
Tidak hanya di kota Blackrock saja. Para monster juga kembali berulah di perbatasan hutan Great Forest. Ksatria-ksatria dari kediaman Strongfort telah diutus untuk melindungi kota Vulture dan desa-desa sekitar. Bahkan Duke Ernard Lein Strongfort sendiri turun tangan karena amukan monster yang tersebar di berbagai wilayah kerajaan Solus termasuk di beberapa sisi wilayah Duke Strongfort.
Meski begitu, Duke Ernard dengan cepat mengambil tindakan dengan memberikan strategi seeifisien mungkin untuk menghindari korban jiwa.
Hingga saat ini penyebab serangan para monster di kerajaan Solus belum diketahui pasti. Namun, menurut beberapa dugaan, serangan para monster kali ini memiliki kaitan dengan kerajaan Deltora.
Kerajaan Deltora merupakan salah satu kerajaan tetangga yang pernah memiliki masa kelam dengan Kerajaan Solus. Gencatan senjata dan perjanjian perdamaian baru di tanda tangani oleh kedua belah pihak sekitar seabad yang lalu, setelah raja Deltora wafat dan perang 20 tahun itu pun akhirnya berhenti.
Selain Deltora ada pula beberapa kerajaan besar yang terletak di sekitar Kerajaan Solus, yaitu Turia dan Lagarde serta beberapa kerajaan kecil lainnya.
Duke Ernard yang memimpin pasukannya berhasil bertahan dengan baik dengan jumlah korban yang minim. Para monster yang mengamuk di beberapa tempat telah berhasil dibasmi, kini Duke Ernard sedang dalam perjalanan kembali ke kota Vulture.
"Lapor Tuan!" Seorang ksatria yang bertugas sebagai pembawa pesan datang dengan tergesa-gesa menghampiri Ernard.
"Ada apa? katakan." Balas Duke yang sedang menunggangi kudanya.
"Menurut laporan pengawas, beberapa monster terlihat mendekati kota Vulture dengan sangat cepat. Diperkirakan jumlah mereka hampir mencapai seratus."
Ernard terdiam sejenak untuk berpikir. Pasukannya baru saja selesai mengatasi gelombang monster yang berusaha menerobos masuk ke kota. Kemampuan tempur mereka pasti menurun drastis. Berdasarkan laporan, bahwa monster itu bergerak sangat cepat, Duke Ernard curiga kalau apa yang terjadi di penjuru wilayahnya hanyalah sebuah umpan untuk memaksanya keluar.
Ernard tiba-tiba terbayang wajah Liana dan Iris. "Berpencar! Pertahankan wilayah bagian barat dan timur, juga perkuat barisan pada bagian depan." Perintahnya tegas.
Jika dugaannya benar, maka tidak salah untuk mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang mengendalikan situasi ini.
"Siap, Laksanakan!." Jawab para ksatria lalu memacu kuda mereka.
Duke Ernard kemudian seorang diri bergegas mengendarai kudanya kembali ke kediamannya. Entah mengapa ia berfirasat kalau gerakan tiba-tiba ini memiliki sesuatu yang berhubungan dengan keluarganya.
Dia mengencangkan pelana kudanya dan memacu kecepatannya.
~
Echidna terus terbang ke ara selatan sambil melihat ke bawah. Ia menyaksikan para monster yang sedang berkumpul di suatu tempat. Namun apapun itu, Echidna tidak peduli dan tetap menuju kediaman Strongfort.
"Rumah besar.... dengan atap biru, hmm... sedikit sulit untuk menemukannya di malam hari." Gumamnya sambil Ia menggaruk kepalanya.
Dengan menggunakan pandangan tajam dari seekor naga, Echidna mulai memperlambat kecepatannya, ia lalu berhenti dan melayang di langit.
"Ini sudah kota besar terakhir yang ku lihat. Sebaiknya aku turun sedikit lagi." Echidna perlahan merendahkan ketinggiannya dan akhirnya dia berhasil menemukan rumah besar yang ia maksud setelah menoleh ke kiri dan ke kanan.
Dia tersenyum riang.
Echidna terbang perlahan mendekati rumah itu dan ia melihat beberapa orang penjaga sedang bertarung melawan monster.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa ada monster di sini?!" Echidna merasa heran karena monster-monster itu menyerang langsung kediaman Strongfort. Pergerakan mereka terlihat sedikit tidak wajar untuk seekor monster yang mengamuk.
"Apakah mereka mencari sesuatu di rumah mama?"
Saat Echidna memperhatikannya lebih jelas lagi. Langit kediaman Strongfort ternyata sudah di kepung oleh monster humanoid yang menyerupai burung. Mereka adalah Harpy.
"Harpy? Apa yang para lalat terbang itu lakukan disini?"
Harpy bisa dibilang mereka masuk dalam kategori ras hewan buas karena tubuh mereka yang menyerupai seekor burung dengan wajah dan perawakan seperti wanita. Sayangnya, tidak banyak dari mereka yang memiliki kecerdasan untuk diajak kompromi.
"Selain goblin yang menunggangi serigala, harpy dan...basilisk juga ada disini." Echidna menyipitkan matanya melihat kelompok aneh dari para monster di bawahnya.
