Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 25



"Bagaimana persiapan turnamen tahun ini?" Tanya Marianne pada teman di sampingnya.


"Semua sudah kami laksanakan, kami telah memilih beberapa kandidat yang mumpuni." Gadis disampingnya itu memperbaiki posisi kacamatanya sejenak "Dan juga kami mendengar kabar kalau nona kedua dari keluarga Strongfort akan turut berpartisipasi dalam tim kita." Lanjutnya.


"Oh, Kebanggaan keluarga Strongfort ya? Kurasa tahun ini kita tidak perlu terlalu khawatir untuk kalah." Balas gadis yang satunya dengan senyum tipis di wajahnya.


Ketika mereka berjalan melewati taman dengan sebuah air mancur. Seorang gadis dengan gembira memberi makan beberapa ekor merpati liar.


Di bawah teduhnya langit senja, gadis itu membagi-bagikan potongan rotinya dan bibirnya bergerak seperti ia sedang berbicara pada mereka.


"Ayo..ayo..makan yang banyak ya.." Ucap gadis itu samar-samar menghampiri telinga keduanya.


"Siapa dia?"


"Dia...hmm...dia Alicia Lein Strongfort." Jawab gadis berkacamata.


Marianne mengernyitkan alisnya seolah tidak percaya. "Alicia? Maksudmu Alicia yang itu kan?"


"Ya Tuan putri."


Marianne berdiri menatap Alice dengan tatapan penasaran. "Seingatku dia tak seperti itu sewaktu kami pertama kali bertemu."


Masih jelas saat pertama kali bertemu mereka dalam sebuah pesta. Alice yang ia tahu waktu itu adalah gadis naif yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang dunia ini. Ia hanya gadis bergelimangan harta dan status yang tinggi. Sekilas ketika Marianne melihatnya, ia tahu kalau Alice bukanlah pewaris yang cocok untuk keluarga Strongfort. Apalagi ditambah beberap rumor buruk tentangnya.


Jika andai kata Alice tak mengambil kesempatan untuk berbicara dengannya mungkin Marianne masih bisa menaruh sedikit simpati sebagai sesama murid di akademi yang sama, tapi melihat senyuman dan tutur katanya dikala ia datang dan mengajak Marianne bertukar kata. Marianne teringat dengan para bangsawan tua yang selalu mencari muka di depan Sang Raja yaitu Ayahnya.


"Tuan putri? Tuan putri?"


"Oh, sampai dimana tadi?" Marianne terbangun dari lamunannya ketika gadis disampingnya melambaikan tangan di depan wajahnya.


"Mengenai latihan para ahli bela diri. Kami memiliki tiga kandidat yang mungkin cocok. Dua orang pengguna pedang dan seorang pengguna tombak. Bagaimana menurut anda?"


"Aku akan melihat mereka nanti. Aku akan mengetes mereka, apakah mereka memang cocok untuk bertanding nanti."


Marianne dan temannya kembali melanjutkan langkah mereka. Tapi Marianne merasakan ada sesuatu yang familiar yang terdapat pada Alice yang membuatnya tidak bisa untuk tidak tertarik padanya. Karena penasaran Marianne menoleh sekali lagi untuk melihat Alice. Mata mereka saling bertemu, senyuman hangat menyambut tatapan Marianne dan membuat ia tersentak.


" Tadi itu..." Ia seolah melihat sesuatu, sebuah bayangan akan seseorang dari kenangan masa lalunya.


"Tuan putri...Apakah ada sesuatu?" Tanya gadis berkacamata itu ketika ia melihat ternyata Marianne berdiri dua langkah di belakangnya.


Marianne menarik pandangannya dan kembali berjalan. "Tidak ada apa-apa." Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.


~


Turnamen pertandingan persahabatan antara beberapa akademi ternama antara kerajaan akan diadakan tiga hari lagi. Marianne sebagai penyelenggara kali ini telah memikirkan matang-matang persiapan mereka.


Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya, ia tiba-tiba teringat dengan Alice yang tersenyum padanya. "Aku merasa ada sesuatu yang akrab saat melihatnya tapi....apa itu? Dadaku sedikit sesak saat itu" Gumamnya.


Tak menemukan jawabannya Marianne lalu menutup matanya dan mulai terlelap.


Waktu terus berlalu begitu pula ketika ia masih tertidur. Marianne tenggelam dalam mimpinya. Ia tidak tahu dirinya berada dimana. Ketika ia melihat kedua tangannya, ia menemukan sebilah pedang dalam genggamannya dan darah yang mengalir cepat hingga membasahi sikutnya. Marianne terkejut dengan apa yang ia lihat, matanya terbelalak.


Darah segar itu....milik siapa?


Ketika ia mengangkat kepala, ia melihat seorang wanita yang tak asing baginya. Ekspresinya menjadi tak karuan. Ia takut. Ya dalam hatinya ia sangat takut, sedih dan sakit ketika melihat orang yang ada di depan matanya. Sosok itu mengeluarkan darah dari sudut mulutnya.


"Ti..tidak! Tidak mungkin! Tidak! Aku....Aku.."


Marianne takut melihat wajah orang itu, tapi ia lebih dikejutkan lagi saat ia menunduk dan samar-samar melihat pantulan wajahnya di pedang yang ia pegang. Ia tersenyum lebar.


"TIDAK!!!"


Marianne terbangun dari tidurnya dengan wajah yang berkeringat dan pucat, bahkan punggungnya ikut basah karena keringat. Ia memperbaiki nafasnya yang terengah-engah.


"Setelah sekian lama, kenapa mimpi itu kembali lagi." Gumamnya sambil ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku berusaha untuk melupakannya tapi kenapa mimpi itu Kembali seolah ingin menghantuiku lagi."


Malam yang panjang bagi Marianne, ia tidak berani untuk tertidur kembali. Bahkan perasaan takut menggerogoti pikiran saat ia mencoba untuk memejamkan matanya hanya beberapa detik saja.


Masa lalu dengan mimpi buruk selama bertahun-tahun itu membuat ia menderita. Ia telah mencoba berbagai cara untuk menghilangkannya, tapi tak ada satupun yang berhasil. Entah karena apa dan sejak kapan ketika tidurnya mulai nyenyak, Marianne sendiri tak mengetahuinya.


~


Di hari esoknya, setelah menyelesaikan makan siangnya bersama Tina, Alice sudah mulai akrab dengan para murid yang awalnya meras was-was terhadapnya.


Tak heran beberapa murid menyambutnya dengan sapaan lembut dan senyuman hangat saat mereka berpapasan. Alice dengan wajah teduh dan tutur bahasa yang halus serta suaranya membuat orang-orang luluh.


Awalnya semua murid bertanya-tanya tentang kecantikannya. Kulit putih yang mulus nan lembut itu membuat para gadis iri. Para gadis kerap kali mengerumuninya hanya untuk mencari tahu rahasia kecantikannya.


"Setelah mata pelajaran terakhir, kamu ada waktu luang gak?" Tanya Tina sudah terbiasa untuk bersikap santai pada Alice.


"Hmm...Tentu. Apakah ada sesuatu yang ingin kau lakukan?"


"Bagaimana kalau kita pergi berbelanja? Aku ingin mencoba kue yang baru dari toko kue di tempat biasa aku makan." Ucap Tina antusias.


"Kebetulan aku juga ingin mengambil pesanan ku." Batin Alice. "Boleh. Aku juga ingin mencicipinya kalau begitu."


"Benarkah?" Tina terkekeh merasa senang karena mendapat teman makan kali ini.


Biasanya Alice selalu membawa pulang kue yang ia pesan dan pada akhirnya hanya Tina sendiri yang makan saja.