
Daeron menyeringai selebar mungkin. "Bagus, kalau begitu aku ingin kau melepaskan mereka terlebih dahulu." Katanya sambil menunjuk para prajurit mutasi yang terjerat oleh bayangan hitam milik Fee.
"Hmm~" Fee kemudian menoleh melihat para prajurit mutasi itu. "Kenapa aku harus melakukannya?" Balasnya santai.
Daeron mengangkat satu alisnya dengan heran.
Bukankah dia menyukai tawarannya, itu artinya dia setuju untuk bergabung denganku bukan?. Menurutnya seperti itu. Walaupun dia mengira kalau Fee akan bergabung dengannya tapi sebenarnya itu hanya sekedar angan-angan saja.
Daeron kesal merasa dipermainkan oleh seekor serigala.
Fee terkekeh. "Aku hanya bilang menarik, aku tidak menjawab untuk setuju mengikuti mu bukan? Apakah ada yang salah dengan kepalamu? Hah?"
Senyum sinis yang Fee lemparkan pada Daeron membuat harga dirinya jatuh begitu dalam. Padahal hanya seekor serigala tapi tidak henti-hentinya dia dipermainkan seperti itu.
Daeron sangat geram, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat dan mengeratkan giginya. Dia hampir saja melompat ke arah Fee sebelum akhirnya Fee melanjutkan kalimatnya.
"Lagi pula aku tidak tertarik dengan penaklukan dunia, teror atau sebagainya. Satu-satunya yang menarik perhatian ku saat ini adalah dirimu." Fee mengelap bibirnya dengan lidahnya.
Matanya menatap tajam Daeron seolah-olah ia bisa melihat semuanya. Tatapan itu adalah tatapan seekor pemangsa yang lapar dan siap berburu untuk menerkam mangsanya.
"Jiwa yang penuh dengan energi kegelapan. Hawa negatif yang begitu melimpah. Aku tidak mengira akan ada kehadiran seperti dirimu disini. Yah...Aku tidak tahu alasan mu mengambil alih tubuh pria elf itu. Tapi jiwa itu, akan ku pastikan untuk menikmatinya." Fee tersenyum menunjukkan dua sisi taringnya yang besar dan tajam.
Sementara itu Daeron tersentak mendengar pernyataan Fee.
Serigala itu benar-benar bisa melihat semuanya. Dia bahkan bisa melihat jiwanya yang bersemayam dalam tubuh Daeron.
"Cih. Memangnya kenapa kalau dia tahu. Asalkan aku bisa menghabisinya, aku pasti bisa memulihkan kekuatan ku dengan menyerap Yggdrasil ini."
Daeron melirik ke salah satu prajurit mutasi yang tak jauh darinya, ia lalu menerjang cepat ke sana tapi sayangnya, Fee telah mengantisipasi pergerakannya itu. Para prajuritnya lenyap begitu saja ditelan oleh bayangan hitam milik Fee.
"Hm~ Lumayan untuk makanan pembuka." Fee tersenyum lebar, ekspresinya benar-benar maksimal untuk memprovokasi Daeron.
Untuk kesekian kalinya, Daeron semakin jengkel menghadapi lawannya. Setelah ia kehilangan para prajurit mutasi miliknya, rencananya untuk menyerap Yggdrasil pun gagal.
"Sialan!" Daeron mengumpat Fee dengan lantang dan penuh amarah. "Serigala ba**i**an. Akan ku akhiri hidupmu saat ini juga."
"Sungguh? Aku sangat menantikan itu." Fee tertawa untuk sejenak. Lalu kemudian dia melolong dengan sangat lantang.
Kepalanya menghadap ke langit dengan melepaskan lolongan yang begitu keras. Bahkan sangking kerasnya, Daeron terpaksa harus menutup telinganya. Tanah di sekitarnya bergetar dan angin terhempas keluar dari sekelilingnya.
Tanpa Daeron sadari, bayangan Fee telah melebar dan semakin lebar hingga menjangkau dirinya.
"Selamat datang di wilayah kekuasaan ku." Daeron seketika terjebak dalam sebuah kubah yang terbuat dari bayangan. Sangat gelap bahkan tidak ada satupun cahaya yang masuk ke dalamnya, seolah mereka berada di dunia yang berbeda.
"Baiklah, waktunya serius. Segera setelah aku selesai menyantap mu, aku akan menikmati tidurku di bawah pohon itu sambil menunggu Alice menyelesaikan urusannya."
Daeron terkejut dengan kekuatan serigala itu. Dia tidak menyangka kalau lawannya ternyata jauh lebih kuat dari dirinya saat ini. Ketika ia mundur dan menyentuh dinding kubah bayangan itu, Daeron tahu kalau dia sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Dia benar-benar terjebak tanpa ada celah untuk pergi.
