
Keduanya diam dan saling menatap. Ular raksasa itu telah mengunci Alice sebagai mangsanya dan begitu pun Alice yang bersiaga akan serangannya.
Tubuhnya yang besar memberikan perasaan intimidasi yang kuat bagi orang-orang yang melihatnya.
"Ular ini adalah The Devouring Serpent yang bisa melahap segalanya. Jangankan dirimu bahkan sihir kuat apapun bisa dia lahap sekilas saja. Kau pasti mulai ketakutan bukan? Kali ini tidak akan ada kesempatan untukmu dan untuk kalian semua melarikan diri." Jelas Iblis bertongkat dengan dadanya yang membusung. "Di negeri ini satu-satunya yang mungkin bisa menghadapi ular ini adalah Tower Master dari menara penyihir. Tapi sayang sekali. Kami tahu kalau Tower Master itu saat ini sedang tidak berada di kota ini." Lanjutnya di iringi suara tawa.
"Setelah kau mati disini, maka selanjutnya adalah giliran keluarga mu dan semua orang yang sayang." Tambah Walton dengan suara lantang.
Melihat arogansi Walton yang tak habis-habisnya bahkan setelah membuang kemanusiaannya. Alice tanpa ragu-ragu menerjang dan ingin segera menebas lehernya. Tapi ketika ia mulai mendekat, ular itu dengan gesit menghalangi Alice dengan tubuhnya.
Bak suara logam yang bertabrakan membuktikan kalau sisiknya sangatlah keras. Alice melompat mundur dengan menendang tubuh ular itu.
"Serangan biasa tidak akan mempan melawan kerasnya sisik itu." Gumam Alice setelah melirik bekas serangan yang tadi ia berikan pada ular itu.
Alice sekali lagi melapisi dan mempertajam pedangnya dengan Energi Qi. "Bagaimana dengan yang ini." Kemudian Alice bergerak cepat dan mengayunkan pedangnya pada tubuh ular itu. Tapi ketika pedangnya hampir menyentuh tubuhnya. Ekor ular itu lebih dulu menyerangnya membuat Alice menarik serangannya dan memutar posisi pedangnya untuk menahan serangan ular itu.
Alice terlempar mundur cukup jauh. Beruntung ia memiliki Qi yang melindungi tubuhnya yang melindunginya dari luka parah.
Alice menyipitkan matanya "Tak hanya besar tapi juga gerakannya sangat cepat." Ucapnya sambil mengelap bekas darah di sudut bibirnya.
Walton dan dua iblis itu tertawa puas melihat Alice yang kewalahan melawan Ular itu.
Alice memperhatikan gerak gerik Walton dan Iblis bertongkat itu. "Nafas kedua iblis di belakang itu mulai berat, pasti mereka menggunakan banyak Mana untuk memanggil ular sebesar itu. Jika bisa menghindari serangan ular itu. Aku yakin bisa membunuh mereka." Benak Alice.
Walton terkekeh dari balik celah tubuh ular itu. "Bagaimana kalau sebelum membunuh adikmu, sebaiknya aku menikmatinya dulu. Dan oh, mungkin kalau kami buat kau sekarat lalu menyaksikan ku bermain dengannya." Ucapnya sambil menyeringai dengan tatapan mata yang mesum.
Layaknya ada sebuah benang yang putus di dalam kepalanya. Kemarahan Alice pun memuncak. "Ada batasnya untuk memprovokasi!"
Alice mengeratkan rahangnya dan kepalan tangannya sekeras mungkin. Ia benar-benar tak tahan lagi untuk segera membunuh Walton."Bagus. Kau benar-benar pandai dalam membuatku marah. Karena kau benar-benar sudah tidak sabar untuk menunggu giliran mu, Aku akan segera membuatmu ke neraka lebih dulu."
Alice Memegang pedangnya dengan kedua tangannya tegak dengan mata pedang yang menghadap ke langit di hadapannya. Di letakkan pedang itu di depan dadanya lalu ia memutarnya perlahan sampai mata pedangnya menghadap tanah. Alice lalu menarik nafas secara perlahan dan melepaskan sedikit demi sedikit dari mulutnya. Ia menancapkan pedang itu ke tanah.
[Blossom! One Thousand Plum Petals First Form]
Semerbak angin musim semi dan bau bunga plum yang harum menyelimuti tempat itu. Para penonton saling melirik dan bertanya-tanya tentang dari mana datangnya bau bunga itu.
Bukankah di sekitar mereka tidak ada pohon atau pun bunga, lagipula saat ini adalah musim gugur. Lalu dari mana datangnya wangi bunga itu?
[ Plum Blossom Sword Technique, Eighth Style. Petals Dance ] Kelopak-kelopak bunga plum muncul entah darimana dan mulai menari-nari mengelilingi arena.
Entah Ilusi atau bukan, Ratusan pasang mata yang menyaksikan kemampuan Alice terkejut dengan kejadian itu. Pedang yang digenggam Alice berubah menjadi kelopak-kelopak bunga berwarna merah muda. Setelah itu terbang dan hilang begitu saja bak di sapu oleh angin kencang dan bagaimana bisa stadion itu di penuhi dengan kumpulan kelopak bunga yang sama.
