Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 77



Setelah keluar dari hutan, Alice dan yang lainnya akhirnya mendapatkan tempat untuk berkemah. Alice dan Echidna menyiapkan bara api untuk menghangatkan tubuh mereka lalu kemudian ia mulai makanan sederhana, sementara paman pedagang mengambil beberapa lembar kain untuk digunakan sebagai selimut.


Saat paman pedagang itu turun dari gerbong kereta dan melihat tubuh besar Fee, seketika ia ingin lekas kembali ke dalam namun Alice segera menghentikannya dengan berkata "Tidak apa-apa Paman. Dia tidak berbahaya." Sambil ia menyodorkan semangkuk sup panas pada Paman pedagang. "Kemari lah, sup nya sudah jadi."


Melihat Alice yang begitu yakin, paman itu memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Dia berbalik dengan tubuh yang gemetar, melangkah dengan pelan dan mengambil sup yang Alice tawarkan padanya. "Terimakasih." Alice tersenyum lembut.


Mata paman pedagang terus saja melirik ke samping, ia masih tidak bisa melepaskan perasaan ngeri jika seandainya serigala besar itu memangsanya dan menelannya bulat-bulat.


Lain halnya Echidna. Setelah mereka menikmati makan malam. Echidna sebenarnya sudah telah memperhatikan Fee sejak saat ia mengikuti rombongan mereka. Matanya sama seperti Alice ketika memandang Fee. Echidna juga penasaran sekaligus tertarik untuk mengelus bulu Fee yang tampak lembut itu. Apalagi dalam hatinya ada keinginan untuk segera menungganginya melihat tubuhnya yang begitu besar dan hangat.


Echidna menarik lengan baju Alice yang sedang menyiapkan tempat tidur untuknya. "Ada apa Echidna?" Tanya Alice saat ia menoleh.


Echidna meletakkan telunjuknya dibawah dagunya lalu bertanya pada Alice. "Mama...Anjing besar ini namanya siapa?" Ia menunjuk Fee yang sedang membersihkan wajahnya yang sedikit kotor karena baru saja menyantap hidangan makan malamnya.


Fee seketika berhenti bergerak, dia syok mendengar seorang anak kecil memanggilnya seekor anjing. Fee mengangkat satu alisnya sembari berbalik menatap Echidna. "Bocah ini!!" Fee menatap kesal Echidna namun saat Echidna berbalik padanya, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.


Fee atau sebelumnya bernama Fenrir memiliki kemampuan dalam matanya yakni [ Clairvoyance ], oleh karena itu tak ada satupun yang bisa lolos dari pengamatannya. Clairvoyance dikenal dengan nama lain mata kebenaran. Biasanya mata ini hanya dimiliki oleh beberapa orang tertentu atau para dewa-dewi tertentu. Tak lain halnya dengan Fee yang dahulu juga pernah hidup diantara para Dewa-dewi itu. Namun karena suatu hal, ia terpaksa menanggung dosa yang tak pernah ia lakukan. Fee memendam dendam itu dan mulai memburu para Dewa yang membencinya satu demi satu dan setelah cukup lama berburu, ia akhirnya tenggelam dalam jebakan oleh seorang dewa yang ternyata Dewa itu jugalah yang menjadi dalang dari kepahitan hidupnya.


Bulu kuduk Fee berdiri saat matanya dan mata Echidna saling bertemu. Dia melihat sepasang mata dan sosok yang begitu menakutkan di balik polosnya tatapan mata itu. Perasaan yang ia dapatkan adalah sesuatu yang cukup familiar namun ia lupa dan tidak bisa menjelaskan perasaan menakutkan itu. Jelasnya ia takut, nyalinya menciut. "Bo-bocah ini, dia bukan lawanku." Fee segera memalingkan pandangannya. Matanya masih bergetar dan keringat dingin dari balik bulunya mengalir pada sisi wajahnya. "Y-yah... setidaknya mungkin aku bisa mengalahkannya jika menggunakan semua kekuatan ku." Tambahnya mencoba menutupi rasa takut dalam dirinya, meskipun sebenarnya jauh dalam dirinya, ia sadar kalau Echidna jauh lebih kuat darinya.


