Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 21



"Ba-Bagaimana mungkin?" Leon tak bisa berkutik di hadapan Alice. Bagaimana bisa dirinya yang sudah mencapai tahap Master tidak berdaya di hadapan seorang Alice.


Leon lalu teringat akan Hangard yang waktu itu berada di posisi yang sama dengannya. Ketika ia mencoba untuk berdiri dengan menggunakan kemampuannya. Alice lagi-lagi menahannya dengan tenaga dalamnya.


Bulu kuduknya berdiri dan kakinya bergetar hebat. "Aku belum menyuruh mu untuk berdiri. Apakah kau tidak belajar Etika." Tandas Alice dingin.


Semakin ia melawan, Leon hanya semakin tertekan. Rasa penasarannya terjawab sudah dan akhirnya ia yakin kalau Alice yang di depannya itu bukanlah Alice yang sama. " Si-siapa kau?!"


"Alicia Lein Strongfort."


"Tidak! No-na Alicia tidak mungkin memiliki kekuatan seperti ini."


"Percaya atau tidak, terserah kau saja."


Setelah cukup lama, Alice kemudian melepaskan Leon dari tekanan Qi nya.


"Sebagai seorang ksatria kau mengabaikan tugasmu. Ayahku menyuruhmu untuk melindungiku tapi kau lebih memilih egomu dari pada kewajibanmu. Jika seandainya aku itu lemah mungkin kau tidak akan melihat ku di sini. Pulanglah. Aku tidak membutuhkan seseorang sepertimu. Kau tidak pantas sebagai seorang ksatria di mataku."


Kata-kata Alice menusuk tepat di dada Leon. Tapi, pada kenyataannya, memang apa yang Alice katakan itu benar. Leon tetap bertekuk lutut dan tidak berani untuk mengangkat tubuhnya. Berdasarkan apa yang Alice katakan, ia merasa malu jika harus menyebut dirinya ksatria. Bodoh! Ya. Setelah bertahun-tahun lamanya melayani keluarga Strongfort. Baru kali ini ia merasa malu hanya karena rasa keingintahuannya yang membuat ia lalai dalam menjalankan perintah dari Duke Strongfort.


Kepala Leon berputar untuk mencari jawaban. Apakah ia harus tinggal? Tapi ia telah kehilangan rasa kepercayaannya di hadapan Alice. Lalu bagaimana kalau ia pulang? Bukankah Duke akan mempertanyakan tentang apa yang terjadi dan bagaimana ia bisa gagal?


Meski sebelumnya ia sudah siap dengan risiko yang harus di ambilnya tapi Leon masih memikirkan tentang harga dirinya sebagai ksatria. Jika ia benar-benar lari saat ini, mungkin dimasa yang akan datang ia akan kembali melakukannya.


"Nona Alicia!" Panggil Leon meski sebenarnya Alice masih duduk di kursi dihadapannya. "Biarkan saya melayani anda. Sebelumnya saya sadar bahwa saya salah tapi tolong Nona berikan saya kesempatan untuk melayani anda." Tegasnya penuh keyakinan.


"Berdiri." Ucap Alice masih dengan suara datarnya membuat leon bangkit "Lihat Mataku." Leon lalu mengangkat wajahnya dan melihat Alice. Mata yang masih sama seperti sebelumnya. Melihatnya dengan pandangan merendahkan dan tidak berarti, membuat Leon harus menahan rasa sesak di dadanya. "Buktikan padaku kalau kau benar-benar ingin melayani ku, bukan sebagai ksatria milik keluarga Strongfort tapi sebagai ksatria milik ku."


Leon diam sembari menatap Alice. Wajah dan mata yang serius itu berpikir untuk mencari cara agar bisa meyakinkan Alice. Tak cukup lama Leon menarik pedangnya keluar. Ia lalu menusuk pahanya tanpa pikir panjang. Leon menahan mulutnya kuat-kuat untuk tidak menjerit. Meski pedang itu tak menembus pahanya tapi darah bercucuran mengalir dengan cukup banyak.


Alice tersenyum kecil. Ia tak menyangka bahwa Leon yang begitu membencinya benar-benar bersumpah setia untuk menjadi ksatria miliknya.


"Aku terima sumpah mu." Setelah itu Alice beranjak dari kursinya. "Mary, kau boleh berbalik."


Sudah dari tadi Mary sangat penasaran dengan apa yang terjadi di belakangnya. Udara dingin dan mencekam yang membuat lehernya merinding dan suara pedang yang dihunuskan serta sumpah Leon yang benar-benar membuat ia makin bertanya-tanya. Ia sangat ini melihatnya walau hanya sedikit tapi... ketika ia memikirkan tentang suara Alice, ia sangat takut. Nona nya yang biasanya lembut dan ramah terdengar berbeda. Dingin dan kejam seperti ia tidak merasa kalau itu adalah suara Alice yang selama ini ia layani.


Ketika Mary berbalik. Ia terkejut melihat Leon yang kakinya penuh darah. Ia ingin. bertanya tentang apa yang terjadi tapi, ia masih takut dengan Alice.


Setelah mengambil segelas air. Alice mendatangi Mary. Dengan wajah teduh dan suara yang lembut ia berkata "Maaf merepotkan mu. Aku ingin kau merawat lukanya."


"Baik Nona" Sepertinya tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Mungkin, terjadi sesuatu diantara mereka dan itu membuat Alice benar-benar marah seperti itulah dugaan Mary dan kepalanya.


~


Setelah balutan terakhir, Leon berterima kasih pada Mary yang sudah membantunya.


"Umm...Kalau boleh tahu, apa yang sudah terjadi di antar kalian berdua? Aku baru kali ini melihat nona sampai semarah itu."


Leon menutup kedua matanya dengan salah satu tangannya. "Itu salahku. Akulah yang membuatnya marah." Leon terdiam dan menghela nafas panjangnya.


Melihat Leon seperti tak ingin membahas tentang kejadian itu. Mary menyemangatinya. "Tapi syukurlah semuanya sudah selesai dan nona juga sudah tidak marah lagi. Apapun itu kau sebaiknya tidak membuat nona marah. Kau tahu? Nona itu orangnya baik dan perhatian. Kalau ada apa-apa kau tidak perlu menyembunyikan. Katakan saja pada nona dan dia pasti akan membantu mu. Yah...Kami juga seperti itu. sewaktu di kediaman Strongfort."


Leon tersenyum pahit mendengar Mary memuji Alice. Entah karena mereka hanya tidak tahu tentang gadis itu atau karena Leon yang masih merasa bersalah. "Kau benar. Lain kali aku mungkin harus lebih terbuka pada Nona." Leon mengira bahwa mungkin dirinyalah yang bodoh karena tidak mempercayai Alice.


Mary tersenyum sekali lagi dan ia pun berbalik untuk keluar dari kamar Leon. "Istirahatlah yang banyak. Aku yang akan menjaga nona sewaktu kau absen."


"Terima kasih Mary."