Walton dan kedua iblis itu panik sesaat Namun setelah mereka yakin kalau tak ada yang terjadi, mereka mendengus dan menertawakan Alice.
"Ku kira apa tadi? Apa itu bagian dari pertunjukanmu Hah? Bagaimana kalau kau..."
[Plum Blossom Sword Technique, Third Style. Thorny Blossoms]
Kelopak bunga yang tajam bagaikan bilah pedang tiba-tiba muncul di sekitar Walton. Tanpa mereka bertiga menyadarinya, Tubuh walton termasuk urat lehernya tersayat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
Walton tewas begitu saja dan membuat kedua iblis itu panik.
"Hah?A-apa yang barusan terjadi? Devouring Serpent bahkan tak menunjukkan reaksi apapun." Panik Iblis bertongkat.
Iblis bertongkat itu geram dengan situasinya yang tak jelas. Ia tak tahu sihir jenis apa yang Alice gunakan untuk membunuh Walton di depan matanya dalam sekejap. Iblis bertongkat itu dengan kesal lalu segera memerintahkan Ular itu untuk menghabisi Alice.
Ular itu membuka mulutnya dengan lebar dan segera menyerang Alice dari atas.
Alice melompat sekali ke samping kemudian ia mengayunkan tangannya dari atas ke bawah seolah-olah ia sedang menebas menggunakan pedangnya [ Sixth Style Falling Petals Sword]
Satu, dua, tiga tepatnya tujuh buah pedang dari kelopak bunga plum terbentuk tepat di atas kepala ular itu dan melesat kebawah dengan cepat.
Ular itu menjerit kesakitan. Percikan darah hijau yang sangat asam terciprat keluar dari kepalanya.
"Te-tembus? Bagaimana mungkin? Sihir apa sebenarnya yang ia pakai?"
Iblis berpedang itu menjadi lebih khawatir, kalau begini terus Mana dari rekannya akan habis dan membuat Ular itu menghilang sehingga mereka benar-benar kehilangan kesempatan untuk membunuh Alice. Iblis berpedang itu menyalurkan lebih banyak Mana miliknya pada rekannya.
"Sial! Bantu Aku. Bagaimana mungkin kita di kalahkan oleh gadis kecil Sepertinya." Ucapnya Iblis bertongkat dengan kesal.
Iblis berpedang itu mengangguk. Ia berhenti menyalurkan Mananya lalu berjalan untuk mengahadapi Alice.
"Hooh~ Dua lawan satu? Bagaimana dengan rekanmu? Apakah baik-baik saja meninggalkan dia di belakang sana? Apa kau yakin dia tidak akan bernasib sama dengan bocah bodoh yang disana itu?" Alice melirik mayat Walton dengan wajah tersenyum.
Setelah melihat kemampuan Alice, Iblis berpedang itu tidak tahu apakah perkataannya hanya gertakan semata atau memang ia memiliki kemampuan untuk membunuh rekannya di depan matanya sama seperti yang ia telah lakukan pada Walton. Ia mendecihkan lidahnya kesal.
"Bodoh! Jangan terpancing perkataannya. Aku sudah merapal sihir pelindung." Kata Iblis bertongkat itu dari belakangnya.
Karena rekannya berkata seperti itu. Ia kembali fokus untuk melawan Alice.
Di mulai dengan ular itu yang mencoba menerkamnya dari depan lalu dilanjutkan dengan serangan pedang yang bertubi-tubi. Pelan tapi pasti. Keduanya yakin kalau mereka mulai membalikkan alur pertarungan.
Alice tahu dengan tingkat kultivasinya saat ini, ia tak akan bertahan begitu lama. Apalagi ia sudah menggunakan banyak Qi.
Ular selanjutnya menyemburkan racun asam yang bahkan bisa melelahkan arena pada Alice berkali-kali. Dengan tangkas dan lihai Alice melompat dan menghindari serangannya.
Melihat serangannya gagal, Ular itu menerjang Alice sekali lagi. Ia memutar tubuhnya setelah Alice berhasil menghindarinya. Ular itu dengan cepat menghantam ekornya pada Alice.
Suara ledakan begitu nyaring membuat beberapa penonton menggigit jari mereka. Apakah gadis itu baik-baik saja?
"Kakak!"
"Kakak Nian!"
"Nona Alicia!"
Iris, Marianne dan Mary kaget. Rasa cemas mendalam bisa dilihat dari raut wajah mereka. Sementara itu Leon dan percaya dan berharap kalau Alice baik-baik saja.
Kepulan debu akibat hantaman ekor ular itu menutup sebagian arena. Tak tinggal diam, Iblis berpedang itu memanfaatkan kesempatan itu dan melompat masuk.
[ Armor Piercer ] [ God Speed Slash ] [ 64 Slash in 1 Swing ] Iblis berpedang itu melepaskan kemampuannya setelah ia melihat sosok bayangan hitam. Ia yakin kalau itu adalah Alice dan ia yakin kalau Alice sudah terluka parah dan tak sanggup untuk menghindari serangannya.
"Hyaaaaaattt!!!"