
"Hutan ini... Walaupun tenang tapi begitu ramai." Ucap Alice sambil melihat sekelilingnya.
"Kau bisa mengetahuinya ya?" Helian mengangkat kedua alisnya mendengar ucapan Alice. "Aku heran bagaimana caramu bisa mengetahui keberadaan mereka. Tapi yah, kau benar. Para peri dan spirit menyambut kedatangan mu. Kurasa mereka sedikit menyukai mu meskipun kau bukan bagian dari ras kami."
Alice tersenyum kecil. "Begitu ya. Aku senang kalau aku disambut hangat disini."
Pemandangan ini mungkin baru pertama kali baginya. Helian penasaran tentang apa yang membuat para peri dan spirit tertarik pada gadis manusia itu. Biasanya mereka tidak peduli dengan ras asing karena kemurnian Mana yang mereka rasakan tidak seperti yang dimiliki oleh ras elf.
Sebagai orang yang mewarisi kehendak Yggdrasil. Helian bisa melihat kalau ada kerlap kerlip cahaya yang mengelilingi Alice. Mereka adalah spirit yang umumnya membuat kontrak dengan para elf. Sedangkan para peri yang bertubuh kecil bisa dilihat dari balik dahan dan dedaunan, mereka berkumpul begitu antusias sambil menengok ke arah Alice.
"Bukan hanya mereka. Bahkan aku juga merasakan sesuatu yang akrab darinya." Batinnya selagi melihat Alice dari sudut matanya.
Perasaan akrab yang hangat seolah menempel di lubuk hatinya ketika ia berada di sebelahnya seperti ia telah mengenal sosok Alice sangat lama. Mungkin saja perasaan itu jugalah yang membuatnya mudah untuk menerima Alice meski mereka belum lama saling mengenal dan berasal dari ras yang berbeda.
Helian tiba-tiba menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ia lalu bertanya pada Alice "Bagaimana dengan orang itu? Apakah dia sudah pergi?" Ucapnya pelan.
"Ya. Dia sudah pergi sejak tadi." Balas Alice.
Seorang mata-mata untuk mengawasi pergerakannya. Helian tidak habis pikir siapa yang memiliki keberanian untuk mengawasi Sang Ratu. "Kalau begitu, apakah kau sudah bisa mengatakannya padaku?"
Alice terdiam sambil memejamkan matanya untuk sesaat. Ia kemudian menatap Helian dengan wajah serius. "Mungkin kau akan sedikit terkejut dengan apa yang akan ku sampaikan."
Mungkin Alice sudah bisa membayangkan seperti apa ekspresi Helian setelah mendengarnya. Namun sebelum semuanya terlambat, Alice berharap kalau dengan informasi ini mereka bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka berdua. "Ada dua hal yang ingin ku sampaikan padamu. Aku belum bisa mengatakan informasi ini pasti, namun aku yakin kalau apa yang akan ku katakan ini bisa membantu mu."
"Apakah ini menyangkut tentang kerajaan ini?" Tanya Helian lalu Alice menjawabnya dengan mengangguk.
"Jadi, apakah itu ada kaitannya dengan para bangsawan high elf?" Alice mengangguk untuk kedua kalinya.
Tidak begitu mengherankan sih kalau Alice mendapatkan berita miring tentang mereka. Helian cukup tertarik dalam hatinya, kira-kira apalagi yang mereka sembunyikan di belakangnya.
"Selain itu, informasi ini berkaitan dengan para pemberontak dan juga adikmu." Kata Alice.
Helian seketika terbelalak. Apakah telinganya salah dengar. Tidak. Tapi ia butuh sedikit waktu untuk mencerna pernyataan Alice. Helian mengernyitkan alisnya kemudian bertanya "Adikku? Apa hubungannya para pemberontak dengan adikku? Apakah mereka melakukan sesuatu padanya" Helian memegangi kedua pundak Alice.
Dalam hati, Helian tahu seberapa besar kekuatan adiknya yang juga memiliki kehendak Yggdrasil sama sepertinya, Tapi ia berusaha menyangkal hal yang sekilas terbersit tadi.
Pasti. Ya, pasti mereka melakukan sesuatu pada Asiya.
Helian menatap mata Alice cukup lama, ia menepis kecemasan dalam benaknya lalu siap untuk mendengar apa yang akan Alice sampaikan selanjutnya.
"Seharusnya kau sudah bisa menebak apa yang akan ku katakan padamu."
Wajah gadis itu terlihat tidak bercanda. Pandangan Alice yang tidak bergeming bagaikan sebuah belati yang menyayat hatinya.
