Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 131



Helian mulai menceritakan situasinya dengan adiknya. Satu demi satu kebenaran yang mengejutkan sungguh Alice tidak menyangkanya. Asiya yang selama ini ia kenal ternyata adalah seorang putri kerajaan.


Alice tersentak lalu diam untuk beberapa detik.


"Seorang putri dan komandan pasukan. Tidak! Lebih buruknya adalah dia pernah mengatakan kalau dia bergabung dengan para pemberontak itu. Apakah dia berniat untuk menggulingkan Sang Ratu dan mengambil tahtanya?" Gumam Alice dalam batinnya.


Asiya Empyrea. Adik dari Sang Ratu atau putri dari kerajaan elf. Terlahir dari darah campuran high elf dan elf biasa pada umumnya. Rambutnya memanglah tidak berwarna keemasan tapi darah dan kekuatan dari suku high elf mengalir dalam tubuhnya. Namun, tetap saja karena penampilannya itu, banyak keluarga bangsawan yang tidak menyukainya.


Beberapa dari mereka berkata kalau dia adalah aib. Beberapa dari mereka menjulukinya sebagai anak haram dan beberapa dari mereka tidak menganggapnya ada sama sekali meski statusnya seharusnya sudah jelas sebagai pewaris tahta selain kakaknya.


Helian terus bercerita namun tidak menjelaskan tentang kelahiran ataupun ibu dari Asiya.


Gadis ceria, lugu dan polos itu tumbuh dengan baik di bawah perlindungan Helian. Mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan dan akan selalu bersama, begitulah seharusnya yang terjadi menurut pandangan orang-orang. Sayangnya, sesuatu terjadi yang Helian sendiri tidak tahu dan tidak menyadari kenapa Asiya perlahan merenggangkan jaraknya.


Karena ingin pengakuan dan tidak ingin menjadi beban bagi kakaknya. Asiya berusaha keras untuk tumbuh kuat sampai saat ini dimana ia bisa memimpin pasukannya sendiri.


Helian khawatir namun tekad adiknya begitu jelas di matanya. Dia hanya bisa tersenyum mendengar keputusan bulat Asiya untuk menjadi prajurit kerajaan elf.


'Kelak, aku akan menempatkan dia di sampingku sebagai pengawal pribadi' Helian tertawa bahagia tanpa menyadari kalau langkah awal itulah yang sebenarnya membuat Asiya perlahan menjauh.


"Tidak mungkin. Seperti kata Helian. Asiya tidak tampak seperti gadis licik. Dia terlihat begitu naif. Matanya yang masih jernih dan polos itu tidak mencerminkan kalau dia adalah seseorang yang memiliki ambisi tinggi bahkan sampai ingin merebut kekuasaan kakaknya."


Kesenangan di awal itu berubah menjadi buah pahit yang harus Helian telan.


Alice sadar kalau berdasarkan cerita Helian ada sesuatu yang janggal. Hanya menjadi seorang prajurit tidak mungkin membuat hubungan darah menjadi cair seperti air. Helian adalah sosok yang lembut walaupun tegas dalam posisinya. Seharusnya Asiya tahu apa yang kakaknya rasakan jika ia terus bersikap seperti itu.


Sembari menggendong Helian menuju kamarnya dengan mengendap-endap. Matanya memandangi besarnya istana kerajaan dengan tatapan kosong.


Dia tenggelam dalam benaknya dan hanya mengikuti langkah kakinya saja.


"Kisah kami hampir mirip namun apa yang membuat mereka terpisah bukanlah sesuatu yang simpel."


Gadis ceria dengan mata berbinar-binar itu tidak begitu cerdas untuk menyusun siasat keji untuk menggulingkan kakaknya. Kuat dugaan, hati Alice berkata kalau ada sesuatu atau seseorang yang sedang menikmati pertunjukan ini di belakang layar.


"Aku tidak sadar, rupanya sudah sampai di depan jendela kamarnya." Alice menghela nafasnya berat setelah ia menoleh dan melihat Helian tertidur nyenyak di punggungnya.


"Wanita ini, setelah mengoceh begitu banyak, ia hanya menunjukkan arah lalu tertidur begitu saja."


Alice telah melenyapkan hawa kehadirannya sampai titik dimana penyihir dengan kemampuan pelacak pun akan kesulitan mendeteksinya.


Alice melompat naik.


Setelah membaringkan Helian di atas tempat tidurnya Alice pun meninggalkan kamar itu dan kembali ke penginapan.


~


"Terimakasih Nyx."


Nyx mengangguk. "Kalau begitu aku akan beristirahat sejenak. Kau juga sebaiknya jangan terlalu gegabah. Firasat ku berkata, semakin banyak kita menghancurkan kristal hitam itu, bahaya yang tak diduga semakin mendekat."


"Iya. Baiklah."


Demi mencari kebenaran, Alice mulai mengumpulkan beberapa informasi tentang Asiya si komandan pasukan.


Dia begitu terkenal di kalangan elf lainnya. Dwarf, dark elf, atau spirit yang jarang ditemui pun mengenalnya. Sosok ceria yang gemar menolong. Senyumnya memberikan semangat dan kebaikannya membuat orang-orang betul-betul tertolong.


Alice termangu di sisi jalan. "Hanya para high elf yang tidak ingin mengatakan apapun tentangnya meskipun sedikit dari mereka terlihat mendukungnya." Gumamnya.


Dengan mengenakan topi untuk menutupi telinganya dan hanya menunjukkan rambut panjangnya yang tergerai indah. Alice akan terlihat seperti seorang gadis bangsawan high elf yang mempesona. Orang-orang sering kali salah tingkah saat pertama kali berpapasan dengannya.


Alice mengikuti Asiya yang sedang berjalan menuju sebuah rumah di tengah kota. Tidak ada yang mencurigakan dari jalan dan tempat yang ia lewati, namun tingkah Asiya yang kadang menoleh dan menengok ke kiri dan ke kanan membuat Alice penasaran.


Mencurigakan.


Tampak Asiya berdiri di depan pintu salah satu rumah. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna ungu.


"Apakah itu batu dengan ukiran Rune?" Tanya Alice pada dirinya.


Sekejap kemudian Asiya lenyap dari tempatnya. Kedua mata Alice melebar seketika karena gadis itu tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.


Alice segera menghampiri tempat dimana Asiya terakhir berdiri. Sepintas ia merasakan adanya pergerakan gelombang Mana yang besar. Alice memejamkan matanya.


"Jadi begitu. Rumah ini hanyalah rumah biasa namun dengan Rune itu dia berteleport ke tempat lain. Cukup pintar untuk menyamarkannya." Alice mendongak, ia lalu melompat naik ke atap dan bergerak ke tempat dimana Asiya berteleport sesuai dengan pergerakan gelombang Mana yang ia rasakan.


"Ketemu!"


Mansion besar salah satu milik bangsawan high elf.


Tempat itu dijaga ketat oleh beberapa ksatria elf. Alice juga merasakan kalau mansion itu di lindungi oleh sihir.


"Kesadaran jiwa ku tidak bisa masuk menembus penghalangnya. Apakah mereka menggunakan sebuah formasi sihir atau Rune?"


Alice tidak tahu pasti siapa pemilik mansion itu. Ia memutuskan untuk menyudahi penyelidikannya.


"Aku akan bertanya pada Helian tentang pemilik tempat ini."


Alice pun berbalik pergi.