Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 169



Angin berhembus semakin kencang di sekitar gua itu.


Bagaikan sebuah mata yang muncul di langit, satu-satunya tempat dimana awan hitam itu tidak berkumpul adalah titik di atas gua tempat Alice berkultivasi.


Mengerikan!


Bahkan itu adalah pemandangan yang menggetarkan bagi Echidna. Baru pertama kali dia melihat fenomena alam seperti itu.


Pasalnya tidak hanya cuaca yang berubah, bahkan gelombang energi Mana di sekitar mereka menjadi tak karuan. Semuanya bergerak mengitari gua di hadapannya.


Dewa? Apakah akan muncul seorang Dewa dari lubang di langit?


Sedikit lagi Alice mencapai penerobosan nya. Ketika ia merasakan kekuatan yang amat besar mendekat, dengan cepat ia berlari keluar dari gua lalu terbang ke langit dan berdiri tepat di bawah mata badai itu.


Echidna ingin memanggilnya, namun ia yakin kalau Alice pasti tidak akan menghiraukannya.


Selena mendongak dengan mata melebar. Bulu kuduknya berdiri. Tak terpikirkan baginya kalau ia akan gentar melihat pemandangan di hadapannya.


"Apa... yang sebenarnya terjadi? Apakah semua ini adalah ulah manusia itu?" Tanya benaknya.


Di bawah gemuruh guntur dan petir yang menyambar. Alice menatap tajam ke atas seolah ia sedang menantang kehendak surga.


'Datanglah' Begitulah pandangannya tersirat.


"Untuk waktu yang cukup lama aku sudah tidak pernah merasakan petir surgawi. Kali ini tunjukkan padaku seberapa besar hukuman yang akan kalian berikan karena aku mencoba melewati batasan dunia ini."


Semua makhluk memiliki batasnya, bahkan pahlawan pun begitu. Langit telah menetapkan takdir itu dan para dewa yang bernaung di dalamnya juga tak berani melanggar kehendak pencipta mereka.


Tidak ada yang tahu kalau Aria sebenarnya terbagi menjadi tiga dunia yang berbeda. Dunia langit atau kayangan tempat para dewa tinggal, dunia fana tempat mahkluk mortal bernaung dan dunia bawah adalah penjara bagi para makhluk terkutuk yang dibuang ke dalamnya.


Sedangkan di atas langit tempat para Dewa tinggal ada satu tempat khusus yang sulit dijangkau siapapun tanpa seizin pemilik tempat itu. Tempat itu bernama kuil agung tertinggi Sang Dewa Pencipta Chaos. Sayangnya, Chaos mati karena pengkhianatan anaknya yaitu Erebos dan membuat tempat itu tersegel sampai saat ini.


Alice yang hanya seorang manusia berusaha melewati batasan dunia itu.


Mustahil! Tidak Mungkin!


Namun seperti itulah namanya kultivator. Mereka mencoba menjadi sosok abadi. Melakukan hal yang hanya para dewa bisa lakukan bahkan menentang batasan dunia adalah hal yang wajar.


JEDAR!!!


Suara petir menyambar di balik awan tepat di depan matanya.


Alice berteriak dengan lantang. "Kenapa?! Apakah kau ragu?! Aku ingin melihat seperti apa kekuatan surgawi dari dunia ini. Untuk itulah aku menantang mu!"


Dia memasang tubuhnya tanpa perlindungan apapun dan menantang langit.


Alice tahu kalau langit yang ia tantang tidak lagi memiliki sosok tertinggi mereka. Nyx telah memberitahukan semuanya. Para dewa yang hidup di kayangan saat ini hanyalah hasil ciptaan dari Chaos.


Karena itulah ia sengaja bertaruh. Selain untuk membantunya meningkatkan kultivasinya, ia juga ingin mengukur seberapa kuat dewa petir yang bernama Zeus itu.


"Aku akan menggunakan petir surgawi untuk memperkuat pondasi ku. Ini adalah pertaruhan. Tenaga dalam ku belum stabil saat menerobos ke ranah Divine Realm dan sekarang aku harus menggunakan energi petir itu untuk memaksa menembus ke ranah Immortal Realm." Pikirnya.


Guntur semakin menggelegar.


Langit tampak marah akan kesombongan Alice. Warna petir yang tadinya biru berubah menjadi kuning.


Alice tersenyum sinis sedikit puas. Jumlah energi yang ia rasakan dari satu sambaran petir di atasnya tidaklah sedikit.


"Bagus. Majulah! Biarkan aku merasakan hukuman petir surgawi dari dunia ini."


JEDAR!!!


Dari tiga titik awan yang berbeda, petir menyatu dan menyambarnya.


"Akhh..! Ughh..!" Alice menahan rasa pedih yang membakar kulit hingga ke dalam tulangnya.


Untung saja sebelum petir itu mendarat di tubuhnya, Alice menggunakaan Qi nya sebagai pelindung. Kalau tidak, bukannya memperkuat pondasi kultivasinya dan menerobos ke ranah Immortal Realm, dia malah akan berakhir menjadi lumpuh dan cacat.


Langit memberontak dan mengamuk melihat mimik wajah angkuh Alice.


Petir menyambar lebih banyak dan lebih intens.


Gemuruh guntur yang begitu besar seakan membuat tanah bergetar.


Manusia biasa yang begitu lemah sungguh sangat sombong berani menantang kebesarannya.


Selena terbelalak tidak percaya. Bagaimana bisa ada manusia yang begitu gila seperti Alice. Tapi anehnya, untuk seorang manusia dia bisa tetap hidup meski telah menerima sambaran petir tadi.


