
Setelah malam yang panjang penuh tangisan, Elysia pun tertidur di samping Alice. Luka pilu dan sedih ketika ia melihat ibunya dimakamkan, Elysia kelelahan setelah menangis begitu lama. Di lain hal, Alice juga telah menguburkan para korban jiwa lainnya.
Sebelum Elysia tertidur, ia sempat menceritakan tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi pada desanya dan tanah para elf.
Berdasarkan penjelasan Elysia, Alice menyimpulkan kalau saat ini dirinya berada dimasa sekitar tiga ratus tahun yang lalu, setelah pahlawan mengalahkan para raja iblis yang berusaha menguasai Aria dan memusnahkan umat manusia. Para pahlawan tersebut telah wafat namun sisa-sisa prajurit tempur dari raja iblis masih menyebar dimana-mana, terutama para monster yang mereka gunakan, yang lari bersembunyi ke dalam hutan dan terkadang menyebabkan banyak masalah bagi desa-desa sekitar.
Elysia juga menyebutkan tentang Raja elf Albion yang mana adalah salah satu dari empat raja iblis yang ikut berperang. Namun dia dikalahkan oleh para pahlawan dan mati di atas tahtanya.
"Albion ya...aku pernah membaca sejarah tentangnya, kurasa dia adalah kerabat jauh dari Helian."
Perang di tanah elf dengan para pahlawan mengorbankan banyak jiwa yang tak bersalah dan yang lebih merugikan lagi bagi para elf adalah rusaknya pohon Yggdrasil.
Yggdrasil yang hampir mati kehilangan banyak energi kehidupannya dan membuat ekosistem di tanah elf sedikit kacau, juga hal itulah yang menyebabkan kabut pelindung pada Lost Forest melemah.
sehingga beberapa monster kuat atau ras deemon bisa menyusup ke dalam tanah para elf.
"Bibi...." Panggil Elysia dengan suara serak. Ia mengucek kedua matanya. "Bibi tidak tidur?" Tanya Elysia dengan raut wajah cemas.
Wajah putih indah berseri dengan pipi kenyal berwarna pink dan mata yang lebar itu sangatlah mempesona dan memanjakan mata. Ditambah dengan rambut peraknya yang berkilau, kecantikan Elysia kelak saat ia dewasa sudah bisa dilihat jelas kalau dia akan menjadi rupawan bak seorang dewi dari kayangan.
Tapi...
"Bibi..?" Tanya Alice spontan. Alice menghela nafasnya dan menjawab Elysia dengan senyum canggung. "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
Alice sedikit terlambat menyadarinya kemarin. Dia baru sadar ketika melihat rambut hitam panjang yang tergerai di sampingnya karena tertiup angin. Saat ia menarik rambut itu, dia segera mencari genangan air untuk bercermin. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pantulan cermin dengan wajah Lan You Nian di depan matanya.
Sedikit nostalgia, itulah Alice yang rasakan.
"Terimakasih. Berkat bantuan bibi aku bisa menguburkan jenazah ibuku dan juga orang-orang desa lainnya." Elysia tersenyum tipis. Matanya masih menyisakan seberkas kesedihan sisa semalam.
"Syukurlah kalau begitu." Balas Alice.
"Yaah..mau bagaimana lagi, dengan rupa ini aku tidak bisa mengelak ketika dia memanggil ku bibi. Sebagai Lan You Nian yang telah hidup hampir lima ratus tahun lamanya, setidaknya panggilan bibi itu terdengar lebih baik." Gumam batin Alice. Ya, lebih baik ketimbang harus dipanggil wanita tua.
Ketika mereka terdiam sejenak, suara perut yang cukup besar dari seorang gadis kecil memecah keheningan di antara keduanya. Wajah Elysia sontak memerah seperti buah tomat. Ia menunduk malu sambil memegang perutnya.
Alice terkekeh. "Tunggu disini, aku akan keluar untuk mencari sesuatu." Ucapnya lalu ia pun berdiri.
Elysia dengan cepat menarik lengan baju Alice. Alice pun berbalik dan melihat gadis kecil itu.
"A-aku ingin ikut juga, boleh?" Ucapnya gugup.
Mata lebar yang memelas dengan wajah manis dan suara pelan itu, bagaimana mungkin Alice bisa menolaknya. Alice tersenyum lembut. "Baiklah, ayo kita pergi."
Ketakutan akan sendirian mungkin masih melekat di hatinya, Elysia terus saja menempel sambil memegangi ujung baju Alice. Perjalanan mereka sedikit melambat tapi Alice tidak berpikir itu merepotkan, malahan ia menikmatinya. Elysia mengingatkan dirinya pada Echidna.
