
Baal masih belum bisa melenyapkan rasa gelisah yang bersemayam dalam dadanya. Saat Astaroth telah pergi menjauh. Ia masih saja mengamati Alice dari ketinggian langit.
Melihat gadis manusia itu seperti sesuatu yang menyenangkan baginya. Rasa ketertarikan yang seharusnya tidak pernah ada dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya, perlahan timbul dalam dirinya terutama pada gadis manusia itu.
Dalam perjalanannya menuju kota Babilon, kawanan para pedagang itu dicegat oleh para penyamun gurun.
Para petualang yang ada dalam kelompok mereka dengan sigap segera bertindak dan melawan para penyamun itu.
Baal melihat pertarungan mereka berjalan dengan baik. Ya, seharusnya seperti itu. Sayangnya setelah beberapa saat kemudian, pemimpin penyamun mulai memberikan aba-aba dan memanggil anggotanya yang lain yang bersembunyi tak jauh dari sana.
Para petualang itu mengalami kesulitan karena jumlah mereka yang terlampau banyak. Mereka mungkin bisa melawan dua sampai tiga orang dan melindungi diri mereka, tapi tidak dengan kawanan pedagang yang ada di belakang mereka.
Baal terus memperhatikan pertarungan mereka dengan serius. Ia menunggu gadis manusia itu bergerak. Saat ia pertama kali bertemu dengannya, dari tatapannya saja Baal tahu kalau gadis itu bukanlah manusia biasa.
Saat para penyamun berhasil menahan pergerakan ketiga petualang itu, anggota mereka yang lain bergegas untuk merampas barang bawaan milik para pedagang.
Ketakutan merayapi wajah mereka. Kalau mereka mencoba melawan, pastilah mereka akan dibunuh. Namun...bagaimana mereka bisa kehilangan barang dagangan yang sebanyak ini?
Situasi menjadi tidak menguntungkan. Alice dan Elysia melompat dari unta mereka dan menghadapi para penyamun yang berusaha mendekat. Jarak perbedaan kekuatan mereka cukup besar, mereka hanya menang jumlah saja. Dimata keduanya, jumlah mereka yang puluhan banyaknya tetap tidak akan merubah apapun. Kekalahan mereka sudah diputuskan sedari awal.
Baal tercengang melihat gadis manusia itu bertarung dengan sangat baik. Gaya bertarung dan tekniknya begitu memukau. Pandangan Baal makin fokus dan hanya melihat dia seorang. Matanya tak berkedip dan seolah ada daya magnet yang menariknya, Baal merasa ingin turun untuk melihatnya lebih dekat.
"Teknik itu..."
Ketukan nostalgia membuat jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.
"Kenapa aku merasa seperti pernah melihatnya..." Baal bergumam dalam kepalanya.
Tak lama kemudian, para penyamun itupun lari terbirit-birit. Banyak dari mereka yang tewas sia-sia terutama mereka yang bertarung melawan Alice. Andai saja Alice membiarkan Elysia atau Fee untuk mengejar mereka, tentunya semua penyamun itu akan binasa. Tapi Alice memiliki rencana lain. Ia memberikan sebuah tanda pada salah seorang diantara mereka.
"Aku akan berurusan dengan mereka nanti." Pikirnya.
Alice dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Panasnya terik matahari yang menemani perjalanan mereka kini berganti menjadi malam. Kawanan pedagang tampak kelelahan apalagi dengan adanya penyergapan tadi siang. Malam yang dingin dan tubuh mereka sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. Mereka memutuskan untuk mencari tempat peristirahatan.
Setelah mereka menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat di dekat bebatuan, mereka pun melepaskan semua beban yang ada di pundak mereka.
Mereka mulai mendirikan tenda-tenda dan menyalakan bara api. Para pedagang mengeluarkan bekal santapan mereka untuk makan malam.
Setelah makan malam selesai. Ketiga petualang itu berbalik dan menghampiri Alice. Ketiganya memasang raut wajah kagum. Mata mereka bersinar melihatnya. Pertarungan Alice dan Elysia yang luar biasa membuat mereka tertarik pada keduanya.
Mereka pun memberanikan diri dan mengajak Alice juga Elysia untuk bergabung dalam kelompok mereka. Namun Alice menolak.
Asha, Zeke dan Palu. Ketiga petualang itu sedikit kecewa. Tapi mereka mengerti dan tidak harus memaksakan kehendak mereka.
Walau begitu, Zeke yang merupakan ketua kelompok mereka berusaha untuk mengambil hati Alice. Dia terpesona ketika melihat Alice bertarung dengan indah.
