
Cliff terhempas kebelakang dan terseret di atas kakinya. Ia menahan tubuhnya dengan menancapkan ujung tombaknya ke tanah, Cliff lalu terhenti dan ia tersungkur di atas lututnya.
Nafasnya sudah mulai tersengal-sengal. Cliff mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada Alice, puluhan lingkaran sihir tercipta begitu saja di udara pada kedua sisinya. Lingkaran-lingkaran sihir itu bersinar lalu memborbardir Alice dengan bola api yang meledak-ledak. Untungnya Alice berhasil menghindar, juga berkat dukungan Lilia, Alice berhasil terhindar dari luka fatal.
Dari balik kepulan asap itu, Cliff bangkit dan menerjang ke arah Alice. Mana telah ia masukkan dengan jumlah banyak ke dalam tombaknya. Cliff dengan sangat cepat bergerak menuju Alice dan ujung tombak yang tajam itu ia arahkan tepat ke jantungnya.
Ketika Alice melihat sosok Cliff yang muncul tiba-tiba, hanya butuh sepersekian detik baginya untuk menyadari arah serangan Cliff, Alice mengelak selangkah ke samping, tak ingin melewatkan kesempatan yang ada di depannya. Alice lalu memotong salah satu lengan Cliff.
Cliff lengah, ia tak menyangka Alice bisa menghindarinya semudah itu. Meski ia sempat melihat Alice mengayunkan pedangnya tapi gerakannya terlalu cepat untuk ditarik kembali dan alhasil Cliff kehilangan satu lengannya. Cliff berteriak kesakitan, tapi segera kaki Alice membungkam teriakannya dengan menendangnya ke belakang. Cliff terlempar hingga ke menghantam kaki patung yang ada di belakangnya.
Tendangan Alice yang begitu kuat membuat Cliff muntah darah.
"Sial!" Cliff marah dan memukul bebatuan yang ada di sampingnya. "Sebenarnya kau itu apa? Berdasarkan pengamatan ku selama ini, kau itu hanya gadis lemah biasa. Apa kau benar-benar Alicia Lein Strongfort?" Gerutu Cliff menggema di seluruh ruangan itu. Cliff mencoba bangkit, ia sudah tidak memiliki apapun lagi di tangannya. Ia menjatuhkan tombaknya saat Alice menendangnya dan Mana nya bahkan sudah berada di ujung tanduk.
"Pembunuh yang ku kirim waktu itu adalah orang-orang profesional dan mereka tidak akan kembali setelah memastikan target mereka benar-benar mati. Aku tak menyangka kalau ternyata mereka menipu ku dengan laporan palsu itu" Ucap Cliff lalu ia meludah ke samping dan mengelap bibirnya yang bekas darah.
Alice mengangkat satu alisnya, ia takjub dengan ketahanan pria yang masih berdiri di depannya setelah menerima begitu banyak jurus darinya.
"Kau, berkali-kali kau telah menggagalkan rencana ku. Aku tidak tahu bagaimana kau menyelamatkan Raja dan Ratu tapi kali ini, disini, akan ku jadikan tempat ini sebagai kuburanmu" Lanjut Cliff kesal sambil menunjuk Alice. Wajahnya memerah karena amarah yang memuncak.
Terjawab sudah, pada akhirnya tebakan Alice memang benar. Dalang di balik pembunuhan dirinya adalah seseorang yang berkaitan dengan kuil dan itu adalah Cliff yang juga merupakan pelaku yang bekerjasama dengan ras iblis untuk menghancurkan kerajaan ini dengan meracuni Sang Raja dan membuat Sang Ratu menjadi boneka.
Dan sekarang, ia ingin mengorbankan Kepala Kuil dengan dalih untuk mensucikan dunia. Heh, menggelikan. Pikir Alice menggelengkan kepalanya perlahan.
Alice melihat pakaian Cliff yang sobek sana-sini karena tebasan pedangnya. Lukanya pulih begitu cepat, meski begitu, Cliff harus membayar dengan sejumlah besar Mana yang ia miliki. Berbeda dengan Alice yang telah menerima bantuan dari [ Bless ] dan [ Enhanced Bless ] milik Lilia, kedua kemampuan itu membantunya dalam proses penyembuhan selama ia bertarung dan belum lagi dengan [ Solar Shield ] juga [ Morning Gloria] yang meningkatkan daya tahan dan daya serang Alice.
Cliff menunduk dan berlutut, ia meletakkan kedua tangannya di atas lantai. Melihat hal itu, Alice teringat dengan Walton yang pernah ia lawan. Alice menjadi waspada, ia memperhatikan sekelilingnya. sekilas terlintas di benaknya untuk segera menyerang Cliff tapi lagi-lagi lingkaran sihir dalam jumlah banyak memenuhi ruangan itu, tepat sebelum ia bertindak.
[ Multiple Solar Blast ] [ Flare Burst ]
Tidak hanya di udara tapi lantai termasuk tempat Alice berpijak, terukir lingkaran sihir yang muncul begitu saja.
"Alice!" Lilia berteriak cemas memanggil Alice.
Melompat ke atas bukanlah pilihan bijak, Alice hanya bisa melompat ke belakang atau kesamping untuk menghindari serangan itu. Meski terbersit dalam hatinya untuk kembali pada Lilia dan berlindung dalam [ Sanctuary ] miliknya, tapi ia cemas dengan gelombang sihir yang begitu besar itu.
Alice melompat kesamping menghindari, bola api putih yang menghujam dan semburan lava dari bawah kakinya. Ia terus seperti itu hingga akhirnya Cliff memojokkannya dengan sihir yang lainnya.
