
Satu rumah menuju gang sempit dan di situlah kedai kecil itu berada. Pemiliknya hanyalah seorang deemon tua namun entah bagaimana Alice, Echidna dan Fee dikepung oleh kelompok deemon yang berniat untuk membunuh mereka.
Alice merasakan nafas berat dan lemah dari balik meja kasir. Ia tahu kalau itu adalah pemilik kedai yang tadi melayaninya.
Alice melirik ke sekelilingnya. Ia menghela nafasnya seolah merasa bersalah. Jika ia tak meladeni mereka maka dialah yang akan terluka. Namun berat rasa hatinya jika sampai merusak properti pemilik kedai. Selain kedua hal itu, Alice tidak ingin menunjukkan kekuatannya.
"Fee... Bisakah kau lakukan sesuatu pada mereka?" Tanya Alice bertelepati dengan Fee.
"Kau ingin aku melakukan apa?"
"Aku tidak ingin melakukan pertarungan di kedai kecil ini. Aku ingin kau membuat mereka diam."
Fee menekuk kedua alisnya dan berpikir sejenak. "Hmm...Kalau seperti itu, kurasa aku punya caranya."
"Bagus. Tolong ya Fee."
Tanpa ada yang menyadari pergerakannya, Fee turun dari kursi dan menghilang dalam bayangan. Tidak ada yang tahu apa yang akan ia lakukan. Alice sendiri tidak bisa melihat kehadirannya meski ia merasakan kalau energi kehidupan Fee masih ada di dekatnya.
[ Shadow Trap - Shadow Bind ]
Bayangan hitam milik para deemon dan kedua ras hewan itu perlahan bergerak naik, menjalar dari kaki mereka ke atas seperti sebuah akar pohon lalu dengan sangat kuat melilit mereka hingga tidak dapat bergerak.
"A! Apa ini?!" Deemon yang berpakaian pelayan itu sadar kalau mereka terjerat oleh sesuatu. Ia mengamuk dengan menggerakkan-gerakkan kakinya namun dia tak bisa melepaskan bayangan hitam yang melilitnya. Para deemon yang lainnya juga melakukan hal yang sama, tapi sayang sekali, mereka juga tak bisa lepas dari bayangan hitam itu.
Fee kembali muncul dari bawah meja dan naik kembali ke kursinya seolah tidak ada yang terjadi. "Aku sudah melakukan tugas ku. Sisanya tergantung padamu." Katanya menunjuk wajah senyum angkuh.
Alice melirik pada Fee lalu berterima kasih padanya. "Dengan begini, akan mudah untuk mengatasi mereka." Lalu Alice bergerak cukup cepat dan mulai melumpuhkan mereka satu demi satu dengan menekan titik saraf yang ada di belakang leher mereka.
Melihat kejadian itu berlangsung dengan cepat. Wanita berambut abu-abu itu bertepuk tangan dengan meriah. Wajahnya memberikan senyum sumringah lalu ia kembali menjabat tangan Alice dan mengayun-ayunkan nya. "Hebat! Hebat! Nona Alicia memang seperti yang dikatakan Ophelia."
Alice tersenyum canggung. Tingkah aktifnya mengingatkan dia pada seseorang bernama Amy namun ada sesuatu yang sedikit berbeda dari wanita di hadapannya. "Dia juga tidak jauh berbeda dengan Echidna." Benak Alice.
Wanita menoleh tiba-tiba ke arah pintu. "Hmm~ Sayang sekali. Sepertinya aku harus pergi. Aku menantikan pertemuan kita selanjutnya~ Sampai jumpa Nona Alicia~" Dia lalu pergi begitu saja seperti angin dingin yang berhembus cepat.
Alice memijat pelipisnya, ia melirik Echidna."Kalau bisa aku tidak ingin terlalu sering bertemu dengannya." Ucap batinnya lelah. Echidna memasang ekspresi bertanya atas pandangan mata mamanya yang baru saja ia lihat. Dia tidak tahu kalau Alice baru saja membandingkan mereka berdua.
Entah apa yang Ophelia katakan padanya sampai-sampai membuat ekspektasi wanita itu bak melambung tinggi ke langit terhadap dirinya.
~
Keesokan harinya. Alice kembali melatih Echidna di dalam dungeon.
"Tanganmu terlalu kaku dan perhatikan langkahmu!" Instruksi Alice dari atas batu dimana ia duduk sambil melihat Echidna bertarung melawan beberapa monster kecil. "Langkah mu terlalu lebar. Terlalu banyak celah. Nafas dan seranganmu tidak selaras. Apakah kau melupakan apa yang selama ini ku ajarkan?" Teriaknya lagi.