Zeke memiliki wajah yang kelihatan cukup tampan ketimbang orang-orang yang selama ini Alice temui saat ia berada di Amira. Dari penampilannya, Zeke mungkin terlihat masih di usia dua puluhan.
Apa yang sedang manusia itu lakukan? Pertanyaan sederhana itu timbul dalam benak Baal ketika melihat seorang pria mendekati gadis manusia itu.
Ternyata dia masih saja memperhatikan Alice dari jauh.
Dewa iblis dari dunia lain ini tampaknya sudah berubah menjadi seorang penguntit. Kesabarannya patut dipuji karena dia mampu bertahan dari siang hingga malam.
Zeke dengan lembut mengajak Alice berbicara. Ia menceritakan banyak hal tentang yang namanya petualang. Ia juga mengungkapkan tentang letak harta karun dan dungeon agar Alice tetap tertarik untuk mendengarkannya.
Alice tidak ingin bersikap tidak sopan. Ia terpaksa harus menahan raut wajahnya dan tetap mendengarkan Zeke. Walaupun sebenarnya apa yang Zeke sampaikan tidak semuanya membosankan. Alice cukup menikmati ketika ia membicarakan tentang harta karun dan lokasi dungeon yang ada di wilayah kota Babilon.
Kalau dari pandangan orang lain, percakapan mereka mungkin terkesan satu arah, soalnya hanya Zeke yang terus berbicara dan mencari cara untuk mencairkan suasana. Sementara Alice hanya membalasnya dengan beberapa kata singkat, anggukan atau senyuman.
Asha dan Palu saling menatap dan mengangkat kedua pundak mereka melihat upaya Zeke.
Yah, biarkan saja dia mencoba. Pikir mereka.
Asha, seorang gadis muda dan Palu, lelaki yang cukup tua untuk dipanggil seorang Paman. Kelompok mereka mungkin terlihat sederhana tapi mereka bertarung dengan baik. Ketiganya saling memahami sehingga mereka bisa saling menutupi kekurangan masing.
Sementara itu, Baal mengerutkan dahinya. Ada perasaan tidak menyenangkan yang membuatnya gelisah. Nafasnya seolah tercekik. Semakin ia melihat pria itu mendekati gadis manusia itu, semakin kuat jantungnya berdegup.
Menjengkelkan! Baal melototi pria itu. Ia pun berbalik pergi meninggalkan mereka. Baal tidak mengerti dengan gejolak rasa yang memupuk dalam dirinya. Semakin ia bertahan disana, maka ia akan semakin asing terhadap dirinya sendiri.
"Semenjak aku bertemu dengannya...aku menjadi sulit mengontrol emosi ini. Sebagai dewa iblis, aku telah lama menghapus semua perasaan yang tidak berarti ini. Sebagai ganti untuk mendapatkan kekuatan, aku membuang semua hal yang bisa mengganggu ku. Tapi kenapa gadis itu memberikan perasaan yang hangat dan membuatku tenang saat melihatnya." Baal tertegun menunduk sambil memegang dada kanannya.
Di bawah indahnya cahaya rembulan dan kerlap-kerlip bintang-bintang yang menghiasi malam. Baal terpaku di bawah naungan langit dengan perasaan dilema. Perasaan bercampur-aduk menjadi berantakan.
"Haruskah aku melenyapkanya agar dia tak menghalangi jalanku?" Baal menyipitkan matanya sembari melihat ke arah dimana Alice berada.
Setelah fajar menyingsing, kawanan mereka pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mereka tiba di kota Babilon.
Berkat bantuan Zeke dan rekannya, Alice dan Elysia bisa memasuki kota Babilon dengan mudah. Tidak hanya di kota Amira saja, tapi kelompok mereka ternyata terkenal juga di kota Babilon.
Setelah berpisah dari kawanan pedagang dan kelompok Wind Gale. Alice bersama Elysia pergi mencari penginapan lalu mereka menuju ke serikat petualang.
"Apakah kita akan mendaftar menjadi petualang?" Tanya Elysia pada Alice setibanya mereka di depan gedung serikat.
"Ya. Sepertinya menjadi petualang memiliki banyak manfaat. Aku pernah menjadi seorang pemburu bayaran di kerajaan ras deemon, kurasa sistem peringkat mereka mungkin tidak jauh berbeda."
"Pemburu bayaran?"
Elysia tahu kalau para pemburu bayaran itu adalah kumpulan orang-orang yang nekat. Mereka memang kuat dan seringkali bertindak berlebihan dengan memburu monster-monster yang kuat bahkan lebih kuat dari mereka. Elysia tidak menyangka kalau ternyata ibunya merupakan salah satu dari orang-orang itu.
