
Keesokan harinya setelah mendapatkan kereta kuda dari desa terdekat. Lilia beserta Kevin dan pasukannya segera berangkat menuju kediaman Matilda.
"Yang Mulia...Ada apa? Sepertinya Anda sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Lilia ketika melihat pandangan kosong milik Kevin yang menatap ke luar jendela.
"Ah...Aku hanya memikirkan tentang batu-batu kristal itu." Kevin menghela nafas beratnya "Para ras iblis mulai bergerak setelah sekian lama."
"Benar. Sepertinya waktu ramalan itu terwujud tidak akan lama lagi."
"Ramalan?" Kevin memperbaiki posisi duduknya dan melihat Lilia dengan ekspresi penuh tanya.
"Hmm..Maaf, mungkin Yang Mulia Raja belum mengatakan ini pada Anda tapi... karena melihat situasi yang telah terjadi, ada baiknya kalau Anda mengetahui hal ini lebih awal."
Dengan wajah serius keduanya saling menatap. Kevin mulai mendengarkan secara rinci apa yang Lilia katakan.
Menurut riwayat dari Sang Utusan terdahulu, ia menerima wahyu dari Sang Dewi Pencipta yang memberitahukan padanya tentang masa depan.
Kevin tak mengira kalau keluarga kerajaan memegang peranan cukup penting dalam hal ini.
"Ketika matahari dan bulan sejajar maka terjadilah kegelapan dan pada saat itu seorang bayi akan lahir di suatu tempat. Menurut Pendeta Agung dan Saintess sebelumnya, mereka menduga kalau bayi itu akan lahir di wilayah selatan, dimana hal itu juga dituliskan dalam lembaran selanjutnya. Demi mengamankan wahyu yang diwariskan oleh sang Utusan. Kuil memutuskan untuk menutup rapat tentangnya dan hanya memperkenankan untuk Raja serta pewarisnya yang dapat mengetahui hal tersebut. Ya. Dengan kata lain, itu adalah Anda Sang Putra Mahkota."
"Begitu rupanya. Lalu, apa yang tertulis dalam lembaran selanjutnya."
"Tangisan bayi itu mengundang perdebatan bagi mereka yang tentram dan menenangkan bagi mereka yang sedang menderita. Kami tidak tahu pasti apa maksudnya tapi..." Lilia diam sejenak, ia menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Belum lama ini Pendeta Agung mendapatkan pencerahan setelah mempelajari setiap kata dalam lembaran wahyu tersebut. Ia menjelaskan kalau kelak ketika bayi tersebut tumbuh dewasa maka ia bisa menjadi penyelamat bagi siapa saja dan kehancuran bagi siapa saja." Tanpa Kevin mengetahuinya, Lilia mengepalkan tangannya dengan erat di balik jubah putihnya seolah ada rasa pilu yang memupuk di dadanya.
"Lalu? Apa ada lagi di lembaran selanjutnya?"
"Maaf Yang Mulia tapi...Kami belum bisa menerjemahkan kalimat-kalimat pada lembaran selanjutnya.
"Begitu ya... lagi-lagi terputus..." Kevin menyandarkan dahinya pada kedua kepalan tangannya dengan ekspresi berat di wajahnya. Padahal setelah akhirnya seberkas cahaya mulai terlihat, ujung-ujungnya pencariannya menemui jalan buntu lagi.
Keheningan memenuhi ruangan dalam kereta kuda itu. Lilia sendiri menjadi gelisah ketika memikirkan tiap kalimat yang tertulis dalam lembaran itu.
Dadanya yang dari tadi terasa berat dan nafasnya yang sesak setiap kali ia harus mengingat tentang warisan dari Sang Utusan itu membuat ia sangat tertekan. Rasa rindu pada sahabatnya menjadi semakin menggebu-gebu untuk segera bertemu.
"Sebentar lagi kita akan sampai di kediaman Matilda. Nona Saintess..."
Seorang prajurit datang dan mengetuk pintu kereta kuda mereka dan membuat Kevin memerintahkan si kusir untuk berhenti.
Kevin membuka pintu kereta kuda, ia melihat salah seorang prajuritnya.
"Ada apa?"
"Istana?" Kevin berpikir sejenak saat melihat surat yang dipegang oleh prajurit itu. "Apakah terjadi sesuatu? Aku ingat meminta Ralph untuk mengirimiku pesan jika terjadi sesuatu yang benar-benar genting." Benaknya Lalu ia mengambil surat itu. "Terima Kasih."
Setelah menundukkan kepalanya untuk memberi hormat, prajurit itupun undur diri dan kembali ke posisinya. Kevin kembali memerintahkan si kusir untuk melanjutkan perjalanan.
