
Para prajurit telah kelelahan dan mereka sudah kehilangan moralitas perang mereka. Tapi salah seorang dari pasukan pemberontak terus saja maju menerobos barisan pasukan pertahanan milik kerajaan.
Dia adalah Asiya.
Setelah meminum ramuan yang diberikan oleh seorang prajurit padanya, Asiya menjadi orang yang berbeda. Ambisinya untuk menggantikan posisi Helian karena niatnya untuk meringankan beban kakaknya, berubah menjadi sebuah obsesi gila yang tidak pernah siapapun sangka-sangka.
"Kalahkan Sang Ratu. Kalahkan Sang Ratu. Kalahkan Sang Ratu. Bunuh. Benar. Bunuh. Dengan begitu aku akan mengalahkannya. Bunuh Sang Ratu. Bunuh Ratu Helian Empyrea." Bisikan negatif itu terus terngiang di telinganya, bahkan hingga ke dalam kepalanya.
Awalnya dia bisa menahan emosi negatif yang muncul dalam dirinya. Tapi seiring waktu berlalu dan melihat rekannya tumbang satu persatu, Emosi negatif itu menjadi makin kuat. Asiya tidak sanggup menahan nyeri di kepalanya, bagian dalam kepalanya terasa seperti di tusuk-tusuk ratusan jarum.
Layaknya sebuah racun yang membuatnya tertidur, Asiya seolah kehilangan jati dirinya. Kini dia sepenuhnya dikendalikan oleh nafsu dan perasaan haus darah.
Ramuan itu jelas berbeda dengan benda yang Oswald dan Gephard miliki. Ramuan yang Asiya minum tidak membuatnya kehilangan kontrak dan Mana murni miliknya sebagai ras elf dan sebagai pewaris darah keluarga kerajaan. Ramuan itu malah membuat Mana
nya meluap-luap tapi sebagai gantinya emosi negatif itu melahapnya dan membuatnya kehilangan akal sehat.
Tidak peduli kawan ataupun lawan. Asiya mengayunkan pedangnya dan menyingkirkan siapapun yang ada di jalannya. Tidak ada yang bisa menahan kekuatan sihir dari tebasan pedangnya. Elemen angin dan api itu menjadi satu, menciptakan api panas membara yang bisa menembus zirah baja dengan mudah. Bahkan material sekuat mitril pun tidak akan bisa menahan dua kali serangannya.
Matanya hanya tertuju pada satu orang.
"Heliaaannn!!! Haaarrggg!" Dengan sebilah pedang di tangannya, Asiya melompat tinggi hingga ke atas benteng istana.
Helian terdiam melihat perilaku tidak wajar adiknya. Selama ini, Asiya tidak pernah menyebut namanya secara gamblang seperti tadi. Semarah apapun dirinya, Asiya akan selalu memanggilnya dengan sebutan kakak atau paling tidak, dia akan memanggilnya sebagai seorang Ratu jika dia benar-benar sedang jengkel padanya.
"A-asiya?! K-kau...Apa yang terjadi padamu?" Helian bertanya dengan heran dan gugup. Ia cemas dan ingin mendekati adiknya namun pedang Asiya menghentikan langkahnya.
Perasaan ngeri bercampur takut dalam hatinya ketika melihat Asiya. Penampilannya mengingatkannya atas Oswald.
Tidak! Aku tidak ingin dia bernasib sama dengannya. Pikirnya.
Asiya mengangkat pedangnya dan mengarahkan ujungnya pada wajah Helian. "Heh! Kenapa? Apakah kau cemas? Takut? Kau tidak perlu memikirkan ku. Apapun itu, aku muak dengan semuanya tentang mu." Asiya menatap tajam Helian. Dia menggenggam pedangnya dengan sangat kuat hingga bergetar.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu? Bagaimana kau bisa berakhir seperti ini?" Helian semakin cemas karena ucapan adiknya yang sangat kacau. Dia bisa merasakan kalau para spirit dan peri lainnya takut mendekatinya. Namun energi Mana yang Asiya miliki begitu besar. Bagaimana bisa?
Helian curiga darimana Mana sebesar itu datang.
Saat ia tenggelam sejenak dalam kepalanya. Matanya seketika terbelalak. "Kau! Hentikan sekarang juga! Apa kau tahu apa yang kau lakukan saat ini?!"
"Aku tahu apa yang kulakukan sekarang. Berhentilah khawatir padaku. Cukup dengan omong kosong itu. Sekarang, bersiaplah menerima kematianmu."
Lonjakan Mana dari tubuh Asiya tiba-tiba memuncak hingga membuat orang-orang di sekitarnya kesulitan bergerak. Helian bahkan hampir jatuh karena energi yang ia lepaskan.
"Mati sana!" Asiya melompat dengan ayunan pedang yang siap membelah Helian. Tanpa ragu atau belas kasihan di wajahnya membuat Helian terpaku di tempatnya. Asiya... adiknya, benar-benar ingin membunuhnya.
DING~~~!!!
Asiya terkejut karena pedangnya dihentikan begitu saja oleh seorang gadis kecil.
Suara lantang barusan bagaikan ia baru saja menghantamkan pedangnya pada logam yang sangat kuat.
"Kau! Satu lagi tikus pengganggu yang mencoba mengalangi ku." Geram Asiya. Ia mengayunkan lengannya. "Menyingkir! Atau aku akan membunuhmu."
