
Echidna terdorong mundur akibat pukulan Alice. Berkat perisai sihir dan kerasnya lapisan tubuhnya, serangan Alice seolah tidak begitu berefek padanya. Belum lagi dengan kemampuan regenerasinya yang luar biasa hebat yang sama seperti monster kuno Hydra, luka apapun akan sembuh dalam sekejap. Berkat kemampuan itu jugalah, dia selamat dari peperangan masa lampau melawan pahlawan kuno ribuan tahun lalu dan dari penyergapan para pahlawan yang menyerangnya ratusan tahun setelahnya.
Echidna memperbaiki posisi berdirinya. Ia berdiri tegak, perlahan melayang ke atas dan mengambang di udara.
"Bagus. Jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini." Katanya dengan tegas dengan nada yang dingin.
"Aku memang tidak ada rencana untuk pergi sebelum memberimu pelajaran." Balas Alice menarik keluar pedangnya.
Echidna berjalan dengan penuh arogansi di udara seolah ia menapaki sesuatu di bawah kakinya.
"Hahaha...." Gelak tawanya penuh rasa percaya diri dan kesombongan. "bersiaplah untuk menemui penciptamu, hama rendahan."
Echidna mengulurkan salah satu tangannya ke depan, ia mengarahkan telapak tangannya pada Alice. Ketika ia memutarnya dan menggerakkannya ke atas, tiga buah batu runcing muncul dari dalam tanah bergerak menusuk Alice.
Alice melompat tapi saat ia di udara, tubuhnya ditarik oleh medan gravitasi yang kuat menuju Echidna. Alice tak bisa menahan daya tarikan itu. Selagi ia meluncur cepat menuju Echidna, Alice melihat tangan Echidna yang lainnya membara sudah siap untuk menghantam tubuhnya.
Tiba-tiba tubuh Alice berhenti mendadak membuatnya tersentak. Rasa yang amat sakit seperti menghantam sesuatu yang keras sampai membuatnya kesulitan menjerit. Namun Alice harus menggerakkan tangannya untuk menahan pukulan penghancur Echidna. Alice melindungi tubuhnya dengan Qi dan pedangnya, ia terlempar jauh hingga menghantam pilar besar penopang ruangan itu.
Echidna kembali menggerakkan telapak tangannya. Dia membuat tiang-tiang batu yang menghantam Alice dari segala arah.
"Berjuanglah sekuat mungkin. Dasar hama."
Belum selesai, Echidna memunculkan bola-bola api dari langit yang kemudian menghujani Alice.
Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan Alice yang tergencet oleh tiang-tiang batu dan bola api besar yang di lontarkan padanya. Tapi Echidna tidak menunjukkan keringanan. Dia menjentikkan jarinya, membuat tombak api besar di tangannya lalu melemparkannya sekuat tenaga pada Alice.
Tombak itu menghantam tumpukan batu tempat Alice terjebak. Suara ledakannya begitu besar hingga membuat dua orang lainnya menoleh. Fee sempat khawatir sebelum akhirnya ia melihat Alice di dalam himpitan batu itu.
"Dia... baik-baik saja, tapi kalau begini terus.."
"Kemana kau melihat bocah serigala! Haaatt!" Ayunan pedang Marzar dari samping kembali mengalihkannya.
Fee sedikit berat hati untuk membantu, bagaimanapun juga, Alice telah berpesan padanya untuk membiarkan dia dan putrinya menyelesaikan masalah mereka.
"Humph! Menyedihkan." Kata Echidna
Setelah menggunakan sihir dalam jumlah besar, Echidna tak sedikitpun terlihat lelah. Tatapannya memandang hina Alice.
Saat dirinya berpikir Alice telah kalah dan semuanya sudah selesai. Gelombang tebasan Qi mengikis pipinya. Matanya terbelalak, ia menjadi marah.
Hanya sejenak ia menurunkan penjagaannya dan deemon wanita itu sudah melukainya.
Tumpukan batu yang terbakar itu hancur berkeping-keping.
Echidna mengeratkan giginya dan melihat sosok yang muncul dari balik kepulan debu itu.
Penuh darah dan luka gores di setiap sisi tubuhnya. Alice perlahan berdiri. Tidak hanya vitalitasnya yang sudah mencapai batas. Serangan Echidna jiga memaksanya untuk memakai Qi dalam jumlah banyak sampai dia hampir kehabisan energi.