Berbeda dengan goblin dan Harpy. Tambahan seekor basilisk yang ganas merupakan sebuah tanda tanya besar. Kadal raksasa yang mampu membuat lawannya membatu dengan sisik yang hampir sekeras naga itu tidak pernah membentuk sebuah kelompok.
Kecurigaan Echidna yang menumpuk membuat dia yakin kalau ada seseorang yang bermain di balik tirai dan ingin melakukan sesuatu pada kediaman Strongfort.
"Apapun itu, aku tidak boleh membiarkan mereka menghancurkan rumah mama."
Echidna dengan sangat cepat langsung melesat dan membasmi para harpy yang terbang di langit. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat para harpy kaget sehingga mereka tidak sempat untuk melarikan diri.
~
Sementara itu, Liana dan Iris sangat cemas dan takut memandangi para prajurit yang sedang bertarung menahan para goblin yang masuk ke dalam halaman rumah.
"Semoga saja Ayah mu cepat kembali. Aku tidak tahu berapa lama kita bisa menahan mereka." Liana mengepal kedua tangannya, lalu memejamkan matanya sambil berharap seseorang datang dan menolong mereka.
Keduanya terus melihat para prajurit yang mulai gugur satu persatu karena jumlah monster yang terlalu banyak dari jumlah ksatria yang berjaga.
Beruntungnya, para pelayan sudah di evakuasi ke dalam ruang bawah tanah untuk bersembunyi sedangkan kedua kepala pelayan itu memutuskan untuk tetap disisi Nyonya dan Nona mereka. Sebagai mantan petualang yang cukup terkenal pada masanya. Hilda Joseph dan Hubert Barrack berdiri di depan pintu untuk menjadi Nyonya mereka tetap aman,
"Ernard..." Batin Liana penuh harap memanggil nama suaminya.
Iris sudah bersiaga di depan pintu untuk menggunakan sihirnya kalau kalau para monster itu berhasil menerobos ke dalam.
Tak lama kemudian sesuatu yang aneh terjadi dan membuat alis keduanya mengernyit. Mayat-mayat monster harpy berjatuhan dari langit. Semua orang menengadahkan kepalanya dan melihat apa yang terjadi. Seseorang terbang kesana kemari di langit dengan sangat cepat, ia membunuh para harpy itu satu per satu bahkan tanpa mereka sempat melakukan perlawanan.
Sosok itu lalu turun ke tanah menghantam kerasnya kepala dan sisik monster basilisk itu.
Siluet dari tubuh seorang gadis kecil terlihat dibalik kepulan debu. Perlahan sosoknya mulai terlihat jelas di mata orang-orang. Gadis itu berbalik dan memperlihatkan wajahnya yang rupawan pada semua pasang mata yang melihatnya.
"A-Alice?" Liana mengerutkan dahinya ketika ia melihat wajah gadis kecil itu.
Iris yang melihat wajahnya juga heran. Rasa penuh tanya dalam benaknya lebih besar dari rasa senangnya.
"Kakak? Apa yang terjadi padanya sampai dia menjadi... seorang anak kecil?"
Tidak hanya mereka, bahkan para prajuritpun tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Iris segera berlari dari lantai dua disusul oleh Liana.
Saat sampai di halaman, Iris berteriak memanggil gadis itu.
"Kakak!"
Echidna berbalik melihat orang yang berteriak padanya. Matanya melebar dan berbinar-binar saat ia memandangi wajah Iris.
"Dia terlihat mirip seperti mama, hanya saja rambutnya berwarna hitam dan matanya juga, lalu... wanita yang disampingnya..."
Kedua sudut bibir Echidna mereka dengan lebar ke samping. "Warna mata dan rambutnya sama seperti mama. Yang berarti...dia mamanya mama, kalau begitu...yang berambut hitam itu adalah adiknya mama." Echidna berlari kecil dengan hati gembira menghampiri keduanya.Ia lalu melompat ke dalam pelukan Liana.
Spontan Liana menangkapnya. "A-Alice? Kamu.. Alice kan?"
Gadis kecil yang ada di pelukannya itu mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya. "Aku bukan Alice, namaku Echidna."
"Echidna?" Rasa kecewa dan sedih muncul di hati keduanya.
"Tapi nenek jangan khawatir. Karena aku sudah ada disini. Aku akan melindungi nenek dan bibi." Kata Echidna dengan polos sambil melihat keduanya secara bergantian.
"Nenek?"
"Bibi?"
Iris dan Liana saling melihat penuh tanda tanya.
Kedua mengerutkan kening mereka, karena heran dengan apa yang gadis kecil itu katakan.
Echidna menunjuk Liana "Iya, nenek adalah mamanya mama." Lalu ia menunjuk Iris "Dan Bibi adalah adiknya mama."
Apa yang terjadi? Mama apa? Mamanya siapa?
Iris benar-benar tidak mengerti apa dimaksud gadis kecil itu. "Kalau boleh tahu siapa nama mama mu?"
Echidna memejamkan matanya, ia mencoba mengingat-ingat kembali terakhir kali saat dia pertama kali mendengar Alice memperkenalkan dirinya. "Mama... bernama Alicia Lein... Strongfort, ya Strongfort!"
Sontak Ibu dan anak itu kaget.
Untuk sesaat keduanya diam mematung dan tak bisa berkata-kata. Alice, gadis kesayangannya sudah memiliki seorang anak?