
Di satu sisi, Claire sangat ingin mengatakan ramalan tentang Alice pada Iris namun, disisi lain, mengingat dirinya sebagai seorang Kepala Kuil ia tak bisa melanggar apa yang sudah ditetapkan oleh para pendahulunya, demi menjaga agar ramalan itu tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang bisa membahayakan Aria.
Claire menatap gadis di hadapannya dengan lirih. Ia melihat Iris memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dari ekspresinya saja Claire tahu perasaan berkecamuk yang dialaminya. Claire ingin mengangkat tangannya untuk menenangkan Iris namun ia memilih menguatkan hatinya. Dia berbalik dan menolak permintaan Iris.
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas tawaran anda, namun sayangnya saya tetap tidak bisa mengatakannya." Claire pun berjalan menjauh dan kembali ke keretanya.
Iris tidak menyerah, dengan satu informasi yang ia miliki, Iris berteriak "Aku tahu dimana kakakku berada!"
Hatinya benar-benar kacau. Rasa sesal, marah, sedih, bingung. Iris terjebak dalam ketidaktahuannya. Apa yang ia inginkan saat ini adalah tempat untuk bersandar. Ia mengharapkan kakaknya, tatkala sosok yang diidam-idamkannya kembali kenapa mereka harus berpisah begitu cepat dan kenapa dia begitu keras kepala untuk menyadarinya.
Kalimat yang barusan ia dengar itu membuat Claire mengehentikan langkahnya. Tiba-tiba saja keyakinannya goyah setelah mendengar pernyataan Iris.
Setelah pencarian yang begitu lama dan serasa tidak berarti, apakah yang dikatakan Iris adalah sesuatu yang benar? Atau jangan-jangan dia membohongiku hanya untuk mengetahui tentang isi ramalan itu?
Claire menggelengkan kepalanya, ia menghela nafas panjang lalu perlahan berbalik.
"Baiklah. Mari, kita bicarakan hal itu dalam kereta ku." Katanya.
Demi menebus kesalahannya, Claire bersedia melanggar tradisi itu, ia menukar ramalan itu dengan informasi keberadaan Alice.
~
"Apakah kalian yakin bisa melakukannya berdua saja?" Seorang deemon wanita yang pernah ia selamatkan bertanya pada Alice yang tengah bersiap-siap di depan gerbang kota. Deemon itu bernama Caela.
"Iya." Balas singkat Alice.
"Bukannya aku meragukan mu, tapi..perjalanan ke ibukota itu berbahaya. Mungkin kalian akan menemui banyak monster berbahaya saat di perjalanan nanti." Kata Caela tampak khawatir.
"Tidak apa-apa bibi. Mama ku hebat. Aku yakin pasti mama bisa mengalahkan semua monsternya dengan mudah." Echidna menimpalinya. Lalu ia menengok wajah Alice "Benar kan ma?"
Alice melihat mata berbinar Echidna dan mengangguk. "Kalian tidak perlu cemas. Kami pasti akan baik-baik saja." Ucapnya pada wanita itu. Alice meletakkan tangannya dan membelai lembut kepala Echidna.
"Kalau boleh tahu, apa yang akan kau lakukan di ibukota nanti?" Tanya Laimus yakni salah satu rekannya yang pernah ia selamatkan juga.
Setelah setengah tahun di kota Ilium menjadi seorang pemburu. Alice bersama ketiga pemburu yang pernah ia selamatkan sudah sering berkelompok bersama dalam menjalankan misi. Alice juga telah memberitahukan identitas aslinya kepada mereka.
Awalnya ketiganya terkejut bahkan mereka terlihat tidak percaya. Apalagi setelah melihat kekuatan dahsyat Alice yang pernah mengalahkan seekor chimera sendirian, bagi ras iblis tentu mereka bertanya-tanya akan manusia yang sekuat itu.
"Apakah kehadiran hyuman di tanah ras iblis itu sesuatu yang langkah? Hmm~ Kalau dipikir-pikir...kami juga seperti itu sih." Pikir Alice kala itu.
"Aku akan mencari informasi tentang jalan pulang dan kembali ke benua Regnum."