Mata dan bibir Helian bergetar tidak percaya. Helian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan. Namun Alice dengan serius dan nada datar berkata "Itu benar. Adikmu adalah bagian dari kelompok pemberontak itu."
"Tidak...mungkin. Mustahil adikku memiliki hubungan dengan kelompok pemberontak itu." Tegasnya. Suaranya bergetar dan terdapat rasa takut di dalamnya. "Dia adalah seorang prajurit kerajaan elf yang setia. Asiya memiliki rasa keadilan yang tinggi. Meskipun dia naif dan kadang ceroboh tapi...aku tidak percaya dia sampai bergabung dengan mereka."
"Tenanglah. Hal ini belum sepenuhnya pasti dan masih banyak celah yang masih harus diselidiki. Entah Asiya memiliki hubungan dengan mereka atau tidak. Kita harus segera melakukan sesuatu."
"Gadis muda itu, Asiya. Aku pernah bertemu dengannya dan walaupun singkat, aku yakin dengan penilaian mataku."
Alice kemudian menjelaskan mengenai pertemuannya dengan Asiya dan hasil penyelidikannya saat ia mengikutinya dua hari yang lalu.
Helian mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. "Jadi maksudmu, semua kejadian ini didalangi oleh seseorang?”
"Itu hanya berdasarkan kesimpulan ku saja. Tapi setelah aku tahu bahwa seseorang dikirim untuk memata-matai mu. Aku jadi yakin kalau memang ada seseorang yang sedang memainkan panggung ini." Jelas Alice. "Aku akan memeriksa pohon Yggdrasil. Dengan ukuran sebesar ini, kurasa aku butuh waktu lama untuk menyelesaikannya." Lanjutnya lalu ia berbalik meninggalkan Helian yang termangu dengan hati resah dan bimbang.
"Ya, silakan. Gunakan waktumu." Helian berjalan mendekati salah satu pohon lalu menyandarkan bahunya. "Bagaimana bisa Asiya bergabung dengan kelompok mereka?"
Matanya menjadi sedikit lembab memikirkan adiknya. Seseorang sedang memanfaatkan dirinya.
Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?
Seolah hampir kehilangan daya hidupnya, Nafasnya menjadi lebih berat. Jikalau harus memilih antara adik atau kerajaannya, Helian benar-benar bimbang.
Sementara itu, Alice memejamkan matanya saat ia sudah menyentuh batang pohon Yggdrasil. Ia melepaskan kesadarannya perlahan menjalar kedalaman pohon itu.
"Pohon ini begitu luas. Banyak jalan yang bercabang di dalamnya seperti sarang semut." Batinnya.
Bukannya energi Mana yang murni yang ia temui, Alice malah merasakan hampir keseluruhan pohon itu diselimuti oleh Mana gelap yang menyesakkan dada.
Nyx tiba-tiba memanggil Alice dari dalam lautan jiwanya. "Alice."
"Ada apa Nyx?"
"Aku bisa merasakan kehadiran Erebos di dalam pohon ini?"
Alice tersentak seketika. Ia hampir menarik tangannya. "Dewa Jahat?! Apakah kau yakin itu dia?"
Nyx lalu keluar dari dalam lautan jiwa Alice dan ikut menyelam bersama kesadaran Alice ke dalam pohon itu. "Samar-samar, tapi aku yakin itu dia. Ikuti aku!"
"Baiklah."
Melewati seluruh jalan bercabang itu, Alice bisa merasakan kehadiran yang lebih kuat dan berbahaya dari atas semakin dekat dengannya. Apa yang Nyx katakan benar.
Nyx bergerak semakin cepat, ia terlihat tergesa-gesa dan menjadi tidak sabaran. Bagaimana tidak, akhirnya dia bisa melihat si pengkhianat dan pembunuh dari Ayahnya. Wajahnya tampak geram penuh amarah.
"Nyx! Berhenti! Nyx! Nyx...!!!" Teriak Alice memanggil Nyx. Namun Nyx teralihkan oleh amarahnya yang bergejolak sehingga ia tidak menghiraukan panggilan Alice.
Sosok semakin jauh. Terlambat. Alice terlambat menarik paksa jiwa Nyx untuk kembali ke dalam lautan jiwanya. Taktkala jiiwa Nyx terputus dariny, kesadaran jiwa Alice sudah tak bisa mencapai Nyx.
Alice terhalangi oleh sesuatu. Bagaikan dinding kokoh yang menahannya untuk menerobos ke tempat yang lebih tinggi.
Selagi dia menyelami Yggdrasil dengan kesadaran jiwanya. Helian yang menyadari keanehan itu segera menghampiri Alice. Helian menarik tubuh Alice yang hampir saja masuk ke dalam pohon itu.