Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 111



"Alice..." Panggil Liana.


Wajahnya menunjukkan penuh pengharapan dan kerinduan. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa melihat putrinya lagi, meskipun pun mereka tak bertemu secara langsung.


Alice tersenyum tipis. Ia merasakan getaran hangat di hatinya seolah suara lembut yang memanggilnya tadi akan membuatnya menangis.


"Sayang, apakah kau baik-baik saja disana?"


"Iya ibu."


"Apakah tidurmu nyenyak?"


"Iya ibu."


"Kau tampak lebih kurus, apakah kau makan dengan baik?"


"Iya ibu."


Terdengar sederhana. Pertanyaan singkat dan jawaban singkat dari sepasang ibu dan anak.


Alice menganggukkan setiap pertanyaan Liana. Dia melihat baik-baik wajah teduh ibunya dengan mata yang berkaca-kaca saat berbicara dengannya. Sungguh dia sangat ingin melompat dalam dekapannya


Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin Liana tanyakan, begitu pula Alice yang juga ingin bercerita tentang berbagai macam hal yang telah ia lalui selama ini. Kisah panjang petualangannya di dunia luar yang penuh dengan berbagai macam emosi. Kisah dimana ia berjumpa dengan banyak hal hebat nan menarik.


Tangan Liana sangat ingin memeluk putrinya itu. Menariknya, memeganginya kuat-kuat agar dia tak pergi lagi dari sisinya.


"Ibu tidak perlu mencemaskan ku. Aku baik-baik saja disini."


"....Syukurlah." Liana menyeka sedikit genangan air yang membasahi sudut matanya. "Kau tahu sayang, ibumu ini... sangat merindukanmu."


"Ng. Aku juga, aku merindukanmu bu. Aku merindukan kalian semua."


Jika boleh, ia ingin sekali kembali ke tempat yang hangat itu. Sebuah rumah yang selalu diidam-idamkannya. Sayangnya, ada sesuatu yang harus dia selesaikan di tempatnya saat ini.


Setelah hari itu, dia mendapatkan pengetahuan tentang keanehan yang terjadi di Aria akhir-akhir ini. Sebuah badai yang kembali muncul dan akan mengancam keberlangsungan Aria. Plot dimana berbagai macam trik dan tipuan dimainkan di dalamnya.


Alice menghela nafasnya. "Iris..." Ia memanggil adiknya.


Iris menyahut. "Ada apa kak?"


'Kak'. Sudah lama telinganya tidak pernah mendengar adiknya memanggilnya seperti itu lagi sejak jarak mereka melebar.


"Kapan kakak akan pulang?"


Alice terkekeh, adiknya yang menggemaskan itu ternyata bisa merindukannya juga.


Alice menggelengkan kepalanya lalu berkata. "Aku tidak tahu. Mungkin aku akan cukup lama disini atau bisa jadi lebih cepat dari dugaan ku."


Memangnya apa yang membuat dia harus tetap disana?


"Aku ingin kau menjaga keluarga kita selagi aku tidak ada disana. Apakah kau bisa melakukan itu?"


Iris mengangguk. "Tentu, serahkan saja padaku. Aku akan menjaga mereka. Saat kau pulang, kau pasti akan terkejut akan betapa kuatnya diriku. Aku pasti tidak akan mengecewakanmu."


"Sungguh? Jangan terlalu memaksakan dirimu. Lagi pula aku sudah menyuruh Echidna untuk membantu kalian disana. Kau juga bisa belajar tentang sihir darinya. Walaupun dia terlihat seperti itu, tapi anak itu adalah seseorang yang sangat ahli dalam menggunakan sihir."


Iris menoleh ke arah Echidna. Tidak heran dia bisa menggunakan dua elemen dengan begitu mudah dan menyerang tanpa perlu merapal mantra. Jika Alice yang memujinya seperti itu, itu menandakan kalau memang dia memiliki kemampuan.


"Alice." Kali ini giliran Ernard.


"Ya, ayah."


"Apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan mu tidak bisa kembali?"


"Ayah. Maaf, untuk saat ini aku belum bisa mengatakan hal itu padamu. Tapi Kumohon untuk ayah, ibu, Iris dan yang lainnya tetap aman dan baik-baik saja."


"Sesuatu yang besar mungkin akan terjadi di beberapa negeri nantinya. Bagaimanapun itu, tolong ayah, ibu dan Iris tetaplah bersama."


"Sesuatu yang besar? Apakah ini ada hubungannya dengan amukan para monster?" Batin Ernard.


"Baiklah. Kalau memang kau tidak bisa mengatakannya. Tapi ada satu hal yang ku tanyakan padamu."


"Apa itu ayah?"


"Gadis kecil ini. Aku ingin kau menjelaskan kepada kami tentang 'putrimu' ini."


