Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 172



Alice terdiam untuk sesaat.


"Ibu... Apakah ibu tidak mau menceritakannya pada kami?" Tanya Elysia yang balik punggungnya.


Elysia perlahan bergerak ke sisi Alice. Dengan mata memelas dan ekspresi khawatir, ia menatap Alice.


Alice menoleh ke kiri dan ke kanan melihat kedua putrinya yang duduk di sampingnya.


Ia ragu. Apa yang harus ia katakan pada mereka. Keduanya adalah putrinya. Tapi... dalam hatinya masih ada sedikit rasa cemas. Trauma masa lalu yang pernah menorehkan luka di hatinya masih belum sepenuhnya pulih.


Walaupun mereka adalah putrinya, tapi sebenarnya mereka bukanlah darah dagingnya. Rasanya berat bagi Alice untuk menceritakan rahasianya. Reinkarnasi dan dunia para immortal, apakah Echidna dan Elysia bisa ia percayai?


Echidna adalah seorang Raja iblis dari ras Naga. Dia begitu kuat bahkan lebih kuat dari dirinya yang sudah memasuki ranah Immortal Realm. Namun yang lebih membuatnya ragu adalah karena Echidna adalah seseorang yang pernah menjadi tangan kanan dari raja iblis Thypon. Bagaimana jika kelak sesuatu terjadi dan ia berpaling darinya?


Sedangkan Elysia adalah seorang elf dari keturunan Silver elf. Walaupun dia menganggap Alice sebagai ibunya tapi semua itu terjadi karena hubungan mereka dalam dunia ilusi itu.


Alice melirik salah satu tangan Elysia.


Disana adalah simbol utusan dari Dewa Jahat Erebos. Alice belum mengerti kenapa simbol itu lenyap, tapi samar-samar dia masih bisa merasakan sedikit kekuatan Erebos di dalam diri Elysia. Dia takut kalau kelak Elysia akan benar-benar berdiri di sisi yang berbeda. Dia tidak ingin rahasia yang ia ceritakan menjadi sebuah belati yang nantinya akan mengancam dirinya dan keluarganya.


Alice memalingkan wajahnya lalu ia menunduk.


Sekilas Echidna melihat tatapan keraguan di mata mamanya itu. Dia mengeratkan giginya karena marah. Tapi bukan pada Alice melainkan pada dirinya sendiri.


Memori itu masih jelas tersimpan di kepalanya ketika dia dan Alice bertarung dengan sengit. Perasaan mendebarkan dan kepalan tinjunya itu masih mengingat dengan semua yang ia lakukan pada Alice saat itu. Dia masih menyimpan serpihan ingatan itu ketika Alice terbaring kaku di lengannya.


Echidna menutup matanya lalu berbalik. Ia menahan lengannya yang sedikit gemetar. "Kalau mama tidak mau mengatakannya... tidak apa-apa kok." Ucapnya lalu ia berbalik dengan senyuman yang palsu.


Elysia melirik Echidna lalu menatap Alice kembali. Bibirnya yang terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun ia mengundurkan niatnya. Elysia melepaskan lengan Alice.


Sama seperti Echidna. Elysia tersenyum lebar memperlihatkan giginya. "Hehe...apa boleh buat kalau ibu tidak mau mengatakannya. Ayo kak, kita makan lagi. Sebelum matahari terbenam, sebaiknya kita menikmati piknik ini."


Keduanya pun melangkah meninggalkan Alice.


Alice mengangkat tangannya dan ingin menahan mereka tapi perasaannya yang bercampur aduk menahan gerakannya.


Kedua tangannya menggenggam udara kosong. Mereka pun berayun turun kembali ke sisinya.


Lemas. Perasaannya menjadi tak karuan.


Dalam hatinya ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah begitu sulit bagiku untuk mempercayai mereka, padahal kami telah bersama selama ini.


Senyum puas Qin Ao Shuang sekilas melintas di kepalanya membuatnya tersentak. Wanita yang pernah ia anggap sebagai seorang sahabat ternyata adalah sosok yang bermuka dua yang bahkan tidak tega untuk menggorok lehernya.


