Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 189



Setelah mengganti gaya bertarungnya, serangan Alice menjadi tidak begitu berefek baginya. Kemampuan pertahanan Palu yang begitu kuat seolah membuatnya terlihat seperti sebuah benteng yang kokoh. Walau begitu, Palu sadar kalau bertahan saja tidak akan mengakhiri duel ini dengan dirinya sebagai pemenang. Palu yakin kalau wanita bernama Alice itu masih menyembunyikan sesuatu di balik sakunya.


Unyealding Will, Divine Rigid Body dan Steel Muscle. Ketiga kemampuan itu begitu mengerikan sehingga membuat tubuh dan mentalnya menjadi lebih kuat dari logam manapun. Namun Palu tidak bisa terus membuang waktu. Waktu terus berlalu, ia tahu kalau masa pakai kemampuannya akan segera selesai.


Saat Alice melayangkan tendangan terbang ke arahnya, Palu segera membuat pelindung dari tanah.


[Rock Boulder Barricade].


Palu melindungi tubuhnya dengan bongkahan batu yang besar dan keras, lalu dengan cepat Palu meledakkan batu pelindungnya yang mana membuat Alice terpaksa harus menjaga jarak.


Alice mengernyitkan dahinya, namun dia tidak merasa kesal sedikitpun. Sejak tadi dia menjadi semakin antusias dan semakin takjub berduel dengan Palu. Alice penasaran seberapa banyak teknik dan kemampuan yang seorang Palu miliki.


"Walaupun gerakan dari teknik bela dirinya terlihat sederhana. Namun setiap langkah dan nafasnya terlihat stabil. Dia bahkan memiliki afinitas dengan elemen tanah dan itu membuatnya menjadi lawan yang sulit untuk dijatuhkan." Kata Alice dalam batinnya. "Pertahanannya yang kokoh itu memang patut dipuji."


Ketika Alice berada cukup jauh darinya, Palu memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang. Ia mengangkat kedua tangannya dan menghantamkannya ke tanah dengan sangat kuat.


[Earth Spine]


Tanah terangkat menjadi duri-duri yang tajam dan bergerak maju ke hadapan Alice.


Alice melompat tinggi ke depan.


Palu tidak menyangka karena wanita itu tidak menghindari serangannya. Ia bahkan terkejut saat melihat Alice berlari di atas duri tajam itu begitu mudah seolah ia sedang menginjak kapas.


Palu menghantam kakinya dua kali ke tanah membuat dua batu besar melompat di depan matanya. Segera, ia memukul kedua batu itu ke arah Alice.


Alice tidak terpikir untuk mengindar atau berhenti, ia tetap maju dan menerobos batu itu dengan tendangannya. Tak sedetikpun ia melepaskan pergerakan Palu dari pandangannya.


Alice berhasil memperpendek jarak mereka. Dia telah berada satu langkah di depan Palu.


"Hehe, Paman. Kenapa kita tidak saling bertukar tinju sekali lagi?" Kata Alice dengan semangat.


Palu melihat kalau Alice benar-benar menikmati duel mereka. Tak bisa dipungkiri, dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, dalam ekspresi Alice tidak tergambarkan rasa lelah sedikitpun. Sebaliknya, karena telah menggunakan begitu banyak kemampuan yang kuat, Palu sudah hampir kehabisan tenaga.


"Haaat!" Alice memukul lurus ke arah wajah Palu. Palu menahannya dengan lengannya. Ia lalu membalas dengan pukulan yang sama.


Alice menahan pukulannya tapi dia tidak menyangka kalau pukulan itu begitu kuat hingga membuatnya terseret mundur.


"Tadi itu...apa?" Tanya benaknya.


Palu terkekeh. "Bagaimana? Apakah anda sudah melihat kemampuan dari senjataku? Awalnya aku tidak ingin menggunakannya tapi aku yakin kalau dengan kemampuan ku saat ini, aku tidak akan bisa mengalahkan anda."


