
Wanita elf berambut pirang itu mengingatkan akan dirinya dimasa lalu. Alice menghela nafasnya mengingat betapa memalukan sikapnya kala itu. Tidak ada yang baik dan bisa dibanggakan darinya selain paras dan nama keluarganya. Setiap hari, dia selalu mencaci para pelayan, memperlakukan mereka seperti budak yang tak ada harganya.
Orgon tersenyum pahit. "Seperti itulah negeri ini. Walaupun tak ada yang namanya perbudakan disini, namun seperti yang anda bisa lihat. Kasta seolah menentukan takdir kami."
Orgon berlalu kembali ke belakang meja kasirnya meninggalkan Alice yang masih diam memandang keluar jendela.
"Tidak peduli kau jenius ataupun berbakat, walaupun kau berkemampuan, selama kau bukanlah seorang high elf, maka pekerjaan, status, semua aspek kehidupanmu telah ditentukan pada saat kau lahir." Ucap Orgon, ia kemudian mengambil sebuah belati kecil dan mengelapnya dengan kain putih.
Pelanggannya tetap berdiri disana. Kesunyian yang tiba-tiba seakan memberikan dengungan ngilu yang tidak mengenakkan telinga. Orgon sesekali melirik dari sudut matanya.
"Apakah dia begitu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata?" Batinnya. "Kuharap dia terbiasa, karena apa yang ia lihat saat ini adalah satu hal buruk dari sekian banyaknya hal buruk lainnya dari kerajaan ini."
Dugaan Orgon tidak sepenuhnya salah, namun apa yang membuat Alice tetap melihat pemandangan itu adalah karena tekanan Mana di sekitar wanita high elf itu perlahan berubah.
"Apakah anda ingin kesana? Sudahlah nyonya. Negeri ini memang tampak bagus di luarnya namun saat kalian tahu apa yang terselubung jauh di dalamnya, mungkin kalian akan berpikir dua kali untuk tinggal lama disini. Kejadian seperti ini sering terjadi di berbagai tempat." Jelas Orgon.
Lirih. Alice menatap tajam keluar jendela. Rasa pahit bercampur pilu membuatnya iba. "Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur urusan mereka, tapi apa yang wanita itu lakukan sudah sangat keterlaluan." Ucap Alice dalam kepalanya yang mendidih.
Walau tak bersuara namun Alice tahu kalau bibir wanita itu bergerak dan sedang merapalkan mantra sihir.
Orgon yang sedang mengelap senjatanya mendengar suara bel pintunya berbunyi, ketika ia menoleh, Alice itu sudah tidak ada disana.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau?" Orgon segera melihat keluar setelah jendela mendengar pertanyaan dari suara wanita high elf itu.
Matanya terbelalak karena terkejut. "Di-dia...." Tidak dia sangka, ternyata wanita itu keluar untuk menghentikan mereka.
~
"Untuk menggunakan sihir menghukum pelayanmu? Itu sudah sangat berlebihan." Benak Alice lalu ia keluar dari toko persenjataan itu.
Alice dengan cepat menangkap cambuk wanita high elf itu sebelum ia mengenai tubuh pria elf itu.
"A-Apa?! " Wanita high elf itu kaget akan kehadiran Alice yang muncul tiba-tiba dan menahan cambuknya yang dilapisi Mana dengan tangan kosong.
"Kau... Bukan seseorang dari ras kami. Menyingkir lah! Ini bukan urusanmu." Tegas wanita high elf itu namun Alice tidak bergeming. Ia hanya melepas cambuk yang ia tangkap tadi kemudian berbalik melihat keadaan pria elf di belakangnya yang penuh bekas luka.
Sorot mata wanita high elf itu seakan memeriksa Alice dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. "Ras hyuman rupanya. Tidak kusangka ada seseorang dari ras hyuman di kerajaan ini. Yah, masa bodo lah. Aku ingin kau pergi selagi aku masih berbaik hati."
Alice melihat pandangan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka kesal dan terlihat marah, namun tak ada satupun yang berani melangkah maju untuk menolong pria elf ini.
"Ini tidak jauh berbeda dengan perbudakan. Walau tanpa rantai atau segel. Mereka seolah hidup terjerat tanpa hak dan kebebasan." Batinnya sedikit marah.
"Apakah kau mendengar ku manusia?" Wanita high elf itu menjadi geram karena Alice tidak menghiraukannya. "Pengawal, tangkap dan seret dia. Aku ingin dia melihat apa yang akan terjadi karena kebodohannya."
Dua orang prajurit pribadi yang juga berasal dari suku high elf menghampiri Alice. Echidna segera melepaskan tekanannya Aura miliknya saat kedua tangan pria itu ingin menyentuh lengan Alice.
"Ghhhaakk!"
Tidak pandang bulu, Echidna tidak tanggung-tanggung untuk membuat semua orang terjatuh di atas lututnya. Terutama bagi kedua prajurit itu yang merasakan tekanan yang lebih besar.
