Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 176



Setelah perjalanan yang cukup panjang. Marianne, Liliana dan Kyrant akhirnya sampai di depan gerbang kediaman Strongfort.


Sementara itu, Echidna baru saja selesai dengan permainan kecil Iris. "Uhh! Rasanya aku ingin kembali ke mama saja. Bibi dan pelayannya benar-benar memperlakukan ku layaknya sebuah boneka. Bisa-bisanya seorang penguasa dari ras naga mengenakan pakaian-pakaian memalukan itu." Keluhnya sembari ia berjalan dengan sekantong kue kering di tangannya.


Hampir setiap hari Iris memaksa Echidna untuk memakai berbagai macam busana anak-anak. Echidna menjadi subjek menarik untuk menghilangkan rasa penat dan stress nya setelah latihan yang keras. Iris dan Jane mendandani dan memakaikannya berbagai macam gaun.


Awalnya Echidna sudah menolak permintaan Iris, tapi saat ia ditawari berbagai macam makanan lezat, tentu saja keyakinan Echidna menjadi goyah. Demi manisan-manisan lezat yang ada di meja Iris, Echidna rela menahan malu. Pasalnya dia tidak pernah merasakan begitu banyak kenikmatan akan hidangan lezat selama ribuan tahun lamanya.


"Apa yang para naga makan sangat tidak menggugah selera". Cibirnya.


Begitulah, pada akhirnya Iris dan Jane berhasil menyogok Echidna dengan sekantung biskuit, kue dan cemilan manis lainnya.


Iris terlihat sangat antusias ketika melihat Echidna mengenakan gaun bekas miliknya saat ia masih kecil dulu. Sungguh lucu, imut dan menggemaskan.


Dia berteriak kegirangan.


Ditambah lagi dengan wajah Echidna yang benar-benar menyerupai Alice, semangat Iris menjadi lebih membara. Bahkan dia sudah mengatur rencana untuk memanggil seorang desainer busana untuk membuatkan Echidna lebih banyak gaun.


Walaupun Echidna sebenarnya bukanlah kakaknya, tapi mereka benar-benar mirip. Iris berpikir kalau itu merupakan kesempatan langka. Dia seperti sedang mendadani Alice kecil.


Echidna sedang berjalan menuju taman untuk menikmati cemilan kecil yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya.


"Siapa yang akan percaya kalau pemimpin para naga berjalan dengan gaun lucu dan penampilan seperti ini." Keluhnya, lalu ia memasukkan sepotong kue kering ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.


Langkahnya berhenti ketika ia merasakan kedatangan seseorang yang yang memberikan perasaan familier. "Energi ini..., meskipun tidak sekuat mama, tapi aku yakin kalau dia melatih teknik yang sama dengan mama dan satu-satunya orang yang bisa melakukan itu..., cuma dia."


Echidna berbalik memutar haluan, ia segera berjalan menuju pintu depan.


Sesampainya disana, ia melihat Kyrant dan dua gadis muda bersamanya. Hubert si kepala pelayan sedang menyambut kedatangan mereka.


"Bau dan energi ini berasal dari gadis itu, aku yakin dia pasti orangnya." Sorot mata Echidna tertuju pada Marianne.


Ia pun menghampiri mereka.


Kyrant yang pertama merasakan kehadiran Echidna, menoleh dan menyambutnya. "Yang Mulia." Sapa Kyrant sambil menundukkan kepalanya.


Marianne dan Liliana terkejut dengan apa yang mereka lihat. ""A-Alice?!""


Gadis kecil menyerupai Alice dengan rambut hitam dan mata merah muncul di depan mata mereka.


Dia terlihat begitu manis dalam balutan gaunnya.


Marianne dan Liliana gemas ingin memeluk, dan mencubit kedua pipi kecil Echidna.


Liliana yang hampir saja terbuai menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak. Bukan itu, ini bukanlah sesuatu untuk dikagumi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Alice?" Benaknya risau.


"Uhh~ kakak~ hehe... lucunya~" Gumam Marianne sambil cengar-cengir.


Marianne tidak bisa menahan kecantikan dan keimutan alami dari gadis kecil manis di depannya. Tanpa sadar ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Echidna seakan ia ingin menangkapnya.


Dari samping, Liliana hanya bisa menepuk jidatnya di dalam benaknya. Ia menghela nafasnya lalu lekas menarik lengan baju Marianne. Ia berdeham. "Tuan Putri." Panggilnya.


Mendengar suara Liliana, Marianne pun tersadar. Hampir saja ia bertindak kelewatan.


