Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 65



Setelah memulihkan dirinya, Alice dan Echidna mulai menelusuri lorong-lorong gua untuk mencari jalan keluar. Pagi dan malam yang tak terasa, entah sudah berapa lama Alice berada dalam gua itu. Terlebih lagi ia tidak tahu dirinya saat ini berada dimana.


Dengan menyebarkan Qi miliknya dan merasakan wilayah sekitarnya, Alice menggunakan kesadarannya untuk menghindari jebakan-jebakan yang ada dalam gua tersebut dan dengan bantuan kekuatan Echidna yang selalu ada untuk ibunya, mereka berdua telah mengalahkan banyak monster.


Alice takjub melihat ukuran yang besar dan bentuk yang aneh dari para monster yang menyerang mereka. Gua yang begitu gelap itu ternyata dipenuhi berbagai macam jenis monster. Entah itu ular, kelabang raksasa atau kelelawar yang ukurannya tidak normal, bahkan ada juga serigala yang ganas. Tidak hanya itu saja, para monster yang menyerang mereka juga memiliki kemampuan dan jenis elemen yang bermacam-macam serta kekuatan kekuatan tempur yang sebanding dengan penyihir level 5.


"Echidna masih kuat?" Alice menunduk khawatir saat melihat Echidna yang begitu aktif dan lincah untuk mengalahkan banyak monster.


Echidna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Baginya monster-monster lemah itu tak lebih dari menginjak seekor serangga kecil.


Alice membalas senyuman Echidna. Ia lalu mengamati sekitarnya. "Aneh. aku bahkan tidak melihat satupun mayat para monster yang sudah kami kalahkan." Gumamnya heran saat ia melirik ke tanah namun tak menemukan apapun, bahkan setetes darah pun tidak berbekas.


"Sebenarnya tempat apa ini?" Batinnya gelisah. Mereka lalu kembali melanjutkan perjalanannya.


Echidna bersenandung bahagia saat menggandeng tangan ibunya. Ia mengayunkan-ayunkan tangannya dan tersenyum manis. Gema lantunan merdunya menghiasi senyapnya lorong gua itu. Setelah melihat kekuatan Echidna, Alice merasa tak perlu khawatir. Yah, meski begitu ia tetap harus berhati-hati jika sampai menarik perhatian monster yang lebih kuat.


Tak peduli seberapa banyak monster yang datang, Echidna pasti bisa menanganinya. Dalam hatinya, ia merasa senang ketika ia mendapatkan pujian dari ibunya.


Langkah Alice kemudian kandas saat ia kembali bertemu dengan persimpangan. Tiga lorong yang berbeda membuat ia berpikir sejenak. Mengingat kalau sebelumnya ia sudah mengambil jalur kiri, kali ini ia memilih untuk mengambil jalur bagian kanan, namun kakinya berhenti saat Echidna menahan tangannya. Alice berbalik dan melihat Echidna menggelengkan kepalanya.


"Mama, tidak boleh lewat sana." Katanya. Echidna lalu menunjuk ke arah yang berlawanan. "Mama, lewat sini. Aku tidak suka lewat sana." Lanjutnya.


Untuk pertama kalinya Echidna mengutarakan pikirannya. Sejak tadi ia selalu mengikuti jalan apapun yang Alice ambil. Alice penasaran, entah apa yang membuat Echidna tidak ingin mengambil jalur yang ada disisi kanan.


Alice berbalik untuk melihat lorong itu. Ia memejamkan matanya sejenak dan menelusuri lorong itu dengan kesadarannya, namun sayang sekali ia tak merasakan apapun. Alice kembali melihat Echidna yang memandangnya dengan tatapan memelas.


"Baiklah, Kita lewat jalan yang Echidna pilih." Alice merasa kalau keputusan Echidna pasti ada alasan di baliknya.


"Um." Sahut Echidna mengangguk. Dengan begitu mereka pun mengambil jalan yang ada di sebelah kiri.


Setelahnya, Echidna mulai menuntun Alice. Ia menunjukkan jalan-jalan yang harus mereka lalui dan anehnya semakin ia mengikuti petunjuk Echidna, monster yang mereka lawan menjadi lebih lemah dan lebih sedikit.


Alice terheran-heran dan ia pun bertanya pada Echidna. "Apa Echidna tau tempat ini?"


