Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 181



Semua elf yang disekap akhirnya telah berhasil di selamatkan. Dengan bantuan Fee yang belum lama datang membawa keempat elf lainnya. Elysia pun berangkat kembali ke benteng tempat dimana para elf melakukan transaksi dagang.


Disana Fee perlahan-lahan mulai menjelaskan tentang apa yang ia lihat di ruang bawah tanah saat itu. Ketika mendengar cerita Fee, Elysia hanya bisa tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya gemetar karena amarah setelah mengetahui saudara-saudaranya diperlakukan seperti objek penelitian yang bahkan lebih buruk dari seorang budak.


Para elf lainnya saling memeluk, mata mereka basah. Mereka tak sanggup membayangkan seberapa pedihnya penyiksaan yang dialami oleh keempat saudara mereka.


Elysia mencoba menenangkan mereka. Kini mereka telah selamat. Ya. Mereka akan segera pulang. Mereka hanya perlu menunggu Alice kembali.


Sembari menunggu keempat elf itu sadar, Elysia dan yang lainnya mengisi perut mereka terlebih dahulu.


Para elf itu benar-benar lahap mengunyah makanan mereka.


Elysia tersenyum bahagia. "Sebentar lagi ibu ku akan tiba. Kalian makanlah dulu. Aku akan menyambutnya di depan." Elysia berdiri lalu berjalan ke pintu.


Para elf itu sepintas melihat kalau raut wajah Elysia tiba-tiba menjadi suram. Setelah tahu kalau Elysia dan ibunya lah yang menyelamatkan mereka dari tangan manusia keji itu. Mereka merasa iba karena ibu Elysia belum kembali dari gedung itu. Mereka berharap kalau ibu gadis itu berhasil selamat dan baik-baik saja.


Sungguh, mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya, jika seandainya dia ditangkap oleh ras hyuman.


Elysia berdiri di atas menara kayu sembari menatap kejauhan ke arah kota Amira. Ia yakin kalau ibunya pasti akan baik-baik saja. Walau begitu, dirinya tak bisa menepis rasa khawatir yang terus membisik dalam batinnya.


Elysia menyandarkan tangannya pada pembatas menara, ia menggantung kepalanya dan tenggelam dalam benaknya.


"Apa yang membuat mu melamun disini? Udara di tempat ini cukup dingin saat malam hari, ayo kita masuk." Kata Alice yang tiba-tiba muncul disisinya.


Elysia berbalik. Dadanya menjadi ringan ketika ia melihat wajah ibunya. Ia lega saat tahu kalau ibunya baik-baik saja.


Elysia terkekeh. "Aku menunggu ibu." Ia mengambil lengan Alice dan menariknya masuk ke dalam.


Bersama gadis itu, mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan dimana para elf berkumpul.


Belum kama setelah mereka selesai makan, pintu pun terbuka. Para elf menoleh ke arah pintu dan ketika kelima elf itu melihat sosok Alice, mereka mendadak berdiri dan melompat dari kursi mereka. Kelimanya mengambil ancang-ancang dan posisi siaga.


"Hyuman!" Tegas salah seorang di antara mereka.


Para elf memelototinya dengan tajam penuh amarah. Saat melihat manusia berdiri di hadapan mereka, kenangan pahit itu melintas dalam benak mereka.


Mereka melihat seorang wanita muda berdiri di pintu. Dia seorang diri. Kelimanya melihat satu sama lain dan mereka mengangguk. Mereka tidak tahu seberapa kuat wanita itu. Tapi mereka yakin, dengan jumlah mereka, mereka pasti bisa mengalahkannya.


Balas dendam!


Mereka menginginkan balas dendam. Para elf dibutakan kebencian. Mereka tidak peduli lagi entah siapa itu asal mereka seorang ras hyuman, maka orang itu adalah musuh.


Alice memiringkan kepalanya karena tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi. Para elf yang Elysia selamatkan terlihat baik-baik saja dan berenergi. Sangat berenergi sampai mata mereka bersinar memancarkan permusuhan.


"Tapi....kenapa mereka sampai memusuhiku? Mereka melihat ku seperti ingin membunuhku." Tanya Alice heran dalam hatinya.


Elysia segera maju dan berdiri di depan Alice. Ia sadar kalau dirinya belum menjelaskan pada mereka kalau sebenarnya ibunya adalah seorang manusia.


"Tenang. Dia ibuku. Dialah yang menyelamatkan kalian." Ujarnya sambil merentangkan tangannya ke depan.


Sebisa mungkin Elysia mulai menjelaskan kepada mereka tentang Alice. Baik dari rencana penyelamatan dan kebenaran tentang Alice yang merupakan seorang pahlawan dan sahabat dari para elf.


Awalnya mereka ragu dengan pernyataan Elysia. Bagaimana bisa seorang manusia bersahabat dengan elf, terlebih lagi menjadi pahlawan bagi mereka.


