
"Woaahh...lihat, lihat! Sangat empuk." Mata Tina berbinar-binar saat ia menekan-nekan kue di piringnya dengan sendok yang ia pegang.
Alice hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah lucu Tina.
Tina Lalu memasukkan sepotong kue itu ke dalam mulutnya. "Mmm...Enaknya.." Katanya bahagia sambil memegang satu pipinya.
"Benarkah?Apa memang seenak itu ya?"
Alicia ingat ketika ia dan Mary pergi ke toko kue waktu itu. Ekspresi mereka terlihat mirip. "Oh, kurasa aku harus membiarkan Mary mencicipinya juga." Pikirnya saat ia sadar kalau ternyata ada satu orang lagi yang menyukai makanan manis di sisinya.
Ketika selesai dari toko kue Alice menuju ke sebuah toko pandai besi.
"Apa ini yang kamu maksud tadi?" Tanya Tina heran. Untuk apa ke pandai besi? Bukankah Alice itu pengguna sihir? Apakah dia ingin membeli perlengkapan pelindung ya?
"Iya. Aku ingin mengambil pesanan ku."
"Pesananmu? Hmm...sebuah senjata? Baju besi? Atau yang lainnya?"
"Aku memesan sebuah pedang."
Tina menggaruk satu pelipisnya karena makin heran.
Keduanya lalu masuk melewati pintu. Melihat gadis manis yang berambut keemasan itu datang kembali, paman pemilik toko segera mengeluarkan barang yang Alice pesan dari bawah mejanya.
"Ini pesananmu Nona muda." Ucap Zeld si pandai besi sembari menyodorkan sebuah pedang pada Alice.
"Terima kasih paman." Alice mengambil pedang itu, mengeluarkan dari sarungnya dan mengayun-ayunkannya. "Ringan namun keras. Gagangnya juga bagus. Sederhana dan nyaman untuk di pedang."
"Aku menempanya dari logam mitril sesuai dengan yang kau mau?" Sela Zeld.
"Mitril?!" Tina tiba-tiba terkejut "A-Alice?!" Tina segera memegang kedua pundak Alice?"
"Iya?"
"Bukankah mitril itu cukup mahal. A-apakah kamu benar-benar..."
"Ya. Aku melihat logam itu hanya satu-satunya yang terpajang di lemari kaca. Karena tertarik, aku pun meminta paman untuk menunjukkannya. Ternyata logam itu begitu ringan namun begitu keras. Jadi, seperti itulah aku mendapatkan pedang ini." Jelasnya dengan wajah santai.
Tina hanya bisa melongo dan menyesal mendengar jawaban itu. "Aku lupa kalau kamu adalah anak seorang Duke"
"Jadi Nona muda, bagaimana menurutmu? Pedang itu adalah salah satu karya terbaikku. Ku pikir logam yang ku temukan secara tidak sengaja itu tidak akan ada yang membelinya. Ternyata setelah lama melihatnya terpajang di dalam lemari kaca itu, akhirnya ia laku."
"Aku menyukainya. Berapa harganya paman?"
"Karena kau sudah membayar harga logamnya. Kau hanya perlu memberiku 10 koin perak untuk biaya pembuatannya."
Alice pun merogoh kantong dan mengeluarkan sejumlah koin perak. "Ini dia paman. Sekali lagi terima kasih." Keduanya lalu beranjak dari toko tersebut.
"Jangan sungkan untuk datang lain kali Nona muda" Sahut paman itu sambil melambaikan tangannya.
Setelah mendapat pedangnya dan hari telah petang. Keduanya kembali ke asrama mereka.
~
Di malam hari Alice keluar dari kamarnya setelah ia memberi tahu Mary.
"Nona mau kemana?" Tanya Ernard ketika ia melihat Alice keluar dari Asrama perempuan.
"Aku ingin ke danau belakang akademi yang waktu itu."
"Biarkan saya menemani anda."
"Tidak. Kau tetap disini saja. Aku ingin kau menjaga Mary. Takutnya seseorang tidak hanya mengincar ku saja tapi juga orang terdekat ku."
"Baiklah kalau itu mau anda."
Sesampainya di danau. Alice duduk di bangku yang terbuat dari batu dan memandangi kelap-kelip kunang-kunang yang berterbangan di sekitar danau.
"Aku hanya menyukai tempat ini. Selain tenang, di sini aku juga merasa damai."
Alice mengeluarkan sulingnya dan mulai memainkannya. "Mungkin nanti aku akan meminta seorang pengrajin untuk membuatkanku sebuah guzheng." Benaknya.
