
Setelah pertemuannya dengan Wanita itu, Alice dan Echidna kini berada di rumah mereka. Alice menerima undangan wanita yang bernama Davella itu untuk mengunjungi rumahnya. Selain Davella, Alice juga menjumpai beberapa ras iblis lainnya dalam perjalanan menuju rumahnya, beberapa dari mereka bahkan tak segan untuk tersenyum padanya.
Ketika Davella membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Alice menjumpai seorang pria dari ras iblis datang dan menyambutnya. Pria itu terlihat kekar dengan tubuh ideal. Dua buah tanduk kecil tampak jelas menonjol di bagian atas pelipisnya.
Gambaran Alice tentang ras iblis yang kejam hancur seketika saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di desa itu dan berkenalan dengan Davella dan Salvor yang kemudian menjamu dirinya yang seorang manusia.
"Buku dan cerita dari orang-orang ternyata tidaklah sepenuhnya benar." Pikirnya.
Meski begitu, sayang sekali baginya karena makanan atau minuman yang mereka sajikan tidaklah cocok untuknya. Berbeda dengan putrinya, Echidna hampir meneteskan air liur saat mencium aroma makanan yang datang ke hadapannya. Alice mungkin sudah menduga-duga tentang identitas Echidna bahwa dirinya memiliki kaitan erat dengan ras iblis. Namun Alice tidak setergesa-gesa itu untuk memaksa Echidna mengatakan semuanya. Menurut pengamatannya setelah menghabiskan waktu singkat bersama dengannya. Alice curiga kalau oli Echidna kehilangan beberapa ingatannya.
"Silakan, tidak perlu malu. Aku yakin kau akan menyukainya setelah satu kali gigit." Kata Salvor menyodorkan hidangan dengan ramah. Meski terlihat begitu jantan tapi ia cukup yakin dengan kemampuan memasaknya.
Alice tersenyum canggung mengalihkan pandangannya. "Maunya juga seperti itu. Tapi aku tidak yakin dengan makanan kalian apakah cocok untuk perut ku atau tidak." Benaknya saat melihat menu yang ada di depannya. Bentuk dan warnanya memang menggugah tapi di beberapa bagian, ada makanan yang terlihat mencurigakan bahkan ada yang sedikit bergerak-gerak. Uh...Itu apa ya? Alice memaksakan dirinya tersenyum dan meneguk segelas air saja secara perlahan.
Dari samping Alice melihat wajah putrinya yang makin tidak sabar untuk segera menyantap makanan yang ada di depannya.
Alice mengangguk ketika Echidna menoleh dan menatap matanya. "Jangan lupa untuk berterima kasih pada paman dan bibi ya."
Echidna tersenyum lebar hingga giginya terlihat. Ia menatap Davella dan Salvor bergantian sambil mengucapkan terimakasih.
Mata Alice tidak percaya saat melihat Echidna mengunyah makanan itu. Seolah semua hidangan itu begitu lezat, kenikmatannya terpancar dari raut wajahnya.
"Wah, wah~ anak yang pintar." Puji Davella
"Terlebih lagi dia terlihat manis seperti ibunya." Tambah Salvor namun ia segera mendapatkan cubitan kasih sayang dari istrinya akibat ucapan itu.
"Aduduh..." Salvor merintih kesakitan mengelus sisi perutnya yang berdenyut nyeri. "Aku cuma bercanda kok sayang. Itukan sekedar pujian saja." Jelasnya, Namun tatapan kesal Davella tidak bergeming membuat Salvor menutup mulutnya dan memilih diam.
Pundak Alice bergetar karena menahan tawa. Mereka benar-benar berbeda dari ras iblis yang pernah ia temui bahkan cerita dan dongeng yang ia baca berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat saat ini.
Kedua pasangan suami istri itu membuat hatinya ikut merasakan kehangatan. Semenjak jiwanya menyatu dengan dirinya dari dunia yang berbeda. Lambat laun sifatnya yang selalu waspada ikut luluh. Dirinya yang dulu tidak pernah selengah ini jika berhadapan dengan orang lain. Bahkan sebelum tidur pun, ia kerap kali memastikan lingkungan sekitarnya aman dengan menggunakan kesadarannya, guna untuk jaga-jaga apabila ada seorang pembunuh yang sedang mengincarnya.
Alice menghela nafasnya seakan membuang beban berat yang pernah mengganjal di hatinya. Saat ini dia bukanlah seorang Ratu yang selalu berada dalam ancaman, tapi dia adalah seorang gadis muda dari keluarga Strongfort.