Echidna memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sebentar, mencoba mengingat-ingat tapi ia tak menemukan jawabannya sama sekali. Ia menggelengkan kepalanya. Walau begitu dalam hatinya ia merasa kalau ada sesuatu yang menghubungkan dirinya dengan gua ini. Sesuatu yang terasa akrab sampai-sampai tanpa sadar ia tahu jalan yang harus ia tempuh untuk keluar dari gua itu.


"Begitu ya. Echidna tidak perlu memaksakan diri untuk memikirkannya."


"Umm."


Setelah melewati banyak cabang lorong dan monster-monster kecil. Akhirnya mereka melihat sesuatu di ujung jalan. Alice menebas Laba-laba kecil terakhir yang menyerang mereka.


"Kenapa ada pintu disini?" Tanya Alice pada dirinya.


Mereka kemudian menghampiri pintu itu. Saat berada di depannya, Alice melihat kalau pintu itu tidak memiliki pengaman apapun. Ia lalu mendorong pintu itu dengan mudahnya.


Alice menengok ke dalamnya dan hanya melihat ruangan kosong melompong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan ataupun jejak makhluk hidup yang pernah mendiami ruangan itu.


Alice berjalan masuk disusul oleh Echidna yang menggenggam tangannya. Ketika mereka telah sampai di tengah ruangan. Tiba-tiba sebuah susunan lingkaran sihir aktif dan menyilaukan mata mereka. Takut ia terpisah dari Echidna, Alice menguatkan genggamannya.


Alice membuka matanya. "Ini...Dimana?"


Pemandangan langit jingga yang aneh dan tanah kehidupan yang terasa berbeda. Alice merasa kalau tempat ia berada saat ini bukanlah kerajaan Solus. Sedikit kecurigaan juga muncul dalam benaknya kalau tanah ini bukanlah tempat dimana ia seharusnya berada.


Alice menekuk lututnya dan memeriksa kondisi Echidna. "Apa Echidna baik-baik saja?" Tanya Alice memegang kedua pundak Echidna. Ia lalu membelai kesamping rambut yang menghalangi pandangan mata Echidna.


Echidna menganggukkan kepalanya dua kali. "Aku baik-baik saja mama."


Alice mengangkat pandangannya dan mencoba mencari seseorang atau tempat yang bisa kunjungi dengan matanya. Bagusnya, ia menemukan sebuah pemukiman penduduk yang tak jauh tempat mereka.


"Echidna masih kuat jalan? Mau mama gendong?"


Echidna menggelengkan kepalanya. "Aku masih kuat, Mama tidak perlu cemas."


Alice mengelus lembut Kepala Echidna "Bilang ya kalau sudah tidak kuat, nanti mama gendong." Meski belum lama ia menerima Echidna sebagai putrinya, ia sudah terdengar layaknya seorang ibu yang penuh perhatian dan kasih sayang. Mungkin ada bagusnya juga ia berpetualang ditemani oleh seseorang.


Keduanya lalu berjalan menuju Desa kecil yang ada dekat kaki bukit.


Alice lega, ketika dari jauh ia melihat siluet seseorang. Ia segera menghampiri orang itu.


"Permisi." Tegur Alice, pada wanita yang sedang membawa ember.


Wanita itu berbalik dan membuat Alice hampir mengambil posisi siaga karena penampilannya yang berbeda. Sungguh penampilan yang sedikit nostalgia.


"Ya. Ada apa?" Sahut wanita bertanya.


Sekilas Alice bisa merasakan tatapan wanita itu yang terasa seperti sedang mengamati dirinya.


"Aku ingin bertanya tentang kota terdekat dari sini?"


Wanita itu bersenandung sejenak sambil melirik Alice dari atas kepalanya hingga ke bawah. "Kau...bukan penduduk sini ya?"


"Benar. Kami datang dari..--"


Wanita itu memotong kalimat Alice dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. "Bukan kalian. Tapi hanya kau. Ya, maksudku dirimu." Ucapnya sambil mengarahkan telunjuknya pada Alice.


"Aku?"


"Ya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu. Seperti...kau bukan bagian dari kami."


Begitu ya...


Besar kemungkinan orang yang di hadapannya bukanlah ras manusia begitu juga dengan tempat itu. Alice menarik nafasnya dan memandangi wanita itu dengan serius.


"Ya. Kau benar. Aku seorang manusia."