
Suasana yang begitu berbeda dapat ia rasakan ketika pertama kali kakinya melangkah melewati pintu masuk dan melihat bagian dalam kuil. Selama ini ia tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya ke dalam kuil, sebagai wanita yang sangat suka untuk bersenang-senang, tentu baginya kuil dan apapun yang berhubungan dengannya adalah hal yang membosankan.
Bersama seorang wanita, Alice mengikutinya hingga ia sampai pada kamar yang ditujukan untuknya. Wanita itu pamit dengan membungkuk sopan padanya.
Alice melihat ruangan sederhana yang akan ia tempati. Entah berapa lama ia akan akan ada disini, tapi Alice berencana untuk memulai pergerakannya malam ini.
Ketika kuil menjadi sepi dan hari semakin larut. Alice menyeringai dan memulai pergerakannya. Ia tidak keluar dari kamar itu melainkan menggunakan alam bawah sadarnya. Ia merasakan setiap energi dan hawa kehidupan yang ada di kuil itu. Satu orang tetap berjaga tak jauh dari depan pintunya. Sementara itu beberapa lainnya bergerak seperti sedang mengawasi ruangannya dari jauh. Yah, Alice tidak begitu peduli dengan mereka. Alice memperluas kesadarannya. Ia menyelami setiap sudut kuil itu demi mencari keberadaan Lilia.
Sebelumnya ia telah bertanya pada wanita yang mengantarnya, bahwa ia sangat ingin bertemu dengan Sang Saintess karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ia katakan padanya. Tapi wanita itu menggelengkan kepalanya seraya berkata bahwa Saintess sedang dalam keadaan memanjatkan doa untuk menerima wahyu dari Dewi dan beliau tidak bisa di ganggu. Lalu Alice bertanya tentang Kepala Kuil yang ingin ia temui dan untuk kedua kalinya ia mendapatkan jawaban yang hampir sama.
Entah persekongkolan seperti apa yang sedang terjadi di balik layar kuil ini, tapi Alice tak bisa tinggal diam selama hal itu menyangkut orang-orang yang ia kasihi.
Alice yang menelaah seluruh ruangan tidak menemukan apapun di lantai tiga dan dua. Kamar kosong, ruang belajar, dan ruangan-ruangan biasa yang tak tampak mencurigakan lainnya. Karena di langit ia tak mendapatkan apa-apa, Maka ia akan memaksa untuk menembus bumi, begitu kiasan yang ia pikirkan. Dan ternyata dugaannya benar. Ada hawa kehidupan dari banyak orang di bawah tanah. Segera ia menyelaminya dan merasakan belasan orang yang masih terjaga. Lebih banyak dari pada di lantai atas.
Alice terus memperluas jarak alam bawah sadarnya. Ia mulai merasakan sesuatu yang akrab. Saat ia ia duduk di kamarnya dan bisa dilihat bola matanya bergerak lebih intens ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu. "Dimana? Liliana kau dimana?"
Seperti tetesan embun dari dedaunan segar saat fajar di atas danau yang tenang, riaknya membuat area sekitarnya bergetar dan seperti itulah yang Alice lakukan sekarang. Meski beresiko tinggi karena seseorang dengan kekuatan tinggi mungkin saja akan menyadari gelombang energi yang baru saja ia lepaskan tapi, setelah beberapa saat berlalu, Alice lega karena tidak ada yang menyadarinya. "Mungkin para petinggi tidak berada di dekat sini." Benaknya lalu ia menuju tempat yang paling ia curigai saat ini. "Disini!" Perasaan familiar itu makin kental.
Alice membuka matanya dan ia tersenyum tipis menandakan kalau sudah mendapatkan apa yang ia cari.
"Sekarang adalah memikirkan bagaimana caranya aku bisa mengalihkan perhatian orang-orang yang mengawasi ku." Gumamnya berbaring di ranjang sambil menopang dagunya.
Alice berguling-guling kesana kemari. Ia membolak-balik tubuhnya sambil tenggelam dalam benaknya yang masih belum menemukan solusi. Di dalam kamar yang tanpa jendela dan hanya lubang ventilasi kecil, Alice lebih memilih untuk menyebutnya sebagai penjara ketimbang kamar tamu. Toh, niat Cliff yang membawanya kemari juga bukan untuk wisata kunjungan.