Sementara itu, Putri Marianne lagi-lagi terbangun dari mimpi buruknya.
"Kakak! Kakak!!!" Jeritnya cukup lantang.
Degup jantungnya tak karuan karena mimpi yang sama yang masih saja mengganggu tidurnya. "Sudah tiga malam aku tidak tidur nyenyak." Keluhnya memegang salah satu sisi kepalanya. Meski ia sudah biasa mengalami mimpi buruk itu namun perasaannya tetap tak terbiasa untuk tekanan emosional yang ia terima. Mimpi itu tidak membuat tubuhnya lelah tapi seolah mimpi itu memakan jiwanya sedikit demi sedikit.
Kadangkala Marianne bahkan menangis tanpa sadar ketika terbangun dari mimpinya. "Aku benar-benar tidak tahu harus apa" Marianne menenggelamkan wajahnya di antara dua lututnya "Mungkinkah langit sedang menghukumku."
Karena perasaan gelisah yang tak kunjung hilang. Marianne keluar seorang diri untuk mencari udara segar.
"Mungkin aku sebaiknya ke danau saja. Melihat pemandangan kunang-kunang juga tidak buruk."
Dengan mengenakan gaun sederhana yang berbalut blazer, Marianne berjalan menuju danau. Sesampainya disana ia mendengar sebuah suara yang belum pernah ia dengar selama ini tapi terdengar tak asing di telinganya.
"Suara ini..."
Melodi dari musik tiup yang indah menghangatkan batinnya. Marianne mempercepat langkahnya dan melihat seseorang sedang duduk di atas bangku batu.
"Dia..." Sekali lagi perasaan akrab itu mengetuk hatinya dan ia seolah melihat sekilas sosok yang sangat ia rindukan jauh dari lubuk hatinya yang terdalam.
Marianne berjalan makin dekat pada gadis yang duduk sambil memainkan sulingnya.
"Bukankah dia itu Alicia dari keluarga Strongfort. Tapi kenapa...aku merasa nyaman saat melihatnya. Hatiku menjadi tenang."
Alice sadar ada seseorang yang mendekatinya. Ia lalu berhenti memainkan sulingnya dan berbalik melihat orang itu.
"Selamat malam Tuan Putri." Sapanya lembut ketika melihat orang itu ternyata Sang Putri Marianne.
Marianne tiba-tiba merasa canggung dan gugup untuk berbicara dengan Alice. "Se-selamat malam. Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Aku hanya sedang menikmati waktu ku. Aku menyukai tempat ini." Ucap Alice sambil melihat ke arah danau "Bagaimana dengan anda?"
"Aku..yah...aku juga menyukai tempat ini." Sikap canggung Marianne tampak tak biasa. Entah kenapa ia tiba-tiba kaku untuk berbicara dengan Alice.
"Benarkah? Kalau begitu kita sama." Kata Alice dengan senyuman. "Wajah anda terlihat kurang sehat dan kelelahan. Apa anda baik-baik saja?" Tanya Alice melihat wajah Marianne yang sedikit pucat itu dan tampak gusar.
Marianne menghela nafasnya "Akhir-akhir ini aku kesulitan untuk tidur. Aku takut dengan mimpi buruk yang selalu menghantuiku." Seketika Marianne sadar setelah mengucapkan kalimatnya. Kenapa ia bisa dengan mudah menceritakan hal ini padanya.
"Hmm... bagaimana kalau aku memainkan sebuah melodi yang indah untuk anda?" Alice berpikir kalau mungkin dia membantu Putri Marianne meski sedikit saja.
"Sungguh? Tapi...darimana kau mendapatkan benda itu? Apakah kau juga mempelajarinya dari seseorang?"
"Aku meminta seorang pengrajin kayu untuk membuatkanku. Kalau untuk belajar, aku hanya berlatih sendirian."
Rasa penasaran seolah bergejolak dalam hati Marianne.
"Begitu ya." "Kalau begitu tolong ya." Pintanya sopan.
Alice pun memainkan sulingnya. Dengan nada yang sangat lembut. Sosoknya benar-benar berkilau di gelapnya malam itu.
"Melodi ini? Musik yang terasa tak asing." Marianne meremas dadanya. Bukan karena sakit tapi seolah ada perasaan rindu yang menggebu-gebu. "Aku yakin, aku yakin tak ada orang yang bisa memainkannya seperti dia memainkan melodi ini. Kalau begitu..." Mata penuh harap itu menatap dalam sosok Alice yang begitu larut dalam permainannya.
"Kakak..." Ucapnya pelan.