Meski mama nya, Alice, adalah sosok yang penyayang dan lembut padanya. Namun sikapnya berubah saat ia melatih dirinya dengan sesuatu yang dia sebut beladiri itu. Tidak dibawah salju yang dingin atau hujan yang deras. Alice tidak menunjukkan rasa kasian sama sekali pada Echidna. Alice begitu ketat dan tegas pada putrinya kecilnya itu.
"Andai aku tahu, mungkin aku tidak akan meminta mama melatihku. Uuhh~" Rengeknya menyesal.
Saat keduanya sedang berlatih serius, Alice tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang yang cukup jauh darinya. Ia melirik sekilas ke arah orang itu. Selama ini, dirinya tak pernah mengendurkan penjagaannya apalagi saat ia masih berada di benua Arkham. Alice hanya membuka sikap siaganya saat ia bersama orang-orang yang dia anggap.
Alice memasang matanya pada Echidna namun dilain sisi, ia meletakkan pengamatannya pada orang yang mengawasinya dari jauh.
Alice terus menunggu, mungkin bisa saja dia adalah seorang pemburu yang sama sepertinya. Setengah jam, satu jam, bahkan ketika mereka berpindah tempat, orang itu tetap mengekornya. Alice menjadi yakin kalau orang itu benar-benar hanya mengikutinya dan mengawasi pergerakannya saja.
"Apa kau yakin?"
"Ya, Tuan. Saya yakin kalau anak itu adalah sosok yang kami cari selama ini."
"......Apa rencanamu selanjutnya? Apakah kau bisa mengambilnya dari tangan wanita itu?"
Sosok pria yang berada di balik bayangan itu sedang berdiskusi dengan seseorang dengan menggunakan batu kristal mana yang berfungsi sebagai transmisi.
"Saya tidak merasakan adanya energi sihir dan mana yang besar dari wanita itu. Tapi, insting saya mengatakan kalau dia itu berbahaya." Ujarnya sambil ia terus melihat ke arah Alice dan putrinya.
"Apakah kau sudah menyelidikinya?"
"Ya, Tuan. Dia adalah seorang pemburu terkenal dengan julukan Ratu Es di kota Ilium. Belum sampai setahun lamanya namun dia sudah mencapai pemburu tingkat emas. Bahkan banyak pencapaiannya yang sebanding dengan kelompok pemburu tingkat platinum."
"Kembalilah. Aku akan memberikan perintah selanjutnya setelah kita mengetahui seberapa kuat wanita itu."
"Baik, Tuan." Pemburu itu menutup percakapannya dengan mengangguk.
"Setelah sekian lama, akhirnya...Ras kami akan kembali menunjukkan kejayaannya sekali lagi kepada dunia." Gumamnya sambil menggenggam erat batu kristal di tangannya. Sosok pria itu perlahan bergerak mundur, namun saat ia melangkah sekali kebelakang, tiba-tiba rasa dingin membuat bulu kuduk di punggungnya berdiri seketika. Matanya terbelalak dan segera ia membalik badannya.
"Sejak kapan dia ada dibelakang ku?" Batinnya mulai gentar. Ia sama sekali tidak merasakan kehadiran wanita itu. Padahal beberapa saat yang lalu ia melihat kehadiran wanita itu sedang duduk di atas batu.
Pria itu dengan heran menengok kembali tempat duduk Alice yang sebelumnya, sayangnya tidak ada siapapun disana, selain anak itu dan tumpukan mayat monster. Ia benar-benar tidak melihatnya pergerakannya.
Pria itu menelan ludahnya. Tubuhnya jadi kaku begitu saja. Rasa takut menyelimuti dirinya. "Kenapa? Kenapa kakiku mati rasa?! Bergeraklah! Aku adalah ras terkuat! Tidak mungkin aku takut dengan deemon wanita lemah ini!" Batinnya terus mengoceh tidak jelas untuk menghilangkan rasa takutnya.
Alice hanya diam dan berdiri memandanginya dengan tatapan dingin bagaikan belati yang baru saja dicabut dari bongkahan es. "Orang bodoh mana lagi yang mengincar putrinya?"
"Katakan! Aku tidak ingin basa-basi. Aku akan mengampuni mu jika kau mengatakan semuanya." Suara datar namun terdengar dingin itu bagaikan suara pedang yang di cabut dari sarungnya.
Pria itu tahu kalau ia tidak bisa lari lagi. Jurang neraka sudah ada di depan matanya.