"Kalau begitu ibu berada di peringkat apa?"
Elysia terkejut dengan mata terbelalak saat Alice menunjukkan lencana adamantine miliknya padanya.
"Hehe~" Alice tersenyum lebar. "Begini-begini ibumu ini seorang pemburu profesional loh~" Katanya dengan ekspresi bangga.
"Sebelum aku meninggalkan kerajaan ras deemon, aku melakukan kontribusi besar dengan mengalahkan Cecillion." Benak Alice. "Tidak hanya itu, Rose bahkan memberiku banyak imbalan saat aku mengembalikan Cecillion padanya dalam keadaan hidup. Yah... meskipun aku melumpuhkannya."
Tidak hanya ibunya adalah seorang pemburu tapi dia sebenernya adalah seorang pemburu peringkat tinggi.
Walaupun negeri para elf dan ras deemon itu berjarak sangat jauh. Namun mereka hanya terpisah oleh jurang dan jalanan terjal yang cukup sulit untuk dilalui. Sehingga masih memungkinkan untuk beberapa orang melewati perbatasan itu.
Berdasarkan cerita yang beredar, peringkat adamantine adalah peringkat tertinggi setelah platinum.
Sebenarnya berapa banyak rahasia lagi yang kau miliki bu?
Banyak hal yang ingin Elysia tanyakan. Ia menjadi antuasias dan ingin mendengar cerita ibunya saat-saat ia masih menjadi seorang pemburu.
"Lain kali aku akan menceritakannya padamu. Sekarang lebih baik kita masuk dan mendaftar terlebih dahulu."
Elysia mengangguk setuju lalu berjalan mengikuti Alice.
Saat pertama kali mereka melangkahkan kaki mereka melewati pintu. Sontak orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berbalik.
Wajah-wajah yang tidak bersahabat dengan mata yang melotot tajam dan penuh pertanyaan memandangi mereka.
"Hmm...aku jadi teringat waktu pertama kali mendaftar sebagai pemburu." Ucap Alice dalam batinnya sambil ia melirik ke seluruh ruangan.
Elysia melihat sekelilingnya. "Wah~ ibu, mereka kelihatan sangar-sangar." Bisiknya.
Alice tersenyum. Ia lalu berkata dengan lembut pada Elysia. "Jangan bilang begitu. Meskipun mereka terlihat seperti itu. Tapi mereka memegang rasa solidaritas yang tinggi."
Apakah petualang dan pemburu itu berbeda? Alice mengira kalau mereka memiliki konsep yang sama.
Walaupun mereka tidak jauh berbeda dengan yang namanya pekerja lepas, tapi organisasi mereka memiliki peraturan yang cukup ketat terhadap setiap anggotanya. Salah satunya itu adalah larangan untuk saling membunuh sesama anggota. Mereka bahkan tidak diperbolehkan bertarung sembarangan kecuali melalui duel yang adil dan telah disetujui.
Sekilas Alice mengingat kejadian saat ia menunjukkan kekuatannya di hadapan semua orang kala itu. Karena peringkat dan kekuatannya, kepala serikat tidak bisa berbuat banyak padanya meskipun ia melakukan kekerasan pada pemburu lainnya.
"Yang memulainya kan juga mereka. Aku hanya melakukan pembelaan diri saja." Gerutu batinnya.
Keduanya terus berjalan menuju meja resepsionis.
Di balik meja itu, seorang wanita dengan kulit coklat dan rambut hitam sebahu menyapa mereka berdua.
"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin mendaftar menjadi petualang." Balas Alice.
Wanita resepsionis itu terdiam sesaat. Ia melirik Alice dan Elysia dari atas hingga bawah.
Apakah mereka serius? Sedikit ragu ia lalu bertanya. "Ee.. apakah kalian yakin?" Resepsionis itu tersenyum canggung dan menggaruk pipinya.
Elysia mengangguk dengan cepat. "Tentu saja." Jawabnya.
Resepsionis itu kembali diam dan berpikir sembari melihat keduanya. Berselang beberapa detik, ia menghela nafasnya lalu mengambil dua buah kartu dari laci mejanya dan ditujukannya pada Alice dan E
"Baiklah. Tapi sebelum kalian mengisi kartu ini. Saya akan menjelaskan tentang hal-hal yang menyangkut petualang."
Dengan pelan dan penuh detail, wanita itu pun mulai menjelaskan semuanya secara rinci.