Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 34



"Demi Dia Yang Agung!!!"


Setelah meledakkan dirinya, para monster yang tadinya bergerak sesuai perintahnya mulai kehilangan formasi mereka dan menjadi berantakan.


Melihat pemimpin mereka yang mati, mereka ketakutan dan tenggelam dalam putus asa. Namun ada juga beberapa diantara mereka yang dengan ganasnya tetap menyerang manusia yang di hadapan mereka.


"Habisi mereka! Jangan biarkan satupun hidup!" Ucap Lantang Kevin.


Pasukan kecilnya kemudian berteriak dengan semangat. Beberapa diantaranya bahkan segera berlari keluar gua untuk mengejar monster yang lolos.


"Bagaimana menurut anda?" Tanya kevin pada gadis di sampingnya.


Gadis yang sejak tadi di belakang Kevin itu berjalan ke depan melihat penampakan batu kristal besar di hadapannya.


"Miasma yang dikeluarkannya sangat tebal. Tidak heran jika gua beserta hutan ini penuh dengan Mana yang tercemar."


Gadis itu menatap ngeri kristal hitam di depannya. Ia menelan ludah setelah sadar kalau kekuatan yang selama ini meneror beberapa desa adalah sebuah kristal hitam pekat dengan energi yang sangat jahat.


"Apakah Anda bisa melakukannya?"


Gadis itu diam, ia menunduk dan menatap tongkat di tangannya. Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab Kevin "Aku akan mencobanya. Ku mohon lindungi aku selama aku memurnikan kristal ini."


Kevin mengangguk dan memberikan perintah pada pasukannya untuk mengelilingi gadis itu.


Selagi para pasukan lainnya menghabisi sisa monster. Gadis itu menegakkan tongkatnya di hadapannya. Ia memejamkan matanya lalu menunduk seraya memanjatkan permohonan "Wahai Dewi Gaia yang Agung. Yang memberkati tanah ini. Berkahilah dan sucikanlah tanahmu yang telah ternoda ini, [Purification]"


Sebuah cahaya berkilau menyinari keseluruhan gua itu. Kevin dan pasukannya takjub. "Meski telah melihatnya berkali-kali..."


Perlahan cahaya putih terang itu menyelimuti setiap sisi kristal itu dan mengikis pekatnya miasma yang menyelimutinya.


Berselang beberapa saat, kristal besar itu menjadi cerah bersinar layaknya berlian putih yang indah. Kemilau cahaya yang menyelimuti gua itu juga menghilang setelah gadis itu mengangkat kepalanya dan menghela nafasnya.


"Aku sudah selesai." Kata gadis itu lalu ia berbalik dan berdiri di samping Kevin.


"Kristal ini begitu indah. Akan sangat bagus jika seandainya kita memiliki banyak orang untuk mengeluarkannya dari gua ini tapi...untuk yang satu ini kita sepertinya tidak bisa membawanya pulang."


Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan demi mencari kejanggalan yang terjadi di negaranya. Kevin akhirnya menemukan jalan terbuka setelah kehilangan petunjuk saat ia mengunjungi kota Vulture.


Menyusuri wilayah selatan setelah mendengar rumor kalau Alicia putri dari Duke Strongfort pernah diserang oleh hewan buas membuatnya menggerakkan pasukannya untuk menelusuri tempat itu lebih jauh lagi.


Sehari di awal pencariannya mereka tak menemukan hal yang mencurigakan dan pada akhirnya mereka bergerak meninggalkan garis batas Wilayah Duke Strongfort yaitu jauh ke dalam hutan yang di katakan sebagai area terlarang dan berbahaya.


Setelah melihat perkemahan kecil dari kawanan monster goblin, Kevin dan pasukannya segera menyerang mereka dan menang. Pertarungan itu tidak berlangsung lama karena goblin yang mereka lawan hanya kumpulan goblin biasa yang tak memiliki pemimpin.


Awalnya kevin tak curiga karena memang tempat yang mereka masuki adalah kedalaman hutan Great Forest yang terlarang dan menurut cerita kalau tempat itu memanglah banyak terdapat monster kuat dan ganas.


