
Ketika Alice menarik pedangnya keluar, begitupun dengan monster itu.
Dengan kulit yang lebih gelap dan rambut berwarna pirang kecoklatan, juga kedua mata yang berwarna coklat. Monster itu menjadi gadis jelita yang menyerupai Alice.
Keduanya mengambil posisi bertarung yang sama.
Saat mereka melesat dan saling menerjang dengan pedang yang terhunus, mereka mulai bertarung satu sama lain.
Doppelganger. Begitulah mereka dipanggil. "Heh, setidaknya aku bisa mendapatkan kembali kekuatan ku setelah aku mengalahkan wanita itu." Ucap Erebos. "Aku tak menyangka kalau serigala liar itu ternyata sangat kuat. Selama aku hidup, aku bahkan tidak pernah mendengar namanya. Kekuatan dan kehadirannya sebanding dengan seorang Dewa." Lanjutnya bergumam.
Bunyi logam tajam yang saling menghantam bergema di ruangan itu. Monster Doppelganger itu benar-benar meniru pergerakan Alice, bahkan ada kalanya dia tersenyum sinis ketika serangan Alice ia tangkis.
"Lumayan. Aku bisa menggunakan mu sebagai referensi untuk mengetahui sejauh mana diriku berkembang." Kata Alice lalu ia pun melayangkan tendangan dan begitupun dengan doppelganger itu. Keduanya mengambil jarak. Saat Alice ingin melompat maju, doppelganger itu tiba-tiba melayangkan tebasan dari jarak jauh.
Hampir saja Alice terkena olehnya. "Api? Bahkan sampai sihir ku pun bisa ia tiru."
Alice mengernyitkan alisnya saat ia berbalik kebelakang dan melihat sisa kobaran api dari tebasannya. Dia sadar, pertarungan mereka tidak boleh berlangsung terlalu lama atau kalau tidak doppelganger itu akan membakar habis Yggdrasil dari dalam.
"Karena kau bisa meniru sihirku, bagaimana dengan yang satu ini." Alice juga melemparkan tebasannya yang berupa energi Qi. Doppelganger itu menahan tebasan Alice dengan pedangnya. Dia terkejut karena angin dari tebasan Alice membuat pedangnya membeku.
Wajahnya kesal. "Ada apa? Apakah kau tidak bisa menirunya?" Alice tersenyum. Pertanyaannya terdengar seperti sebuah sarkasme.
Erebos dan doppelganger itu tidak tahu jenis sihir apa yang Alice gunakan.
"Apa itu? Bukankah itu hanya sihir elemen air tingkat tinggi?" Tanya Erebos dengan ekspresi terkejut.
Nyx mendengus senang. "Tidak semudah itu untuk mengalahkan gadis itu. Kau? ingin mendapatkannya? Sadarlah Erebos!" Balasnya terdengar membanggakan diri.
Erebos mengeratkan giginya. "Tidak manusia ini, tidak serigala liar itu. Mereka semua sama-sama menyembunyikan banyak trik." Erebos pun mengalirkan lebih banyak Mana pada doppelganger buatannya.
Alice menyipitkan matanya ketika ia merasakan energi besar yang tiba-tiba keluar dari tiruannya. Bibir doppelganger itu bergerak. Saat itu juga Alice sadar kalau dia sedang menggunakan mantra sihir.
[Dragon Breath]
Doppelganger menyemburkan api dari lingkaran sihir di tangannya. Api yang membara. Alice tidak memiliki pilihan untuk mengelak, kalau tidak, dinding pohon yang ada di belakangnya mungkin akan terbakar.
Alice membuka pedangnya yang dilapisi dengan Qi es. Kemudian ia membuat tebasan yang membentuk naga es untuk menelan semburan api itu.
Doppelganger kemudian melancarkan serangan selanjutnya. Ia dengan cepat membuat puluhan peluru api dan terbang ke arah Alice. Tapi dalam sekali ayunan, Alice menghempaskan peluru api itu.
[Blazing Sword] [Flame of Naraku] Seketika pedang doppelganger itu di selimuti oleh api yang sangat panas. Warnanya yang awalnya merah berubah menjadi berwarna hitam dan memberikan kesan menakutkan.
"Luar biasa. Aku bahkan belum mencoba sampai tahap itu. Apakah monster ini mengeluarkan semua potensi yang mungkin ada dalam diriku?" Gumam Alice takjub dalam benaknya.
