Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 46



Esok harinya. Setelah Alice pamit pada Mary, ia pun pergi menemui Amy dan Andrew di tempat yang sudah mereka tentukan. Sebagai pengawal pribadi Leon tentu saja memaksa untuk ikut meski ia merasa kalau Alice bahkan bisa melindungi dirinya walau hanya seorang diri.


Setelah menyaksikan pertarungan Alice hari itu, Leon sadar kalau kekuatannya berada jauh di belakang Alice. Itu sebabnya ia berlatih lebih keras dari biasanya. Ia hanya ingin membuktikan dirinya.


"Leon." Alice memanggil Leon yang terlihat melamun sampingnya.


"Iya Nona?"


"Tak perlu merasa rendah diri. Setiap orang memiliki jalan mereka masing-masing dan jalanku tidaklah mudah. Oleh karena meningkatnya kekuatanku, itu butuh usaha yang lebih keras. Aku hanya ingin kau menemukan jalanmu juga."


Leon mengerti. Dia juga bukanlah orang berbakat atau jenius. Karena itu, ia tahu bagaimana rasanya berjuang mati-matian. Orang-orang berkata kalau di balik kekuatan yang besar pasti ada tanggung jawab yang besar pula. Tapi tidak ada yang tahu seberapa besar pengorbanan yang di butuhkan untuk mendapatkan kekuatan itu.


Leon berjalan di sisi Alice, sesekali ia melirik ke arahnya. Gadis dengan tubuh yang lebih kecil darinya, tidak ia sangka akan tumbuh lebih hebat darinya. Padahal aku sudah berjanji untuk menjadi sosok yang bisa berdiri di depannya kelak. Leon menghela nafasnya.


Setelah berjalan cukup jauh. Di tengah-tengah kota bagian barat Eiden. Mereka akhirnya melihat penginapan tempat yang Amy sebutkan.


'Beruang Besar' Begitulah yang tertulis di papan nama penginapan itu. Sebuah penginapan kecil yang terletak di ujung jalan dekat tembok benteng.


Di depan penginapan, dari Jauh terlihat Amy dengan riang melambaikan tangannya pada Alice.


Alice mengangkat tangannya untuk membalas lambaian Amy. Ia kemudian menoleh pada Leon dan tersenyum. "Leon. Mungkin nanti aku akan membutuhkan perlindunganmu. Ku harap kau bisa melindungiku."


Dengan wajah cerah dan sedikit senang Leon mengiyakan permintaan Alice. "Nona Alicia tenang saja. Aku akan melindungi Anda apapun yang terjadi." Katanya sambil menepuk dada kirinya.


"Sungguh? Terimakasih Leon."


Keempat orang itu telah berkumpul. "Tunggu disini. Aku akan menyewa seekor kuda terlebih dahulu." Karena dia lebih tahu banyak tentang ibukota ketimbang Alice. Andrew berbaik hati untuk melakukannya.


Andrew pergi ke toko yang ada di seberang jalan. Ia masuk ke dalamnya dan tak lama berselang, seorang pria menuntunnya ke samping toko. Andrew yang berjalan mengikuti pria itu keluar dengan membawa seekor kuda.


"Kenapa hanya satu?" Alice bertanya pada Amy sambil menunjuk Andrew.


"Kuda itu untuk mu. Andrew memiliki kendaraannya sendiri. Karena kau membawa teman, jadi kita berdua yang akan naik kuda. sedangkan....hmm.."


"Leonard, panggil saja aku Leon."


"Oke, Leon akan pergi bersama Andrew."


"Nona Alicia. Ini kuda Anda." Andrew menyerahkan tali kekang kuda itu untuk Alicia pegang. Tanpa ragu Alice mengambilnya.


"Lalu kau sendiri bagaimana?" Melihat Andrew tak membawa tunggangan apa-apa. Tentu Alice penasaran tentang tunggangan miliknya.