Alice yang tidak memperhatikan sikap aneh Fee hanya tersenyum dan mengangguk pada Echidna, ia membenarkan pernyataan Echidna tadi tentang Fee yang dipanggil seekor anjing.


"Terserah kalian saja." Kata Fee dengan tampang lesu lalu berbalik membelakangi keduanya. Melawan pun tak ada gunanya, lebih baik biarkan saja mereka berpikir sesuka hati mereka. Seperti itulah pikirnya.


Setelah melewati malam yang singkat dan rombongan mereka telah beristirahat. Perjalanan mereka selanjutnya ke ibukota berjalan mulus. Semua itu berkat Fee yang terlihat menakutkan bagi para monster dengan tubuh besar dan aura mengerikan yang ia keluarkan.


"Fee. Apakah kau bisa mengubah ukuran mu menjadi lebih kecil?" Tanya Alice saat ia melihat tembok kota diri kejauhan.


Melihat Fee yang lucu dan menggemaskan Alice hampir saja melompat dari kursinya dan memeluk anak serigala di hadapannya itu. Sayangnya, Echidna lebih dulu bergerak mengambil Fee dan mendekapnya dengan erat.


"Wah~ anak anjing yang lucu." Ucapnya penuh kegirangan sambil ia mengelus-elus pipinya pada perut Fee. Fee benar-benar tak berdaya untuk melawan.


Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di kota Demonscar.


Alice bersama putrinya dan Fee berpisah dengan paman pedagang itu. Setelah memasuki kota Demonscar, Alice langsung menetapkan tujuannya. Dia mencari penginapan dan selanjutnya ke perpustakaan. Alice merasa ada sesuatu di kota itu yang mungkin membawanya lebih dekat dengan jalan pulang yang selama ini ia cari.


Saat Alice ingin meninggalkan kamarnya, Echidna memanggilnya dari belakang. "Mama...aku mau ikut, boleh?" Echidna menatapnya dengan ekspresi memelas.


Alice terdiam sejenak. Alasan sebenarnya dia tidak pernah mengajak Echidna ke perpustakaan adalah karena tempat itu membosankan. Penuh buku dan tidak ada hal menarik bagi anak-anak. Alice merasa kalau tempat seperti itu sangat tidak cocok dengan kepribadian putrinya yang lincah dan riang. Tapi bagaimana ia harus menolaknya saat melihat wajah memelas Echidna? Rasa iba membuat kakinya sulit untuk melangkah keluar dari ruangan itu. Alice pun terpaksa mengulurkan tangannya. "Baiklah, ayo sini."


Echidna tersenyum lebar dan dengan gembira ia melompat dari kasur ke pelukan Alice. "Makasih mama."


Pada akhirnya mereka pun pergi bersama ke perpustakaan.


~


"Aku tahu kalian ingin pergi ke perpustakaan tapi kenapa juga aku harus ikut dengan kalian?!" Fee sedikit kesal karena ia juga harus terseret dalam kebosanan ini. Baginya, menikmati tidur siang dengan berbaring di lantai yang hangat adalah sebuah kenyamanan yang tak tergantikan. Kapan lagi coba dia bisa bersantai seperti itu.


Fee menatap Alice dengan sinis. "Okelah, aku bisa menerima kenyataan kalau kalian menyeret ku dengan paksa ke tempat ini tapi apakah aku harus terus-menerus duduk di sini?!" Ujarnya kesal karena ia tak nyaman dengan tempat duduknya saat ini. Fee sendiri tanpa sadar sudah merubah gaya bicaranya pada ibu dan anak itu.


"Ssshhhh!" Echidna menahan tudung kepalanya yang hampir terbuka sambil ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. "Fee, jangan gerak-gerak. Diam." Kata Echidna pelan.


Fee menghela nafas beratnya. Entah kenapa ia sedikit menyesal telah memilih untuk ikut dengan mereka.