Pria itu menggaruk hidungnya. "Jujur, kupikir waktu saat kau memberitahukan kami identitasmu. Aku masih mengira kau adalah seorang budak yang diculik oleh para deemon dan dibawah ke benua ini. Tapi, kalau dilihat dari kehebatanmu selama ini. Aku jadi yakin, kalau kau tidak berbohong pada kami." Laimus menundukkan kepalanya sedikit untuk meminta maaf. "Maaf meragukan mu, aku hanya tidak menyangka ternyata kau benar-benar tersesat begitu saja dan terjebak dalam lingkaran sihir teleportasi." Lanjutnya.
Alice tersenyum canggung. Ia tidak bisa menatap mata mereka untuk sejenak. Sebenarnya ia berbohong namun cerita itu adalah apa yang ia katakan pada pada Ophelia juga.
"Ngomong-ngomong... Orthos dimana? Aku tidak melihatnya sejak kemarin." Tanya Alice mengalihkan pembicaraan.
Kedua pemburu itu saling menatap lalu mereka terkekeh sedikit malu. Keduanya saling mengangkat bahu mereka sebelum mereka berbalik menoleh pada Alice.
"Sejak dia tahu akan kenyataan yang pahit tentang mu. Dia jadi mengurung diri seharian."
"Tentangku?" Alice memiringkan kepalanya sambil bertanya pelan. "Apakah tentang aku yang seorang manusia?" Lanjutnya masih bertanya.
Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya. "Bukan, bukan. Tapi tentang dia." Katanya menunjuk Echidna. Alice dan Echidna menunjukkan ekspresi heran dan bertanya-tanya. "Awalnya dia mengira bahwa Echidna itu adalah adikmu. Kami pun sempat berpikiran seperti itu. Kami juga kaget saat tahu kenyataannya kalau dia itu sebenarnya adalah putri mu. Sayangnya...Bagi Orthos.." Caela melirik Laimus.
"Dia patah hati."
Alice membuka sedikit mulutnya tanpa berkata. Ternyata seperti itu. Kurang lebihnya ia mulai paham cerita dari Laimus dan Caela. Jika dilihat dari sudut pandang siapapun, memang wajar jika orang-orang mengira bahwa mereka itu adalah saudari. Gadis muda dan gadis kecil itu tampak tidak memiliki perbedaan umur yang jauh. Dan bagi Orthos yang sedang jatuh hati pada Alice sejak ia menyelamatkannya mulai memupuk keberaniannya untuk menyatakan perasaannya. Bahkan ketika ia tahu bahwa Alice adalah seorang hyuman, Orthos tetap tidak menyerah. Baginya perbedaan ras itu tidak dapat menghalangi cintanya.
Seakan tergila-gila, Orthos yang kala itu sudah siap untuk menyatakan perasaannya dikejutkan saat ia mendengar Echidna memanggil Alice dengan sebutan mama. Orthos yang memiliki darah keturunan suku ogre yang dikenal akan kekuatan dan ketahanannya, menjadi lembek begitu saja. Dia hanya bisa menggigit jari dan kembali ke rumahnya.
Orthos tidak pernah menyangka kalau Alice adalah seorang ibu. Kalau begitu...berdasarkan cerita Alice yang ia dengar waktu itu. Saat Alice diteleportasi secara tidak sengaja ke benua Arkham bukankah itu berarti ia terpisah dari suaminya dari ayah anak itu?
Alice memalingkan kepalanya sambil memegang dahinya. Dia menghela nafasnya. "Apa boleh buat. Kalau begitu, sampaikan salamku padanya." Ucap Alice sambil ia tersenyum. "Kuharap kita akan bertemu lagi nanti." Ia lalu melambaikan tangannya pada mereka.
Alice dan Echidna pun menaiki tunggangan mereka. Seekor monster yang menyerupai badak dengan bentuk tubuh yang besar. Jenis monster badak itu bernama nitouka, dengan empat cula melengkung di kepalanya ia terlihat ganas. Tapi Nitouka yang mereka gunakan ini telah dijinakkan dan terkadang digunakan oleh beberapa pedagang untuk membawa kereta mereka.
Alice melihat kliennya saat ia naik ke atas kereta. Seorang deemon yang tampak paruh baya. Deemon itu tertawa pelan. "Bagaimana nona muda, apakah kalian sudah siap?"
"Terima kasih paman sudah mau menunggu kami. Kami sudah siap berangkat." Balas Alice dengan ramah.
Deemon itu menepuk punggung nitouka yang menjadi tunggangan mereka lalu mereka pun bergerak meninggalkan kota Ilium.