Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 98



Orang-orang dari ras naga telah datang dan berkumpul dalam aula yang sangat besar. Mereka begitu antusias menunggu kedatangan pemimpin mereka. Setelah menanti begitu lama, akhirnya tiba saat bagi mereka meninggalkan pegunungan itu.


Mata berbinar-binar dan senyuman lebar serta semangat berkobar mereka sungguh tinggi. Ketika mereka melihat Kyrant dan Malzar keluar dari pintu samping menuju sebuah kursi yang telah disiapkan di hadapan setiap orang, semua tiba-tiba diam. Suara hentakan kaki yang berbunyi layaknya detik jarum jam membuat mereka menoleh. Mata mereka melirik wanita yang berjalan dengan anggun itu menuju kursi tahtanya.


Mata para ras naga yang seolah mengiringi langkah wanita itu berhenti ketika mereka melihat wanita itu duduk di tahtanya. Sorak teriak mereka tiba-tiba menggema memenuhi ruangan. Begitu heboh, bahkan pilar-pilar raksasa penopang tempat itu serasa bergetar karena suara mereka.


Echidna tersenyum sinis melihat rakyatnya. Ia membayangkan betapa hancurnya negeri manusia kelak jika seandainya mereka mulai menyerang dengan kekuatan penuh.


Echidna mengangkat satu tangannya ke atas dan riuh gembira dari ras naga lenyap seketika.


"Wahai rakyatku!" Seru Echidna dengan suara lantang.


Echidna menatap dalam rakyatnya. "Aku telah membuat kalian menunggu." Echidna menyandarkan tubuhnya, meletakkan salah satu lengannya di sisi kursi lalu menopang salah satu pipinya. Dia terdiam sejenak sambil memejamkan matanya.


Setiap orang yang hadir di tempat itu juga diam. Tak ada dari mereka yang bergerak juga mengeluarkan suara. Begitu hening sampai suara hembusan nafas pun bisa terdengar dalam kesunyian itu.


Ketika mata wanita di hadapan mereka membuka kedua kelopak matanya dan menunjukkan mata indah yang terang laksana kristal ruby yang indah di bawah sinar bulan, Echidna memulai pidatonya.


"Ribuan tahun lalu aku telah mendampingi raja iblis sebelumnya yaitu Sang Raja Iblis Typhoon. Lalu ratusan tahun yang lalu setelah kekalahan kami karena pahlawan kuno yang begitu kuat. Aku memilih untuk mengasingkan diri untuk mengembalikan kekuatanku yang hampir dihancurkan olehnya. Tapi! Walau ratusan tahun berlalu dan aku tidak melakukan apapun. Pahlawan itu! Pahlawan si*lan itu berani-beraninya datang dan menyerang ku secara diam-diam!"


Pandangannya menjadi bergejolak dengan amarah, Echidna bangkit dari kursinya. Ia mengibaskan lengannya ke samping. "Dua pahlawan telah ku hadapi, meski kalah tapi mereka tidak akan pernah bisa membunuhku. Aku! Sang Raja Naga yang di anugerahi berkat oleh Dewa Naga Agung Gloria tidak akan pernah mati dan tidak akan rela mati sebelum membalas dendam ku pada ras hyuman!"


Echidna menarik nafas panjang, ia mengangkat telapak tangannya ke hadapan wajahnya dan mengepalnya dengan kuat seolah ia meremas sesuatu. "Ras hyuman itu, para serangga menyedihkan itu, sudah waktunya kita menghancurkan mereka. Rakyatku! Waktunya untuk kita membayar atas rasa malu ini!"


Mendengarkan pidato yang berapi-api itu, para naga dengan tubuh humanoid mereka bersorak, berteriak dan melompat gembira. Echidna telah membangkitkan semangat mereka, Echidna telah mengobarkan api dalam jiwa mereka dan siap untuk mengibarkan bendera perangnya. Perang antara ras terkuat melawan manusia, masih bisakah itu disebut perang atau hanya sebuah pembantaian?


Sementara itu, tidak jauh dari pegunungan Drakelight. Alice melesat kencang menembus badai salju yang dingin yang bahkan bisa membekukan tubuh seseorang. Jika seandainya kultivasinya masihlah dalam tahap Earth Refining, Alice sudah pasti tidak akan bisa menerobos badai salju itu.