Senjata palu berubah menjadi sebuah sarung tangan dengan mesin pegas ala piston yang mendorong di sekitar lengannya. Dorongan yang dihasilkan senjata itu begitu kuat sampai bisa membuatnya terdorong mundur.


"Jadi itu karena senjata itu ya." Katanya. Alice mengibaskas-ngibaskan tangannya ke samping. "Tidak masalah. Aku senang karena Paman tidak menahan diri. Lebih baik seperti itu. Jujur, aku ingin melihat seperti apa kemampuan dari seorang petualang peringkat B seperti mu. Aku bisa bilang kalau kau itu hebat Paman."


"Apakah itu pujian untukku? Kalau begitu terima kasih." Palu menunduk tersanjung. Dari ujung garis matanya ia melirik Alice, kemudian ia mengangkat kepalanya lalu berkata. "Tapi Nona, bukankah anda hanya mencoba menyindirku saja? Aku tahu kalau anda masih belum mengeluarkan seluruh kemampuan mu. Sebagai seorang petualang yang mendapatkan julukan sebagai benteng absolut, aku malu karena tidak bisa membuat mu bertarung dengan sungguh-sungguh."


Alice melepaskan kuda-kudanya, ia kembali berdiri dengan tegak. Alice meletakkan punggung telunjuknya di bawah bibirnya. "Benarkah? Apakah aku terlihat seperti itu?" Ucapnya sambil ia memalingkan pandangannya.


Palu tidak tahu seberapa kuat Alice sebenarnya. Dia telah salah menilai sebelumnya kalau kemampuan Alice setara dengan peringkat A. Semakin lama mereka bertarung, Palu pun sadar dan paham kalau kekuatan Alice sebenarnya setara dengan peringkat S. Meskipun dia belum pernah secara langsung menyaksikan kekuatan tempur dari seorang peringkat S, tapi Palu tidak pernah meragukan pengalaman dan kemampuannya. Instingnya dengan yakin berkata kalau Alice masih memiliki hal yang lebih dari apa yang ia tampilkan saat ini.


"Dari caranya bertarung, aku bisa merasakan kalau dia adalah seseorang yang sangat berpengalaman. Penampilannya memang muda, tapi aku tidak bisa membayangkan seberapa banyak pertarungan yang telah ia lalui. Tidak ada yang sia-sia dari setiap keputusan dalam pergerakannya. Dia bisa memprediksi satu langkah ke depan. Baik stamina, ketahanan, kekuatan dan teknik bertarung, dia lebih unggul dariku." Gumam batinnya.


Apa yang membuatnya semakin yakin adalah wanita muda yang berdiri di hadapannya ini belum menggunakan satu kemampuan spesial pun sejak awal mereka mulai bertarung. Dia hanya melakukan serangan pukulan atau tendangan yang biasa saja. Walau begitu, kedua jenis serangan itu sudah mampu membuat lengan dan kakinya gemetar.


Aegis dan Physical Barrier yang gunakan untuk melindungi tubuhnya pun hancur. Palu terlempar ke belakang saat ia menerima pukulan Alice.


"Fyuuh." Alice mengelap dahinya walau sebenarnya dia tidak memiliki keringat di sana.


Sebagai sesama petarung tangan kosong, Alice merasa puas melawan Palu. Selama ini dia selalu menggunakan pedangnya. Sesekali kali untuk merasakan sensasi seperti ini adalah hal yang bagus. Pikirnya.


Palu mengangkat satu tangannya ke atas. Pelindungnya telah hancur dan masa pakai kemampuannya telah usai. Dia tidak ingin terus melanjutkan duel mereka dan memutuskan untuk menyerah.


Setelah duel selesai. Sarpathi mematikan pelindung sihirnya.


Palu sudah tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melanjutkan tes melawan Elysia. Palu pun memutuskan untuk meluluskan mereka dengan cara yang sedikit spesial. Ya, dengan rekomendasinya sebagai petualang peringkat B yang tersohor, serikat terpaksa harus meluluskan mereka berdua.


"Kalau Tuan Palu berkata seperti itu... baiklah, saya akan menyampaikannya pada ketua terlebih dahulu."


