Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 152



Ketika pedangnya sedikit lagi menebas Helian, Asiya berhenti saat ia mendengar gelak tawa seseorang dari balik punggungnya.


Spontan ia berbalik.


Echidna menyapanya dengan sebuah senyum lebar. "Bagaimana? Apakah yang tadi itu membuat puas?" Ucapnya dengan nada menggoda.


Asiya terkejut karena gadis kecil yang tadinya hangus terbakar itu masih hidup dan bahkan ia tampak baik-baik saja tanpa luka sedikitpun. Heran, Asiya berdecak. Ia menggenggam erat pedangnya. "Kau! Bagaimana bisa kau masih hidup?!"


"Apa maksudmu ini?" Echidna memperlihatkan kulit hangusnya yang terkelupas perlahan dan jatuh ke atas tanah. Namun apa yang ada dibaliknya kulit hangus itu masih ada sebuah kulit lainnya.


Asiya tertipu karena mengira ia telah membakar gadis kecil itu.


Melihat ekspresi Asiya, Echidna merasakan kesenangan tersendiri dalam hatinya. "Pantas saja anjing bodoh itu selalu berpura-pura dan menyembunyikan kemampuannya. Ternyata memainkan hal seperti ini cukup seru." Benaknya.


Sisi kanak-kanaknya meniru kelakuan Fee yang selalu berpura-pura menjadi seekor babi untuk memangsa seekor harimau. "Sayangnya, di mataku dia tak lebih dari seekor lalat." Gumam Echidna.


Asiya menatapnya tajam penuh kekesalan. Gadis kecil itu lagi-lagi muncul dihadapannya dan menghalanginya.


"Ada apa? Kenapa kau diam saja?!" Echidna menggodanya dengan sebuah wajah angkuh, kemudian ia mendengus. "Bukankah seharusnya kau sudah melihat perbedaan kekuatan kita? Sadarilah kelemahan mu. Serangan mu tidak mempan, juga api milikmu itu sama sekali tidak ada rasanya bagiku."


Kepalanya mendidih. Ia benar-benar geram. Karena emosi negatif yang telah mendarah daging, Asiya tidak bisa melihat perbedaan itu. Tanpa pikir panjang, ia melesat maju menghadapi Echidna. Dalam kepalanya saat ini hanyalah kemenangan dan kepuasan untuk melampiaskan kebenciannya.


"Mahkluk bodoh." Echidna tersenyum sinis. Ia menahan Asiya di udara dengan sihirnya.


"Ugh! Sial! Lepaskan! Lepaskan aku!" Asiya meronta berusaha lepas dari genggaman sihir Echidna.


"Percuma. Diam dan terima kekalahan mu."


Saat Echidna menggerakkan tangannya ke bawah, Asiya pun menghantam tanah dengan tubuhnya. Echidna kembali menyerangnya hingga Asiya tampak seperti dijejalkan ke dalam tanah.


"Aaakkhhh!" Asiya menjerit lantang karena seluruh tubuhnya seperti dihimpit oleh sebuah batu besar.


Helian tak kuasa melihat adiknya, ia ingin menghentikan Echidna tapi dia segera menghentikan langkahnya. Dia tahu kalau Echidna tidak akan membunuh adiknya, sebaliknya dia sengaja melakukan itu untuk menyelamatkannya. Helian hanya bisa mengalihkan pandangannya, ia benar-benar tidak sanggup melihat wajah adiknya yang penuh kesakitan.


"Sudah saatnya mengakhiri ini."


Echidna menjentikkan jarinya. Sesaat setelahnya, sebuah lingkaran sihir muncul begitu saja tepat di bawah Asiya.


"Aku telah menyiapkan ini selagi kau menikmati perasaan kemenangan mu itu. Betapa bodohnya dirimu. Seorang elf yang bahkan tidak menyadari perubahan fluktuasi Mana yang terjadi di sekitarnya." Ujarnya lalu ia terkekeh.


"Kurang ajar!" Asiya memukul tanah dengan tinjunya. Walaupun ia telah terkena luka dalam, tapi amarahnya tetap membuatnya bangkit.


Dia mengangkat pedangnya lalu mengayunkannya menebas dinding lingkaran sihir itu. Lagi dan lagi, tapi berapa kalipun ia menyerangnya, ia tidak bisa menghancurkan dinding lingkaran sihir itu.


Untuk kedua kalinya, Echidna menjentikkan jarinya dan sekali lagi, formasi lingkaran sihir yang kedua muncul di atasnya.


Kali ini, tidak hanya dia terjebak, tapi seolah tenaganya terkuras dengan cepat. Mana dan staminanya seolah mengalir deras dari tubuhnya.


"K-kau..." Asiya menunjuk Echidna dengan suaranya yang mulai samar-samar.


Sebelum akhirnya dirinya tidak berdaya, Asiya memutuskan untuk mengeluarkan kartu terakhirnya.


Dengan pedang yang menopang tubuhnya, Asiya mengukir sebuah pola dengan darahnya lalu merapalkan sesuatu.