Sekalipun doppelganger itu tak memiliki pemahaman tentang energi Qi, namun dengan Mana dan sihir yang seperti itu saja. Alice yakin kalau monster itu akan berdiri di atas puncak dari para ahli.
Tidak hanya kekuatan sihir dan rapalannya yang instan, bahkan kemampuan bertarung jarak dekatnya sebanding dengan Alice. Kedua talent yang langka menjadi satu membuatnya sedikit sulit untuk ditangani.
Doppelganger itu menggenggam erat pedangnya, dengan niat membunuh yang kuat ia berlari ke arah Alice. Di satu sisi, Alice merasa tertantang.
Bukankah pertarungan ini sama seperti sedang menguji dirinya? Sudah lama dia tidak merasakan pertarungan pedang yang menegangkan. Kali ini, dia dan doppelganger itu bertarung dengan gerakan mentah tanpa teknik khusus.
Kedua logam tajam mereka saling bersinggungan dan menghasilkan uap panas. Dua elemen yang saling berlawanan itu bertubrukan dengan sangat hebat.
Alice memutar tubuhnya di udara kemudian melayangkan tebasannya namun doppelganger menangkisnya kemudian ia melakukan serangan balik dengan sebuah sabetan dari arah samping.
Keduanya terlihat lihai dengan gerakan mereka. Saling menyerang dan menghindari serangan satu sama lain.
Nyx dan Erebos yang melihat penampilan kedua Alice itu terkagum-kagum. Baru kali ini mereka melihat pertarungan pedang semenakjubkan itu. Gerakan lihai mereka tampak bak keduanya sedang menari, namun serangan mereka begitu tajam menuju titik lemah lawan yang bisa membunuh dalam sekejap mata.
"Bahkan pertarungan para Dewa tidak semenarik ini." Gumam Erebos. Nyx mengangguk setuju.
Gadis manusia itu, Alice. Menyimpan begitu banyak rahasia dalam dirinya. Pikir Nyx.
"Kalau begini terus, tempat ini akan hancur perlahan-lahan." Benak Alice.
Bagaimana tidak, tekanan hebat dari pertarungan mereka benar-benar kuat. Apalagi dengan uap panas yang mungkin saja bisa merusak sisi dalam Yggdrasil.
Alice mendorong dirinya kebelakang dengan sebuah tendangan pada pedang doppelganger.
"Dengan jarak ini sepertinya sudah cukup." Pikirnya.
Ia menyarungkan kembali pedangnya. Kemudian berdiri tegap dan meletakkan pedangnya sejajar dengan dadanya.
Bagaimanapun doppelganger itu tidak bisa meniru tekniknya ini. Karena dia berada dalam pohon Yggdrasil, Alice tidak berencana untuk membuat gerakan besar. "Dengan satu gerakan pedang ini, akan ku akhiri pertarungan kita."
Alice dengan cepat memadatkan Qi pada pedangnya.
Doppelganger itu curiga ketika ia merasakan tekanan energi yang Alice keluarkan. Dia segera menembakkan panah api sambil berlari mendekatinya dengan pedang yang membara akan api hitam miliknya.
Ekspresinya panik dan khawatir saat panah apinya lenyap seketika saat mendekati Alice.
[Deep Freeze Abyss]
Saat doppelganger itu makin dekat dengan ujung pedangnya yang terhunus mengarah pada Alice, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti. Erebos yang menyadari akan kekuatan yang akan Alice lepaskan, segera memasang pelindung agar dia tidak terkena.
Doppelganger itu seketika membeku, lalu tersayat menjadi potongan-potongan kecil. Tubuhnya yang terbuat dari kumpulan Mana tidak memiliki kesempatan untuk menyatu karena es milik Alice.
"Cih. Aku tidak menyangka dia memiliki kekuatan yang begitu besar." Erebos sedikit kesal karena ia tidak menyangka bahwa makhluk ciptaannya bisa dikalahkan oleh Alice.
Setelah mengalahkan doppelganger, Alice pun menghancurkan telur plastida yang ada di langit-langit.
Ia tersenyum saat berbalik dan melihat energi wanita elf itu tidak lagi diserap keluar.
Alice pun berjalan menghampiri wanita elf itu dengan maksud untuk membebaskan tubuhnya keluar. Tatkala dia menarik lengan wanita itu, disisi lain Erebos menyeringai dengan wajah puas.
Alice tidak menyadari jebakan yang Erebos tanamkan pada wanita elf itu.