Bukankah dia terlalu melebih-lebihkan ceritanya?


Memang, pernah ada beberapa orang yang seperti itu, namun itu sudah sangat lama.


Tapi ketika Alice memperlihatkan sebuah lencana yang ia dapatkan dari Helian, para elf membisu. Alice juga menunjukkan botol ramuannya yang berisi Embun suci Yggdrasil dan itu membuat mereka harus menahan dagu mereka.


Sesaat kemudian mereka meminta maaf pada Alice. Dengan senyum canggung dan menahan malu karena gegabah dan bersikap tidak sopan pada seorang pahlawan yang diakui oleh Kerajaan dan rakyat negeri mereka.


"Dia bahkan menyebut nama Sang Ratu dengan akrab." Benak salah seorang diantara mereka.


"Untung saja kami tidak menyerangnya, hah..."


Setelah kesalahan pahaman itu selesai. Mereka menikmati malam mereka dengan hangat dan santai di dalam benteng itu.


Sudah lama mereka tidak melepaskan ketegangan tubuh mereka karena rasa takut yang selalu menghantui mereka setiap saat.


Mereka melewati malam dengan jamuan kecil dari minuman dan celeng bakar yang dibaluri bumbu spesial buatan Alice membuat mereka puas.


Keesokan harinya, keempat elf yang pernah menjadi bahan penelitian Namtar akhirnya siuman. Elf lainnya datang dengan wajah cerah dan senyum sumringah.


Mereka saling memeluk. Ruangan itu dipenuhi kehangatan.


Alice tidak hanya menyelamatkan mereka. Tapi karenanya jugalah, para elf bisa kembali ke kampung mereka.


"Helian sudah menduga kalau kristal teleportasi kalian mungkin saja rusak atau diambil oleh para bandit. Makanya dia menitipkan benda ini padaku." Ujarnya sambil memberikan kristal teleportasi pada para elf.


"Ahh... akhirnya, kita bisa pulang."


"Iya... akhirnya kita bisa kembali."


"Aku rindu putri dan istriku."


"Heh! Bukan hanya kau saja. Aku juga merindukan mereka."


Tangis bahagia membasahi mata dan pipi mereka. Sempat mereka ragu dan kehilangan harapan. Mereka mengira kalau mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka dalam jeruji dan menjadi objek kekejian dari orang-orang itu.


Para elf memeluk erat Alice. Berkali-kali mereka mengucapkan terima kasih padanya. Sebelum akhirnya mereka menggunakan kristal teleportasi


~


Penguasa kota telah mencari di seluruh tempat dan setiap sudut. Namun ia belum bisa menemukan orang yang membuat kekacauan di wilayahnya. Pencarian satu malam itu, berakhir dengan tangan kosong.


Tapi, kegigihan dan firasatnya membuatnya tidak menyerah. Firasatnya berkata kalau pembuat onar itu masih ada di dalam kota. Ia pun memerintahkan orang-orangnya untuk bergerak dengan pelan dan secara sembunyi-sembunyi.


Alice kembali ke kota dengan beberapa monster kecil yang ia sengaja buru di luar benteng. Sebenarnya Ia bisa memasukkan mayat monster itu ke dalam cincin dimensinya tapi Alice curiga kalau situasi di kota tidak begitu baik.


Ia merasakan orang-orang kuat berkumpul di balik tembok batu kecil itu. "Dia mengganti para penjaga yang sebelumnya dan memperketat pengawasan gerbang kota."


Dengan menggunakan mayat dari monster-monster kecil yang ada di tangannya sebagai hasil buruan. Alice berharap kalau itu akan menghilangkannya dari daftar kecurigaan.


Alice dan Elysia bersikap santai. Mereka berjalan memasang wajah agak lesu. Para penjaga melirik mereka dengan mata sipit. Saat mereka melihat kalau kedua wanita itu membawa mayat monster di tangan mereka, mereka mengira kalau mereka adalah seorang petualang. Para penjaga membiarkan mereka lewat begitu saja.


Elysia sempat menahan nafasnya saat melewati gerbang kota. Ia lega karena mereka tidak dicurigai.


Sayangnya, saat mereka ingin terus berjalan, sebuah suara menghentikan langkah kaki mereka dengan berkata.


"Ohh... Kalian habis berburu ya. Lumayan. Bolehkah saya melihat tanda pengenal kalian?"


Mereka menoleh ke samping dan melihat seorang pria yang mengenakan zirah besi beserta penutup kepala yang sama terbuat dari besi tersenyum ramah.


Dia adalah orang yang menegur mereka. Mulutnya melengkung naik, terlihat kalau dia tersenyum, namun kalimat singkatnya barusan terdengar seperti nada interogasi dan keraguan pada Alice dan Elysia.