"Padahal aku sudah menghemat seperdua energi ku sebelumnya." Batinnya sambil ia terengah-engah.
Echidna mengepalkan tangannya, sebuah tangan besar dari tanah muncul di hadapan Alice dan ingin meremasnya. Alice mengayunkan pedangnya membelah tangan batu itu. Kemudian ia berlari menghampiri Echidna.
Echidna kembali menyerang dengan sihir angin. Alice menepis serangan itu dengan ayunan pedangnya.
Kemudian bola-bola api datang menerjang tapi dengan cepat Alice membuat beberapa pedang dari energi Qi di sekelilingnya untuk menghadang bola-bola api itu.
Alice melompat tinggi ke udara. Echidna menembakkan semburan api dari lingkaran sihir yang dibuatnya.
Lagi lagi elemen api. Salah satu elemen dengan afinitas tertinggi ras naga.
Alice memusatkan Qi dingin pada pedangnya. Ia berguling di udara lalu mendorong tubuhnya ke bawah dan melesat menerjang semburan api itu.
Pedangnya terus turun membelah semburan api itu. Walaupun kuat tapi kelemahan Echidna adalah pertarungan jarak dekat. Dia tidak memiliki teknik dalam pertarungan jarak dekat, gerakannya begitu sederhana dan mudah dibaca. Alice memanfaatkan kekurangannya itu dengan memaksa mendekatinya.
"Haaaat!" Alice berteriak sekuat tenaga. Tidak peduli meski api itu membakar tubuhnya, tidak peduli bagaimana pun perih lukanya. Ia berharap pedangnya bisa menyampai Echidna.
Keduanya lalu saling bertubrukan. Echidna menahan bilah pedang milik Alice dengan perisai sihirnya. Wajahnya jelas berkata kesal dengan kegigihan Alice.
"Wanita! Jangan sombong!"
Echidna menghentakkan kakinya membuat Alice terhempas ke langit dengan sihir anginnya.
"Agh!" Sayatan dari belati kecil yang ada dalam gelombang angin itu lagi-lagi membuatnya terluka. Alice mengeratkan giginya menahan sakit.
Alice mengarahkan ujung pedangnya ke bawah. "Echidna! Buka Matamu!" Teriaknya sambil melesat ke bawah.
Echidna mengumpulkan Mana dengan cepat, ia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapapun. Api, angin, dan tanah ketiga elemen itu menyatu sempurna dalam ukiran lingkaran sihir yang ia buat.
Badai topan yang berisi debu panas dan tajam mengarah tepat melesat ke hadapan Alice.
Dengan sisa energi spiritual dalam tubuhnya, Alice memaksakan dirinya. Ia memusatkan seluruh energinya pada pedangnya.
"Haaaaaat!!!" Alice berteriak mendorong pedangnya untuk membelah badai topan itu.
Mata Fee terbelalak, ia sadar dengan apa sedang yang terjadi. Saat Clairvoyance nya aktif melihat masa depan Alice. Ekspresi tenang di wajahnya berubah menjadi gusar.
"Tidak! Alice! Berhenti!" Teriak Fee pada Alice melalui telepati.
Alice mendengar suara Fee yang memperingatinya di dalam kepalanya, bahkan Nyx juga mencemaskannya tapi tekadnya sudah bulat. Alice tidak ingin berhenti, ia tidak bisa berhenti sekarang. Gadis itu... tidak menginginkannya.
"Fee... Terima kasih. Nyx...Maaf aku tidak bisa menepati janjiku." Alice tersenyum seolah membalas kedua temannya.
Waktu seolah-olah melambat di antara keduanya. Alice tidak lagi menghiraukan peringatan Fee dan Nyx.
"Meskipun waktu kita singkat. Echidna, terima kasih telah memilihku sebagai ibumu. Sungguh, aku bahagia menjadi seorang ibu walaupun kita tak terpaut oleh darah." Batin Alice
Berbeda dengan Echidna, sesuatu yang menyesakkan tiba-tiba saja membuatnya kesulitan bernafas. Ketika ia melihat wajah Alice yang penuh luka dengan baik, tanpa ia tahu, tanpa ia sadari, air mata mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa!? Perasaan apa ini!? Apa yang sebenarnya terjadi padaku...?" Batinnya mulai gelisah.