Ketika mereka sampai di dekat danau kecil, Seekor rusa kecil melompat dari balik semak-semak. Rusa itu mendekati danau untuk minum, ia sepertinya sendirian.
Alice memberikan aba-aba pada Elysia untuk diam dan tidak bergerak. Dalam sekejap mata, rusa itupun mati saat pedang terbang yang Alice buat dari energi Qi mengenai lehernya.
"Wooaah~" Elysia terkagum-kagum menatap Alice dengan mata berbinar-binar. "Bibi hebat." Ucapnya diiringi dengan tepukan tangan.
Alice tersenyum, ia kemudian berdiri dan mengajak Elysia untuk menghampiri hasil buruan mereka.
~
"Apakah bibi yakin mau ke kota? Jaraknya cukup jauh dari sini, waktu itu aku dan ibuku saja perlu waktu dua hari untuk sampai disana, itupun kami sudah menggunakan kereta kuda."
"Tidak apa-apa. Aku punya cara lain agar sampai di sana dengan cepat."
Elysia cemberut. "Baiklah, semoga bibi bisa sampai dengan selamat. Hati-hati di jalan ya." Ucapnya pelan. Ia menunduk dan mencoba untuk menyembunyikan kekecewaannya.
Dalam hati kecilnya ia berharap agar Alice bisa tetap menemaninya. Walaupun hanya sebentar mereka saling mengenal, tapi Elysia merasa nyaman ketika bersama Alice.
"Pada awalnya kami kan hanya orang asing, bagaimanapun juga pasti bibi akan pergi. Lagian bibi adalah seorang petualang, cepat atau lambat dia pasti akan pergi." Gumam pasrah benak Elysia.
"Hm? Apakah kau tidak mau ikut dengan ku?"
Elysia segera mengangkat kepalanya menatap Alice.
"Benarkah? Aku tidak salah dengar kan? Bibi beneran mau mengajakku pergi bersamanya?" Tanya Elysia penuh antusias dalam batinnya.
Melihat dari pandangannya saja Alice sudah tahu kalau Elysia ingin ikut, namun dia tidak menjawab. Alice tersenyum licik. Baru saja sesuai terlintas di kepalanya. "Ya sudahlah, kalau tidak mau ikut. Kalau begitu, bibi pergi dulu ya." Alice lalu berbalik dan segera keluar dari rumah Elysia.
Elysia tersentak, ia ingin menarik lengan Alice tapi tangannya tidak menggapai apa-apa, ia terlambat.. Dia pun berlari keluar. Dengan panik menoleh ke kiri dan ke kanan. Hatinya kacau saat ia tidak melihat siapapun di sekelilingnya.
"Bibi?! Apa jangan-jangan...bibi sudah pergi..?" Elysia tersungkur di atas lututnya. Tiba-tiba saja kakinya lemas.
Lagi, dia sendirian lagi.
Bahkan bibi meninggalkan ku. Pikirnya.
"Hiks...." Matanya mulai lembab. Sedikit demi sedikit air mata mulai menumpuk disudut matanya, sesaat kemudian air mata itu mulai mengalir membasahi pipinya.
"Hiks.... bibi...Hiks..." Elysia terisak.
Sungguh dia tidak ingin sendirian. Dia takut. Bagaimana kalau monster-monster itu kembali? Atau bagaimana kalau dia lapar dan tidak memiliki sesuatu untuk makan? Siapa yang akan menemaninya tidur saat malam gelap? Pasti rumahnya akan dingin saat musim dingin dan salju turun menutupi jalan.
Selain ibunya, satu-satunya tempat nyaman dimana ia bersandar saat ini adalah bibi Alice.
"Hiks...bibi...kenapa bibi pergi..." suaranya semakin serak.
"Tidak kok. Bagaimana mungkin aku pergi dan meninggalkan mu begitu saja." Elysia berbalik saat ia mendengar suara Alice. Dia melihat kedua kakinya terus ke atas sampai mereka saling bertatapan.
Alice tersenyum lebar memperlihatkan sedikit giginya sambil melambaikan tangannya.
Elysia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mengusap mata dan hidungnya. Ingusnya bahkan hampir keluar karena menangis.
"Bibi!" panggilnya. Kemudian ia memeluk erat Alice.
Alice mengusap-usap kepala Elysia dengan lembut. Ia tertawa pelan. "Maafkan aku. Aku cuma bercanda tadi."
Elysia menggembungkan pipinya. Ia cemberut dan menatap kesal Alice. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya ke dalam perut Alice. "Aku memaafkan bibi kok. Aku senang bibi tidak meninggalkan ku."
"Begitu ya." Alice menghela nafas mendengar ucapan Elysia. "Kalau begitu Elysia, ayo kita kota."
"Um." Elysia mengangguk dengan ceria