Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 128



Untuk kedua kalinya Alice kembali mengecek perbatasan hutan yang menjadi tempat tujuannya.


Alice memberikan waktu pada Echidna dan Nyx untuk menikmati kota dan meluangkan waktu mereka melihat lebih banyak lagi hal-hal menarik lainnya yang ada di kerajaan Elf. Selain itu, dia ingin mencoba memahami tentang formasi sihir yang ada pada kabut itu yang mana mungkin butuh waktu dan akan membuat Echidna merasa bosan.


Sesampainya di sana, Alice tidak menduga kalau ia akan butuh waktu dua jam untuk memahami formasi sihir yang ada pada kabut Lost Forest. Titik pusat DS dari ilusi itu tersebar di empat penjuru mata angin. Sihir yang elf gunakan sedikit rumit karena mereka tidak semata-mata menggunakan energi Mana saja.


Berdasarkan hasil pemahamannya pada formasi itu. Ada sebuah perantara kuat seperti sosok mistis yang memiliki energi sihir murni. "Kemungkinan mereka adalah roh alam."


Menurut yang ia amati dan dari cerita yang ia dengar. Para elf memang memiliki suatu hubungan erat dengan para roh alam. Dengan kata lain bisa juga disebut sebagai kontrak.


Setelah beristirahat karena kelelahan saat mencoba memahami formasi itu. Alice kembali bergerak menuju lendir hitam itu.


"Saatnya untuk melihat apa yang pedang ini dapat lakukan." Gumamnya sambil ia mengeluarkan menghunuskan pedangnya.


Alice mengalirkan sejumlah energi Qi pada pedangnya, ia mengambil ancang-ancang lalu menebas lendir hitam itu dengan cepat. Sisi bibirnya terangkat sedikit, lendir itu terbelah dengan mudah, sayangnya belenggu kubah yang ada di belakangnya belum lenyap.


"Ini merepotkan. Apakah aku harus memotong semuanya?" Gumamnya kembali sambil menoleh ke arah kiri dimana lendir kedua terletak.


Saat pertama kali datang ketempat itu. Alice telah mengitarinya dan ia bisa memastikan kalau ada tiga lendir hitam yang menjadi kunci dari kubah itu. Tak disangka kalau dia benar-benar harus menghancurkan semuanya sekaligus.


Baru saja kakinya ingin melompat ke tempat selanjutnya, ia dikejutkan karena lendir hitam yang ada di depannya bergerak perlahan-lahan, seperti sel-sel yang menyatu kembali.


Mereka pulih.


Alice menyentuh keningnya. "Ini akan memakan waktu." Batinnya lelah hanya dengan melihat lendir itu. Mungkinkah kemampuan regenerasi adalah hal yang wajar di dunia ini? Alice sudah cukup bisan melawan monster-monster seperti mereka.


Alice menebas lendir itu lagi dan melesat menuju tempat yang kedua. Sesampainya di sana, ia dengan cepat memotongnya lalu pergi ke tempat yang ketiga dan segera menebasnya.


Alice menghela nafasnya, ia mengira kalau dia sudah menyelesaikan semuanya namun saat ia mengangkat kepalanya, ia melihat kalau belenggu kubah itu sama sekali tak lenyap. Alice pun kembali ke lendir hitam yang kedua.


Betapa jengkelnya ia ketika melihat lendir itu pulih seperti sedia kala dan pastinya hal itu juga terjadi pada yang pertama. "Apakah proses regenerasi mereka begitu cepat?" Gumamnya heran sembari melihat baik-baik lendir hitam itu.


Alice memotongnya lagi. Ia berdiri dan mengamati lendir itu. Alice berdecak sambil mengernyitkan dahinya. Tidak terhitung lima detik lendir itu telah pulih seutuhnya.


Dalam hatinya ia berharap kalau saja ia membawa Echidna dan Fee bersamanya tadi.


Alice menyerah, ia kembali setelah cukup lama mencoba untuk menghancurkan lendir-lendir hitam itu.


Satu hal yang ia pahami ketika ia menempelkan tangannya dan mencoba mempelajari lendir hitam itu adalah akar permasalahan utamanya yang berasal dari pohon Yggdrasil. Lendir lendir hitam itu menyerap energi luar apapun itu, baik Mana maupun Qi. Dan itulah yang membuatnya kesulitan karena lendir itu kemungkinan besar terhubung dengan pohon Yggdrasil.


Selain itu, lendir hitam itu juga mengandung racun yang cukup berbahaya. Untungnya Alice telah memurnikan seluruh tubuhnya saat awal ia menapaki jalur kultivasi. Oleh karena itu, kadar racun yang menurutnya lemah dari lendir hitam itu tak begitu berpengaruh baginya, ia bisa melenyapkannya dengan mudah.


