Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 88



"Saat memasuki tambang ini, aku merasakan keberadaan Echidna mulai menjauh menjauh. Apa yang terjadi?" Tanya Alice dalam benaknya penuh kecemasan.


Sebelumnya, Alice merasakan titik keberadaan Echidna sudah dekat. Namun entah kenapa, titik itu tiba-tiba bergerak menjauh darinya. Rasa tergesa-gesa mulai menghampiri dirinya. "Aku harus segera keluar dari tempat ini."


Keduanya kini telah sampai di depan telaga itu. Begitu juga dengan ras hewan buas yang memberi mereka peringatan sebelumnya yakni si tikus kecil. Meski berkata tidak peduli, namun dia tetap khawatir dengan mereka. Walau berat hati, tikus itu melangkah ragu-ragu jauh di belakang keduanya.


"Telaga yang jernih. Penuh dengan energi. Fee, bagaimana? Apakah kau sudah bisa melihat ke dalamnya." Kata Alice setelah ia melihat keseluruhan telaga itu.


Dalam sebuah tambang tua yang begitu dalam dan senyap. Telaga itu bagaikan oasis bagi para penambang ketika mereka ingin beristirahat. Air yang segar mengalir keluar dari lubang kecil di dinding gua tampak begitu menggairahkan siapapun yang kehausan dan kelelahan.


Fee melangkah ke depan sedikit lebih dekat dengan permukaan telaga itu. "Biar ku coba." Ia menunduk seraya melihat ke dalam telaga itu menggunakan clairvoyance miliknya.


Pandangannya perlahan menelusuri apa yang ada di dasar telaga itu. Air yang jernih namun begitu gelap di bawah sana. Telaga itu benar-benar dalam pikir Fee.


Saat Fee telah menelusuri cukup lama dan hampir berkata tidak menemukan apapun pada Alice, tiba-tiba ia melihat bayangan hitam akan sesuatu yang melesat cepat naik menuju permukaan. Sesuatu yang seperti ular namun jika diperhatikan baik-baik, dia tidak terlihat seperti seekor ular pada umumnya. Benda itu terus naik hingga mendekati permukaan telaga.


"Alice! Hati-hati." Fee memperingati Alice sambil ia melompat mundur.


Seekor monster dengan bentuk aneh dan ukuran besar keluar dari telaga itu. Berkat peringatan Fee, Alice berhasil menghindar dari serangan mendadak monster itu.


Saat monster itu melompat keluar dari telaga. Tanah tempat berpijak mereka ikut bergetar karena ukuran monster itu yang tiga kali lebih besar dari sebuah kereta kuda. Jika harus membandingkannya maka, ia sedikit lebih besar dari Devouring Serpent yang pernah Alice lawan di turnamen saat masih di akademi.


"Monster itu...dia memegang senjata di tangannya." Kata Alice heran.


"Dia adalah Naaga. Memegang sebuah trisula di tangannya yang menunjukkan bahwa dia adalah penjaga dari telaga ini." Nyx bergumam di kepala Alice. "Dengan tubuh seperti ular, namun memiliki tangan dan beberapa dari mereka memiliki kecerdasan yang hampir seperti manusia pada umumnya." Lanjutnya menjelaskan soal monster itu.


Monster itu meraung dengan dahsyatnya sambil mengangkat trisulanya ke atas. Tidak salah kalau Naaga di hadapan mereka disebut sebagai ular juga. Ya, perbedaannya, mereka memiliki dua buah tangan yang berguna untuk memegang senjata dan pundak serta bagian belakang kepala yang berduri.


Naaga itu mulai mengayunkan trisulanya dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Dengan besar tubuh seperti itu, Alice harus menghindari serangannya yang berdaya besar.


Setelah mengayun trisulanya pada Alice dan Fee. Trisula yang di pegang naaga itu kemudian bersinar lalu menembakkan meriam air yang kuat.


Alice yang diincar olehnya terkejut saat tahu kalau naaga itu ternyata bisa menggunakan sihir.


"Jika naaga mampu menggunakan sihir, itu artinya mereka memiliki kecerdasan yang cukup tinggi untuk diajak bicara." Kata Nyx sekali lagi dari dalam kepala Alice.


"Apakah kau yakin?" Tanya Alice bingung dan ragu dengan apa yang Nyx katakan. "Aku tidak melihat adanya sesuatu yang bisa kita bicarakan dari sorot matanya yang seperti ingin membunuh kita." Tambahnya.


Nyx setuju dengan pernyataan Alice. Ia pun heran, tidak biasanya monster seperti mereka kehilangan kendali kecuali jika sesuatu terjadi pada mereka.


Fee mendecihkan lidahnya. Matanya melirik ke Alice dan menunggu, berharap kalau Alice telah memikirkan sesuatu untuk mengalahkan Naaga itu. Semakin kesal ketika serangannya sama sekali tidak mempan, Fee berubah menjadi besar dan semakin besar hingga ia seukuran dengan Naaga itu.