Alice melihat ekspresi pria elf berambut hitam itu. "Aku tahu, tidak ada yang bisa ku lakukan untukmu." Alice meraih kepala Echidna lalu membelainya dengan lembut. Echidna mengerti, ia menarik kembali Aura nya.
"Sekalipun aku menolongnya kali ini, aku tidak bisa menjamin untuk yang selanjutnya. Dan seperti yang Dwarf itu katakan, aku tidak akan bisa mengubah apapun jika tidak menyelesaikannya dari akarnya."
Kalau ia membalasnya, Alice hanya akan menghasilkan dendam yang baru.
Alice menggelengkan kepalanya, berjalan pelan menghampiri wanita high elf yang tersungkur di tanah, ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Apakah kau tidak apa-apa?"
"...." Sikap wanita high elf itu sungguh membuatnya seolah ia sedang bercermin dan melihat dirinya yang dulu. Alice berbalik mengacuhkan ancaman wanita high elf itu. Ia mengeluarkan sebuah ramuan penyembuh dari cincin dimensinya lalu memberikannya pada elf pria berambut hitam itu. "Minumlah. Ini akan menyembuhkan lukamu."
Elf pria itu mengambilnya, suaranya terdengar pelan dan gemetar saat ia mengucapkan terima kasih pada Alice.
Tidak ada yang tahu identitas asli dan darimana datangnya manusia itu. Dia berjalan meninggalkan kerumunan dengan santainya.
Biarpun merasa telah telah dipermalukan, namun wanita high elf itu hanya bisa memandangi punggung Alice yang semakin menjauh. Dia dan pengawalnya tidak berkutik di hadapannya. Wanita itu mengeratkan giginya lalu berbalik kembali ke kereta kudanya.
~
Asiya segera berlari mengejar Alice. "Alice..!" Panggilnya.
Alice berhenti, ia menoleh melihat Asiya. "Asiya, ada apa?"
"Tadi itu...apakah kau bagian dari mereka?"
Alice memiringkan kepalanya tidak mengerti maksud Asiya. "Mereka? Siapa yang kau maksud dengan mereka?"
Asiya mendekatkan wajahnya lalu ia berbisik ke telinga Alice. "Kelompok para pemberontak itu maksudku."
"Tidak. Aku sama kali tidak memiliki hubungan dengan kelompok seperti itu."
"Ku pikir kau bagian dari kelompok mereka."
Wajahnya tampak sedikit kecewa.
Alice ingat kalau Asiya merupakan seorang komandan dari sebuah peleton. "Mungkinkah dia khawatir kalau aku bersama para pemberontak dan akan mengacaukan kerajaan ini?" Duga Alice dalam benaknya.
"Kau tidak perlu cemas. Kalau boleh, aku pun tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan kerajaan kalian. Tujuan ku cuma satu, yaitu hutan yang ada di wilayah utara."
Asiya mengangguk. "Kalau begitu. Apakah kau yakin tidak akan bergabung dengan mereka nantinya? Setelah melihatmu tadi, aku percaya kau pasti merasa kalau apa yang terjadi barusan pasti tidak adil bukan?"
"Adil atau tidaknya. Aku tidak bisa menentukan itu sendiri sebelum melihat semuanya. Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan pria tadi."
"Itulah kenapa aku mendatangi mu. Aku merasa kalau kau orang yang memiliki jiwa keadilan yang tinggi. Sebenarnya... Aku, aku itu bagian dari mereka."
Kedua alis Alice terangkat karena seorang komandan prajurit baru saja mengatakan padanya kalau ia adalah salah satu dari para pemberontak. "Apakah tidak masalah memberitahu hal ini?"
Bukankah itu bahaya jika seandainya ada yang mendengar apa yang baru saja ia katakan?
"Tidak. Itu sebabnya aku ingin mengajak mu untuk bergabung dengan kami. Kau lihat kan tadi. Itulah tujuan kami, kami ingin merubah tatanan negeri ini dan menyingkirkan para bangsawan high elf itu."
"Menyingkirkan mereka? Apakah kau akan membunuh mereka?"
Asiya menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kami ingin membuat mereka tahu seperti apa rasanya penderitaan kami, para elf lainnya selama ini."
"Begitu ya..." Alice terdiam sejenak. "Itu sungguh konyol." Lanjutnya membuat Asiya mengernyitkan alisnya.
Pemberontakan hanya untuk kepuasan tidak akan mendatangkan kesejahteraan. Alice paham dengan niat baik Asiya yang ingin menghentikan ketidakadilan itu, Namun kalau hanya untuk membalas dendam, Lantas bukannya hal itu hanyalah sesuatu yang muncul dari ego mereka.
"K-konyol katamu? Apa maksud mu? Selama ini kami para elf selalu diinjak dan ditindas oleh para high elf itu. Apa maksudmu dengan konyol kalau kami ingin membalas perbuatan mereka?"
Alice menghela nafasnya. Dia menepuk salah satu pundak Asiya. "Bukankah itu artinya kalian tidak jauh berbeda dengan mereka?"