Dia segera kembali berdiri tegak dan berpura-pura seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan tidak pernah terjadi. "Ehem, ehem."


Bagaimanapun dia harus bisa mempertahankan citranya dan berperilaku sebagaimana seorang putri. Tapi benar, Matanya sulit untuk berpaling dari gadis kecil di depannya.


Echidna melirik Liliana dan Marianne secara bergantian. "Wanita ini mengeluarkan energi Suci yang kuat dan yang satunya...., tidak salah lagi, dia pasti orang yang bernama Xiao Mei itu. Mama bilang kalau dia juga ikut bereinkarnasi ke dunia ini. Tadinya aku berpikir untuk mencarinya. Tapi siapa sangka kalau kami akan bertemu secepat ini." Pikirnya.


Marianne merasa aneh karena gadis kecil yang terlihat seperti Alice itu terus-menerus menatapnya.


Apakah dia benar-benar Alice? Tapi bukannya Kyrant mengatakan kalau dia tidak ikut bersamanya.


Hubert kemudian berkata dan membuat kebingungan mereka bertambah "Dia bukanlah Nona Alice. Dia bernama Echidna, dia adalah putri dari nona Alice." Jelasnya singkat.


Entah dia sengaja atau tidak, Hubert seharusnya lanjut menjelaskan tentang identitas Echidna tapi dia tidak melakukannya.


Marianne dan Liliana seketika syok, mereka tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang Hubert sampaikan seperti sambaran petir yang tiba-tiba muncul di langit yang cerah.


"Pu, pu-pu-putrinya Alice?!" Bibir Liliana mengatup terbuka dan tertutup. Matanya melebar tidak percaya melihat gadis kecil di hadapannya. Banyak yang ia ingin tanyakan tapi kepalanya masih kesulitan mencerna apa yang baru saja ia dengar.


Reaksi Marianne tidak jauh berbeda dari Liliana. Dia membeku dengan wajah yang memucat. "Ba-ba-bagaimana bisa?! Bagaimana bisa dia sudah memiliki seorang putri....bahkan usianya..." Ucap batinnya gagap. Matanya tidak bisa berhenti menatap Echidna dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.


Wajahnya tampak murung dan kecewa. Ia berbalik menatap Liliana. Ekspresinya berkata seolah ia meminta tolong dan butuh penjelasan.


Bagaimana bisa Liliana menolongnya, dia sendiri tidak tahu darimana kemana semuanya bisa terjadi sampai-sampai Alice mempunyai seorang putri.


Apakah itu benar? Atau aku yang salah dengar? Liliana meragukan pendengarnya. Dia yang biasanya bersikap tenang dan anggun tidak bisa menahan dirinya saat ini.


Berita itu memang mengejutkan bagi mental mereka. Penampilan Echidna terlihat seperti gadis kecil berusia sekitar 10 tahunan, lantas bagaimana bisa Alice memiliki putri berusia 10 di usianya yang masih 16 tahun?


Apa yang sebenarnya terjadi?!! Marianne hanya bisa gigit jari dalam kepalanya.


Keduanya ingin menyangkal Hubert tapi saat mereka melirik Echidna dan memperhatikan wajah putih kecilnya dengan seksama. Siapapun pasti akan berpikir kalau dia adalah Alice. Tidak. Tapi putri dari Alicia Lein Strongfort.


Keduanya menarik nafas dalam. Dengan senyuman canggung, mereka pun mencoba menyapa Echidna. Marianne dan Liliana pasrah dan mencoba menerima kenyataan walaupun sebenarnya mereka cukup enggan.


Mereka melambaikan tangan pada Echidna dan menyapanya dengan lembut. "H-halo..."


Echidna diam, dia tidak merespon sapaan mereka melainkan masih terus menatap ke arah Marianne.


Karena Ernard sedang tidak di rumah, Liana pun datang menggantikannya menyambut kedatangan kedua tamunya. "Maafkan saya yang terlambat menyambut Anda Tuan Putri, Nona Saintess."


"Tidak Nyonya. Itu salah ku karena datang tanpa memberitahukan anda terlebih dahulu." Balas sopan Marianne.


"Selamat sore bibi." Sapa Liliana.


Karena hubungan keluarga Matilda dan Strongfort sangatlah akrab bahkan sebelum ia menjadi seorang Saintess. Kehadiran Liliana di keluarga Strongfort sudah seperti seorang ponakan bagi mereka dan begitupun Alice dengan keluarga Matilda.


Echidna berbalik. "Ah, nenek!" Ia berjalan dan berdiri di samping Liana.


