Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 112



Bagaimana bisa raja iblis yang ditakuti oleh para manusia duduk dengan santainya bersama mereka.


Wujudnya saat yang terlihat layaknya seorang gadis kecil pada umumnya benar-benar menipu semua mata. Gadis kecil itu baru saja mengungkapkan identitasnya yang bisa mengguncang dunia.


"Pemimpin para naga katamu? Bukannya mereka adalah ras yang paling berbahaya." Batin Iris menelan ludahnya. "Kakak...kau benar-benar luar biasa."


Tapi setelah mereka pikir-pikir dengan baik, tidak buruk juga memiliki seseorang yang sangat kuat di sisi mereka apalagi ketika situasi sedang genting seperti saat ini.


"Sudahi tentang dirimu. Lalu bagaimana dengan gadis bernama Elysia itu? Aku tidak sempat menanyakannya tadi, tapi ku dengar dia memanggil Alice dengan sebutan ibu juga. Apakah dia juga..."


Echidna mengangguk. "Iya, dia juga salah satu anaknya mama."


Ernard menutup matanya dengan salah satu tangannya lalu menghela nafas panjang. "Dia bahkan belum menikah dan sudah memiliki dua orang putri. Apakah kedepannya dia akan mendapatkan satu lagi sebelum pulang ke rumah ini?"


Ernard hanya bisa menggelengkan kepalanya mengetahui kebenaran itu. Dia menoleh pada Liana dan Liana hanya bisa tersenyum melihat raut wajahnya yang memucat karena berita-berita heboh itu.


"Ah.. ngomong-ngomong aku adalah kakak dan dia adalah adik."


Iris spontan bertanya. "Kenapa bisa seperti itu? Apakah karena kau adalah yang pertama diadopsi oleh kakakku dan dia yang kedua?"


"Itu ada benarnya juga, tapi meskipun terlihat seperti ini sebenarnya aku ini sudah berusia ribuan tahun lebih dan dia yang dari ras Elf baru saja hidup selama ratusan tahun lamanya. Lagipula aku ini pernah menjadi tangan kanan dari raja iblis pertama yakni Yang Mulia Typhoon." Jelas Echidna dengan ekspresi bangga.


Lagi dan lagi. Echidna terus saja membeberkan satu persatu ceritanya tentang dirinya dan Alice yang akan membuat ketiga orang itu takjub.


Kedatangan Echidna di keluarga Strongfort dan kerajaan Solus merupakan sebuah berkah dikarenakan kekuatannya yang luar biasa.


~


Sebulan sebelumnya saat Alice telah jatuh dan tak berdaya setelah di kalahkan oleh Echidna.


Ketika matanya menjadi gelap dan nafasnya tinggal satu hembusan terakhir, kala itu Alice berpikir kalau itu adalah saat-saat terakhirnya. Ia mengira saat matanya sudah tak lagi terbuka mungkin dia akan melihat rekan-rekan seperjuangannya dari kehidupannya yang dulu. Tapi sesuatu di luar perkiraan dan di luar nalar datang membuatnya terbelalak.


"Ini..Dimana?" Alice melirik ke semua arah dan melihat tempat itu yang ternyata adalah lautan kesadarannya sendiri. "Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada disini? Ku pikir... bukannya aku sudah mati?"


Alice terdiam sejenak untuk menerka tentang situasinya.


Beberapa saat kemudian suara seruling yang begitu merdu terdengar di telinganya. Suara seruling bambu yang tak asing itu membuatnya penasaran. Alice berjalan mendekati asal suara itu.


Ia melihat sosok pria berambut panjang dengan kulit seputih giok berdiri membelakanginya sambil memainkan seruling itu.


Saat dia melangkah semakin dekat dengan pria itu. Latar tempat itu berubah dengan tiba-tiba. Yang tadinya langit cerah dengan mentari yang terang dan sebuah istana megah di atas lautan yang tak berujung berganti menjadi sebuah istana di bawah sinar rembulan dengan gazebo dan koridor kayu yang mengelilingi danau.


Disalah satu gazebo itu Alice berdiri masih memandangi punggung pria itu. "Apa.. yang terjadi..?"


Saat matanya menyusuri pemandangan di sekitarnya, ia tiba-tiba menyadari satu hal.


"Danau ini... tempat ini... adalah bagian timur dari istana ku dulu."


Bagian timur dari istananya di kehidupan sebelumnya adalah tempat favorit yang biasa ia kunjungi saat dirinya bosan dengan tugasnya sebagai seorang kaisar atau sekedar ingin menyejukkan kepalanya.


Alice kemudian memfokuskan matanya pada sosok pria itu.


Bukankah harusnya kau tahu siapa dia?