Asiya melihatnya dengan heran tapi ia tetap tidak peduli tentang hal itu.
Echidna tertawa. "Tikus? Baru kali ini ada seseorang yang menyebut diriku seekor tikus."
Asiya mengeratkan giginya. "Cih. Penganggu!" Ucapnya sambil ia mencoba menarik pedangnya, namun tidak peduli sekuat apapun tenaga yang ia lepaskan, gadis kecil di hadapannya itu tampak tidak bergeming.
Tadinya Echidna tidak ingin turun tangan, tapi melihat wanita yang harus ia lindungi dalam bahaya. Echidna memutuskan untuk ikut campur. Hawa membunuh yang Asiya lancarkan sangatlah kuat.
"Bukannya kau adalah gadis waktu itu ya?" Tanya Echidna. Setelah memperhatikannya dengan baik, Echidna baru ingat kalau elf di depan matanya itu adalah gadis yang pernah menuntunnya saat pertama kali mereka datang ke kerajaan ini.
Echidna mengangguk dua kali. "Benar. Kau adalah gadis waktu itu. Tapi..hmm... perasaan ada yang salah. Seingat ku kau tidak memiliki watak seperti ini. Apa waktu itu kau hanya berpura-pura saja?"
Asiya sama sekali tidak mendengarkan Echidna. Sejak tadi dia hanya berusaha untuk menarik pedangnya. "Ada apa dengan gadis kecil ini? Menyebalkan! Menyebalkan! Sialan!" Benaknya.
Asiya memutuskan untuk menggunakan sihir untuk menyerang Echidna.
"Berhentilah mengamuk." Echidna menarik Asiya lalu dengan tinjunya ia menghempaskannya kebelakang hingga menghantam dinding pembatas benteng.
Satu serangan itu membuatnya muntah darah. Echidna tidak main-main. Yang ia tahu hanyalah memenuhi permintaan mamanya. Sebisa mungkin dia akan menghapus gangguan yang bisa mengancam keberhasilannya. Echidna tidak berharap untuk mengecewakan Alice.
"Asiya!" Teriak Helian. Helian berbalik pada Echidna lalu memohon. "Tidak, jangan bunuh dia, ku mohon, dia adalah adikku. Sesuatu terjadi padanya sampai dia menjadi seperti ini."
"Hmm?" Echidna melirik ke arah Asiya lalu menoleh pada Helian di sampingnya. "Kenapa? Bukankah dia baru saja ingin membunuhmu? Kenapa kau ingin menyelamatkannya?" Tanya Echidna dengan ekspresi datar.
"Dia adalah adikku. Aku tahu dia seperti apa. Sesuatu pasti telah terjadi padanya. Aku mohon padamu untuk menyelamatkannya."
"Setelah kau mengatakannya...aku juga merasa kalau ada yang aneh dengan energi Mana miliknya. Tapi, untuk menyelamatkannya, kurasa itu akan sedikit sulit."
"Sulit?" Helian terdiam. Matanya melebar menatap Echidna. "Itu artinya dia bisa diselamatkan kan?"
"Hnngg.....tapi itu merepotkan. Mama cuma bilang untuk melindungi mu saja. Aku benci melakukan hal yang merepotkan."
"Itu, aku, aku akan berbicara dengan Alice tentang hal ini. Aku yakin dia juga pasti ingin menyelamatkan Asiya jika seandainya dia ada disini. Ku mohon selamatkan lah ia."
Echidna menggaruk kepalanya. Dia benar-benar malas melakukannya. Tapi mengingat sifat mamanya, apa yang Helian katakan memang benar.
"Uhh... baiklah, baiklah." Jawabnya dengan malas. Echidna melangkah maju, ia menunggu Asiya untuk bangun dan kembali menyerang.
"Aku hanya perlu memaksa dia menggunakan semua energi Mana miliknya sampai dia tidak bisa lagi melepaskan sihir. Selanjutnya adalah tahap yang rumit." Gumam benaknya. Echidna menghela nafas panjang. "Sudah lama aku tidak menggunakan formasi sihir. Aku tidak tahu akan butuh berapa kali percobaan untuk berhasil. Uhh...itu karena mereka begitu ribet sampai-sampai aku malas menggunakannya."
Echidna melemparkan pedang Asiya yang masih ia genggam. "Ambil dan majulah. Serang aku sekuat tenaga. Akan ku tunjukkan padamu sedikit kekuatan ku agar kau bisa melihat siapa yang sebenarnya seekor tikus." Ujar Echidna dengan nada mengejek dan senyuman merendahkan.
"Aarrrghh! Mati! Aku pasti akan menghabisi mu lebih dulu!" Segera ia bangun lalu menerjang Echidna dengan pedangnya yang membara.
Sesuai dugaan Helian. Asiya memaksakan dirinya. Energi Mana yang begitu besar itu adalah karena dia membakar daya hidupnya. Asiya menukar daya hidupnya sebagai energi untuk meningkatkan kekuatannya dua sampai tiga kali lipat.
Api merah yang menyelimuti pedangnya sampai berubah menjadi biru.
Walau begitu, tak tampak sedikitpun keraguan dalam ekspresi Echidna. Dia hanya berdiri di tempatnya menunggu Asiya datang padanya.