"Wanita! Siapa sebenarnya dirimu!?Jawab aku!" Teriak Echidna namun Alice membalasnya dengan tawa pelan dan senyuman hangat.
Air mata terus saja mengalir dengan deras. Semakin Alice bersusah payah menghancurkan serangannya, semakin Alice terluka, semakin Alice mendekat dan semakin ia melihat wajah tersenyum itu, dadanya menjadi semakin sakit.
Tapi Echidna tetap tidak peduli. Ia berteriak dengan kencang mencoba menguatkan tekadnya untuk membunuh musuh di hadapannya.
Beberapa saat kemudian sihir badai debu panas itu mulai retak. Alice berhasil membelahnya.
Ketika sihirnya dihancurkan, Echidna mengira pedang itu akan memotong lehernya, ia pun refleks menutup kedua matanya.
"......"
"......"
"......"
Echidna menunggu dan terus menunggu kapan bilah tajam pedang Alice akan sampai di lehernya. Tapi saat ia membuka matanya, pedang Alice berhenti di atas pundaknya.
Echidna melihat baik-baik wajah sosok wanita yang berdiri lemah di depan matanya.
Dari salah satu sudut mulutnya mengalir darah segar berwarna merah. Wajah rupawan putih berseri bagaikan sebuah susu murni dengan kulit mulus yang terasa lembut jika disentuh dan rambut keemasan yang cerah berkilau.
Tangan dan kaki Echidna bergetar. Ia tiba-tiba kehilangan tenaganya saat tubuh wanita itu jatuh dan bersandar padanya.
"A-Aku...ingat. Mama...aku ingat semuanya." Matanya mulai sembab menatap gadis manusia itu.
Alice menjatuhkan pedangnya ke tanah dan lalu pedang itu pun retak hanya menyisakan gagangnya saja, begitu pula tubuhnya yang sudah tak berdaya lagi.
Pandangannya mulai berkunang-kunang namun ia masih bisa merasakan kelembutan dari belakang kepalanya.
Alice tahu kalau ia sedang berada di pangkuan Echidna. Ya, Echidna putrinya, bukan Echidna sebagai Raja Naga dan penguasa para monster.
Sesaat setelah Echidna mendapatkan ingatannya tentang Alice, ia pun berderai air mata. Echidna melepaskan perubahan wujudnya, segera ia menyandarkan kepala Alice di atas pangkuannya dengan sangat hati-hati.
"Mama...! Mama...! Maafkan Echidna. hiks, hiks, mama..." Echidna menggenggam tangan Alice dan terus memanggilnya.
Alice tersenyum tipis. Ia benar-benar sudah tidak memiliki tenaga lagi.
"Sepertinya....ini adalah akhirnya. Ayah, ibu, Iris, lilia, Xiao Mei. Maaf, aku.. tidak bisa pulang dan bertemu kalian." Batin Alice pasrah.
"Anak...cengeng." Alice mengetuk kepala Echidna. Ia lalu terkekeh pelan. "Syukurlah,....kau...kembali."
"Um, mama...ini Echidna." Echidna menghapus air matanya, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum juga. "Mama... Echidna minta maaf."
Tangan Alice perlahan membelai lembut pipi Echidna. Banyak hal yang ingin ia katakan pada putrinya itu tapi bahkan bersuara pun sudah cukup sulit baginya.
"Putriku....aku...senang. Sungguh, terima...kasih.."
Tubuh Alice semakin dingin, wajah dan bibirnya makin pucat, bahkan matanya sudah tidak memancarkan cahaya kehidupan. Echidna panik dan semakin cemas.
Saat tangan yang membelai pipinya dengan lembut itu jatuh, Echidna segera menangkapnya. Ia merasakan tangan mamanya sudah dingin.
Seluruh tubuh Echidna bergetar. "Uwaaaa....Mama....Hiks...mama...!" Echidna berteriak dan menangis sejadi-jadinya sambil menggoyangkan tubuh kaku Alice.
"Mama....!" Dia mendekapnya erat-erat.
Suasana menjadi suram. Fee dan Marzar kehilangan niat bertarung mereka.
"Apa yang terjadi? Kenapa Yang Mulia menangis?" Batin Marzar bertanya-tanya.
Fee menutup matanya dengan tangannya. Ia mendongak menahan sedih dan air matanya.
"Manusia bodoh." Kata Fee dengan suara lirih.