Alice menggelengkan kepalanya. "Tidak! Mereka tidak sama! Mereka adalah putriku."


Alice terdiam menunduk di samping tumpukan batu itu.


Cukup lama ia bergelut dengan kebimbangannya. Elysia dan Echidna melihatnya semakin cemas tapi mereka juga enggan untuk menghampiri Alice.


Sorot mata Alice sebelumnya juga memberikan sedikit pilu bagi keduanya.


"Mama..."


"Ibu...."


Sampai matahari berada di ujung horizon, Alice menampar kedua pipinya cukup keras. Ia pun berdiri dari tempatnya.


Dalam diam ia melangkah dan duduk di hadapan kedua putrinya.


Alice telah meyakinkan dirinya. Echidna dan Elysia adalah putrinya. Walaupun mereka tidak terpaut darah, setidaknya keduanya tulus memilih dirinya dan menganggapnya sebagai ibu/mama mereka.


Alice menggaruk belakang lehernya. "Aku...akan memberitahukan semuanya pada kalian."


Canggung. Ia mengangkat kepalanya dan melihat kedua putrinya.


Mata Elysia dan Echidna melebar. Mereka benar-benar senang.


"Benarkah ibu? I-ibu tidak perlu memaksakan diri kok."


"Hmmm~" Alice menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya, tapi kalian pasti tidak akan mengerti. Jadi, aku ingin kalian memejamkan mata kalian."


Cerita tentang kehidupan pertamanya dan keduanya. Alice ragu kalau mereka bisa memahami apa yang akan ia katakan. Karena itu, ia memutuskan untuk mengirim ingatannya langsung ke dalam kepala mereka.


Selain itu, Alice belum bisa meyakinkan dirinya dengan Nyx dan Fee. Keduanya ada bersama mereka saat ini. Nyx bersemayam dalam lautan jiwanya sedangkan Fee bersembunyi dalam bayangannya.


Nyx adalah seorang Dewi yang merupakan saudari Erebos. Walaupun mereka kini bermusuhan namun darah lebih kental daripada air. Tujuan Alice adalah melenyapkan Erebos. Bisa saja Nyx iba lalu ragu kemudian menghalanginya. Itu hanyalah kemungkinan saja. Tapi Alice adalah seseorang yang penuh perhitungan sebelum bertindak.


Lain hal dengan Fee. Seekor serigala dari Ard atau dunia lain yang berbeda. Hanya sedikit yang ia tahu tentang Fee. Bahkan kekuatan Fee belum sepenuhnya ia lihat. Ia merasa kalau Fee tidak jauh berbeda darinya. Dia orang yang berhati-hati sampai-sampai menyembunyikan kekuatan aslinya.


Elysia dan Echidna mulai menutup mata mereka.


~


Banyak bangunan-bangunan megah dari logam dan kaca yang berdiri tinggi hingga menyentuh langit. Kereta yang juga terbuat dari logam aneh bergerak tanpa sihir atau pun seekor hewan yang menariknya.


Elysia dan Echidna memandangi seluruh pemandangan itu dengan takjub namun bingung.


Dunia seperti apa yang mereka sedang lihat. Baru kali ini mereka melihat dunia yang aneh seperti itu.


"Mungkin kalian tidak akan percaya, tapi ini adalah dunia di kehidupan ku yang pertama."


""Pertama?""


Alice berkomunikasi dengan mereka melalui pikiran.


"Ya. Lihatlah ke sana. Wanita itu... adalah diriku."


Sebuah gedung bersusun yang tidak begitu tinggi. Di dalamnya ada seorang wanita dengan rambut hitam sepanjang bahu mengenakan jaket panjang berwarna putih.


"Wanita ini... adalah ibu/mama?"


Keduanya memasang ekspresi tidak percaya dan heran. Bagaimana bisa ibu/mama mereka adalah wanita lemah. Mereka bahkan tidak merasakan aura yang sama dengan Alice yang mereka kenal.


Seperti yang Alice duga kalau mereka pasti tidak akan mengerti.


