Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 93



Cecilion menyeringai dengan lebar, pundaknya gemetar menahan suara tawanya. Ia melirik Alice, melihat pedang yang menusuknya kemudian ia kembali melihat Alice dan berkata "Apakah hanya ini kemampuanmu?" Dengan pandangan merendahkan dan nada yang terdengar mengejek.


Alice tahu apa yang Cecilion maksud dan apa yang terjadi. Setelah memasuki alam Divine Refining, kemampuan jiwanya sudah meningkat dan sudah pasti dia tahu kalau energi kehidupan Cecilion masih begitu kuat bahkan setelah tertusuk pedang Qi miliknya. Alice hanya tidak menunjukkan ekspresi apapun juga untuk membuat Cecilion lengah.


Cecilion mengangkat salah satu tangannya lalu mengarahkannya ke wajah Alice. Ia kemudian melepaskan sihir darah yang khusus milik sukunya.


Alice bergerak dengan cepat, ia memutar dan berdiri di belakang Cecilion kemudian meletakkan bilah pedang di tangannya tepat pada leher Cecilion.


"Kau gesit juga rupanya." Kata Cecilion memuji Alice meskipun nada suaranya tidaklah terdengar seperti sedang memuji.


Wajah Cecilion tidak menunjukkan adanya ketakutan seolah ia benar-benar tidak akan mati meski Alice mengiris urat lehernya. Rasa penuh percaya diri itulah yang ingin Alice hancurkan.


[ Blood Feast ] Dengan Begitu singkat Cecilion menggunakan sihir. Gumpalan cairan darah menyelimuti dirinya. Alice bergerak cepat untuk menjauh darinya.


Sihir darah Cecilion yang melindungi tubuhnya kemudian berkumpul di atas kepalanya menjadi sebuah bola besar yang kemudian menembakkan bola-bola kecil pada Alice.


Alice melihat bola yang datang kepadanya dengan santai. Ketika jaraknya tinggal sepersekian detik dari wajahnya, bilah pedang yang terbuat dari energi Qi memadat begitu cepatnya dan kembali melindunginya.


Bola-bola kecil yang berterbangan kearahnya begitu berbahaya. Alice melihat tanah yang berasap dimana cairan merah itu terciprat. Tampaknya bola-bola kecil itu bersifat korosif yang mungkin mampu melelehkan sebuah baja. Tapi apa yang Alice gunakan adalah pedang yang berlapis Qi sehingga zat asam itu tidak bekerja pada senjatanya.


Setiap kali serangan Cecilion datang menerpanya, setiap kali itu juga Alice menghindar dengan mudahnya. Sihir yang seharusnya terlihat begitu cepat di mata manusia awam tampak lambat bagi Alice, bahkan jika mau Alice bisa mengelak hanya dengan menggeser langkah kakinya saja.


Cecilion terus-menerus menciptakan sihir darah dan menyerang Alice dengan membabi buta seolah energi Mana dalam tubuhnya tak memiliki batas.


"Seperti yang diharapkan dari suku vampir." Batin Alice ketika ia mengingat apa yang Rose katakan padanya. Sebelumnya saat ia akan berangkat, Rose sempat memberitahukan padanya tentang suku vampir baik kekurangan maupun kelebihan mereka. Tidak hanya hebat dalam regenerasi, sihir dan fisik mereka hampir di atas rata-rata deemon kelas menengah apalagi jika itu adalah vampir dengan gelar bangsawan. Kekuatan mereka normalnya setara dengan penyihir level 7.


Cecilion lalu menciptakan ombak besar berwarna merah yang begitu tinggi yang bahkan bisa menelan sebuah kereta kuda. Alice mendongak melihat seberapa tinggi ombak itu. Ia mendengus dengan senyuman kecil di wajahnya. Alice kembali menyatukan kedua jari telunjuk dan tengahnya kemudian diletakkan di depan dadanya. Sebuah pedang besar terbentuk dari Qi di hadapannya dan membelah ombak itu.


Cecilion makin jengkel karena semua sihirnya di gagalkan oleh deemon wanita di hadapannya. Ia bertanya-tanya dalam benaknya akan indentitas deemon yang dia lawan.


"Aku bahkan tidak merasakan kalau dia memiliki Mana dalam tubuhnya, namun energi yang ia pancarkan terasa aneh dan sedikit familiar bagiku. Siapa sebenarnya wanita ini? Aku belum pernah mendengar ada ahli sepertinya di benua ini?"


Cecilion menyatukan kedua tangannya membuat lingkaran sihir secara spontan mengelilingi Alice. Dua buah tangan raksasa berdiri tegak lalu menghimpit Alice.


"Apakah kali ini berhasil? Cih, wanita ini benar-benar sulit dilawan." Gumamnya.


Sayangnya untuk kesekian kalinya, Alice berhasil mematahkan serangannya. Kedua tangan raksasa yang menghimpit Alice terbelah menjadi beberapa bagian. Saat tangan itu hancur, Cecilion tidak melihat sosok Alice yang ternyata telah berdiri disampingnya.