Alice tersenyum cerah. Ia menoleh pada Palu. "Tadi itu menyenangkan. Terima kasih. Paman. Aku harap kita bisa melakukannya lagi nanti."


"Ya. itu duel yang terbaik yang pernah ku rasakan." Balasnya sambil melakukan sedikit peregangan pada tangannya dan memijat-mijat bahunya.


Sarpathi lega melihat keduanya baik-baik saja setelah pertarungan sengit tadi. Tapi, ada yang aneh dengan gelagatnya yang tampak seperti sedang gugup. Ekspresi Sarpathi sedikit pucat seolah tampak ia sedang menahan rasa takutnya. Wajahnya seketika terlihat murung dan gelap.


"Ada apa Sarpathi?" Tanya Palu.


Sarpathi cukup canggung untuk mengatakannya. Dengan berat hati dan gugup ia membuka mulutnya. "I-itu... bagaimana dengan arenanya..?" Tanyanya sambil menunjuk ke arena.


Ketiga orang itu menoleh. Mereka tidak sadar karena terlalu asik bertarung. Arena yang tadinya memiliki tanah lapang yang datar dan cukup mulus kini penuh dengan lubang dan kawah kecil. Tempat itu terlihat sangat berantakan.


Elysia membuka lebar mulutnya karena kaget. "Uwaah~ Ibu.."


Sementara Alice dan Palu hanya bisa tersenyum pahit sambil menggaruk kepala mereka.


"A-aku yang akan mengurusnya." Jawab Palu tegas.


Sebagai seorang penguji dan petualang peringkat B. Dia harus menunjukkan kewibawaannya. Meskipun ia kalah dalam duel setidaknya dia masih memiliki rasa bangga sebagai seorang senior, pikirnya.


Elysia menatap lebar ke arah Palu. Pandangannya begitu cerah dan menyilaukan mengisyaratkan rasa senang sekaligus terima kasih yang mendalam.


Pundak Alice menjadi lemas sambil menghela nafas panjang. Dia ceroboh. Dia melupakan sekelilingnya. "Aku juga akan membayarnya. Bagaimanapun juga, aku memiliki tanggung jawab di dalamnya. Kalian tidak perlu khawatir, aku memiliki beberapa material dari monster yang bisa ku jual nantinya."


"Apa kau yakin?" Tanya Palu lalu Alice menjawabnya dengan anggukan.


"Tapi... ngomong-ngomong dimana kau menyimpannya? Aku tidak melihat kau membawa tas atau penyimpanan apapun itu. Apa mereka ada di penginapan?"


Alice menggelengkan kepalanya. Ia mengulurkan tangannya ke depan dan beberapa mayat monster melompat muncul begitu saja entah darimana.


Sarpathi dan Palu terdiam menahan nafas mereka. ""Pe-penyimpan dimensi?!"" Teriak mereka spontan. Keduanya kaget bersamaan dengan mata terbelalak.


Palu sontak tenggelam dalam benaknya. Ia melihat Alice sambil mengingat-ingat dengan apa yang baru saja ia lihat. "Penyimpanan dimensi... apakah itu sebuah kantung? Tas? Hmm..aku tidak melihat dia membawa apapun. Kalau begitu, apakah itu kemampuannya? Mustahil, kalau dia memang bisa melakukannya..." Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa merinding saat matanya perlahan melirik Alice. Palu menghela nafasnya. "Kurasa aku bersyukur karena dia tidak mengeluarkan semua kemampuannya."


"A-a-anda..." Sarpathi seketika mengambil tangan Alice dan membawanya dengan paksa. Mereka berjalan kembali ke gedung sebelah diikuti oleh Elysia.


Tanpa sepatah kata Sarpathi menyeret Alice terus hingga mereka naik lantai dua dan memasuki sebuah ruangan.


Para petualang melihat mereka heran dengan penuh tanya. Banyak hal yang ingin mereka tanyakan pada wanita itu tapi kenapa Sarpathi membawanya ke atas?