Kevin terus bergerak dengan hati-hati menyusuri hutan itu. Dikala perbekalan mereka mulai menipis dan sepertinya ia akan menemui jalan buntu lagi. Kevin akhirnya menemukan hal yang janggal itu.


Kevin mengarahkan pasukannya untuk memeriksa sekitar danau dan sekelilingnya tapi mereka sama sekali tak menemukan apa-apa. Ia bingung, Bagaimana bisa danau itu menghasilkan gas miasma yang cukup banyak.


Ketika Kevin memandang danau itu, ia sadar saat matanya melihat kalau tanaman yang tak menyentuh airnya tetap baik-baik saja.


Kevin menyipitkan matanya. Kerut Alisnya yang menyatu saat ia tenggelam dalam pikirannya membuatnya tampak lebih bijak ketimbang saat ia mengayunkan pedangnya.


Kevin memetik setangkai bunga yang ada di dekat kakinya. Ia lalu mendekati danau itu dan mencelupkan kuncup bunga yang di tangannya. Perlahan warna hitam pekat menyelimuti ujung bunga itu dan membuatnya layu seketika.


"Kita Pulang" Kata Kevin lalu ia memberikan isyarat pada salah seorang di sampingnya untuk memanggil yang lainnya berkumpul.


Tanpa ada kata dan pertanyaan apapun. Pasukan kecilnya mengikuti arahan itu begitu saja.


"Kita membutuhkan seseorang untuk memurnikan tempat itu." Ucapnya setelah mereka keluar dari Great Forest.


"Maksud Anda?" Tanya pria di sampingnya yang terlihat seperti tangan kanan Kevin.


"Masalahnya bukan pada airnya. tapi sesuatu di dalamnya. Setelah aku menyentuh sedikit air danau itu. Aku merasa kalau airnya bukanlah penyebab utama gas miasma itu muncul. Tapi sesuatu yang ada di dalam danau itu."


"Jadi maksud Anda. ada sesuatu yang berbahaya di dalam sana?"


Kevin mengangguk "Ya. Apakah kau tidak heran kalau tanaman di sekitar danau itu tidak mati begitu saja? Bukankah paling tidak tanah tempat mereka tumbuh akan menyerap air danau itu. Tapi Kenapa tanaman-tanaman itu masih tetap tumbuh?"


"Benar juga. Aku juga melihat kalau beberapa tumbuhan di sisi danau itu ada yang layu dan ada yang tidak."


"Air danau itu butuh waktu lama untuk mengkontaminasi tumbuhan di sekitarnya tapi saat kau masuk kedalam danau itu atau meminum airnya. Energi jahat dan gas miasma yang muncul dari hal yang di dalam danau itu akan mempengaruhimu secara langsung. Mungkin hewan buas yang menyerang Putri Duke Strongfort pernah meminum air danau itu.


Setelah kembali ke kemah yang ia dirikan sebelumnya. Gadis itu segera turun dari kuda yang ia tumpangi bersama Kevin, Gadis itu berjalan ke sebuah tenda untuk memeriksa beberapa prajurit yang terluka dari pembasmian monster sebelumnya.


"Selain luka mereka. Tenaga mereka juga sudah pulih setelah beristirahat." Gumam gadis itu.


Kevin berjalan menghampirinya "Terima kasih. Karena bantuanmu tak ada seorang pun yang gugur dalam pasukan ku."


"Ya. Yang Mulia tak perlu sungkan lagi pula itu sudah tugasku sebagai Saintess untuk mengatasi masalah seperti ini." Balas lembut gadis itu.


"Kau juga, istirahatlah. Setelah istirahat kita akan kembali ke ibukota." Ucap Kevin saat ia melihat wajah gadis itu yang tampak sedikit kelelahan.


"Mungkin aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku harus menemui seseorang." Gadis itu memalingkan pandangannya dan menatap sedih keluar tenda mengingat orang ia maksud.


"Alice...." Gumamnya pelan.


"Aku mengerti. Sekali lagi aku mewakili yang lainnya untuk mengucapkan terima kasih atas bantuanmu."


Gadis berambut merah muda dengan jubah putih itu tersenyum. "Aku Liliana Matilda merupakan sebuah berkah untuk menjalankan tugasku sebagi Saintess yang di pilih oleh Sang Dewi.