Panggilan gadis kecil itu terdengar merdu di telinga mereka. Dia terlihat imut ketika berjalan dengan kaki kecilnya.


Liana tersenyum ketika ia melihat wajah bingung Marianne dan Liliana. "Tuan Putri, Lilia. Kalian tidak perlu panik. Echidna memang putri Alice, tapi dia sebenernya bukanlah putri kandungnya. Dia adalah putri angkatnya namun..." Liana berhenti sejenak. "Silakan masuk dulu. Saya akan menjelaskannya di dalam." Lanjutnya.


~


"Disana. Aku bisa merasakan hawa kehidupan dari banyak orang dari ruangan itu." Alice menunjuk ke arah sebuah ruangan yang berada di sudut salah satu bangunan megah yang berdiri di tengah kota.


"Kalau begitu, kapan kita akan bergerak ibu?" Tanya Elysia.


"Tunggulah besok malam. Pria bernama Azeer itu akan kembali saat itu. Dia adalah pemilik rumah itu dan kita membutuhkan dia untuk menggali informasi lebih banyak lagi."


Elysia mengangguk setuju.


Setelah mendapatkan informasi dari para bandit sebelumnya. Alice bersama Elysia segera berangkat menuju kota Amira. Menurut ketua bandit itu kalau mereka sebenernya hanya menjalankan perintah dari seorang pejabat istana yang memimpin wilayah itu. Dia adalah seorang pria bernama Azeer.


Ketua bandit itu tidak mengetahui tentang ciri-cirinya tapi dia berhasil mendapatkan informasi kalau pria yang memperkerjakannya itu adalah seorang pejabat Istana.


Imbalannya besar dan menarik. Ketua bandit tidak peduli dengan diplomasi ataupun soal perdagangan. Dia hanya perlu mengesekusi misinya. Dan ketika dia berhasil, dia pun tergiur dengan kecantikan para elf saat dia melihat paras mereka.


Awalnya ketua bandit memutuskan untuk 'bermain' dengan para wanita elf itu. Sayangnya mereka memiliki sebuah pelindung khusus yang membuatnya tidak bisa menyentuh mereka secara langsung. Alhasil, karena geram, ia pun menahan mereka dan memutuskan untuk menjual mereka sebagai budak.


Berkat mereka, dia mendapatkan banyak bonus dari misinya. Walaupun sebenarnya itu adalah hari terakhir baginya untuk menikmati semua hartanya.


Sesampainya di Amira, Alice dengan cepat bergerak untuk mencari informasi tentang pria bernama Azeer. Baik ciri-ciri maupun tentang kegiatan dan kekayaannya.


"Berbeda dengan kerajaan Solus yang sudah melarang adanya sistem perbudakan. Di Kekaisaran Arakhmeia sendiri masih melegalkan hal itu." Alice berdecak. "Mengecewakan."


Saat memantau gedung itu, mereka memutuskan untuk mengambil penginapan yang dekat dengan gedung itu.


"Hehe...untungnya para bandit itu punya uang." Kata Elysia menyeringai sambil ia melempar-lempar sekantong uang di tangannya.


"Oh, iya ibu. Kayaknya kita juga harus---"


Elysia lengah.


Seorang bocah kecil tiba-tiba saja melesat dengan cepat dan merebut kantong uangnya.


"Aahhh! Uangku!!" Teriaknya.


Alice menggelengkan kepalanya lalu menghela nafasnya.


Dalam hati sebenarnya ia tertawa. Siapa suruh dia lengah dan berani memainkan uangnya di keramaian seperti ini. Batinnya.


"Ibu, aku akan mengejarnya." Kata Elysia lalu ia pun berlari sekuat tenaga mengejar bocah itu.


Saat ia sampai di persimpangan terakhir dimana bocah itu hilang, Elysia kebingungan. Dia tidak tahu-menahu tentang isi kota itu. Dia bingung harus pergi ke gang yang ada di sisi kanannya atau sisi kirinya.


Elysia kesal menggaruk kepalanya. "Pencuri kecil itu! Awas saja kalau aku mendapatkan mu."


Elysia memutuskan untuk pergi ke gang kecil di sebelah kirinya.


Dia tidak mengira saat ia terus berlari menyusuri gang itu, ternyata ujungnya buntu.


Elysia mengumpat kesal dalam hatinya. Ia menendang pasir di tanah.


Elysia pun berbalik. Dengan kecewa dan rasa menyesal ia memutuskan untuk kembali ke ibunya.


"Apakah benar ini milikmu?" Ucap seorang pria di luar gang sambil ia mengulurkan sekantong uang.