Alice memutuskan untuk kembali ke sisa batang pohon yang ada dalam kabut. "Mumpung sudah disini. Sekalian saja aku berkultivasi dan menyerap sedikit energi alam yang cukup melimpah di tempat ini." Ucapnya.


Alice duduk bersila di samping sisa batang pohon itu. Ia mulai bernafas perlahan, merasakan energi disekitarnya dan menyerapnya masuk ke dalam tubuhnya sebagaimana ia menarik nafasnya.


Matahari telah hampir terbenam, Alice pun membuka matanya. Waktunya bagi dia kembali ke dalam kota."Oh iya, aku penasaran bagaimana kabar Helian ya?"


Helian Empyrea, Ratu kerajaan Elf. Wanita kedua yang ia temui saat pertama kali tiba di kota Moonshade.


Setelah Alice dan kelompoknya berpisah dari Asiya. Malam itu mereka tak sengaja berpapasan dengan wanita yang mengenakan jubah bertudung.


Pertemuan yang bagaikan takdir itu, tak ia sangka kalau wanita yang tampak mencurigakan itu adalah sosok nomor satu di negeri itu yaitu Yang Mulia Ratu yang memimpin kerajaan elf saat ini.


"Hehehe...Bagaimana kalau sebentar saja. Dari baumu yang wangi, aku tahu kau pasti seorang wanita cantik. Biarkan aku melihat wajahmu sebentar saja."


Alice menggelengkan kepalanya saat ia berjalan masuk ke dalam gang kecil dan melihat pemandangan memuakkan di depan matanya. Sepertinya ketiga orang itu bernasib sial karena mereka bertemu dengannya.


Alice segera menghentikan tangan pria yang hendak mengangkat tudung orang itu.


~


Helian berjalan dengan perasaan gelisah dan pikiran yang berkecamuk. Kerajaannya sedang di ujung tanduk. Batinnya penuh kecemasan saat ia memikirkan bagaimana seandainya jika dia benar-benar turun dari posisinya.


Mengingat para bangsawan High elf yang congkak penuh kesombongan itu, Helian sendiri berharap untuk bisa menghancurkan semua yang mereka miliki. Namun, saat ini selain status, kekuatan ekonomi dan politik semuanya berada di bawah para bangsawan High elf.


Helian telah mencoba bahkan ia pernah berhasil untuk melenyapkan satu kepala dan calon kepala keluarga dari salah satu bangsawan High elf yang ada. Tapi seolah mereka tidak peduli. Para High-elf itu tetap bersikukuh untuk menguasai semua bidang pokok yang ada di negeri itu.


Belum lagi, semenjak kristal hitam itu muncul dan bertebaran dimana-mana, awal mula runtuhnya kerajaan yang ia pimpin mulai semakin jelas terlihat.


Helian sendiri tidak berharap untuk duduk lama dan menghabiskan sisa usianya di atas tahtanya sebagai seorang Ratu. Dalam hati ia ingin bebas seperti dulu kala, ia ingin tertawa dan tersenyum tanpa memikirkan tentang etika, ia ingin bergaul dengan siapa saja tanpa perlu memandang status. Helian bahkan ingin mewariskan tahtanya pada adiknya yang juga memiliki kehendak pohon Yggdrasil sebagai salah satu yang terpilih, tapi adiknya masih tampak begitu naif di matanya. Polos dan belum mengenal kejamnya dunia.


Helian ingat dengan kalimat gadis manusia yang pernah ia temui malam itu 'Bahkan langit yang cerah pun bisa berubah menjadi badai kapan saja.' lalu gadis manusia itu kemudian menambahkan kalimat lainnya sebelum mereka berpisah. 'Sebagai seorang Ratu di negeri ini. Bukankah kau seharusnya sudah siap untuk mengorbankan apapun demi rakyat dan kerajaan mu.'


Helian tertegun diam menatap gadis itu. Kata-kata dan nada bicaranya tidak mencerminkan usianya. Tidak hanya itu saja, Helian juga melihat sepintas, ada kesedihan mendalam yang terpancar dari sorot mata gadis itu.


Dengan mengenakan jubah bertudung, Helian mengendap-endap keluar dari istana. Ia pergi ke kota, tepatnya ke sebuah kedai tempat terakhir kali ia saling berbincang-bincang dengan gadis manusia itu.


"Aku tidak berharap akan berada dalam situasi ini."


Tiga pria elf tiba-tiba saja muncul mencegatnya.