Matanya memandangi amplop putih yang ada di tangannya. Ia membuka surat itu dan perlahan membacanya. Entah karena alasan apa ekspresinya yang tadinya tenang tiba-tiba menjadi serius dengan mata yang tajam dan sedikit lebar. Meski ia tak meremas surat itu namun urat nadi pada tangannya terlihat jelas menandakan ia sedang marah.
Kevin melipat surat. "Maaf Nona Saintess, Saya ingin menanyakan sesuatu?" Suaranya yang dingin tanpa memalingkan pandangannya dari surat itu membuat Lilia mengira kalau sesuatu yang gawat telah terjadi di Istana.
"Silakan Yang Mulia."
"Saya mendengar kalau Nona Saintess sangat dekat dengan Nona Alicia Lein Strongfort"
"Alice? Kenapa Pangeran tiba-tiba menanyakan tentang Alice?" Benak Lilia. "Tentu. Kami sangat dekat. Kalau boleh tahu kenapa Yang Mulia menanyakan tentangnya?"
Kevin menarik nafasnya, Ia menyipitkan matanya sejenak sebelum ia memejamkannya dan menghela nafas panjangnya. Kevin yang tak tahu harus menjelaskan apa pada Lilia merasa lebih baik untuk membiarkannya melihat isi surat itu. Ia pun menyodorkan surat di tangannya itu ke hadapan Lilia.
Lilia sendiri dengan ekspresi heran menerima surat itu. Dengan ragu ia mengambilnya "Apa hubungannya surat ini dan Alice?" Benaknya yang awalnya santai kemudian menjadi kacau setelah ia membaca surat itu kata demi kata.
Matanya bergetar tidak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengulang kata yang sama dalam kepalanya. Tidak mungkin..tidak mungkin...tidak mungkin. Kecap bibir yang membuka dan tertutup tanpa melontarkan sepatah kata dapat dimengerti kalau ia sangat syok dengan apa yang tertulis dalam surat itu
"Tidak mungkin! Ba-Bagaimana bisa Alice melakukan itu?!" Lilia lalu mengangkat wajahnya dan melihat Kevin. Ia kehilangan ketenangannya dan nada suaranya pun menjadi lebih tinggi.
"Yang Mulia, Saya tahu betul seperti apa dirinya. Dia tidak mungkin melakukan itu. Saya akui dia adalah gadis yang Naif dan memiliki banyak sifat buruk tapi sebagai sahabatnya saya yakin kalau dia tidak mungkin melakukan hal itu." Sosok Saintess yang selalu tersenyum dan berbicara lembut yang sedari di hadapannya berubah hanya karena sebuah surat. Lebih tepatnya karena seorang Alicia.
"Surat ini berdasarkan dari salah satu rekanku yang ku percaya. Saya yakin dia tidak mungkin salah memberikan informasi. Mengenai tindakan Nona Alicia, kita hanya bisa mengetahui kebenarannya saat kita sampai di Istana." Balas Kevin tenang.
Apa yang terjadi? Perasaannya bercampur aduk sekarang. Ia sedih, marah, cemas dan bingung disaat yang bersamaan. Alice, telah ia anggap seperti adik sendiri. Ia tahu betul watak dan pribadinya. Upaya membunuh keluarga kerajaan? Penyerangan terhadap Sang Ratu? Darimana ia harus mendapatkan keberanian untuk melakukan itu?
Lilia mengelap kedua sela matanya yang hampir meneteskan air mata. Dengan tegar ia menghadap Kevin. "Yang Mulia. Kalau begitu saya harap saya bisa berkunjung ke istana dan melihat Nona Alicia."
Tanpa pikir panjang Kevin mengangguk menyetujui permintaannya.
"Alice...Apa yang terjadi padamu? Apakah kau benar-benar melakukannya? Apakah seseorang mengancammu? Tunggu aku Alice." Cemas batin Lilia.
Perjalanan mereka akhirnya berubah haluan menuju Eiden Ibukota Kerajaan Solus.
Seketika isi ramalan itu kembali terlintas di benaknya. Dalam batinnya ia meminta maaf pada Kevin karena menyembunyikan sebuah kebenaran dan ya, besar dugaannya isi ramalan itu ada kaitannya dengan keluarga Duke Strongfort terutama Alice.
"Aku tidak bisa mengatakan pada Pangeran kalau bayi itu memiliki rambut pirang keemasan. Apalagi ditambah insiden ini. Bahkan dengan status ku sebagai Saintess pun akan sulit untuk menyelamatkan Alice."
Lilia menatap pemandangan yang mereka lewati dari balik jendela. Ia tak sabar untuk segera menemui Alice. Ia ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Meski Alice tak di masukkan dalam penjara bawah tanah tapi mengurungnya seorang diri di Menara Penghakiman sama saja dengan membuatnya menunggu kematian. Bukankah seseorang telah mati setelah di kurung disana begitu lama.