Alice tercengang. Perhatiannya teralihkan saat ia melihat ukuran tubuh Fee. Baru kali ini dia melihat Fee sebesar itu. Setelah berdiskusi dengan Nyx dan tak menemukan jalan lain selain mengalahkannya. Alice pun bergabung dan menyerang Naaga itu.


Alice melompat tinggi ke atas sambil menghunuskan pedangnya pada punggung monster itu. Tebasan pedang berselimut Qi itu membuat Naaga meraung kesakitan. Fee mengambil kesempatan itu dan menyerang Naaga dengan cakarnya yang tajam. Keduanya terus melakukan taktik itu. Naaga mulai kewalahan karena musuhnya yang menyerang dari dua arah yang berbeda.


Saat ia menghalau Fee dengan trisulanya, Alice pun memanfaatkan titik lengah itu dan menyerang dengan pedang Qi yang kuat. Naaga pun mulai kelelahan tapi anehnya gelombang energi kuat tiba-tiba muncul dari trisulanya.


Naaga mengibaskan ekornya dengan kuat untuk membuat Alice dan Fee mundur. Kemudian Naaga mengetuk-ngetuk pangkal trisulanya ke tanah tiga kali lalu mengangkatnya ke atas.


Sebuah lingkaran sihir besar tercipta di langit tepat di atas kepala keduanya. Hanya berselang sekitar dua detik, sebuah bom air yang dahsyat menghantam mereka dari atas. Alice dan Fee menyadari tekanan Mana yang signifikan meningkat di atas kepala mereka dan segera menghindar saat mereka melihat lingkaran sihir itu muncul. Setelah serangan bom air pertama gagal. Naaga masih mengangkat trisulanya ke langit yang berarti serangan selanjutnya akan datang.


Benar saja seperti yang Alice duga. Lingkaran sihir selanjutnya muncul lagi di atas kepala mereka dan memunculkan serangan yang sama. Dua, tiga, empat, rangkaian serangan bom air seperti mengikuti mereka hingga lingkaran sihir yang kedelapan selesai, Naaga itu pun berhenti lalu menurunkan kembali trisulanya. Tampak kalau dia sudah kelelahan akibat serangannya barusan.


"Sekarang!!" Alice dan Fee segera bergerak untuk menyerang pada saat yang bersamaan dimana Fee bergerak cepat mencakar Naaga lalu menggigit pundaknya dan melemparnya ke belakang. Alice sudah berdiri pada posisinya dan telah memadatkan energi Qi pada pedangnya, Alice siap untuk menebas. Saat naaga itu datang ke arahnya, Alice melepaskan Plum Blossom Sword Technique nya.


[ Three Plum Blossom Sword. First Form, Rapid Slash ]


Tusukan beruntun oleh Alice membuat tubuh naaga itu penuh luka-luka saat ia masih berada di udara. Lalu tanpa membiarkan naaga itu terjatuh, Alice telah lenyap dari tempatnya dan kini berada di udara.


[ Second Form. Plunge Attack ] Alice memutar pedangnya dan mengarahkan ujung pedangnya ke bawah lalu memutar tubuhnya, kemudian terjun tepat ke arah punggung naaga.


Karena tebalnya sisik dari naaga itu. Alice tidak dapat menembus tubuhnya sedalam mungkin. Dia pun menendangnya hingga menghantam tanah. Kaki kecilnya yang dibandingkan tubuh naaga yang begitu besar membuat tikus kecil itu tak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa deemon dengan tubuh kecil sepertinya bisa menghempaskan naaga itu dengan begitu kuat?


[ Third Form, Penetrate Sword ] Alice melesat bagaikan secepat kilat menuju kepulan debu yang ditimbulkan akibat hantaman keras naaga itu. Alice mengarahkan pedangnya yang di lapisi Qi dengan niat ingin menusuk tembus sisik naaga. Tapi, sayang sekali naaga itu tiba-tiba mengamuk dan melindungi dirinya dengan tornado air. Kepulan debu yang tadi kini berganti dengan pusaran air layaknya sebuah ****** beliung yang mampu merobek apapun di dalamnya.


Seolah dia memasuki bentuk keduanya dalam pertarungan. Naaga yang tadinya berwarna biru berubah menjadi merah. Naaga itu seperti memasuki mode mengamuk.


"Ternyata monster ini tidak mudah untuk di kalahkan." Gumam Alice.


"Keroco sepertinya ingin sok kuat di hadapan ku. Hmph!"


Tak mau kalah. Fee juga ikut berubah.


Di dalam lautan kesadaran Alice yang tenang. Bulu kuduk Nyx berdiri dan rasa takut tiba-tiba melewatinya. Kedua matanya melebar karena tekanan yang baru saja. Untuk seorang Dewi sepertinya, gelombang energi yang begitu mencekam itu, bisa membuatnya terancam.