Melihat alis dan kening ayah yang tiba-tiba menjadi kaku. Alice sepertinya bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Ernard. "Ah, itu ya. Ceritanya sedikit panjang. Jadi awalnya itu..."


Alice mulai menceritakan awal mula sebelum ia menjadi seorang ibu dari gadis kecil bernama Echidna. Ia bercerita tentang saat dimana ia terombang-ambing dalam ruang dimensi setelah mengalahkan Cliff dan kemudian terlempar ke dalam dungeon misterius. Ia lalau menceritakan tentang apa yang ia temukan, baik itu ruangan tersegel atau sebuah batu lonjong yang besar dan pertarungannya melawan monster arachne yang mengerikan dalam dungeon itu.


"Kupikir percikan darahku yang mengenai batu itu yang membuatnya terlihat seperti itu. Saat pertama kali aku melihatnya, dia tidak memiliki ingatan apapun dan tiba-tiba saja dia mengakui ku sebagai ibunya. Lalu setelah ingatannya kembali dan aku akhirnya tahu identitas asli dirinya. Lagipula Echidna sendiri pada dasarnya bukanlah ras manusia."


"""Bukan ras manusia?" Ketiganya terkejut.


Gadis kecil yang ada bersama mereka itu bukanlah ras manusia. Tapi bagaimana bisa? Dari segi penampilannya tidak mungkin ada orang berani berkata kalau dia bukanlah manusia. Lalu apa sebenarnya dirinya itu?


Berdasarkan cerita Alice, dia tersegel dalam sebuah batu yang kemudian menyerapnya percikan darah Alice yang menyebabkan penampilannya juga ikut berubah menyerupai Alice saat masih kecil. Apakah itu mungkin?


"Oh. Sepertinya batas waktunya sudah hampir habis." Suara wanita bernama Elysia kembali terdengar dari seberang layar. Elysia datang kembali menghampiri Alice, ia berdiri disisinya dan melambaikan tangannya untuk menyapa orang-orang.


Dari sudut manapun dilihat, gadis muda itu memang tampak indah dan menawan.


"Waktu?" Ernard bertanya.


"Aku lupa mengatakannya. Sebenarnya teknologi ini memiliki batas waktu saat menggunakannya." Jelas Echidna. Ia kemudian menoleh dan mengatakan sesuatu pada Elysia. "Ely, kau juga, jaga mama disana ya."


"Kakak tenang saja. Selama ada aku, ibu pasti baik-baik saja." Balasnya lalu ia memeluk Alice dari samping.


Gadis itu terlihat sangat lengket pada Alice.


"Dan oi! Jangan terlalu lengket dengan mama. Hmph! Mentang-mentang aku tidak ada, jangan pikir kau bisa seenaknya memonopoli mama."


Gadis itu menjulurkan lidahnya sedikit. Ia terlihat sedang mengejek Echidna. "Hehe, karena kakak tidak ada disini. Jadi itu terserah ku. Iya kan bu?" Gadis itu kembali memeluk Alice sambil menyandarkan kepalanya di pundak Alice. Dia sengaja menggoda Echidna.


Echidna mulai jengkel karena tingkah gadis itu. Dia juga ingin bersama mamanya. tapi dia sedang dalam tugas penting yang mamanya berikan.


Sebelum formula sihir dalam kristal itu habis dan lampunya padam. Ketiganya mengucapkan perpisahan pada Alice.


"Sayang, jaga dirimu disana. Makan yang banyak dan tidurlah tepat waktu." Ucap Liana.


"Ingat, kau harus pulang karena kau sudah janji. Bukannya aku merindukanmu tapi keluarga Strongfort tidak pernah mengingkari janji mereka." Ujar Iris.


"Dasar. Kau masih saja bersikap malu-malu seperti itu." Benak Alice menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kami akan selalu menunggumu untuk pulang ke rumah."


Rumah ya? Ibu, Ayah, Iris. Aku benar-benar bahagia datang ke dunia ini.


Setelah layar itu lenyap. Ernard, Liana dan Iris meletakkan matanya pada Echidna.


Gadis ini sebenarnya bukan manusia, lalu apa? Mereka melihatnya dengan serius dan ekspresi penasaran. Bahkan Iris memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Echidna kan? Kalau boleh tahu kamu ini apa?" Tanya Iris.


"Aku? Aku adalah Echidna. Pemimpin dari para naga. Yang berkuasa di atas para monster dan putri kesayangan mama." Balasnya dengan enteng memasang wajah polos seolah apa yang ia katakan barusan tidak berarti apa-apa. "Hmm... mungkin kalau sekarang, mereka menyebut ku sebagai Raja Iblis." Lanjutnya.


Sontak ketiga orang itu terkejut. Mulut Iris dan beberapa pelayan di sekitar mereka terbuka lebar karena kabar mencengangkan itu.


Putri dari seorang Alicia adalah seorang Raja Iblis!!!