Davella melihat Alice yang menghela nafasnya. Ia merasa sedikit tidak enak di depan tamunya, mengira kalau Alice bosan atau terganggu melihat tingkah mereka. "Ada apa? Maaf kalau kami sedikit berisik disini."
Alice menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Bukan seperti itu. Hanya saja.., suasana rumah ini mengingatkan ku dengan rumah ku." Balasnya dengan tersenyum tipis. Rumah ya? Benar. Alice ingin cepat-cepat kembali berkumpul dengan keluarganya. Satu hal yang tak pernah bisa ia bayangkan dan selalu harapkan, akhirnya bisa terwujud. Rumah dan keluarga lengkap, penuh kehangatan dimana ia bisa pulang setelah perjalanan panjang nan melelahkan.
"Jadi. Bagaimana bisa dirimu, seorang wanita dari ras hyuman berada di benua ini?"
"Benua? ras hyuman?" Bukan karena ia tidak mendengarnya. Meski ia tahu ras iblis itu ada dan terasingkan di sebuah pulau. Tapi ia tidak menyangka akan mendengar Davella menyebut kata benua. Ia juga baru kali ini mendengar sebutan hyuman itu.
"Ya. Tanah ini merupakan sebuah benua bernama Arkham. Tempat yang tersegel. Sedangkan Benua kalian bernama Regnum bukan? kami memanggil kalian para manusia dengan sebutan hyuman."
"Begitu ya, ternyata seperti itu panggilan kami bagi kalian. Lalu, apa maksudmu dengan segel tadi?"
"Oh, kau tidak tahu ya? Ku pikir kau tahu karena berhasil melewati penghalang itu."
Alice menggelengkan kepalanya. "Aku di teleportasi ke tempat ini. Awalnya aku berada di sebuah gua yang tak jauh dari sini. Setelah begitu lama berada di dalam sana. Aku dan putri ku akhirnya berhasil keluar."
"Gua?" Davella terdiam dan berpikir sejenak. "Oh..maksudmu dungeon itu ya."
"Dungeon? Tempat apa itu?" Satu lagi hal baru yang Alice tidak ketahui.
Jujur Alice tidak pernah membaca tentang benua tempat para manusia tinggal bernama asli Regnum dan benua tempat para iblis tinggal di sebut Arkham. Mungkinkah ada sejarah yang sengaja di hapuskan? Selama ini ia telah membaca banyak buku tentang Aria, kerajaan Solis dan dua kerajaan lainnya juga. Apalagi tentang dungeon, ia sama sekali tidak menemukan artikel apapun tentang hal itu.
"Dungeon itu... seperti sebuah penjara, tepatnya itu adalah tempat berbagai jenis monster hidup. Meski ku bilang hidup tapi sebenarnya tidak. Para monster itu merupakan materialisasi dari energi Mana yang berasal dari inti dungeon dan akan kembali padanya lagi setelah para monster mati dan menjadi mayat. Karena Mana yang banyak dan padat itu tidak sepenuhnya terserap kembali, maka mereka biasanya meninggalkan sebuah batu kristal berwarna sesuai dengan tingkatan kemampuan mereka."
"Hmm...pantas saja saat kami membunuh mereka, monster-monster itu hilang begitu saja. Tapi anehnya mereka bahkan tak menjatuhkan apapun."
"Eh? Kenapa bisa begitu? Memangnya kau datang dari dungeon mana?"
"Arah timur dari sini. Ada sebuah gua. Kami datang dari sana."
"Dungeon itu ya? Tempat itu dikenal sebagai dungeon mati. Perlu kamu tahu kalau kata mati tadi bukanlah bermaksud pada monster yang tidak menjatuhkan apapun tapi karena banyaknya orang yang lenyap setelah mereka memasuki dungeon itu. Katanya tingkat kesulitan dungeon itu terlalu tinggi." Jelas Salvor yang tiba-tiba berbicara karena merasa tertarik.
"Baiklah, lupakan tentang Dungeon. Kurang lebih aku sudah paham garis besarnya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang ras iblis. Kalian tidaklah sama dengan para iblis yang datang ke benua kami dan membuat keributan. Bisakah kau jelaskan semuanya tentang ras kalian?"
"Mungkin ini akan memakan waktu yang panjang."
"Aku tidak masalah dengan itu. Selain itu aku juga harus mencari cara untuk kembali ke Benua manusia."