Batinnya bimbang dan penuh keraguan tapi sosok pria di hadapannya itu benar-benar membuatnya teringat oleh seseorang dan hanya dia seorang yang saat ini melintas di kepalanya.


Setelah sekian lama, setelah sekian lama kenapa bayangan orang itu harus kembali lagi.


Kenapa hatimu tak bisa melupakannya?


Seolah membuka tirai lama dengan sayatan luka yang tak berujung dalamnya. Alice memanggil nama pria itu dengan tubuhnya yang menggigil gemetar.


Pria itu menghentikan permainan serulingnya, ia tersenyum tipis lalu berbalik.


"Guru." Panggilnya pelan.


Seketika jantung Alice berdegup kencang. Ia tidak menyangka akan pertemuan ini. Apakah ini hanyalah ilusi sebelum ia benar-benar mati? Tapi yang jelas, suara, wajah, seluruh penampilan pria itu membuat perasaannya bercampur aduk.


Tidak peduli itu atau ilusi atau bukan, Alice kehilangan ketenangannya.


"Guru, kau menyadari ku cukup lama." Batin Zhou Yun terkekeh.


Alice menghampirinya hingga tepat satu kaki ia berdiri di hadapan Zhou Yun. Ia mengeratkan giginya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada pria di hadapannya itu. Marah? haruskah dia memukulnya? Atau sebaiknya ia memeluknya karena rasa sedih dan rindunya? Kehadiran Zhou Yun membuat emosi Alice terombang-ambing.


"Kau... apakah ini sungguhan?"


Zhou Yun tersenyum sekali lagi sambil mengangkat kedua pundaknya. "Coba tebak."


Alice memberanikan dirinya. Ia takut kalau sosok pria itu adalah ilusi dan membuatnya bertambah sedih dia juga takut kalau seandainya sosok pria itu nyata dan membuatnya kebingungan bagaimana untuk menghadapinya.


Alice mengulurkan tangannya ke wajah Zhou Yun lalu merabanya dengan perlahan dan lembut.


"Asli...ini....Kau.., Benarkah itu dirimu?"


Zhou Yun meraih tangan Alice dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Guru, tentu saja ini aku." Ucapnya.


Kenapa? Kenapa dia ada disini, dalam lautan kesadarannya?


"Guru pasti bertanya-tanya kan? Guru, setelah semua yang telah terjadi, akhirnya aku bisa menemukanmu." Zhou Yun menatap lembut Alice. "Meskipun terlambat, tapi...aku senang pada akhirnya aku bisa melihatmu, untuk yang terakhir kalinya." Ucapnya dengan nada lirih di bagian ujung kalimatnya.


Alice kehilangan kata-kata. Ia berbalik dan duduk di kursi belakangnya. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Kau... benar-benar Xiao Yun?"


Zhou Yun mengangguk.


"Kenapa kau ada disini? Apa yang terjadi? Bukankah aku sudah mati?" Tanya Alice bingung.


"Guru tidak salah. Tapi sebelum kau mati dan jiwamu lenyap meninggalkan tubuhmu, aku menggunakan sisa kekuatan ku yang ada dalam dirimu untuk menahan jiwa mu dalam lautan kesadaran ini."


"Sisa kekuatanmu yang ada dalam diriku?"


"Ya. Apakah guru ingat dengan reruntuhan tua yang ada di benua Regnum di wilayah selatan. Reruntuhan tua dengan sebuah altar di tengahnya."


"Reruntuhan dan sebuah altar..?" Alice tenggelam dalam benaknya. Untuk beberapa saat kemudian ia mulai ingat dengan apa yang Zhou Yun maksud.


Sebuah lembah hijau yang padat akan energi dimana dia melakukan penerobosan. Itu adalah tempat yang pernah ia kunjungi bersama Andrew dan Amy yang dimana saat itu mereka di kepung oleh ratusan monster yang muncul dari sekitar lembah.


"Dari kedipan mata guru, aku yakin kalau guru pasti sudah mengingatnya."


Zhou Yun pun berjalan mendekat dan duduk di samping Alice.


Alice tidak menyangka dengan kehadiran muridnya itu. Seorang pria yang pernah ia cintai namun kandas karena status mereka sebagai seorang guru dan murid. Juga seorang pria yang pertama kali mengkhianatinya dengan keji dan berpaling pada sahabatnya sendiri.


Alice mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga gemetar. Ia sangat ingin memukul wajahnya.


Melihat ekspresi gelap di wajah Alice dan amarah membara yang ia rasakan darinya. Zhou Yun menunduk. Dia tahu kalau sebenarnya dia sudah tidak punya muka untuk menghadapi gurunya itu.


"Guru, sebelum aku memberitahu mu semuanya. Aku ingin minta maaf. Maafkan aku."