Fee mengubah wujudnya menjadi Demi-human serigala. "Aku adalah Fenrir. Seekor serigala yang pernah meneror dunia para dewa." Fee memperkenalkan dirinya dengan serius.
Dari tatapannya sebagai manusia tersirat jelas bahwa dia sudah tidak bercanda lagi.
"Dengan keadaan mu saat ini, kau jauh dari kualifikasi untuk menjadi lawan ku." Ucap Fee.
Apa yang dikatakan Fee memang benar. Dengan keadaannya saat ini dia tidak akan bisa mengalahkannya, Namun mau bagaimana lagi, untuk seseorang sepertinya, dia tidak mungkin menyerah begitu saja tanpa perlawanan.
Setidaknya dia ingin melihat seberapa banyak trik yang dimiliki oleh Fee, pikirnya.
"Biar ku lihat sebentar..." Fee melepaskan Clairvoyance miliknya. Ia mencari tahu siapa sebenarnya sosok pemilik jiwa kedua yang ada di tubuh pria elf itu.
Tiba-tiba saja tubuh Daeron menggigil, apakah karena instingnya? Kedua matanya ikut melebar. Baru saja ia merasakan kalau serigala itu membuka semua tabir yang telah ia sembunyikan.
Fee mendengus lalu terkekeh. "E..re..bos... begitu rupanya." Gumam bibirnya perlahan.
Entah darimana atau bagaimana serigala itu tahu tentang namanya.
"Kuh!" Erebos langsung saja melepaskan sejumlah bola sihir ke hadapannya. Ia tidak bisa melihat tapi dengan kekuatannya, ia cukup peka untuk menemukan posisi Fee.
Tapi untuk kesekian kalinya, serangannya sia-sia. Apa yang sihirnya kenai bukanlah Fee melainkan hanya bayangannya saja.
"Seorang Dewa Jahat. Aku merasa terhormat. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa kembali merasakan jiwa seorang Dewa, yaah.. walaupun itu hanyalah serpihan kecilnya saja." Jelas Fee.
Daeron atau saat ini adalah Erebos. Ternyata adalah dalang dari semua konflik yang saat ini terjadi di kerajaan elf. Serpihan jiwanya telah ia tanamkan pada tubuh Daeron.
Fee menjadi lebih bersemangat. Ia melancarkan serangannya lagi. Untuk kedua kalinya, Erebos terhempas menahan pukulan Fee. "Cih, ras lemah. Tidak hanya sihir, tubuh ini bahkan terlalu lemah menahan serangan serigala itu." Kesal batinnya.
Lagi dan lagi Fee terus menyerang Erebos seperti ia tidak memberikannya kesempatan untuk bernafas. Walaupun sesekali Erebos memiliki kesempatan untuk menyerang dengan sihir, tapi semuanya sia-sia saja.
"Hentikan perlawanan sia-sia mu itu. Dalam wilayah kekuasaan ku ini, aku tidak terkalahkan."
Erebos hanya bisa menerima takdirnya menghadapi Fee.
[Domain of Shadow Wolf Sovereign]
Salah satu sihir terhebat milik Fee dimana siapapun yang ada di dalamnya akan terjebak dan tidak akan bisa melarikan diri sampai dia benar-benar mengalahkan si pemilik domain atau dengan kata lain, mengalahkan Fee.
Namun, selain untuk mengurung mangsanya. Dalam domain itu, Fee akan menyatu dengan sekelilingnya yakni dia akan menjadi sama seperti bayangan. Serangan fisik ataupun sihir tidak akan bisa menyentuhnya. Yah, kecuali kau memiliki sihir elemen es yang sangat kuat yang bisa membekukan seluruh tempat itu. Dan itulah salah satu alasan kenapa Fee juga memilih untuk angkat senjata saat melawan Alice.
"teknik es gadis itu berbeda dengan sihir es yang selama ini pernah ku lihat." Benak Fee ketika ia teringat akan Aura dingin dan tatapan tajam Alice saat ia melawannya dahulu.
Erebos semakin kelelahan dan tubuhnya sudah hampir terjatuh karena kehabisan Mana.
"Bagaimana?! Menyerah? Kalau begitu, biarkan aku menikmati jiwamu."
Fee mengarahkan telapak tangannya pada wajah Erebos lalu dia memutar lengannya dan mengangkat tangannya ke atas. Saat ia meremas genggamannya, tubuh Daeron mulai diselimuti oleh bayangan hitam.
Daeron menatap tajam Fee sebelum pandangannya terhalang oleh bayangan hitam itu. "Akan kuingat ini. Aku pasti akan menghabisi mu kelak." Ucapnya.
"Aku menantikan itu. Wahai Sang Dewa Jahat Erebos."