlari kecil lalu ia meraih tangan Alice. "Kalian juga. Pastikan untuk tidak terpisah dan tetap bersama." Ucapnya pada Claus dan keluarganya.