"Sebelum aku mati dan bereinkarnasi ke dunia kedua, wanita ini adalah aku di kehidupan pertama ku. Nama ku Seo Min Ah. Seorang Dokter di salah satu rumah sakit."


"Reinkarnasi? Pertama? Kedua?" Echidna bergumam pelan. Tampaknya dia sudah mulai bisa menangkap semuanya. "Itu artinya...ini adalah kehidupan ketiga mama? Benarkan?"


"Iya."


Sedikit demi sedikit, Alice menceritakan kehidupan pertamanya pada Elysia dan Echidna.


Dia menceritakan tentang kegiatan sehari-harinya, pekerjaannya dan sedikit tentang bumi yang ia tinggali.


Elysia dan Echidna sangat serius mendengarkan Alice. Mereka tidak menyela satu kata pun dan terus menyaksikan gambaran kehidupan Alice di kehidupan pertamanya.


Kadang mereka terpukau dan kagum dengan pekerjaan Alice yang sebagai dokter bedah. Tapi sesekali mereka juga sedih saat mereka mulai mendengar Alice yang hidup sendirian di dunia itu.


Mereka ingin memanggil wanita yang ada di depan mata mereka dan memeluknya dengan erat.


Seo Min Ah selalu berjuang keras di setiap harinya. Pekerjaannya sebagai seorang ahli bedah begitu berat apalagi ketika mendapatkan pasien darurat.


Sekali operasi minimal memakan waktu dua sampai tiga jam. Seo Min Ah bahkan terkadang harus begadang dan menahan kantuk ketika rumah sakit memanggilnya karena seorang pasien.


Rasa pilu itu bagaikan air yang mengalir ke dalam hati Elysia dan Echidna. Mereka tidak menyangka kerasnya hidup ibu/mama mereka di kehidupan pertamanya.


Seo Min Ah yang terkadang tertidur sambil menyandarkan kepalanya di meja membuat dada mereka menjadi sesak.


Di tempat kerja kehidupan begitu keras. Saat pulang ke rumah yang menanti hanyalah kamar yang sepi dan suram. Keduanya bahkan bertanya-tanya apakah rumah yang Seo Min Ah tinggali itu pantas disebut sebagai 'rumah'?


Kisah hidup Seo Min Ah membuat mereka iba apalagi saat terakhir ketika Seo Min Ah tewas karena kecelakaan. Sampai akhir hayat, ibu/mama mereka bekerja keras walaupun terkadang mengeluh. Sayangnya, Seo Min Ah tidak memiliki sandaran untuk menumpahkan keluh kesahnya itu.


Tanpa persiapan. Alice langsung memperlihatkan kehidupan keduanya pada kedua putrinya.


"Ibu/mama...ini...dimana?" Tanya mereka saat melihat pemandangan gubuk-gubuk tua di depan mata mereka.


"Apakah ini kehidupan kedua mama?"


"Iya."


"Kalau begitu...ibu ada dimana?"


Alice terkekeh. "Gadis kecil disana yang berdiri di samping kakek tua dengan pakaian lusuh itu adalah diriku."


Bagaikan belati terbang yang tiba-tiba muncul dan tertancap hati mereka.


"Ibu pasti bercanda kan?"


"Tidak Elysia, gadis berpakaian lusuh itu adalah aku. Di kehidupan kedua ini, aku adalah seorang gadis kecil miskin yang hidup dengan seorang kakek tua renta."


"Bisakah kita mengakhirinya...." Kata Echidna dengan pelan.


Setelah melihat pahit kerasnya kehidupan mamanya sebelumnya, Echidna merasa kalau dia sudah tidak sanggup lagi untuk melihat lebih banyak penderitaan mamanya.


"Apakah ini juga merupakan salah satu alasan ibu tidak ingin menceritakannya pada kami?"


"Tidak. Bukan itu. Elysia, Echidna. Kalian tak perlu sedih. Ini hanyalah kehidupan kedua ku dan semuanya sudah berlalu. Untuk alasan mengapa aku tidak ingin menceritakannya pada kalian..., kurasa kalian akan menemukan jawabannya saat melihat semuanya."