Helian tiba-tiba saja panik. Ia tahu dengan apa yang akan Asiya lakukan selanjutnya. Pola itu dan perubahan energi Mana yang terjadi di sekitarnya.


"Tidak! Asiya! Hentikan! Jangan lakukan itu!" Helian berlari sambil memukul-mukul dinding sihir itu. Dia menoleh pada Echidna. Matanya menyiratkan agar ia segera membatalkan formasi sihirnya, namun Echidna menggelengkan kepalanya.


[Wahai engkau yang bersemayam di tanah yang suci ini. Atas namaku dan darahku juga leluhurku. Penuhilah panggilan ku. Penuhilah permintaanku. Aku memanggil dirimu sebagaimana engkau mengikat perjanjian dengan kami. Dengarkan seruan ku dan bangunlah.]


Setetes darah yang menetes jatuh ke atas pola itu seolah membangunkan sesuatu dari tidur panjangnya.


~


Tanah seluruh dataran elf bergetar. Tidak jauh dari kota Moonshade, sesuatu yang sudah tertidur ratusan tahun lamanya akhirnya membuka matanya.


Sosok itu mengangkat tubuhnya yang telah menyatu dengan tanah. Kehadirannya menggemparkan tanah para elf. Binatang dan para monster yang ada di sekitarnya segera berlari menjauh.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian dia melebarkan kedua sayapnya yang besar. Sosoknya yang begitu besar tampak bisa menghancurkan sebuah kota dengan mudah.


Dia berbalik, mengepakkan sayapnya lalu terbang ke arah kota Moonshade.


Echidna merasakan kekuatan besar yang datang mendekat.


"Hmm? Kekuatan ini...."


Dia berdiri di tempatnya dan menunggu sosok si pemilik kekuatan itu datang.


Setelah beberapa saat kemudian, Echidna mendongak ke langit dan benar saja. Bayangan hitam yang begitu besar menutupi seluruh istana.


"Inikah kartu yang kau sembunyikan di balik saku mu itu?"


Asiya tertawa lebar. "Hahahaha.... Sekarang kau takut bukan? Hahahaha....Aku akan melihat sampai berapa lama kesombonganmu itu akan bertahan. Manusia hina! Tunjukkan, perlihatkan padaku wajah keputusasaan mu itu di hadapan kekuatan mutlak."


Echidna terdiam sembari terus menatap sosok yang mendekati mereka dari langit.


Sosok itu mengaum dengan lantangnya hingga membuat seluruh penduduk kota gemetar. Tidak hanya para monster saja. Bahkan orang-orang yang melihat kedatangannya jadi pucat.


Dia turun perlahan lalu berhenti di depan benteng istana.


"Aku adalah Selena, Sang Naga Bumi pelindung tanah ini. Katakanlah! Siapa diantara kalian yang telah memanggilku." Katanya sambil menatap ketiga orang di hadapannya.


Helian menelan ludahnya. Memang benar kalau darah pewaris kerajaan memiliki kemampuan untuk memanggil Sang Pelindung tapi itu hanya dimaksudkan ketika mereka benar-benar menghadapi situasi kritis. Helian tidak tahu harus menjawab apa atas panggilan yang sebenarnya tidak berarti itu.


"Hmm...." Selena melirik ke arah Asiya. Ia mengendus sekali lalu berkata. "Sepertinya itu adalah dirimu yang memanggil ku. Baiklah. Dari situasi mu saat ini, aku sudah tahu apa yang harus ku lakukan." Ujarnya. Lalu ia terbang menjauh.


"Gadis kecil! Aku hanya memenuhi janji yang telah ku buat untuk melindungi tanah ini. Selagi kau adalah ancaman bagi para elf, maka aku akan memusnahkan mu."


Selena mengepakkan sayapnya di hadapannya Echidna. Ia melemparkan hembusan angin yang begitu tajam hingga merobek batu layaknya sebuah kertas.


"Ku pikir kau hanyalah gadis manusia biasa. Ternyata kau mempunyai kemampuan untuk bisa menahan serangan ku." Kata Selena setelah melihat Echidna tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.


"Bagaimana dengan ini?" Selena lalu menyemburkan api yang berkobar begitu besar pada Echidna tapi dia kembali terkejut ketika melihat Echidna baik-baik saja.


Selena terdiam. "Mustahil. Bagaimana bisa dia tidak terluka sedikitpun. Seharusnya dengan api yang setara dengan sihir tingkat tinggi sudah mampu menghanguskannya hingga menjadi abu." Pikirnya.


Karena serangan elemen tidak mempan, Selena pun menggunakan cakarnya.


Echidna memandangi Selena dengan malas. Pantas saja kekuatan itu tidak asing baginya. Ternyata sosok Sang Pelindung yang menjadi kartu as milik Asiya hanyalah seekor naga bumi.


Echidna berdecak. Ia menghela nafasnya. Melihat bagaimana naga bumi itu tidak mengenalinya bahkan menyerangnya begitu saja. Echidna berpikir untuk memberinya pelajaran.


"Setelah sekian lama....kira-kira pelajaran seperti apa yang sebaiknya ku berikan untuk mu." Gumamnya pelan sambil melototi Selena.