"Sudah waktunya menerima kematian mu." Ucap Alice dengan pelan.


"A-apa yang terjadi? Sakit! Ini..Sakit!" Batinnya heran sambil memegangi sisi dadanya yang telah ditembus pedang. Cecilion dibuat kehilangan kata karena serangan Alice tiba-tiba terasa tajam.


Alice berbalik dengan pelan, rambut kuning emasnya yang tergerai bebas membuat dirinya tampak anggun.


"Kau mungkin tak menyadarinya, tapi setiap tebasan dari pedangku akan mengikis jalur Mana dalam tubuhmu."


Mendengar jawaban itu, Cecilion terbelalak. Ia baru menyadari kalau selama ini, ia hanya dipermainkan oleh wanita itu. Sejak kapan? Ya. Cecilion bahkan tidak merasakan kalau wanita itu pernah menebasnya.


"K-kau! Sejak kapan kau melakukannya?" Teriak kesal Cecilion sambil menopang tubuhnya yang masih terbaring di tanah dengan pedang yang tertancap menembus dadanya.


"Untuk orang yang akan mati, tidak ada gunanya kau mengetahui hal itu." Balas Alice begitu dingin. Sebenarnya dalam susunan formasi Tomb Of Thousand Swords. Alice bisa membuat pedang dengan ukuran dan bentuk apapun yang ia mau. Ketika Alice menghalau atau menghindari serangan Cecilion, pedang bayangan yang ia buat ikut bergerak menebas tubuh Cecilion dengan sangat halus tanpa disadari olehnya. Seperti melemparkan jarum kecil untuk mengunci titik saraf lawannya, Alice hanya melakukan hal yang sama namun dengan gaya yang berbeda.


[ Immortal Technique. Four Wind Sealing Sword ]


Hanya dengan mengayunkan tangannya ke samping dan ke depan. Empat bilah pedang tercipta di hadapannya dan terbang ke arah Cecilion. Cecilion yang tidak bisa bergerak hanya bisa menerima kenyataan saat keempat pedang terbang itu menusuknya. Kesombongan di wajahnya karena merasa kalau pedang-pedang itu tidak akan begitu berpengaruh padanya yang memiliki tubuh dengan kemampuan regenerasi hebat pun lenyap saat dua buah pedang pertama tertancap di pergelangan tangannya.


Kedua pedang itu menyeretnya hingga menghantam batu. Lalu dua pedang selanjutnya datang dan tertancap di pergelangan kakinya.


"Sudah waktunya mengakhiri ini. Kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan. Tidak hanya putriku tapi juga adikku. Dengan kelima pedang ini, aku akan membuatmu merasakan rasa sakit yang tidak pernah kuberikan pada orang lain selama ini." Ujar Alice sambil melayang perlahan mendekati Cecilion.


Darah mengalir dari sudut mulut Cecilion. Kelima pedang yang tertancap di tubuhnya memberikan perasaan yang aneh. Dia merasa seperti energinya perlahan menipis layaknya air yang menguap. Cecilion memberontak mencoba untuk melepaskan diri. Ia tak peduli jika harus kehilangan tangannya. Namun, usahanya itu sia-sia.


"Pedang pertama aktif!"


Saat Alice mengatakan kalimat itu. Tangan kiri Cecilion mulai lemas dan menjadi tak berdaya seperti ia tak lagi merasakan tangannya itu. Dan untuk kedua, ketiga hingga pedang yang keempat aktif. Cecilion mulai tahu apa itu yang namanya putus asa. Sudut matanya mulai basah dan air mata mengalir membasahi pipinya. Dia tidak bisa merasakan tangan dan kakinya lagi, dia juga tidak merasakan adanya energi Mana pada tubuhnya. Saat ini, dia bahkan lebih rendah dari ras hyuman yang selalu ia hina.


Alice pun turun, ia berjalan dengan santai mendekati Cecilion yang tertunduk penuh sesal dan kesedihan.


Alice meletakkan tangannya pada gagang pedang yang tertancap di dada Cecilion lalu menariknya.


"Aku tidak membunuh mu mengingat akan seseorang yang begitu peduli padamu. Itu juga adalah janji ku padanya dan karena aku melihatmu sebagai kakak dari temanku."


Seperti yang ia rencanakan. Dia benar-benar akan menghancurkan kebanggaan milik Cecilion itu.


Alice menjentikkan jarinya dan membuat ilusi itu berakhir. Mereka yang hadir dalam ruangan itu diam dalam ketakutan. Baru saja mereka melihat Cecilion dikalahkan dengan begitu mudahnya.


Alice berjalan mendekati Iris. Ia mengusap pipi Iris dengan lembut. Alice mengangkat jari telunjuknya dan meletakkannya pada dahi Iris. Ia mengalirkan energi Qi miliknya dan melepaskan belenggu sihir milik Cecilion.