Alice berhenti berguling dan tiba-tiba bangun, ia duduk, Kedua matanya melebar sedikit. Alice akhirnya menemukan solusi untuk keluar dari kamar itu.
Alice menarik pintu sehingga setengah terbuka. Ia menunjukkan wajah ketakutan. "Di-disana ada sesuatu, to-tolong aku." Ucapnya sedikit gagap dengan tubuh yang bergetar memegang sisi pintu itu dan menunjuk ke arah kolong tempat tidurnya.
Alice menatapnya dengan tatapan memohon, alisnya yang melengkung ke bawah dan ekspresi kasihan serta tubuhnya yang gemetaran membuat wanita itu iba dan masuk untuk memeriksa.
Wanita itu berjalan mendekati tempat tidur, ketika ia ingin menunduk, Alice langsung memukul belakang lehernya dan membuat wanita itu pingsan. Alice segera menukar pakaian mereka, ia membaringkan wanita itu di atas ranjang dan menutupnya dengan selimut.
Sebelum ia melangkah keluar, ia mengecek kembali pakaiannya dengan baik. Sempurna. Alice mengambil potion berwarna ungu yang ada dalam cincin dimensinya. "Untungnya aku masih memiliki ini." Ucapnya menggoyangkan botol potion yang ia pegang. Itu adalah minuman super pahit yang pernah ia coba dulu. Meski begitu, tak bisa di pungkiri kalau efeknya memang manjur untuk penyamaran.
Alice meminumnya, tampilannya berubah layaknya seperti rakyat biasa pada umumnya. Rambut pirang keemasan yang indah itu berganti menjadi coklat begitu pula matanya yang berwarna biru cerah ikut berubah warna menjadi coklat.
Alice berputar sekali, melihat penampilan dan rambutnya dari sisi matanya, ia sudah siap untuk mencari Lilia
~
Bukan ruangan yang cerah dengan sebuah patung Dewi yang biasa mereka sembah untuk memanjatkan doa. Tapi Lilia di sekap, di suatu ruangan yang tidak pernah ia masuki. Dirinya terkurung dalam sebuah jeruji besi, terlebih lagi kekuatannya tersegel karena besi-besi itu.
Lilia memandang pintu yang begitu dekat di depan matanya dengan wajah masam. Tangannya terikat kebelakang dengan sebuah rantai besi yang sama yang membuat ia lebih sulit bergerak.
"Cliff..." Gumamnya menyebut nama orang itu kesal.
Ia ingat sebelumnya kalau orang itulah yang membiusnya dari belakang. Sebelum ia kehilangan kesadarannya, pandangannya yang mulai gelap menangkap sosok seorang pria, ia tidak percaya kalau saat orang itu berbalik dan menunjukkan wajahnya. Pria yang tersenyum lebar begitu menjijikan di hadapannya ternyata Cliff, orang kepercayaan kepala kuil dan seorang senior yang selalu membantunya saat ia baru saja diangkat menjadi Saintess.
Sampai saat ini, Lilia masih bertanya-tanya tentang tindakan Cliff dan ia juga mencemaskan Kepala Kuil. Sepulangnya dari istana, Lilia sudah tak bisa menemui Kepala kuil dengan alasan bahwa ia sedang bersemedi. Namun, hatinya semakin gelisah ketika tiga hari telah berlalu dan saat ia menanyakan pertanyaan yang sama. Cliff hanya memintanya untuk menunggu lebih lama lagi.
Lilia merasa heran, sebab biasanya Kepala Kuil akan menitipkan atau mengatakan sesuatu padanya sebelum ia berdiam diri atau bersemedi.
Alhasil ketika mencoba mencari tahu dan menyelidiki ruangan dimana Kepala Kuil biasa bersemedi, ia dibius dan ketika sadar, ia mendapati dirinya sudah berada di ruangan ini. Dalam jeruji besi dengan tangan terikat dan kekuatannya yang tak bisa ia gunakan.