Andrew mengeluarkan sebuah kristal mana dari saku celananya dan sebuah gulungan dari saku bajunya. "Aku memiliki ini." Kata Ia sambil menunjukkan kedua benda itu ke hadapan Alice.


Gulungan dan kristal mana? "Untuk apa mereka?"


"Kurasa ini pertama kalinya Anda melihat ini." Andrew berjalan ke tanah yang lebih lapang dan meletakkan gulungan itu di tanah dalam keadaan terbuka.


Alice sedikit terbelalak ketika melihat ada susunan sihir di dalamnya. Susunan sihir yang terlihat tak asing.


"Apakah jumlah Mana yang digunakan itu berbeda-beda?"


"Tentu. Semakin kuat monster atau hewan yang di kontrak, maka semakin besar pula konsumsi Mananya."


Andrew merentangkan satu tangannya kesamping, memberi aba-aba pada mereka untuk tetap di tempat. Ia lalu menghadap ke gulungan yang ada di tanah. Ia mendekati gulungan sihir itu dan meletakkan kristal mana itu di tengah susunan sihir yang tergambar di gulungan itu.


Sebuah lingkaran bercahaya muncul mengelilingi gulungan itu. Saat cahayanya semakin terang, siluet seekor hewan yang tampak seperti macan mulai terlihat.


"Harimau? Singa? Tapi... bersayap?" Gumam Alice heran.


Mendengar gumaman Alice, Leon membenarkannya. "Tidak salah lagi Nona. Itu adalah griffin." Ujar singkatnya setelah yakin dengan siluet makhluk itu.


"Griffin ya." Monster perpaduan antara burung rajawali dan seekor singa. Alice sangat penasaran dan tertarik untuk segera melihat monster itu.


Ketika lingkaran dan cahaya itu telah lenyap. Sosok griffin yang berdiri di depan mereka memekik dengan keras dan tajam.


"Baiklah Nona. Kita sudah siap." Ucap Andrew.


Alice terkesima sejenak. Wah...! Dia takjub dan merasa ingin memiliki hewan peliharaan seperti itu juga. Terutama bulu pada lehernya yang halus dan tubuhnya juga yang lembut.


Melihat mata yang berbinar binar itu. Leon tersenyum paksa dan gelisah. Ia meras bisa menebak apa yang ada dalam benak Alice.


"Tolong jangan berusaha untuk memelihara mereka. Mereka itu bukan hewan peliharaan Nona." Ucapnya pelan.


Alice mendecihkan lidahnya dan mendengus sambil membuang mukanya. "Hmph!"


Leon tertawa kecil sambil menggaruk salah satu pipinya dengan telunjuknya.


Andrew yang telah duduk di atas griffin lalu memanggil Leon. Ketika ia berjalan mendekati Andrew, rasa dingin pada belakang lehernya membuat ia merinding. Tatapan kesal Alice dari balik punggungnya membuatnya tersenyum pahit saat melompat ke atas punggung griffin itu.


Alice melihat griffin yang dengan tubuh besarnya dan terlihat gagah. Dia kelihatan lembut tapi kuat." Pikir nya.


Alice melirik ke arah kuda yang ada di belakangnya sejenak dan kembali melihat griffin itu. Ia benar-benar sedang membandingkan mereka.


"Kenapa bukan aku? Sesekali aku juga ingin menaiki makhluk seperti itu." Gerutunya dalam benaknya.


Merasa terpaksa, Alice tak ada pilihan lain selain naik ke atas kuda. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Amy dan menariknya untuk duduk di belakang.


"Baiklah Nona. Mari berangkat."


Hanya sekali kibasan griffin itupun melesat ke langit. Alice terdiam sembari menatap sosok monster itu dengan kagum.


"Hmm... Alice? Kenapa tidak jalan?" Tanya Amy heran sambil mencolek pundak Alice.


"Ah.. Iya." Dengan teriak 'Hyah! sambil mencambuk tali kekang kuda itu. Alice menyusul Andrew.