"Alice! Di sana! Di depan sana ada sebuah bangunan besar." Seru Fee saat ia melihat sebuah pintu raksasa tua yang terukir di salah satu puncak gunung.


"Baguslah, kurasa kita sudah sampai." Alice lalu meluncur turun dan mendarat di depan pintu itu.


"Ini... bukanlah pintu besar biasa." Katanya. Pintu itu lebih cocok untuk dikatakan sebuah gerbang. Berdasarkan ukurannya yang besar dan kokoh, serta titik keberadaan Echidna yang ia rasakan, Alice yakin kalau dia telah berada di tempat yang benar.


"Apakah kita sudah sampai?" Fee melompat keluar dari bayangan Alice.


Fee melihat gerbang besar itu keseluruhan. "Begitu besar, apakah kita harus menghancurkannya?" Kata Fee begitu enteng. Jika memang perlu, mengapa tidak? Baginya untuk menghancurkan gerbang raksasa itu cukup mudah dengan wujudnya yang sempurna. Fee sedikitpun tidak ada rasa takut jika memang harus membuat keributan di sarang para naga. Di dunianya, naga itu tidak jauh berbeda dari seekor kadal bersayap dimatanya. Satu gigitan dari Fenrir Sang Serigala Kematian bisa merobek sayap mereka. Sayangnya, kekuatannya saat ini cukup terbatas akibat luka dari para dewa yang mengkhianatinya.


"Tidak perlu, mungkin kita bisa mencari cara lain." Jawab Alice. Mereka pun melangkah mendekati gerbang itu.


Tiba-tiba saja tanah bergetar, Alice menyipitkan matanya. Ia merasakan adanya gelombang Mana berkumpul ke dalam tanah di kedua sisi gerbang itu. Dengan clairvoyance nya, Fee segera memperingati Alice saat ia melihat apa yang terjadi.


"Dua buah golem raksasa. Gerbang itu ternyata memiliki penjaganya, heh!" Ujar Fee mendengus.


"Gadis Alice. Sepertinya kita tidak harus melakukannya dengan cara yang baik. Kedatangan kita tidak disambut hangat disini. Biarkan aku menunjukkan sedikit kekuatanku padamu."


Fee begitu angkuh melangkah ke depan. Ia melirik pada kedua golem itu sambil menyeringai dengan lebar dan menunjukkan taringnya.


Alice percaya pada Fee. Dia telah melihat betapa ganasnya wujud serigala itu saat membesar, tapi apa yang Fee tunjukkan pada Alice kali ini adalah sesuatu yang berbeda.


Serigala yang tadinya berukuran normal itu berubah menjadi sosok yang sama ketika melawan monster naaga. Alice terkejut, sangking terkesimanya dengan perubahan Fee. Alice hanya menatapnya dengan mata lebar tanpa kata. Warna bulu yang berubah dan kepadatannya pada setiap ujungnya, tatapan serta taringnya yang menjadi makin ganas. Fee mengeluarkan perasaan ngeri yang bisa membuat kaki orang-orang menjadi dingin dan bergetar ketakutan.


Fee melolong dengan sekuat-kuatnya. Suaranya begitu nyaring di atas puncak gunung itu. Ia berbalik pada Alice. Fee memasang wajahnya yang penuh kesombongan sambil tersenyum.


Sepertinya dia butuh pujian, tapi kali ini dia benar-benar keren tidak seperti Fee yang imut dan lucu seperti biasanya.


Masih diam membisu, Alice memberikan dua jempol untuk Fee.


"...." Fee tidak mengerti arti kedua isyarat itu. "Apakah itu artinya aku hebat?" Batinnya bertanya. "Kurasa seperti itu." Lanjutnya seolah ia terlihat mengangkat kedua pundaknya.


Kemudian Fee kembali melihat lawannya. Ukuran mereka sudah berbalik. Kedua golem itu jadi sedikit lebih pendek di bandingkan Fee.


Kembali pada Echidna. Ia merasakan adanya lonjakan energi dari luar bangunan itu. Suara ledakan yang begitu besar dan tekanan mengerikan aura itu menghentikan pidatonya.


"Ada yang datang." Gumamnya. Ia mengangkat satu lengannya dan memanggil seseorang yang ada di sisinya.


Kyrant segera mendekat, ia menundukkan kepalanya. "Kita kedatangan tamu, sambut mereka sebaik mungkin." Kata Echidna dengan suara yang dingin.