Echidna dan Selena menelan ludah mereka. Petir di langit menyambar semakin menjadi-jadi.


"Mama...apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" Cemas batin Echidna menatap Alice dengan natta lirih.


Selena tertawa dalam batinnya.


Selena ingat ketika pahlawan itu melompat masuk ke tengah-tengah barisan musuhnya. Dia terlihat memanggil petir dari langit untuk membumi hanguskan semua yang ada di sekelilingnya. Sosok gagah berani itu masih terukir jelas di benaknya. Kala itu, ia sebagai ras naga yang merupakan penasehat Echidna bahkan tidak berani berpikir untuk maju dan menghadapinya satu lawan satu.


Langit telah melemparkan lima petir berturut-turut pada Alice. Tapi sungguh mengejutkan, Alice masih berdiri di tempatnya.


Dan kemudian petir ke enam pun turun menyambarnya.


Dari bawah saja, terlihat kalau asap seakan keluar dari tubuh Alice.


Langit menjadi tenang. Meski begitu, awan hitam tetap masih tidak lenyap.


Alice menyipitkan matanya.


Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Diamnya langit bukan berarti kalau dewa itu telah selesai berurusan dengannya. Tapi dia sedang bersiap untuk menembakkan petir terakhirnya.


Cahaya kuning bersinar terang di tengah-tengah mata badai. Mereka berkumpul dan menjadi semakin besar.


Dugaan Alice benar. Ia lalu melindungi tubuhnya dengan Qi yang lebih padat.


Kelihatannya bola kilat di atas kepalanya itu tidak main-main dan dewa benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.


Sesaat kemudian bola kilat itu berhenti membesar. Dengan suara yang begitu besar. Energi yang dahsyat itu menghujam Alice dan menelan tubuhnya.


Echidna berteriak histeris. "Mama...!" Ia pun terbang mencoba untuk menghampiri Alice.


Pakaian Alice hampir terbakar hangus seluruhnya. Ia beruntung karena saat ini dia benar-benar tidak membawa baju ganti.


Melihat Alice menoleh dan tersenyum padanya. Echidna segera melompat dan memeluknya dengan erat.


"Mama....mama... Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Echidna panik sambil melihat Alice dari atas hingga ke bawah.


Alice berhasil. Penerobosan nya telah berakhir. Awan hitam di langit perlahan lenyap dan sinar mentari pun menyinari tanah Wasteland.


Alice mengelus kepala Echidna. "Maaf membuat mu khawatir. Sekarang semuanya sudah selesai."


Mereka perlahan turun dan mendarat.


Selena segera menghampiri keduanya.


Ia masih sedikit jengkel dan tidak terima melihat Alice memperlakukan Echidna seperti anak-anak. Tapi lidahnya tidak bisa berkata jujur untuk meminta Alice melepaskan Echidna yang melengket padanya.


Selena hanya bisa terdiam menatap wajahnya sambil mengingat kejadian tadi.


"Ada apa Selena?"


"Bukan apa-apa."


Saat mereka berbalik dan berencana meninggalkan gua itu, kedatangan Elysia membuat mereka terkejut.


Echidna dengan cepat merespon dan bersiaga di depan Alice.


Tadinya ia mengira kalau gadis itu berlari kencang dan berniat ingin menyerang mamanya. Tapi dia membatu saat Elysia tiba-tiba saja berteriak memanggil Alice dengan ibu.


Echidna memasang ekspresi tidak percaya ketika gadis elf itu melompat memeluk Alice.


Dia tidak percaya akan ada seseorang yang mengambil posisinya. Padahal dia baru saja melakukan hal yang sama.


~


"Nampaknya kau gagal lagi." Wanita itu terkekeh sambil menutup bibirnya.


"A~ah....begitulah. Aku tidak percaya dengan semua rencana yang ku siapkan dengan matang pada akhirnya gagal juga." Balas seorang pria.


"Hehe.... bukankah sebaiknya kau mencari pion baru? Erebus atau siapa lah namanya itu, kurasa dia tidak begitu berguna." Ujar wanita itu.


"Hmm.... tenang saja. Kau tidak perlu berkata kasar seperti itu. Bagaimana pun dia itu masih seorang dewa loh. Lagi pula aku sudah menyiapkan sesuatu untuk langkah selanjutnya." Ucap santai pria itu.


"Ah! Maksudmu dia ya? Jadi karena itu kau menyekapnya disini. Hehehe...kau benar-benar licik."


"Kau bisa bilang begitu tapi... bukannya kau menikmati permainan ini juga. Bagaimana, aku benarkan?"


Keduanya tertawa pelan bersama. Pria itu lalu melirik pada teman pria lainnya yang ada di ruangan itu.


"Hmph! Aku tidak peduli dengan omong kosong mu. Setidaknya kau tidak mengganggu ku." Kata pria itu dengan dingin. Lalu ia pergi meninggalkan mereka.


"Ya..ya..ya..Kau selalu dingin seperti biasanya."


Mereka tidak menghiraukan sikap pria dingin itu. Keduanya tetap melanjutkan percakapan mereka.


Setelah membahas rencana selanjutnya. Wanita itu pun berkata. "Kau memang kejam. Kau sudah mempermainkan para dewa di Ard dan sekarang kau mengacaukan dewa di Aria. Tidak ada salahnya kau dipanggil Paimon The Trickster."


Pria yang bernama Paimon itu berdiri dari kursinya. Ia berjalan melihat pemandangan kota dari jendela ruangan itu kemudian bergumam. "Panggung selanjutnya telah ku siapkan. Sekarang tinggal mencari para pemerannya."