[ Multiple Fire Javelin ] Kali ini seperti anak panah besar dari api merah berbondong-bondong datang pada Alice dari segala arah.
"Aku tidak tahu otak orang itu seperti apa. Jelas ini bukan hanya rapalan ganda biasa." Gumam Alice lalu ia melompat tinggi ke udara untuk menghindari semburan lava selanjutnya.
"Kena kau!" Cliff tersenyum sinis. Akhirnya gadis itu masuk dalam perangkapnya.
Namun, kemenangan yang ia idam-idamkan sirna saat ia tahu sihirnya dihempaskan begitu saja oleh Alice.
[ Plum Blossom Sword Technique, First Style. Whirlwind ]
Alice memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya di udara.
Cliff sudah kehabisan tenaga, begitupun dengan Mana nya, ia telah menggunakan semuanya dalam serangan terakhirnya tadi.
Sekarang, tidak ada lagi penghalang. Alice menyipitkan matanya melihat kristal besar itu. Baginya, Cliff bukanlah hal penting saat ini. Ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang buruk di depannya. Sesuatu yang bisa membuat bulu kuduknya berdiri.
Alice mengumpulkan Qi yang sangat banyak pada pedang, kaki dan lengannya. Tekanan Qi nya bahkan membuat angin berputar di sekitarnya.
Cliff tertawa "Percuma, kau tidak akan bisa menghancurkan penghalangnya. Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi kalian akan menyaksikan kehadiran Sang Dewi." Ujar nya lalu ia tertawa lagi.
Alice geram mendengar ocehannya, awalnya ia tidak akan membunuh Cliff sekarang tapi dirinya benar-benar sudah tidak tahan.
[ Plum Blossom Sword Technique, Ninth Style. Chung Ryong Descending ]
Seluruh kelopak bunga plum yang ada di sekitar mereka mulai berkumpul berputar di sekitar Alice. Bersamaan saat Alice melepaskan tebasannya, kelopak-kelopak bunga itu menyatu, berputar-putar dan membentuk naga yang panjang.
Sosok naga itu membuka mulutnya dan menunjukkan taringnya yang besar seolah ia sudah siap untuk melahap apa saja yang ada di depannya. Sosok naga dari kumpulan kelopak itu melahap Cliff lalu menabrak Batu Kristal yang ada di dekat patung itu.
Sayangnya, serangan itu masih kurang kuat untuk menembus penghalang sihir itu.
"Portal..nya, sedikit lagi..." Ucap Cliff meski dengan tubuh yang di penuhi luka.
Alice mendecihkan lidahnya, ia lalu menoleh dan melihat tombak milik Cliff yang ada di lantai. Segera Alice menghampiri tombak itu, mengangkatnya dengan hentakan kaki dan menendangnya dengan kuat ke arah kristal itu.
KRAAK! Terdengar suara retakan dari kristal itu.
Ternyata tembus.
Alice berlari lalu melompat dan melayangkan tinjunya pada kristal itu. Kristal itupun hancur dan membebaskan Kepala Kuil yang ada di dalamnya.
Keduanya lega, karena mereka telah menyelamatkan Kepala Kuil. Tapi apakah begitu saja? Insting Alice berkata sebaliknya, hatinya sedikit gelisah.
Alice berbalik dan melihat sebuah lubang kecil yang ada di depan patung itu. Portal? Bukan, tapi lubang itu berwarna hitam. Perlahan lubang itu menarik bebatuan kecil yang ada di sekitarnya. Semakin lama, daya hisap lubang itu semakin kuat.
"Apa yang terjadi? Apakah terjadi retakan dimensi karena portalnya tidak stabil dan dihancurkan begitu saja?" Benak Alice. "Ini gawat, bisa-bisa tempat ini habis dilahapnya."
"Lilia! Menjauh dari tempat ini!" Teriaknya lalu ia segera berlari menghampiri Lilia. Tapi, tiba-tiba sesuatu menahan kakinya. Saat ia menengok ke bawah, ternyata Cliff dengan sekuat tenaga mencengkeram kakinya.
Alice menendangnya namun Cliff tetap tak melepaskan genggamannya. Ia melakukannya lagi dan lagi namun saat ia terlepas, daya hisap lubang itu sudah mencapai dirinya. Alice sudah kesulitan bergerak maju, tubuhnya benar-benar ditarik dengan sangat kuat.
Alice mengumpulkan Qi di kakinya dan menenggelamkannya ke tanah, tidak cukup kuat, ia sekali lagi menancapkan pedangnya ke dalam tanah sebagai pegangan.
Karena ia tak bisa lagi bergerak dari tempatnya, Alice tidak punya pilihan lain saat ini. Hidup atau mati ia tak tahu apa yang ada di balik lubang itu. Alice tersenyum lembut pada Lilia. Dengan sekuat tenaga, Alice melemparkan Kepala Kuil ke arah Lilia.
Alice kehilangan pondasi dan pegangannya. Lubang itupun menariknya ke dalam.
Sedangkan Lilia hanya bisa berdiri jauh dari lubang itu. Tubuhnya gemetar, ia tak bisa melakukan apa-apa. Kakinya kehilangan tenaga untuk berdiri, Air matanya mengalir melihat Alice yang terhisap. Setelah beberapa lama berselang, lubang itu mulai mengecil dan akhirnya menutup dengan sendirinya. Lilia tersungkur di atas lututnya. Ia terisak dengan air mata yang deras membasahi pipinya.
"Alice..."Alice...Huwaa..."