Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 94



Ketika Iris tersadar, dia tak lagi bisa mengendalikan tubuhnya. Dia melihat seorang deemon pria berambut putih tersenyum padanya begitu lembut sambil memperkenalkan dirinya. Namanya Cecilion, walaupun dia memberikan perhatian hangat padanya. Namun Iris menepis semua kehangatan dan kelembutan itu. Selain karena dia adalah seorang iblis, Iris juga tak bisa mengendalikan tubuhnya pasti karena deemon Cecilion itu. Apapun yang Cecilion katakan maka itu menjadi sebuah perintah baginya. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya, matanya hanya bisa memandangi apa yang sedang terjadi, mulutnya dan suaranya pun ikut terkunci.


"Aku takut...Kakak..." Dalam hatinya Iris menangis. Di tempat yang jauh dari rumahnya dia tidak bisa mengharapkan siapapun untuk datang menolongnya di tanah milik ras iblis selain kakaknya.


Keesokan harinya, Iris beberapa pelayan datang merias dan memakaikan busana aneh padanya. Sebuah gaun putih dari atas ke bawah menutupi dirinya. "Gaun ini..."


Iris memandangi pakaian Cecilion yang berdiri di hadapannya setelah ia selesai dituntun oleh para pelayan ke sebuah tempat yang tampak megah. Dia melihat penampilannya seperti seorang pria yang akan melangsungkan pernikahan. Kecemasan dalam batinnya makin menjadi-jadi. Apakah dia akan menikahi seorang pria dari ras iblis? Tidak salah lagi. Apa yang dia kenakan memanglah gaun pernikahan.


"Tidak! Aku Tidak Mau! Huhuhu...." Iris hanya bisa menangis dalam hatinya tanpa bisa melakukan apapun.


Rasa jijik dan takut kembali datang ketika deemon itu membelai pipinya. Iris tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada dirinya kedepannya. Pernikahan itu terus berlanjut hingga Cecilion memasukkan cincin di jari manisnya dan akhirnya tiba ketika dia ingin menciumnya.


Ingin rasanya Iris mendorong Cecilion sekuat tenaga dan menggunakan sihirnya tapi apalah daya yang bisa ia perbuat. Seperti mengerti apa yang deemon itu inginkan. Tubuhnya hanya bisa terdiam dan menyerahkan ciuman pertamanya pada seorang iblis. Wajah Cecilion makin dekat, rasa putus asa terus mekar membuatnya menyesal karena telah ikut berperang. Dia mengingat terakhir kalinya ketika ia dengan ceroboh jatuh dalam perangkap deemon itu. Tinggal sedikit bibir merah muda itu akan berciuman dengan seorang pria Tapi tiba-tiba saja pintu besar di aula itu meledak dan menimbulkan suara besar yang menarik perhatian semua orang yang ada. Iris melihat seorang deemon wanita yang sangat menawan dengan tanduk di kedua sisi kepalanya dan mengenakan kacamata.


"Dia...." Tidak mungkin baginya untuk mengharapkan deemon itu adalah kakaknya. Meski begitu, Iris sedikit berterima kasih karena dia telah menghentikan iblis yang ingin merenggut ciuman pertamanya.


Deemon wanita itu berdiri dengan begitu mendominasi. Is berjalan perlahan ke tengah-tengah kerumunan seolah ia tidak memiliki ketakutan sedikitpun. Sambil melihat, Iris juga mendengarkan percakapan mereka. Ternyata dia adalah seorang deemon dari suku oni.


"Apakah suku oni itu begitu kuat?" Tanya Iris dalam batinnya. Wajar baginya untuk bertanya melihat fisik deemon wanita itu begitu kecil dibandingkan lawannya. Apakah ia sanggup mengalahkan mereka?


Iris tidak bisa mengalihkan pandangannya saat ia melihat deemon wanita itu bertarung. Bukan hanya kuat, namun gerakan deemon wanita itu tampak begitu anggun dan indah di matanya. Pukulan, tendangan bahkan saat ia menebas musuhnya dengan ayunan pedangnya yang tajam itu tampak seperti dia sedang menari. Rasa akrab akan gerakan itu, ya, Iris merasa kalau gerakan itu seperti.... kakaknya.


"Tidak. Itu... tidak mungkin dia." Meski kecil kemungkinannya, tapi Iris ingin sekali berharap kalau yang dia lihat saat ini, yang bertarung di tengah-tengah itu adalah kakaknya. Namun dia mencoba menepis perasaan itu. Saat ini dia hanya ingin segera pergi dari tempat itu.


Iris terus memperhatikan gerak-gerik deemon wanita itu. Dia menjatuhkan lawan yang datang padanya satu demi satu. Gerakannya memang aneh dan terlihat tidak beraturan. Namun justru karena itulah tak satupun musuhnya yang bisa menebak kemana dia akan menyerang atau menghindar.


Penyerangan deemon wanita itu ternyata karena Cecilion yang merebut anaknya.


"Orang sepertinya memang pantas mati." Umpat Iris pada Cecilion dalam benaknya.


Ketika salah satu iblis dengan ukuran tubuh yang begitu besar terbang di sampingnya hingga menghantam tembok di belakangnya. Iris terkejut. Kekuatan macam apa itu? Sungguh tenaga yang besar sampai bisa menerbangkan iblis yang ukurannya jauh lebih besar darinya.


Tapi hal lain selanjutnya yang membuat dirinya lebih terkejut adalah perubahan suasana yang tiba-tiba. Perasaan dingin mencekam perlahan mengisi ruangan itu. Seperti ada tangan yang mencekik semua pergelangan kaki orang-orang yang ada di aula itu sampai-sampai mereka semua terdiam kaku tak bisa bergerak.


Mata Iris yang melirik melihat iblis besar tadi itu kembali ia arahkan pada deemon wanita yang berdiri di tengah-tengah.


"Apa yang terjadi? Dia...apa yang terjadi padanya?"


Wanita oni itu mengeluarkan aura menakutkan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Padahal ia hanya memalingkan pandangannya dua detik saja namun aura deemon wanita itu tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Iris pun melirik wajah Cecilion di sampingnya. Dari ekspresinya bisa ia lihat kalau iblis itu sedang menahan rasa takutnya dan berpura-pura tegar.


"Tidak hanya putri ku. Kau bahkan berani meletakkan tangan mu yang kotor itu pada adikku?!"


Suara wanita yang tadinya terdengar lembut nan syahdu itu menjadi dingin dan tatapannya benar-benar membuat orang ingin lari terbirit-birit saat melihatnya.


"Eh!? Tadi...apa yang dia katakan? Apakah aku salah dengar?" Sepertinya telinganya baru saja melewatkan sesuatu yang penting.


"Apakah dia baru saja mengatakan adiknya? Siapa? Siapa adik perempuan yang dia maksud itu?" Iris terus bertanya-tanya dalam benaknya karena rasa heran yang bercampur penasaran.


Kesampingkan rasa penasaran itu. Deemon wanita itu seketika diam tak bergerak, ia bahkan menutup matanya. Padahal saat ini terlihat banyak celah darinya tapi para iblis di sekelilingnya tak berani mendekat. Mereka hanya saling melirik untuk memutuskan siapa yang akak maju lebih dulu.